Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Kemunculan Bima


__ADS_3

Meira merapikan buku bukunya diatas meja untuk dimasukan ke dalam tas kuliahnya.


Dia begitu panik saat melihat jam ditangannya sudah menunjukkan pukul 07.40 wib. Dia akan terlambat ke kampus jika tidak buru buru karna kelas pertamanya dimulai dua puluh menit lagi.


Dia merasa kesal mengapa Arga tidak membangunkan dirinya pagi tadi sampai-sampai dia kebablasan tidur. Saat bangun tadi dia bahkan sudah tak melihat pria itu didalam kamar.


Arga pasti sengaja membiarkan dirinya tertidur begitu pulas. Dia memang senang melihat dirinya tersiksa seperti ini.


Meira berjalan keluar kamar dan tergesa-gesa menuruni tangga hingga hampir saja menabrak mertuanya Lusi.


"Kau ini kenapa sih!? pagi pagi udan rusuh banget!" Lusi melotot sambil menghentikan langkahnya yang hendak ke arah meja makan.


"Maaf mah, aku lagi buru buru."


"Buru buru? gayanya udah kaya orang penting aja!"


Meira menahan nafas jengkel.


Ok, jangan kepancing Mei!


"Maaf ya mah, aku minta maaf sekali lagi."


Setelah mengatakan itu Meira langsung bergegas pergi keluar rumah.


Lusi masih menatapnya sinis, sambil terus berjalan dia menghampiri Andrew dimeja makan. Suaminya subuh subuh sekali sudah berangkat lagi ke luar kota untuk mengurusi proyek penting, sementara Arga dia juga pergi tak lama setelah papahnya keluar.


"Ndrew, bagaimana keadaan di kantor?" Lusi meletakan selembar roti berisi selai strawberry ke atas piring milik Andrew.


Andrew malah terlihat sibuk dengan ponsel ditangannya. Sambil sesekali tersenyum sendiri ke arah ponselnya itu.


"Ndrew!!" Lusi menaikan intonasi suaranya, barulah Andrew menoleh.


"Eh, iya mah, kenapa?"


Lusi menggelengkan kepalanya, anaknya ini kalau diperhatikan semenjak berhubungan dengan Meta jadi tidak fokus dengan yang lainnya. Dia khawatir Andrew akan melupakan rencana mereka untuk menyingkirkan Arga.


"Pasti kamu lagi ngirim pesan sama Meta ya?"


"Kenapa sih mah? kok tiba tiba bawa bawa Meta." Andrew melirik ke arah ibunya.


"Ya kamu diajak ngomong gak jawab!"


"Iya, iya maaf, tadi mamah ngomong apa emang?"


"Tuh, kan. Kamu bahkan gak denger mamah ngomong apa tadi!"


"Iya, maaf mah, maafin Andrew.."


"Kamu jangan lupa Ndrew rencana kita!" Lusi memelankan suaranya dan memperhatikan sekeliling, memastikan tidak akan ada yang mendengar percakapannya ini dengan Andrew.


"Aku gak lupa mah, mamah tenang aja!"

__ADS_1


Andrew menjawab dengan raut wajah tenang.


"Ingat loh Ndrew, ayahmu bulan depan sudah akan menyerahkan posisinya pada Arga, jangan meleng kamu! Jangan karna satu orang wanita kamu kehilangan semuanya!" Lusi mengancam sambil melotot ke arah anaknya namun tetap dengan suara yang terdengar seperti orang berbisik.


"Iyaa mamah tenang aja, duduk tenang dan terima beres aja bu bos mah!"


Andrew tersenyum licik sambil mencoba menenangkan ibunya yang sedang merengut kesal.


Disalah satu perusahaan milik keluarga Alexander


Arga terlihat sibuk dengan berkas berkas ditangannya. Dia terus memperhatikan rincian demi rincian catatan penting untuk proyek besar di bogor.


Ayahnya Heru Alexander sudah menyerahkan proposal salinan untuk Arga pelajari, kalau Arga bisa memenangkan proyek penting ini maka perusahaan keluarganya akan mendapatkan untuk yang sangat besar.


Untuk itulah tadi pagi Arga berangkat pagi pagi sekali untuk mengejar waktu mempersiapkan meeting penting dengan koleganya siang nanti.


Tok tok tok


Sebuah ketukan membuat Arga teralih sebentar.


"Masuk!" Ucapnya singkat.


Seorang wanita yang tak lain adalah Meta masuk ke dalam ruangan kerja Arga. Dia terlihat membawa secangkir minuman ditangannya.


"Selamat pagi pak, saya bawakan kopi untuk pak Arga.."


Meta meletakan kopi itu dihadapan Arga sambil tersenyum manis, pakaiannya hari ini terlihat begitu kekurangan bahan, rok yang berada di atas lutut tentu akan membuat pecah konsentrasi siapapun yang melihatnya.


Meta sedikit kesal. Kenapa laki laki ini begitu sulit untuk didekati? bertolak belakang sekali dengan kakaknya Andrew.


Tapi dia tidak akan menyerah, justru sikap dingin Arga ini begitu menantang menurutnya.


"Apa bapak butuh yang lainnya?" Tanya Meta dengan suara lemah lembut.


"Apa OB disini sedang libur?"


Meta terperangah.


"Maksud bapak?"


"Apa kau sudah diturunkan jabatannya oleh papah ku menjadi OB?" Arga bertanya lagi.


Kali ini Arga menatapnya. Arga kesal karna merasa Meta sudah membuang buang waktunya yang berharga ini.


"Aku masih sekertaris tuan Heru pak!" Meta agak tersinggung.


"Kalau begitu bekerjalah sesuai posisimu! dan satu lagi, bawa keluar kopi ini, aku lebih suka teh dari pada kopi."


Satu kalimat telak dari Arga itu mampu membuat wajah Meta berubah menjadi merah padam. Kedua tangannya mengepal keras.


Penolakan demi penolakan ini membuatnya benar benar jengah, tapi dia harus tetap bersabar, demi mendapatkan perhatian Arga dia rela direndahkan seperti ini. Dia percaya suatu hari pasti akan ada celah mendekati pria es ini.

__ADS_1


Sementara itu dikampus Jayakarta.


Reihand terlihat penasaran ketika melihat segerombolan mahasiswa yang sedang berkumpul diaula kampus, tidak biasanya mereka berkumpul tanpa mengabari dirinya lebih dulu.


Apalagi dia melihat diantara kerumunan itu ada teman teman sekelasnya juga anak anak yang biasanya maju dimedan tawuran saat menyerang anak anak Mandala.


Reihand buru buru melompat dari lantai lorong dan berlari kencang ke arah aula.


"Woi men, kalian ngapain disi.." Kalimat Reihand seketika terputus, matanya langsung menyipit tajam bak elang yang sedang melihat buruannya.


Dadanya tiba tiba bergejolak panas.


Di dalam kerumunan itu ternyata sedang berdiri gagah seseorang yang selama beberapa hari belakang ini hilang dari sisinya.


"Bima!" Rahang Reihand terkatup keras. Bima menatap ke arahnya dengan seulas senyum tersungging dibibirnya. Reihand tahu senyum itu adalah senyum palsu yang selama ini bahkan tidak pernah disadarinya.


"Nah, ini dia pentolan kita sudah datang!" Bima berjalan santai ke samping Reihand seolah tidak pernah terjadi apa apa. Bima mencoba merangkul pundak Reihand namun pria itu dengan cepat menepisnya.


gerombolan mahasiswa itu menatap Reihand dengan pandangan mencela, Reihand seketika bingung, apa yang terjadi? kenapa teman temannya itu menatapnya dengan pandangan seolah olah tidak suka dengan kehadirannya? dia punya firasat sepertinya telah terjadi sesuatu.


"Dia bukan pentolan kami lagi Bim, lo aja lah yang sekarang jadi pentolan kita!" Ucap Jakson salah satu teman sekelas Reihand.


"Iya, setuju!" Yang lain ikut menyahut sambil mengangkat tangannya tinggi tinggi, seolah memberikan isyarat bahwa mereka memang ingin Bima menggantikan posisi yang selama ini Reihand tempati sebagai pentolan kampus Jayakarta.


Reihand terperangah, tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.


"Jangan gitu dong, kan gue ngerasa sungkan sama Reihand. Lagi pula kenapa kalian tiba tiba mau gue yang gantiin posisi sohib gue ini sih?"


Tanya Bima sambil memandang mahasiswa yang sedang membentuk lingkaran dan mengelilingi dirinya dan Reihand.


Bima mendekat ke arah Reihand, hendak kembali merangkul pria yang selama ini begitu dekat dengannya.


Reihand memandangnya dengan tatapan setajam elang. Dia tahu betul pasti ini semua bagian dari rencana Bima. Mau apa dia?


"Adakah yang sudi menjelaskan ada apa sebenarnya?" Reihand akhirnya membuka mulutnya, menatap satu persatu teman temannya.


Seketika suasana hening, semua hanya saling sahut dan berbisik satu sama lain. Sementara Bima terlihat tenang seolah tidak terjadi apa apa.


"Rei, kita kecewa banget sama lo, kemarin ada yang ngirim foto ke hp anak-anak, lo lagi ngegendong pentolan abadi kampus kita si se tan Arga!!! lo pengkhianat Rei!" Ucap Ketut salah satu teman yang juga sangat dekat dengan Reihand.


"Maksud lo?"


Salah satu dari mereka akhirnya maju dan terlihat mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana.


"Nih liat! ini lo dan pentolan kampus musuh abadi kita kan?"


Reihand menyipit, memfokuskan matanya pada gambar dirinya yang sedang menggendong tubuh Arga. Ternyata yang mereka maksud adalah kejadian saat dirinya bertemu Arga di Kafe waktu itu. Sial! siapa yang udah berani motret dia kaya gini?!


"Rei, kalau emang bener itu lo sama Arga, wah..lo parah sih!" Bima ikut menimpali.


Reihand menatapnya tajam, sepertinya dia tidak perlu lagi bersusah payah mencaritahu dalang dibalik foto ini, pasti dia orangnya!

__ADS_1


bersambung..


__ADS_2