
Setelah drama peraturan gila itu kelar, Arga mengangkat tubuh istrinya dan berjalan keluar ruangan.
"Aku masih ada satu kelas lagi, kenapa kita pulang sekarang?" tanya Meira, dia heran melihat Arga malah menggendongnya menuju ke arah gerbang kampus dan bukan ke kelasnya.
"Kau masih berani bertanya Meira? hari ini lewatkan saja kelas keduamu! kalau kau sampai sakit lagi seperti tadi aku benar benar akan mencabut ijin keluar rumahmu!" jawab Arga tak kalah kesal.
Glek, Meira menelan ludah berat. Kali ini suara Arga terdengar tidak main main.
Akhirnya dia hanya bisa pasrah mengikut kemauan Arga.
Sementara itu di dalam kelas, Flo tengah sibuk membereskan buku buku ditangannya, kejadian saat tangannya tak sengaja menyentuh bibir Manji masih membekas di otaknya.
kenapa gue idiot banget sih, kenapa pake acara membekap mulut dia segala! aduh Flo oon banget emang lo! Flo terus merutuki kebodohannya sambil memukul mukul kepalanya sendiri menggunakan pulpen ditangannya.
"Flo, kenapa? lo bisa ngelukain diri lo sendiri tau!" Reihand mencegat tangan Flo yang hendak memukul keningnya sendiri dengan pulpen. Flo sontak menoleh saat sadar Reihand sudah berada disampingnya.
Widya yang duduk disebelahnya pun langsung ikut memperhatikan, matanya tertuju pada tangan Reihand yang sedang mencengkram pergelangan tangan Flo.
Hati Widya seakan tersayat, namun buru buru dia kendalikan dirinya agar kecemburuannya tidak sampai diketahui oleh kedua orang temannya itu.
"Flo ada apa?" Widya ikut bertanya.
Flo buru buru melepaskan tangannya saat sadar Reihand masih menggenggamnya erat.
"Sorry Flo.." Reihand meminta maaf saat sadar ulahnya sudah membuat Flo tidak nyaman.
"Gak apa apa kok Rei."
"Kenapa mukulin kening sendiri?" Reihand masih terlihat penasaran.
Flo menggigit bibirnya, tidak mungkin dia jujur dan mengatakan kalau dia sedang memikirkan Manji. Bisa bisa dia di ledekin sama Reihand.
"Gak apa apa kok Rei, gue tadi lagi iseng aja soalnya kening gue gatel.." Ucap Flo berbohong.
Widya sepertinya tau Flo berbohong, dia hanya manggut manggut saja.
"Yaudah kita ke kantin yuk, kalian lapar kan?" Aja Reihand, dia melirik jam di tangannya, masih ada waktu sejam lebih sebelum kelas kedua dimulai.
Widya langsung mengangguk senang, Flo mengerutkan alisnya saat melihat sorot mata Widya yang melihat ke arah Reihand dengan pandangan berbunga bunga.
Widya memang sudah lama jatuh hati pada Reihand, sejak cowok itu pindah ke Mandala, Widya sudah terjebak oleh pesonanya, Reihand yang memiliki tubuh jangkung dan paras yang sangat tampan sudah berhasil membuat hatinya tergila gila.
"Yuk!" Reihand berdiri mengajak kedua gadis itu makan di kantin. Widya sontak langsung ikut berdiri. Sementara Flo hanya senyum senyum dan ikut berjalan dibelakang mereka.
"Meira gimana Flo?" tanya Reihand saat mereka sedang berjalan di lorong.
__ADS_1
"Meira kayaknya dibawa balik deh Rei sama Arga, soalnya gue liat tadi muka Arga khawatir banget, tadi Meira juga kirim pesan sih kalau kemungkinan pelajaran kedua dia gak bisa masuk."
"Beruntung banget ya Meira punya suami kaya Arga." Widya berdecak kagum. Reihand mengangguk setuju. Untuk yang satu ini Arga memang layak menyandang gelar suami siaga.
Saat mereka tengah asyik bercengkrama tiba tiba muncul segerombolan mahasiswa dari arah belakang berlari kencang melewati mereka.
Flo yang sedang berjalan agak tengah tak sengaja tertabrak oleh salah satu dari mereka.
BRUG
Hampir saja dia jatuh kalau saja tubuh Reihand tidak sigap menyangga tubuhnya dengan kedua tangan kekarnya melingkar di punggung Flo.
"Woi, hati hati kalau jalan!" Maki Reihand kesal saat melihat tingkah mahasiswa yang menurutnya seperti anak SD saja.
Mahasiswa yang menabrak Flo tadi menoleh kaget lalu buru buru minta maaf dengan berulang kali membungkukkan badannya, tapi dia langsung pergi begitu mengenali Reihand memasang tampang kesal, dia tidak ingin berurusan dengan sahabat sang pentolan Mandala itu, lebih baik dia menyelamatkan diri dengan secepatnya pergi dari tempat itu.
"Woy mau kemana! jangan kabur" teriak Reihand geram.
"Udah Rei biarin aja."
"Lo gak apa apa Flo?" tanya Reihand khawatir.
Widya menyadari perubahan wajah Reihand yang terlihat sangat khawatir, entah kenapa sesak itu muncul lagi. Kalau saja tadi dia yang tertabrak anak anak itu, apa Reihand juga akan menolongnya seperti dia menolong Flo?
"Engga kok Rei, makasih ya udah nolongin gue!" Flo buru buru berdiri dan melepaskan dirinya dari pelukan Reihand, wangi parfum Reihand menusuk hidungnya.
Mereka pun sampai di kantin dan langsung memesan makanan. Flo membawa dua mangkok baso ke atas mejanya.
"Lo gak makan Rei?" Widya mengambil salah satu mangkok baso itu dari tangan Flo.
Setelah itu Flo terlihat kembali lagi ke deretan para pedagang untuk mengambil minum.
"Gue udah pesen nasi tadi sama lauk, lo makan aja baksonya." tolak Reihand sambil tersenyum. Widya meleleh setiap kali melihat senyum itu, astaga apa dia gak sadar ya kalau dia ganteeeng banget! Batin Widya.
"Reihand!!!" Reihand menoleh kaget ketika Manji dan Farel menepuk pundaknya bersamaan.
"Hei, bro, udah baikan nyokap?" tanya Farel sambil ikut duduk disebelah Reihand begitupun dengan Manji.
Mereka tau kemarin Reihand tidak masuk kuliah karna ibunya sedang sakit, mereka mendengar kabar itu dari Arga.
"Udah baikan kok rel, makanya gue udah masuk.."
"Syukur deh Rei, ikut seneng gue dengernya."
"Thanks ya, eh lo pada mau makan juga?"
__ADS_1
"Iya, gue lagi nungguin mie ayam nih." Sahut Manji, dia melirik Widya dan kemudian matanya berkeliaran kemana mana, dia mencari sosok Flo. Kalau ada Widya pasti ada Flo, tapi ini kok gak ada.
Kemana tuh anak?
"Flo lagi ngambil minum." Ucap Widya sambil nyengir kuda. Dia tahu mata Manji sedang bergerak ke segala arah mencari keberadaan sahabatnya itu.
"Uhuk." Manji terbatuk karna kaget dengan tuduhan Flo, padahal memang benar dia sendang mencari sosok itu.
Reihand dan Farel seketika menoleh.
Namun Manji buru buru mengibaskan tangannya ke udara.
"Lo apaan sih Wid, gue gak nyari Flo!" salah tingkahnya Manji malah membuat semuanya jadi curiga.
"Nah, panjang umur, tuh anaknya dateng!" Widya melihat Flo datang ke arah mereka.
Flo membulatkan matanya saat melihat di mejanya ternyata sudah ada Manji dan Farel yang ikut bergabung.
duh ada Manji lagi, mati gue! tiba tiba Flo teringat kejadian saat dirinya membekap mulut Manji.
Flo memperlambat gerakannya, tangannya gemetar, dia sangat gugup jika harus berhadapan dengan Manji setelah insiden itu.
Ok tenang Flo tenang, Manji pasti hanya menganggap kejadian itu angin lewat!
Flo menarik nafas panjang, berusaha bersikap sesantai mungkin. Dia melanjutkan langkahnya Namun tiba tiba dari arah belakang seseorang tak sengaja menyenggol tangannya.
Prang
Gelas ditangan Flo terlepas seketika dan jatuh membentur lantai, kedua gelas itu pecah, jus alpukat berserakan disekitar kakinya. Flo buru buru jongkok dan hendak membereskan pecahan gelas itu namun tangannya malah tergores tajamnya pecahan kaca.
"Aw!" Flo mengibaskan tangannya menahan perih.
Manji hendak berdiri dan meraih tangan gadis itu namun langkahnya seketika terhenti, Reihand sudah lebih cepat sampai ditempat Flo, pria itu jongkok dan menarik lengan Flo untuk berdiri.
"Flo! kamu gak apa apa?" tanya Reihand khawatir.
Reihand melihat Ibu jar Flo tergores, darah segar mengalir membasahi tangannya yang putih.
Reihand buru buru mengambil sapu tangan dikantong belakang celananya.
"Kemari, biar aku obatin lukanya." Reihand menarik Flo untuk duduk, setelah Flo duduk, Reihand jongkok dibawahnya, dia membalut luka di tangan Flo dengan sapu tangannya.
"Aw." Flo memekik ketika Reihand mengikat sapu tangannya dengan kencang.
"Sakit? tahan ya, gue iket dulu biar darahnya berhenti keluar." Reihand menatap Flo yang terpejam menahan perih.
__ADS_1
Manji dan Widya yang melihat adegan itu hanya bisa terdiam.
Manji, entah dia sadar atau tidak, dia mengepalkan tangannya, ada sesuatu yang membuat dadanya panas ketika melihat Flo disentuh oleh Reihand.