
Sinar matahari mulai menerobos masuk melalui celah hordeng, kelopak mata Velina mulai bergerak-gerak dan terbuka perlahan, ia berusaha menyesuaikan cahaya matahari yang mulai masuk ke retinanya. Saat ia hendak bangkit terduduk, tiba-tiba kepalanya terasa pusing dan tubuhnya lemas. "Ada apa denganku?" gumamnya lirih, dengan sambil memegangi kepalanya yang terasi nyeri, Velina berusaha bangkit berdiri, perutnya yang terasa mual memaksanya untuk segera ke kamar mandi.
Nyala keran yang mengalir menyamarkan suara Velina yang sedang muntah-muntah. Di saat yang bersamaan tiba-tiba Diego masuk ke dalam kamar. ia hendak mencari dasi nya. Namun gerakan tangannya membuka lemari terhenti saat melihat Velina baru saja keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat. Wanita itu terlihat meringis memegangi kepala dan perutnya. "Apa ada masalah?"
Velina mendongak, ia baru sadar jika ada Diego di kamarnya. Velina tak menjawab ia hanya menggeleng lemah.
"Tapi wajahmu terlihat sangat pucat, apa kau sakit?"
Velina kembali menggeleng, "tidak, mungkin hanya demam biasa."
Tanpa aba-aba Diego segera mendekat dan menaruh punggung tangannya di dahi Velina. "Suhu badanmu panas, sebaiknya kita ke dokter sekarang."
Untuk sesaat Velina terpaku di tempat, sentuhan tangan Diego di dahinya seolah mengalirkan suatu kehangatan dan membuat hatinya ikut menghangat. Tidak biasanya pria itu menunjukkan kepeduliannya secara terang-terangan.
Velina menepis tangan Diego, "aku tidak apa-apa." Ia mencoba mengingkari kata hatinya. Ia tak ingin pria itu tahu juga ia sedikit tersentuh dengan perhatiannya.
"Kau--" Diego hendak melakukan protes, tapi ia mengurungkannya, berusaha menahan diri karena wanita itu baru saja menolaknya. "Baiklah, kalau begitu kau tidak perlu ke kantor hari ini, istirahat saja di rumah."
Velina jadi seperti ini karena semalam tidak makan, dan ia berusaha mengerjakan laporan hingga larut malam. "Tapi aku tidak ingin melewatkan meeting kita dengan client, aku sudah sangat berusaha membuat laporannya." Velina versi keras.
"Tapi kondisimu sedang seperti ini, jangan keras kepala." Diego tak ingin menahan diri lagi kali ini. Ia Beringsut membopong Velina ke tempat tidur dan membaringkan tubuh ramping itu di sana. "Kau tunggu di sini, biar ku panggil dokter."
"Jangan!" Velina mendadak panik, "maksudku, biar aku sendiri saja yang ke dokter saat kedaanku lebih baik nanti."
Diego memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya, tidak jadi menghubungi dokter pribadinya. "Kalau begitu biar ku suruh bibi mengantar makanan ke sini."
"Tunggu... bukankah rumah ini tidak ada pelayannya?" Velina mengrutkan dahinya bingung.
"Mulai hari ini ada." Diego kembali mengeluarkan ponselnya dan mulai menghubungi seseorang.
"Pagi ini juga, apa kau mengerti." Ia mengakhiri panggilannya di telepon. Lalu menoleh menatap Velina. "Mulai hari ini kau tidak perlu repot-repot memasak dan membersihkan rumah lagi. Karena akan ada beberapa pelayan yang akan membantumu mengerjakan pekerjaan rumah."
__ADS_1
"Untuk apa kau melakukan itu?" Velina bingung karena pria ini mendadak perhatian padanya. Velina lebih senang jika Diego membencinya, dengan begitu ia tak perlu segan membalas dendam pada pria itu.
"Jangan salah paham, aku hanya tidak ingin di sebut pembunuh karena telah menyiksamu mengerjakan pekerjaan rumah karena kau sedang sakit."
Mendengar jawaban itu, Velina merasa sedikit kecewa. Ternyata Diego tidak benar-benar mempedulikannya.
"Oh... iya, masalah persentasi, serahkan padaku dan Juan saja."
"Tidak semudah itu, aku ingin tetap ikut dalam presentasi itu, aku mohon."
Diego mengangkat satu alisnya heran. Kenapa wanita ini begitu keras tetap ingin melakukan presentasi?
"Setelah keadaanku membaik, akan ku pastikan untuk tiba di kantor sebelum meeting di mulai." Lanjut Velina meyakinkan.
"Tapi... jika kau tidak sanggup untuk pergi, sebaiknya di rumah saja."
"Aku sanggup."
"Tidak akan."
Diego menggeleng heran lalu pergi keluar kamar meninggalkan Velina sendiri.
***
Setelah sarapan, tenaga Velina kembali pulih, dan ia hendak pergi ke rumah sakit. Selain pelayan, ternyata Diego juga mencarikannya seorang sopir yang di tugaskan untuk mengantarnya kemana saja. Velina datang ke rumah sakit terdekat.
Ia duduk termenung di ruang tunggu, menunggu hasil pemeriksaan dokter, ia berharap semua tak seperti yang ia takutkan selama ini. "Nyonya Velina."
Lamunan Velina buyar saat seorang dokter yang telah memeriksanya kembali ke tempat duduknya. "Bagaimana, dok, hasilnya? Aku sakit apa?" Velina jadi tak sabar.
Sudut-sudut bibir sang dokter terangkat ke atas tersenyum sumringah, "selamat, sebentar lagi Anda akan menjadi seorang ibu."
__ADS_1
"Apa?" Mata Velina terbelalak lebar terkejut, hal yang tak ingin ia dengar justru malah terjadi, "maksud dokter, a-aku hamil?" Suara Velina gemetar, seolah belum siap menerima kenyataan yang ada.
"Benar, sudah hampir jalan dua Minggu."
Velina menunduk, mencoba berpikir, kenapa sekarang jadi seperti ini? Harusnya ia lebih awal memakai kontrasepsi, jika sudah seperti ini, ia harus bagaimana?
"Aku akan membuatkan resep dokter untuk vitamin yang harus nyonya konsumsi, nanti nyonya bisa menebusnya sendiri di apotik." Dokter menuliskan sesuatu di secarik kertas. Sedangkan Velina masih tampak linglung. Masih berusaha memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi jika Diego tahu tentang ini. Seharusnya tidak ada anak dalam pernikahan pura-pura ini.
"Anda harus rajin-rajin makan makanan yang bergizi dan hindari stres." Saran Dokter sembari menyerahkan kertas resep pada Velina.
"Terimakasih, dok. Atas bantuannya."
"Sama-sama, Nyonya."
Di sepanjang perjalanan menuju kantor, Velina tak bisa berhenti berpikir. Dirinya dan Diego tidak saling mencintai, jadi bagaimana bisa ada anak? Jika anak di dalam kandungannya tetap lahir, itu pasti akan hal yang menyedihkan pada bayi itu.
"Nyonya, kita sudah sampai."
Velina terkesiap, ia menatap ke luar jendela, ternyata mobil yang di tumpanginya sudah berhenti tepat di depan kantor Diego. Sopir yang mengantarnya segera keluar dan membukakan pintu untuknya.
Tanpa sadar semua mata menatap ke arahnya, tiba-tiba saja ia jadi pusat perhatian. Seorang karyawan biasa memakai mobil mewah dan di antar sopir pribadi? Tentu saja dalam sekejap Velina jadi bahan pembicaraan di antara mereka. Mereka menatap dengan mata bertanya-tanya, dan ada juga yang menatapnya dengan tatapan mencibir.
Velina merasa menyesal karena tak menyuruh sopir yang mengantarnya menurunkannya di tempat yang sedikit jauh dari kantor. Itu karena ia melamun di sepanjang perjalanan. Sekarang ia pasti akan semakin di benci dan jadi bahan gunjingan orang-orang kantor. Bagaimana ini?
Dari kejauhan tampak beberapa karyawan wanita menatap sinis padanya. Salah satunya adalah Dea, wanita itu yang kerap kali merendahkan hasil kerja Velina.
"Bagus, ya? Karyawan baru datang siang seenaknya." Cibirnya saat Velina berjalan hendak memasuki lobi, sedangkan Dea dan kedua temannya hendak pergi keluar mencari makan. Velina tak ingin menggubrisnya, tapi wanita itu jadi semakin kesal, ia sengaja menjegal kaki Velina agar terjatuh.
"Augghh!" Velina hampir terjatuh, tapi ia berhasil menahan tubuhnya dengan tangannya.
"Velina!" Dari kejauhan tampak Juan segera berlari mendekat. "Kau tidak apa-apa?"
__ADS_1
Bersambung