Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Kemunculan Reihand di kampus


__ADS_3

Esoknya dikampus Mandala


Semua mata memandang takjub pada seraut wajah yang begitu mempesona, seperti magnet yang menarik kuat perhatian khususnya kaum hawa.


Sosok bertubuh jangkung itu sekarang sedang berdiri didepan kelas, memperkenalkan dirinya dengan gaya santai dan kelihatan berkarisma.


"Hai, gue Reihand.." Ucapnya santai. Dia menebar senyum ke setiap sudut ruangan.


Meira ternganga, mulutnya terbuka lebar tak mampu menyembunyikan keterkejutannya.


Pagi ini, tak ada angin apalagi hujan badai, tiba tiba saja Reihand pindah ke kampusnya.


"Dia bukannya pentolan Jayakarta ya?" Bisik seseorang dibelakang bangku Meira.


"Masa sih?" Timpal yang lainnya.


Suara kasak kusuk mulai memenuhi ruangan.


Meira menelan ludah berat, antara kaget dan juga ngeri. Apakah Reihand sedang membuat lelucon besar? Tidak sadarkah dia sedang berada dimana saat ini?


Setelah memperkenalkan diri, Reihand dengan santainya duduk di belakang Meira.


"Rei.." Desis Meira sembari menoleh ke belakang. Kini Reihand menjadi pusat perhatian di kelas itu.


Bukan hanya karna dia mantan pentolan Jayakarta musuh abadi kampusnya ini, namun juga karna wajah Reihand yang begitu tampan. Sebagian hanya fokus mengagumi tanpa mau ambil pusing soal latar belakang Reihand khususnya para mahasiswi.


Namun tidak dengan deretan mahasiswa yang sering ikut turun ke dalam medan tawuran. Wajah Reihand sudah pasti tidak asing di kepala mereka.


Beberapa tahun terakhir ini Reihandlah yang memimpin pertempuran besar melawan kampus Mandala. Namun kenapa tiba tiba dia malah pindah kedalam kandang lawannya sendiri?!


Kini para mahasiswa itu menatap Reihand seolah olah dia adalah itik yang sedang menyebrang ke dalam kali yang penuh dengan buaya.


Menunggu waktu yang pas untuk ditenggelamkan dan diseret ke dasar air yang kelam.


Meira menggigit bibir bawahnya, tubuhnya berkeringat dingin saat menyadari situasi di dalam kelas itu tiba tiba berubah mencekam.


"Udah lama ya gak ketemu Mei.."


Sapa Reihand dengan nada santai.


"Lo ngapain disini?" Lirih Meira sambil mencuri curi pandang ke belakang. Dia melihat tatapan permusuhan dari semua mahasiswa dikelas itu yang ditujukan keada Reihand.


"Ya mau kuliah lah Mei.."

__ADS_1


"Tapi.."


Suara Meira terhenti ketika Dosen memanggil namanya dan menyuruhnya untuk diam.


***


Pelajaran pertama telah usai. Namun suasana di dalam kelas itu masih saja mencekam.


Meira buru buru memasukkan bukunya kedalam tas lalu menghampiri Reihand.


"Rei.. maksud lo apa sih pindah kesini? lo mau bunuh diri?" Ucap Meira khawatir. Dia menatap sekeliling. Pandangan para mahasiswa saat ini tengah tertuju kepada Reihand.


Bulu kuduknya seketika berdiri. Dia kembali menatap Reihand. Laki laki itu malah terkekeh mendengar ucapannya.


"Kenapa harus bunuh diri disini? gue disini mau belajar Mei.." Jawab Reihand kalem.


"Tapi.. lo taukan ini tuh Mandala.. kenapa tiba tiba?" Meira malah semakin panik. Salah seorang mahasiswa tiba tiba berdiri dan berjalan ke arah tempatnya duduk dengan pandangan penuh kebencian.


"Tuh kan.." Meira mendesis khawatir. Dia punya firasat tidak enak, kedatangan Reihand yang mendadak sudah pasti akan memicu kontroversi di kampus ini, mengingat Reihand adalah mantan pentolan kampus dari musuh bebuyutan Mandala.


Brak


Suara Meja di gebrak sontak membuat Meira dsn Reihand menoleh berbarengan. Seorang mahasiswa bernama Reno kini tengah berdiri disamping meja Reihand, menatapnya dengan penuh emosional.


"Lo.."Reno menunjuk muka Reihand. Buru buru Meira berdiri diantara mereka.


"Minggir Mei, gue gak punya urusan sama lo." Ucapnya dingin sambil menatap Reihand dengan tajam.


"Engga, gue gak akan minggir!"


Teman teman Reno malah ikut mendekat. Sekarang mereka mengelilingi bangku Reihand.


Tatapan mereka tak kalah seram dengan Reno.


"Lo pentolan Jayakarta kan?" Tanya salah satu teman Reno.


Reihand mengangguk, wajahnya terlihat santai seolah tak ada bahaya besar yang sedang mengelilinginya.


"Ngapin lo disini!?" Seseorang dari mereka tiba tiba masuk dan mencengkram kerah kemeja Reihand dengan berang. Meira terbelalak, buru buru dia mendekat dan mencoba melerai keributan ini.


"Udah stop kalian ngapain sih?! ini didalam kampus loh, dia kan tadi dateng udah memperkenalkan diri jadi mahasiswa disini! lepasin dia Boni!" Pinta Meira kepada pria yang masih mencengkram kerah baju Reihand.


"Tapi kita gak bisa percaya gitu aja Mei, siapa tau dia punya rencana busuk buat nyerang anak anak Mandala!" Kilah Boni, yang lain malah mengangguk setuju.

__ADS_1


Meira terlihat frustasi, dia tidak ingin sampai ada pertumpahan darah lagi di dalam kampus.


"Gue udah bukan pentolan Jayakarta lagi, sekarang gue cuman mahasiswa biasa, gue dateng kesini untuk belajar sama kayak kalian.." Terang Reihand, akhirnya dia membuka mulut sambil menatap satu persatu mahasiswa yang sedang mengelilinginya.


Mereka diam untuk beberapa saat.


"Kita gak percaya!" Sanggah Reno getas.


Reihand tertawa kecil sambil menunduk.


"Hei, kalian kenapa tegang banget sih, kalau kalian gak percaya, kalian bisa geledah barang barang gue.." Reihand melemparkan tasnya kehadapan Reno.


Reno menangkapnya, dengan alis bertaut dia menatap teman temannya. Boni yang sedari tadi menahan emosi untuk tidak melayangkan bogem ke arah Reihand langsung menyuruh Reno untuk membuka tas yang dilemparkan Reihand itu.


Reno pun mengangguk, lalu dibukanya tas itu dan diposisikan terbalik hingga semua isinya tumpah berhamburan keatas meja.


Mereka menahan nafas ketika melihat hanya ada setumpuk buku dan juga beberapa peralatan menulis disana. Tak ada senjata ataupun sesuatu yang mencurigakan.


"Lihat kan, gue kesini emang buat belajar, gue udah bukan anak Jayakarta lagi, jadi kalian bukan musuh gue lagi sekarang. Masih gak percaya?" Tanya Reihand.


Kali ini cengkraman Boni mengendur. Reihand membungkuk dan mengambil almamater kebanggan anak anak kampus Mandala yang belum sempat dia kenakan ketika masuk kelas tadi.


"Mulai hari ini, posisi kita sama men, gue akan jadi bagian dari kalian." Ucap Reihand sambil mengenakan almamater itu ke tubuhnya.


Wajah wajah disekelilingnya mendadak melongo. Mereka seperti habis melihat pemandangan luar biasa. Tentu saja tidak pernah terbayangkan bukan, seseorang yang selama ini menjadi the most wanted yang harus diwaspadai malah masuk ke kandang mereka sendiri. Dan dengan polosnya dia mengatakan jika dia akan menjadi bagian dari mereka.


Reno melepaskan cengkeramannya. Masih dengan tatapan tak percaya dia memperhatikan Reihand dari ujung rambut sampai ke ujung kepala.


"Gue bakal terus ngawasin elo!" Ucap Reno, diapun kemudian berbalik, Reno terlihat keluar dari ruang kelas diikuti mahasiswa yang lain.


Meira menghembuskan nafas lega. Dia menghempaskan dirinya di bangku.


Reihand ikut duduk sambil memandangi Meira yang kelihatan seperti habis melepaskan sebuah beban berat.


"Lo kenapa sih? tegang banget Mei.."


Meira langsung menoleh, menatap Reihand dengan wajah kesal.


"Lo sinting ya Rei, gak ada angin gak hujan lo tiba tiba pindah kesini, lo sadar gak sih lo disini bisa aja mati konyol, liat gak mereka tadi hampir aja ngeroyok lo!"


"Dan lagi.. sebenernya apa tujuan lo pindah kemari?" Tanya Meira dengan suara pelan.


Reihand tertawa kecil. Dia mendekat dan membisikkan sesuatu di kuping Meira.

__ADS_1


"Gue kesini buat jadi pelindung lo Mei."


bersambung..


__ADS_2