
Arga melepaskan ciumannya ketika sadar bahwa apa yang dilakukannya barusan diluar kuasanya. Entah kenapa tadi tubuhnya seakan bergerak sendiri untuk menyentuh Meira.
Meira dan Arga sama sama kaget dengan perasaan mereka masing masing.
Tok tok tok
Sebuah ketukan dari pintu kamar membuat keheningan diantara mereka seketika buyar.
"Biar gue buka pintunya, pasti itu dokter yang lo panggil buat kesini!" Meira buru buru bangkit lalu membuka pintu kamar. Dia benar benar gugup karna ciuman Arga barusan.
"Selamat sore Arga." Seorang pria berumur sekitar lima puluh tahunan muncul dengan stelan jas berwarna putih. Dia tersenyum ramah pada Meira dan juga Arga.
"Sore dok, silahkan masuk."
"Kamu pasti istrinya Arga ya? Meira kan? Saya Arifin, saya Dokter keluarga Alexander." Dokter itu tersenyum seraya menatap Arga dan Meira secara bergantian.
"Senang bertemu dengan dokter." Meira membalas senyum dokter itu.
"Saya periksa Arga dulu ya.."
Meira mengangguk sopan lalu mempersilahkan dokter itu untuk duduk disamping Arga.
Sepertinya dokter itu sangat akrab dengan Arga. Pasti dia sudah sering kesini sebelumnya.
Dokter itupun mengeluarkan beberapa peralatan medis lalu segera memeriksa kondisi Arga dengan teliti.
"Arga, kita harus menjahit luka ini, tapi sepertinya lukanya sudah dibersihkan, bagus sekali Arga, ini mempermudah saya untuk tindakan selanjutnya."
Arga menatap Meira, gadis itulah yang tadi telah telaten membersihkan lukanya.
Meira tak berani membalas tatapan mata Arga, kejadian tadi masih membuat jantungnya berdebar debar. Dia berusaha memalingkan wajah ke arah lain.
"Meira, bisa tolong bantu saya menjahit luka Arga?"
"Saya? bantu menjahit luka? tapi dok saya gak tahu caranya."
"Tenang Meira. Kamu hanya perlu membantu saya mengambil barang barang yang saya butuhkan saat sedang menjahit luka Arga."
Meira menatap peralatan medis diatas ranjang yang sudah berjejer rapih dengan wajah tegang. Jangankan menjahit luka orang, melihat darah segar saja dia rasanya hampir mau pingsan.
Namun demi pria yang sudah menyelamatkannya ini, Meira akhirnya mengangguk pelan.
Dokter pun langsung memulai tindakannya dengan telaten menjahit luka kepala Arga. Sesekali Arga terpekik saat ujung jarum menyentuh kulit kepalanya. Meira benar benar tak tega.
Tanpa sadar tangannya mengusap bahu Arga pelan. Dia merasa iba, namun sepertinya bukan hanya perasaan iba semata, ada perasaan lain dan Meira mulai mungkin belum sadar ada benih benih cinta mulai tumbuh dihatinya untuk Arga.
__ADS_1
***
Malamnya, tuan Heru yang baru pulang dari luar kota langsung menghampiri kamar Arga setelah mendapat pesan dari istrinya tentang kondisi Arga.
Tuan Heru mengetuk pintu kamar Arga dan tak lama Meira datang membukanya.
"Meira, apa Arga tidak apa apa?" Wajah yang sudah mulai berkeriput itu tampak kelihatan cemas sekali.
"Arga sudah tida apa apa, papah tidak perlu khawatir, Arga sekarang sedang tidur, tadi dokter sudah mengobati lukanya." Meira mencoba menenangkan tuan Heru.
Ayah Arga mengintip sekilas kedalam kamar, dia melihat putranya memang sedang terbaring ditempat tidur dengan mata terpejam.
"Meira, kalau ada apa apa dengan Arga. Bisakah lain kali kamu langsung kabarin papah ya, papah sangat khawatir sekali, Arga itu memang dari dulu suka sekali ikut tawuran, entah apa yang dia cari dari aksi brutal seperti itu!" Tuan Heru tampak sedih. Dia mengusap wajahnya dengan pelan.
Meira bisa merasakan perasaan sayang seorang ayah yang begitu besar. Tuan Heru pasti tidak ingin kehilangan Arga, dia sudah kehilangan putra pertamanya Stefan dengan cara yang begitu mengenaskan.
Kehilangan satu putra saja sudah mampu membuatnya hancur, dia tidak ingin hal buruk itu terulang kembali. Maka dari itu, sekuat tenaga tuan Heru mencoba memberikan segala yang Arga inginkan. Dia tidak ingin Arga pergi dari sisinya.
Dia tahu meskipun suka membangkang, sesungguhnya Arga adalah anak yang baik, dia hanya sedang merasa kesepian. Semenjak perceraian itu, Arga seperti menjaga jarak darinya, dia merasa papahnya jahat karna tidak memikirkan perasaannya dan juga perasaan kakaknya waktu itu.
Padahal mereka sama sekali tidak tahu penyebab hancurnya keluarga Arga adalah karna ulah Lusi ibu tirinya.
***
Pagi itu, Arga membuka kedua matanya secara perlahan, cahaya pagi yang menyilaukan mulai menyusup dibalik celah jendela kamarnya.
Meira terusik saat mendengar Arga melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi.
"Lo mau kemana?" Tanya Meira sambil mengucek matanya yang masih berat untuk terbuka.
"Mandi. Lo mau ikut?" Arga menghentikan langkahnya lalu menatap Meira dengan serius.
Meira langsung terduduk kaget dan menggelengkan kepalanya kuat kuat.
"Kenapa? Boleh aja kalau mau ikut mandi sama gue, gue gak keberatan sih." Arga malah semakin tertarik melihat Meira panik.
"Tuh kepala mau kena timpuk lagi?!" Meira langsung mengambil bantalnya dan mengarahkannya ke arah Arga. Dengan memasang tampang galak dia berkacak pinggang dihadapan Arga. Tampangnya mirip emak tiri yang galak.
Arga menahan tawa melihat tingkah Meira yang menggemaskan.
Diapun segera masuk ke dalam kamar mandi saat melihat ke arah jam, dia lupa hari ini ada rapat penting di kantornya, rapat yang harusnya dia laksanakan kemarin, namun karna insiden tawuran itu terpaksa dia batalkan, dan hari ini dia tidak punya alasan lagi untuk menghindari rapat besar itu, karena kalau tidak, Arga akan kehilangan salah satu proyek penting bagi kemajuan perusahaan ayahnya.
Meira menghela napas lega saat melihat Arga sudah masuk ke dalam kamar mandi. Dia memegang dadanya, jantungnya serasa mau lompat.
"Sebenernya gue kenapa sih? kok gue jadi salah tingkah gini sama Arga!" Meira bingung. Dia menatap dirinya di cermin dan mengetuk ngetuk kepalanya sendiri dengan jari telunjuknya.
__ADS_1
"Jangan jangan gue suka sama.." Meira langsung menggeleng cepat.
"Engga, engga mungkin!" Meira mencoba menyangkal kebenaran yang mulai ditunjukkan oleh hati kecilnya.
Saat sarapan
Seluruh keluarga sudah berkumpul dimeja makan saat Arga turun kebawah dengan mengenakan stelan kemeja kerja berwarna hitam, dia melangkah santai dan ikut duduk bersama semuanya.
"Arga, kamu mau masuk kerja? kamu kan lagi sakit Ga, istirahat saja dirumah, biar papah suruh Andrew yang handle semua kerjaan kantor kamu." Tuan Heru menatap Arga cemas.
Perban luka di kepala Arga bahkan belum dicopot sama sekali.
Meira jadi ikut menatap Arga dengan wajah cemas.
"Aku sudah tidak apa apa. Tidak perlu khawatir. Lagi pula ini tanggung jawabku sebagai penerus keluarga." Jawab Arga santai.
Andrew yang mendengar penekanan pada kata penerus keluarga merasa geram, namun dia mencoba menyembunyikan kemarahannya itu.
"Kamu yakin tidak mau istirahat dirumah saja?" Tanya tuan Heru sekali lagi.
Arga hanya mengangguk pelan.
Setelah sarapan, Arga pun menyempatkan diri mengantarkan Meira pergi ke kampus, entah kenapa dia merasa tidak tenang jika sekarang meninggalkan Meira seorang diri setelah terjadinya insiden tawuran kemarin.
Disepanjang jalan mereka hanya diam. Meira sibuk dengan pikirannya sendiri. Dia bingung kenapa jantungnya selalu berdebar sekarang setiap dekat dengan cowok tengil ini.
"Apa lo punya musuh?" Tanya Arga tiba tiba.
Meira menaikkan satu alisnya. "Musuh?"
"Iya, musuh."
"Engga, selain elo yang rese sama gue, gue gak pernah punya musuh. Kenapa emang?" Meira menatap Arga bingung, kenapa Arga tiba tiba menanyakan soal itu.
Namun Arga hanya diam, dia tetap fokus menyetir tanpa bertanya lagi.
Arga merasa ada yang aneh pada insiden kejadian tawuran kemarin. Tidak pernah sekalipun dalam sejarah tawuran yang pernah terjadi, anak anak Jayakarta menyerang cewek.
Itu memang sudah perjanjian kedua belah pihak. Entah apa motif si penyerang itu, karna Arga melihat sendiri dengan mata kepalanya kalau pria yang memakai topeng itu memang sengaja mengayunkan batu itu ke arah Meira.
Dan Arga tahu Reihand selama ini tidak pernah mengingkari janjinya itu. Mereka berdua tidak akan melibatkan mahluk bernama 'cewek'.
Sialnya dia tidak bisa melihat wajah penyerang Meira kemarin. Andai dia tahu siapa orangnya, Arga pasti sudah menghabisinya saat ini.
__ADS_1
bersambung
Vote, like dan komen kalian adalah penyemangatku readerku :)