Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Diantar pulang Reihand


__ADS_3

"Tunggu Rei!" Flo menahan langkahnya sendiri saat Reihand memaksanya untuk melangkah sehingga refleks Reihand ikut berhenti disampingnya. Pria itu menatapnya heran.


"Ada apa, Flo?"


"Gue gak mungkin keluar gudang dalam keadaan kaya gini!" Flo mencoba menutup dadanya dengan kedua tangan yang menyilang.


Reihand langsung paham, dia garuk garuk kepala saat menyadari jika sedari tadi ternyata baju yang Flo kenakan jadi transparan karna basah. Dia terlalu termakan emosi sampai tidak menyadari itu.


Buru buru dia membuka kemeja flanel yang dikenakannya, kemudian dia rentangkan kemejanya dibelakang punggung Flo supaya gadis itu mau memakainya.


Flo malah diam, sejujurnya dia malu harus memakai pakaian Reihand, tapi situasinya sekarang memang tidak menguntungkan, Flo tidak punya pilihan lain kecuali dia mau orang orang di luar sana terarah perhatiannya saat melihat ********** yang bisa terekspos dengan jelas.


"Gak ada pilihan lain, Flo. Buruan pake." Perintah Reihand dengan nada otoritas yang membuat Flo otomatis menuruti ucapannya kali ini.


Setelah yakin tidak akan ada yang bisa menembus pemandangan di dalam baju Flo, Reihand langsung merengkuh lengan Flo dan berjalan disebelah gadis itu dengan sikap yang terlihat sewajar mungkin. Tidak ingin membuat perhatian sekecil apapun terarah pada mereka berdua.


"Santai aja, biar gak narik perhatian anak anak, masalahnya parkiran lumayan jauh nih."


Flo mengerutkan alisnya.


"Emangnya kita mau bolos?"


"Yah terpaksa banget, mau gimana lagi, lo gak punya pilihan lain, relain aja deh pelajaran kedua, lagian ada dua alasan, pertama kelas tuh udah mulai dari tadi, gak mungkinkan lo tiba tiba masuk di tengah tengah pelajaran? dan yang kedua, gue gak mau sampe lo sakit nahan dingin kaya waktu itu." Desis Reihand sambil mengangkat satu alisnya.


Flo menarik nafas dalam dalam, benar juga sih yang dibilang Reihand.


Akhirnya dia pun setuju dengan usul Reihand dan memilih pulang saja secepatnya.


Tangan Reihand yang tadinya merengkuh kini berubah posisi jadi menggandeng, mereka berjalan melewati gedung fakultas di depannya.


Anak anak yang kebetulan sedang berada di luar kelas terheran heran kala melihat ke arah Flo, gadis itu basah kuyup mulai dari ujung rambut hingga ke ujung kakinya.


"Woy Rei!" Tiba tiba Ridho anak basket yang satu tim dengannya menghampiri Reihand, Reihand kebetulan lewat diantara lorong fakultas yang terhubung dengan kelasnya.


Kedua alis Ridho bertaut saat sepasang matanya menangkap hal janggal di depannya.


"Kenapa nih cewek? wah lo kerjain ya Rei? sampai basah kuyup gini." Tuding Ridho asal, habis wajah Flo memang terlihat sangat tertekan di sebelah Reihand.


Reihand menggeplak pucuk kepala Ridho.

__ADS_1


"Enak aja lo, ada tampang tukang bully emangnya gue?" Reihand berdecak kesal.


"Hehe canda, terus kenapa atuh? kasian banget keliatannya kaya abis di guyur aja!" Kata Ridho.


Flo menahan nafas, tepat sekali dugaan cowok ini.


Flo menundukkan wajahnya. Dia merasa sangat malu, untung Reihand paham, dengan sigap direngkuhnya kembali gadis itu ke dalam dekapannya agar dia merasa aman dalam perlindungan tubuh Reihand.


"Udah lo minggir, gue buru buru nih!" Reihand melibas tubuh Ridho yang berdiri menghalanginya.


"Lo mau balik?" Ridho masih berusaha menguntit dibelakangnya.


"Heeh genting soalnya, anak anak suruh kumpul aja di lapangan pulang kuliah, ntar gue balik lagi kok kesini."


"Ok deh sip!" Ridho mengacungkan jempolnya, barulah setelah mendengar jawaban itu dia tidak lagi membuntuti Reihand.


Reihand kembali melanjutkan langkahnya.


Mereka akhirnya sampai di depan parkiran setelah berjuang melewati lorong panjang tadi tentu saja dengan tatapan tatapan penuh tanda tanya saat melirik penampilan Flo yang mirip kucing habis kecebur dari kolam.


Reihand menarik tangan Flo, mereka berhenti tepat di depan sebuah motor gede.


Flo menautkan alisnya.


"Motor gue Flo, baru gue beli minggu kemaren sih, nih tangkep!" Reihand buru buru menyerahkan helm ke tangan Flo. Tak ayal gadis itu langsung menangkapnya gelagapan dengan kedua tangan.


Flo langsung teringat kembali kejadian waktu di ruko mie ayam, saat Reihand kehilangan motornya karna harus mengantarkannya kerumah sakit.


"Kok malah bengong sih? yuk naik buruan!" Reihand menepuk jok belakang motornya yang kosong.


"Maafin gue ya Rei, soal motor lo hang ilang itu, gue bener bener ngerasa gak enak."


"Ya ampun, Flo. Santai aja, motor itu emang belum jodohnya sama gue kali."


Flo lagi lagi menunduk, rasa bersalah itu muncul lagi.


"Hei, buruan duduk!" Cowok itu langsung menarik salah satu tangan Flo karna gadis itu hanya diam mematung di tempatnya.


Reihand meletakkan tangan Flo di bahunya.

__ADS_1


"Duduknya jangan menyamping ya, Non. Ngga stabil." Kata Reihand dengan nada yang terdengar wajar seolah tanpa tujuan. Padahal selama ini dia selalu memerintahkan cewek yang nebeng di motornya untuk duduk dengan posisi menyamping. Karna dua alasan, pertama biar mengusirnya gampang, kedua untuk mencegah menempelnya benda asing di punggungnya yang sering di lakukan cewek cewek itu dengan sengaja. Khusus untuk Flo Reihand malah mencegah supaya cewek itu tidak melarikan diri darinya.


Kedua tangan Flo terulur berpegangan pada kedua bahu Reihand yang lebar untuk dijadikan penopang saat dia mengangkat tubuhnya ke atas jok motor Reihand.


"Udah siap?"


"Iya." Jawab Flo lirih.


Motor itu pun meluncur pergi. Flo duduk sejauh mungkin dari Reihand, menjaga jarak aman. Karena tidak ada besi pegangan. Terpaksa Flo mencengkram tepi jok belakang erat erat.


Dibalik helmnya Reihand tersenyum tipis. Tiba tiba motor itu melesat cepat, menyentakan tubuh Flo kebelakang, Flo sudah hampir menjerit karna kaget. Posisi duduknya sudah di ujung jok nyaris pantatnya akan keluar dari jalur duduk itu nyaris terlempar ke jalan di belakangnya.


Tak lama Reihand menghentikan laju motornya. Lagi lagi dengan tiba tiba dan tanpa aba aba. Flo sama sekali tak menduga, tak ayal tubuhnya terdorong ke depan dengan secepat kilat, tubuhnya membentur punggung Reihand dengan sangat keras.


Flo mengutuk sikap Reihand yang seenaknya, gila nih orang, mau ngajak ketemuan sama malaikat mau apa! makinya dalam hati. Reihand menolehkan sedikit kepalanya ke belakang.


"Masih gak mau pegangan?"


Flo masih bungkam, Reihand tersenyum sinis, ditatapnya gadis itu lewat kaca spion yang sengaja dia arahkan ke wajah Flo. Flo membalas tatapannya dengan sengit. Reihand bisa merasakan aura pertentangan di gadis itu.


"Di depan sana gak ada lampur merah, lho. Kalau sampai gue ngebut gila gilaan jangan kaget ya." Katanya dengan nada santai.


Tapi kalimatnya ternyata berhasil membuat wajah Flo jadi pucat.


Tapi Flo tetap tidak mau bergerak maju dan memeluk pinggangnya, akibatnya Reihand menjadi sangat geram.


"Lo tuh ya susah banget nurut sedikit aja sama gue! Ok kalau gitu jangan salahin gue ya!"


Mesin motor mengerung panjang, disusul sedetik kemudian motor melaju dengan kecepatan tinggi yang tenyata awal dari putaran ban yang gila gilaan.


Tak ayal Flo yang posisi duduknya sedang diujung jok jadi terhampar keras kembali ke depan, tubuhnya lagi lagi membentur punggung Reihand dengan keras dan berhasil melenyapkan jarak diantara mereka. Begitu yakin jika tubuh itu menempel sempurna dengan punggungnya Reihand segera mencekal salah satu tangan Flo dan menariknya ke depan diantara dada dan perutnya, Disana, ditekannya tangan itu kuat kuat.


Walau dengan sagu tangan, Reihand ternyata sanggup melarikan motornya dengan kecepatan tinggi meliak liuk diantara padatnya jalanan saat itu. Dibuatnya manuver manuver yang sanggup membuat jantung siapapun akan melompat, hingga akhirnya Flo pun menyerah.


Untuk Flo ini adalah pengalaman pertama yang mengerikan, deru bising mesin motor yang mengerung membuat kuping Flo terasa sakit.


Tanpa fokus yang teralihkan dari jalanan di depannya, Reihand menyipitkan matanya, dia tersenyum dingin saat merasakan tangan gadis dibelakangnya perlahan terulur sempurna memeluk pinggangnya, sambil memejamkan mata, Flo menyenderkan kepala di punggung Reihand.


"Sip, pinter. Tutup mata Peluk yang kenceng kalau lo ngerasa takut."

__ADS_1


Setelah mengatakan kalimat itu, Reihand kembali melajukan motornya gila gilaan membelah hamparan jalanan di depannya.


bersambung


__ADS_2