
Widya menatap ke arahnya dengan emosi membuncah, nafasnya naik turun tak beraturan menahan kekesalan yang tidak bisa dia luapkan pada Stella. Ternyata gadis ini licik juga.
Stella berbalik sebelum akhirnya menghilang dari pintu. Dia mengangkat salah satu tangannya lalu perlahan di acungkan jari tengahnya tinggi tinggi ke hadapan Widya.
"Kita sama sama bangsat. Bangsat dilarang teriak bangsat juga dong!" Kata Stella dengan mimik wajah serius.
Kemudian dia berbalik dan melanjutkan langkahnya keluar dari pintu gudang belakang meninggalkan Widya yang sudah dibuatnya senewen tingkat tinggi.
"Kurang ajar Stella, dia sengaja memanfaatkan kelemahan gue sekarang, gue harus kasih tuh anak pelajaran!"
Setelah insiden itu, esoknya Reihand benar benar diskors, dia tidak masuk kuliah seperti biasanya.
Jam istirahat pertama tiba. Semua sedang nongkrong di dalam kantin.
Arga semakin perhatian pada Meira semenjak dia hamil, dia jadi Bapak yang benar benar siaga.
"Kamu mau makan apa lagi, Meira?"
"Kenapa makannya cuman dikit? Nanti bayi kita kelaparan didalam perut kamu sayang."
"Aku bikinin susu Ibu hamil ya buat kamu?"
Dan seabrek pertanyaan lainnya yang sukses membuat kedua pipi Meira memerah karna menahan malu di depan teman temannya. Parahnya, Arga malah kebalikannya, dia terlihat sangat santai, tidak peduli sama sekali dengan perubahan yang terjadi di wajah Meira.
Meira hanya bisa menahan rasa malu, meskipun dalam hati dia sebenarnya sangat bahagia diperlakukan dengan sangat baik oleh Arga.
"Flo, kenapa diem aja?" tanya Meira saat melihat sahabatnya itu hanya mengaduk aduk siomay di atas piringnya tanpa terlihat berniat memindahkannya ke dalam mulut.
Flo menggelengkan kepala sambil memaksakan sedikit senyum tercetak di bibirnya.
"Gue, gak apa apa Mei.."
"Sepi ya gak ada Reihand!!" kata Widya tiba tiba sambil menghela nafas berat.
"Gara gara kejadian kemaren dia akhirnya harus nerima hukuman juga!!" Sambung Widya lagi.
Manji dan Farel ikut menatapnya.
"Emang kejadiannya gimana sih? kok bisa di mukulin temen sekelasnya sendiri, yang gue denger dari anak anak, Dendi kemarin sampai bonyok banget mukanya." Tanya Manji penasaran pada kronologi kejadian sesungguhnya.
"Awalnya dia ngebelain Flo, terus dia nonjok Dendi gitu deh!!" jawab Widya sambil melirik Flo dengan pandangan sebal.
Flo menundukkan wajahnya, merasa bersalah setiap kali membahas kejadian kemarin, semua memang gara gara dia. Reihand dihukum karna berusaha membelanya.
Arga melirik ke arah Widya, sebenarnya dia malas meladeni hal hal seperti ini, tapi Arga tahu, perempuan macam Widya itu mainnya cantik, dia tidak akan menunjukkan muka aslinya kepada teman temannya, dia hanya akan bersembunyi di balik kata kata sindiran pedas. Seperti sekarang saat dia sedang menyindir Flo tanpa menjatuhkannya langsung.
"Itu bukan salah Flo, Reihand sudah berbuat benar, kalau pun Meira yang digituin, Dendi mungkin udah abis di tangan gue!!!!" jawab Arga telak.
Widya tersentak, dia melirik ke arah Arga, Arga menatapnya tajam tanpa senyum sedikitpun, entah kenapa Widya merasa Arga sedang menunjukkan kalimat pedas tadi padanya.Apa mungkin cuman perasaannya saja?
"Masih untuk Dendi cuman ditonjok doang!!! bagus sih, demi melindungi orang yang PENTING, cinta memang harga mati!!!" Sambung Arga lagi dengan suara yang terdengar getas dan jelas.
Meira menoleh dan menggeplak lengannya, Meira tidak enak melihat ekspresi wajah Widya yang mendadak keruh banget.
"Jadi kemarin Reihand nonjok Dendi karna apa dulu?" Manji meminta penjelasan lebih, Arga dan yang lainnya tidak menjelaskan detail permasalahannya, hanya sebatas mengatakan membela Flo saja.
"Rok Flo robek, Dendi ngeluarin kata kata gak pantes.." Akhirnya Meira yang buka suara, meski dia ragu saat menjelaskan, takut kalau Widya tambah bete.
Rahang Manji tiba tiba mengeras.
__ADS_1
"Sialan Dendi!!!!" desisnya ikut kesal mendengar cerita sebenarnya. Rasanya dia juga akan menonjok pria itu kalau waktu kemarin dia ada disana.
Melihat Reaksi Manji yang sama seperti Reihand, Widya jadi semakin panas.
Kenapa sih semua orang peduli banget sama Flo, apa bagusnya dia? cewek ini bahkan gak lebih cantik atau lebih kaya dari dia! Widya mendesis jengkel dalam hati.
Semakin bertambah saja kekesalannya pada Flo. Menurutnya Flo sangat menyebalkan karena sudah berani merebut semua perhatian teman temannya dari dia.
"Lagian rok lo kenapa bisa robek Flo?" tanya Farel yang sedari tadi hanya diam mendengarkan pembicaraan itu akhirnya ikut nimbrung juga.
"Gara gara Stella, gak sengaja kami tabrakan di lorong." Jawab Flo.
Farel mengangkat alisnya.
"Stella lagi? tuh anak bener bener ya gak ada kapok kapoknya bikin masalah!!!" Ucap Farel dengan nada jengkel yang ditahan sebisa mungkin.
Sepertinya ancamannya waktu itu hanya dianggapnya angin lalu. Cewek satu itu memang benar benar bebal!
"Jangan nyalahin Stella, dia juga kayaknya gak sengaja." Jawab Flo buru buru, dia tidak ingin masalahnya tambah kemana mana.
"Lo yakin dia gak sengaja?" Farel menatap Flo.
Flo mengangguk tegas.
"Udahlah, lagian juga masalahnya udah berlalu."
"Tapi tetep aja awal mulanya gara gara dia!"
"Ya tapi bukan salah Stella, dia juga gak sengaja tau!" Flo malah gak mau mengkambing hitamkan Stella. Dia sudah bosan terus berurusan dengan gadis itu.
Entah sengaja atau tidak tabrakannya di lorong waktu itu, tetap saja Flo tidak mau membuat semuanya tambah panjang. Cukup berakhir di Dendi saja urusan ini.
Bukan apa apa, karna membelanya kemarin, Reihand harus sampai menerima hukuman, dia tidak mau Farel juga nanti ikut ikutan terkena masalah gara gara mau melabrak Stella karna dirinya.
Suasana sudah mulai terlihat tidak kondusif dengan wajah wajah kesal dari Manji dan Farel. Meira tidak mau kalau sampai ada pertumpahan darah lagi disini, suasana akhir akhir ini begitu panas dan menegangkan.
"Udahlah, yuk mending kita pesen makan lagi aja." Kata Arga akhirnya. Arga kemudian berjalan ke stand makanan untuk memesan dimsum dan cemilan lainnya untuk semua.
Sorenya.
Selesai pulang kuliah, Flo tidak langsung balik ke rumah, dia mampir dulu ke pasar tradisional untuk membeli beberapa bahan makanan. Rencananya Flo akan membuat brownis lumer untuk dijual, semenjak salon ibunya sepi, Flo memutar otak agar dia dan Ibunya tetap punya penghasilan tambahan.
Kemarin, saat menonton video di salah satu aplikasi di sosmed. Flo tak sengaja melihat kesuksesan seseorang yang menjual dessert box di media sosial. Flo jadi tertarik untuk mencobanya. Dia akhirnya membuka tabungannya untuk modal awal.
"Masih kurang apa lagi ya? ouh iya, coklat bubuknya belum beli!" Flo hampir saja kelupaan, untung saja dia memeriksa kantong belanjanya dulu.
Flo langsung berbalik dan hendak mendatangi toko bahan makanan, tapi saat dijalan, dia tak sengaja bertemu dengan Reihand dan Ibunya.
"Flo!!!" Suara berat khas yang selalu berhasil membuat jantungnya berdegup kencang tiba tiba mengagetkannya.
"Reihand!!" Flo terbelalak, tidak menyangka jika dia akan bertemu Reihand dan Ibunya di pasar.
Reihand kelihatan senang bertemu Flo di pasar. Suatu keberuntungan bisa berjumpa dengan gadis pujaannya ini, karna hari ini dia diskors, dia jadi tidak bisa datang ke kampus dan bertemu Flo. Tapi sepertinya takdir sedang baik, tanpa disengaja dan tanpa perencanaan apapun dia malah dipertemukan disini.
"Eh, Nak Flo, lagi ngapain disini?" Ibu Reihand sama terkejutnya. Wanita paruh baya itu sepertinya habis belanja untuk bahan bahan di kedai, Flo melihat banyak sayuran dan beberapa bumbu dapur didalam plastik bening yang dibawa oleh Reihand.
"Tante.." Flo buru buru membungkuk untuk menyalami tangannya Ibunya Reihand.
"Kamu ngapain disini Flo?" Tanya Ibu Reihand heran.
__ADS_1
"Flo lagi belanja buat bikin kue Tante.." jawab Flo sambil tersenyum menunjukkan kantong belanjaannya pada Ibu Reihand.
"Flo mau buat kue apa?"
"Brownis sih Tan, pengen nyoba jualan.."
"Wah, keren, kamu mau jualan brownis Flo? udah tau cara bikinnya?"
Flo menggeleng.
"Tapi udah liat caranya sih di youtube.."
"Ah, kebetulan banget, yaudah ikut kita aja kalau gitu ke rumah. Nanti tante bantuin kamu kasih lihat cara bikinnya, gimana?"
"Gak usah Tante, nanti malah ngerepotin, aku bisa sendiri kok Tan.." Tolak Flo sambil tersenyum, berharap penolakannya tidak sampai menyinggung Ibu Reihand.
"Udah ikut aja!" kata Reihand tiba tiba dengan nada memaksa.
Flo tetap menggeleng.
"Lo mau nolak kesempatan emas belajar langsung dari Master Chef? Ibu gue jago banget loh bikin brownis." Reihand berusaha membuat Flo mengubah keputusannya.
"Serius?" Flo menatap Ibu Reihand.
"Ah, Reihand berlebihan, udah yuk ikut aja Flo! lagian masih sore kan? nanti pulangnya gampang, biar dianterin sama Reihand."
Wajah Reihand mendadak secerah matahari pagi. Kesempatan bagus jika Flo datang kerumahnya, maka dia akan bisa bersama Flo beberapa jam kedepan.
"Kebanyakan mikir! yuk!" Reihand langsung menarik tangan Flo pergi.
"Eh tunggu Rei, gue belum beli coklat bubuk!" Flo pontang panting mensejajarkan langkahnya dengan langkah langkah besar Rei.
"Gampang itu mah, dirumah banyak, iyakan Mah?"
"Iya Rei." Ibu Reihand ikut berjalan dibelakang Reihand dan Flo sambil menahan senyum. Entah kenapa dia melihat Reihand begitu bahagia disamping Flo, wajah anaknya terlihat sangat lepas dan tanpa beban, berbeda dengan sat bersama Widya, Reihand nampak tertekan dan muram.
Reihand masih mencengkeram tangan Flo, dia tidak mau gadis itu sampai mencoba kabur, Reihand tahu betul Flo seperti apa. Gadis ini kan selalu mencoba melarikan diri darinya.
"Lo duduk disamping gue!" perintahnya sambil membuka pintu depan mobil.
Flo mengernyitkan alis, dia tidak enak pada Ibunya Reihand.
"Tapi.."
"Gak apa apa Flo. Ibu biar duduk dibelakang."
Flo akhirnya menyerah, dengan menghela nafas panjang dia pasrah saat Reihand menekan bahunya agar dia mau masuk kedalam mobilnya.
Reihand pun melanjukan mobilnya menuju ke arah rumahnya.
Di rumah Reihand.
Mobil Reihand memasuki pelataran rumahnya. Reihand bergegas turun dan membukakan pintu untuk Flo dan Ibunya.
"Sini biar gue bawa!" Reihand langsung menyambar kantung belanjaan di tangan Flo. Lagi lagi Flo hanya bisa diam.
Ibu Reihand mengajak Flo untuk langsung masuk ke dalam rumah.
Mereka berjalan menuju dapur yang letaknya ada di belakang.
__ADS_1
Flo tercengang, dia mengendarkan pandangannya ke sekeliling, ya Tuhan, luasnya dapur Reihand mungkin setara dengan luar rumahnya. Flo meneguk ludah berat, dia merasa semakin tidak sebanding dengan cowok yang dicintainya itu.
bersambung