
harap bijak memilih bacaan sesuai umur.
"Kau mau menolak ku setelah membuatku bergairah begini?" Menatap Meira serius sambil menghembuskan nafas berat.
"Tidak bukan begitu." Menggeleng keras keras sambil tersipu malu.
"Jadi kau menginginkannya? baiklah aku akan melayanimu sampai kamu kewalahan!" tersenyum penuh Arti saat Arga mengucapkannya.
astaga kenapa jadi malah aku yang kelihatan meminta duluan?! pandai sekali dia membalikan fakta.
Wajahnya mendekat menyusuri leher jenjang Meira, memberikan kec upan yang diselingi dengan ******* nafas berat, membuat bulu kuduk Meira seketika mere mang.
Sementara tangannya sudah bergerak liar masuk ke dalam kaos Meira dan berhenti tepat di dua buah bola kesayangannya.
Arga meremasnya memberikan pijatan pijatan lembut yang membuat Meira tanpa sadar menggigit bibirnya sendiri.
"a h." ******* kecil tanpa sadar keluar dari bibir Meira ketika tangan kekar itu semakin aktif menggerayanginya di dalam kaos.
Krek
Suara robekan kain membuat Meira menunduk, melongo karna kaosnya terbelah menjadi dua lagi, Arga bahkan tak peduli dengan protes yang keluar dari mulutnya, seperti tidak sabar pria itu sudah melepaskan kaos itu dan melemparkannya begitu saja ke lantai.
Kini dia mengangkat tubuh gadis itu, meletakkannya diatas sofa panjang.
"Kenapa disini? eh!" Meira segera menutup mulutnya. Malu mendengar pertanyaannya sendiri.
Arga tersenyum hangat sambil menyelipkan rambut dibelakang telinga Meira.
"Jadi kau sudah tidak sabar ya? baiklah aku akan langsung mulai saja!" Katanya sambil mendekat.
Arga memagutt bibirnya lembut, memainkan lidah gadis itu dengan lidahnya, membuat Meira tersengal berkali kali karna hampir kehabisan nafas, seperti seekor ikan yang dilempar ke darat.
"Hei, bernafas bodoh!" Ucap Arga saat sadar wajah Meira membiru.
"Kau.. hmm." Lagi lagi menyerang bibirnya, seperti kecanduan, Arga **********, memberikan sesappan nan lembut namun lama lama Meira bisa merasakan ciumannya menjadi semakin liar.
Lidah mereka saling terkait, sesekali ******* keluar dari mulut Arga, tatapannya kali ini penuh dengan gairah yang menggebu.
Setelah puas dengan bibir Meira, kepala itu gantian turun dan berhenti tepat di dua gundukan kenyal milik Meira. Gadis itu menggigit bibir bawahnya sendiri, malu bercampur gugup, bahkan detak jantungnya mungkin sekarang sudah seperti irama musik yang saling menghentak keras.
Arga menjilati ujung salah satu bagian tubuh paling sensitif Meira seperti anak kecil yang sedang melahap es krim ditangannya, membuat Meira seketika menggeliat merasakan sensasi luar biasa pada tubuhnya. Laki laki itu seakan asyik tenggelam dalam mainan di mulutnya.
Setelah puas bermain main dengan kedua benda itu, dia pun naik ke atas tubuh Meira, masuk diantara dua kaki Meira.
Arga menyibak rok gadis itu sampai ke atas, menarik pakaian dalam yang masih melekat manis menutup mahkotanya.
__ADS_1
Meira hanya bisa memalingkan wajahnya, saat ini wajahnya mungkin sudah seperti kepiting rebus, kini gantian Arga membuka ikatan handuk yang masih melilit di pinggangnya.
Di genggamnya kedua tangan Meira erat, dikuncinya tangan itu disebelah kepalanya, mereka saling bersitatap.
"Katakan, Meira. Kau menginginkannya?" Ucap Arga sambil menatap Meira tepat di manik matanya.
Meira bisa merasakan hangat nafas Arga yang menerpa wajahnya. Sepertinya Arga juga gugup, namun kenapa itu malah membuatnya menjadi lebih tampan!
"Kenapa hanya diam? sepertinya hanya aku yang sedang menginginkannya, ya sudah aku tidak mau memaksa!" Tiba tiba hendak berdiri dengan wajah cemberut, buru buru Meira menarik lengan Arga.
Pria itu kembali terjatuh diatas tubuhnya.
"Tidak! kau mau kemana?"
Arga hanya diam, memalingkan wajah.
Meira meremas jari jemarinya sendiri, astaga aku akan mati karna terlalu malu mengatakan ini! batinnya.
"Arga, a-ku menginginkannya." Kata Meira sambil refleks menutup wajah dengan kedua tangannya. Saking malunya sampai tidak berani menatap reaksi Arga.
"Buka tanganmu, jangan tutup wajah cantik ini, aku ingin melakukannya sambil menikmati wajah cantik ini." Arga menyingkirkan lengan Meira, menguncinya kembali disamping kepala gadis itu.
Kini dia mengambil posisi diatas Meira, menatap gadis itu sambil tangannya mulai menuntun miliknya yang sudah tegang sempurna untuk bertemu dengan liang surgawi milik Meira.
"Kau sudah basah Mei.." Ucap Arga sambil mengecup kening Meira.
Sesaat mereka saling bersitatap sampai akhirnya Meira meringis karna merasakan sesuatu tengah merobeknya dibawah sana.
Arga terpejam menikmati sensasi miliknya yang seperti diurut, hangat menjalar di sekujur tubuhnya.
"a h." Semakin dalam Arga membenamkan miliknya semakin membuat Meira mengerang panjang.
Dia merasakan milik Arga memenuhi seluruh rahimnya.
"Apa sakit?"
"Hmm."
"Aku akan lebih lembut." Kata Arga sambil memulai irama permainan dengan pelan.
Mereka saling mengaduh hingga peluh keringat membasahi tubuh masing masing.
Permainan begitu panas, beberapa kali mereka berganti posisi, hingga akhirnya berakhir di atas meja dengan posisi Meira menungging sambil memegangi badan meja.
Arga seperti kesetanan menyentak tubuh putih itu dari belakang tanpa ampun, nafasnya sudah tak beraturan.
__ADS_1
Sambil meremas kedua bola kembar Meira dari belakang, Arga mempercepat irama cinta yang dia ciptakan.
"a h, Mei aku ingin keluar sekarang." Ucapnya dengan nafas tersengal.
Meira hanya menjawab dengan rintihan yang keluar dari mulut kecilnya.
Semakin gadis itu merintih semakin Arga tak kuasa menahan nafsunya untuk semakin menyodok lebih keras.
Sampai akhirnya Meira merasakan milik Arga berkedut hebat dibawah sana.
"a h," lenguhan panjang keluar dari mulut Arga beriringan dengan cairan putih kental yang Meira rasakan tengah mengalir bebas di kedua pahanya.
Dengan nafas yang masih memburu Arga menggendong tubuh Meira dan meletakkannya diatas kasur, dia tidur disamping Meira memeluk gadis itu layaknya guling.
"Apakah sakit?" Tanya Arga sambil mengelus pipi Meira.
Meira menggeleng, dibenamkan wajahnya di dada bidang suaminya. Dia tidak bisa menggambarkan betapa malu dan bahagianya dia sekarang.
"Aku mencintaimu." Ucap Arga, membuat Meira semakin mempererat pelukannya.
Semenjak Arga mulai mengingat kembali dirinya, Arga memperlakukannya dengan sangat baik.
"Kau tau, dalam ingatan yang sering muncul di kepalaku, aku selalu melihat diriku sedang menyakitimu. Apa pernikahan kita awalnya membuatmu tersiksa?" Ucap Arga tiba tiba.
"Apa dulu aku begitu kejam kepadamu?" Ada rasa bersalah yang Meira dengar dari caranya bertanya.
Meira mendongak sambil menatap mata coklat dihadapannya.
"Itu sudah berlalu, lagi pula yang terpenting sekarang kau sudah kembali menjadi Arga yang selalu membuatku bahagia. Setelah kesalah pahaman soal kematian kak Stefan selesai, hubungan kita mulai membaik, aku masih dirumah ini karna aku percaya Arga ku akan kembali."
"Benarkah kau bahagia dengan semua ini? maaf karna aku belum ingat semuanya secara utuh."
Meira menggeleng sambil tersenyum. "Kau pasti akan kembali mendapatkan ingatan itu secara utuh, tapi bisakah aku bertanya satu hal?"
Arga mengecup bibirnya. "Katakan, apa?"
"Apa perasaanmu sudah kembali saat kamu mendapatkan sebagian ingatan itu?"
Arga menghela nafas panjang, tangannya mengelus pucuk kepala Meira.
"Aku berdebar saat melihat kamu tersenyum, aku khawatir kalau gak ngeliat kamu. Apa itu sudah cukup menjelaskan?"
Kembali meraih dagu Meira lalu mendaratkan satu pagutan liar yang membuat Meira tersengal.
"Apa ciuman ini juga menjelaskan? apa kau tau aku bisa gila jika tidak menyentuhnya sehari saja."
__ADS_1