
Reihand baru memelankan laju motornya saat dia sampai di mulut gang tempat tinggal Flo.
Gadis itu mengangkat kepalanya ketika sadar gemuruh bising laju knalpot motor Reihand perlahan mereda.
"Turun disini aja deh!"
Kata Flo sambil menepuk bahu cowok itu.
Tapi Reihand tak bergeming, Flo pasrah. Akhirnya motor itu baru benar benar berhenti tepat di depan pagar rumah Flo.
Reihand mematikan motornya, Flo langsung melompat turun dari atas jok.
Dia membuka helm kemudian menyerahkannya pada sang pemilik yang kini tengah menatapnya lurus lewat kaca helm.
Reihand menaikkan kaca helmnya, seketika pandangan mata mereka bertemu, kikuk keduanya saling membuang muka ke arah lain, mencoba menetralkan rasa gugup itu.
"Thanks ya udah nganterin gue balik. Gue cuci dulu kemeja lo, ntar gue balikin kalau udah bersih." Kata Flo saat teringat di tubuhnya masih melekat kemeja milik Reihand.
"Santai aja. Gue pamit dulu sama nyokap." Reihand hendak turun dari motor tapi Flo buru buru mencegah.
"Gak perlu."
"Kenapa?" Kening Reihand berkerut.
"Nyokap lagi di salon."
"Salon? nyokap lo lagi nyalon." Tanya Reihand.
"Bukan, nyokap gue lagi jaga salon."
"Jaga salon?"
Flo bingung kenapa Reihand terus bertanya.
"Iya, kami punya salon kecil di depan gang depan. Usaha keluarga." Kata Flo menjelaskan sedikit.
"Oh." Reihand manggut manggut.
"Iya, yaudah balik gih." Kata Flo.
Reihand tertawa.
"Gue gak ditawarin minum dulu?"
"Gak enak, kan gak ada orang dirumah."
"Emang kita mau ngapain? kan gue cuman numpang minum." Reihand menjulurkan wajahnya ke depan. Otomatis Flo mundur karna tidak ingin jadi salah tingkah di tatap Reihand dalam jarak dekat.
"Tetap aja gak enak! sorry ya gue masuk dulu." Buru buru Flo ngibrit ke dalam rumahnya.
Reihand tak mencegah, kali ini dibiarkannya Flo pergi, menghilang dibalik pintu rumahnya.
Setelah yakin Flo sudah masuk ke dalam rumahnya, Reihand buru buru menjalankan motornya lagi, dan tak lama kendaraannya melesat kembali membelah aspal jalanan.
__ADS_1
Jam 16.30 wib di kampus Mandala.
Reihand duduk di pinggir lapangan. Dia duduk sambil menopang kedua siku tangannya di atas kedua paha sementara kedua telapak tangannya sedang sibuk memelintir bola basket.
Sejenak dia mengambil nafas dalam dalam. Gemuruh di dadanya kembali muncul. Kontan rahangnya juga ikut mengeras saat teringat kejadian di gudang belakang tadi.
Dia melihat Flo basah kuyup. Pasti ada yang sengaja mengerjai gadis itu, apalagi dia melihat sebuah botol air mineral bekas yang tergeletak tak jauh dari tempat Flo berdiri, juga banyaknya bekas kaki di sekitar lantai yang basah. Sudah dipastikan di gudang sebelum dia sampai pasti ada orang lain selain Flo. Dan Reihand yakin jejak kaki itu milik orang yang sudah tega membuat gadis itu basah kuyup.
"Pasti ada yang sengaja ngerjain dia!" Gumamnya marah sambil melempar bola basket hingga terpantul tinggi ke tengah lapangan.
Teman teman satu timnya langsung menoleh, salah satu diantaranya menghampiri Reihand dengan lipatan di keningnya.
"Ada masalah apa, Rei?" Tanya Ridho.
"Lo ingatkan cewek yang tadi siang gue gandeng pas lewat depan lorong kelas lo.."
Ridho tampak berpikir sejenak.
"Oh yang badannya basah kuyup itu, kenapa emang?" Ridho menatap Reihand, dia ikut duduk di samping sang kapten basket.
"Nah itu, gue nemuin dia di gudang belakang udah dalam kondisi basah kaya gitu, dia kayaknya ada yang sengaja ngejahilin deh."
"Emang kata anaknya apa?"
"Itu dia masalahnya, anaknya gak mau buka mulut. Gue paksa pun dia gak bakal mau bilang yang sebenernya terjadi!"
"Wah parah dong, jangan jangan dia lagi diintimidasi sama seseorang! makanya dia takut buat jujur sama lo." Kata Ridho sambil menatap Reihand.
"Feeling gue juga gitu, lo bisa gak bantuin gue?" Tiba tiba Reihand ingat kalau Ridho ini fakultasnya deket sama gudang belakang kampus.
"Bantuin apa, Rei?"
Reihand melengkungkan jari telunjuknya memberi perintah agar Ridho mendekat. Setelah wajah cowok itu sudah ada disebelahnya, buru buru Reihand membisikkan sesuatu di telinga temannya itu.
"Gimana?"
"Siap, laksanakan kapten!" Kata Ridho dengan menaruh salah satu tangannya di pinggir kepala seperti sedang memberi hormat pada atasan. Dia lalu nyengir kuda ke arah Reihand dengan ekspresi konyol.
"Yuk mulai latihan!"
"Oke."
Waktu menunjukkan pukul 19.00 wib dikediaman keluarga Alexander.
Arga yang baru selesai mandi keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk putih yang dia lilitkan di pinggangnya.
Dia melirik ke arah Meira. Gadis itu sedang melamun di atas ranjang dengan posisi bersandar pada kepala ranjang.
"Ada apa? kenapa akhir akhir ini aku sering melihatmu cemberut sih? kau ngidam sesuatu sayang?"
Arga mengambil piyama dari dalam lemari sementara matanya masih mengawasi sikap Meira.
Meira menatap Arga sambil tersenyum.
__ADS_1
"Tidak sayang, aku tidak ngidam apa apa."
Setelah selesai memakai pakaiannya dia bergegas naik ke atas ranjang dan ikut bersandar di kepala ranjang. Tangannya menyusup dibelakang punggung cewek itu, kemudian Arga menggeser tubuh Meira lebih dekat dengannya.
"Ada apa? apa yang kau pikirkan?" Seperti tidak puas dengan jawaban yang Meira berikan.
Dia tahu kapan gadis itu sedih, kapan gadis itu bahagia. Akhir akhir ini dia sering mendapati Meira sering bengong tiba tiba.
"Sayang.." Akhirnya Meira pasrah, dia tahu dia tidak akan pernah bisa menyembunyikan apapun dari Arga. Perasaan Arga terlalu tajam. Dia bahkan bisa mencium kegelisahan hanya dengan melihat sorot matanya.
"Ada apa? ceritakan.." Pinta Arga lembut.
"Flo dan Widya.."
"Kenapa dengan mereka?" Kening Arga berkerut karna tiba tiba Meira menyebut dua nama sahabat baiknya itu.
"Sayang, sepertinya hubungan keduanya semakin renggang akhir akhir ini, aku melihat Flo semakin menghindar dari Reihand juga dari Widya." Kata Meira.
Arga hanya diam membiarkan Meira menuntaskan ceritanya. Ternyata ini alasannya dia sering melamun akhir akhir ini.
"Flo sampai pindah tempat duduk, dan yang membuatku kepikiran, sebenarnya Reihand itu sukanya sama siapa sih? kalau dia memang suka sama Flo kenapa dia malah jalannya sama Widya? bikin kesel banget liatnya!" Meira malah emosi sendiri.
Arga mengusap punggung Meira lembut. Mencoba menenangkan.
"Meira kendalikan dirimu, ingat bayi kita." Arga mengancam lewat sorot mata yang tajam. Meira kemudian menarik nafas dalam dalam.
"Terus ya aku dengar dari Widya, sebenarnya Reihand itu belum nembak dia, tapi dia juga ngijinin Widya buat terus ada disamping dia, kan kamu tau sayang Reihand itu sukanya sama Flo! kalau hubungan mereka gak jelas kaya gini terus, bisa bisa persahabatan kami hancur sayang! Reihand tuh harus tegas milih diantara mereka berdua, bener kan?" Nelangsa Meira menatap Arga. Berharap pria itu bisa memberikannya saran untuk masalahnya kini.
Namun diluar dugaan, Arga malah tampak santai, Dia membetulkan letak duduk Meira. Menggeser bantal dan menyelipkan dibelakang punggung istrinya itu.
"Tidurlah, kau harus banyak istirahat, sepertinya energi mu terbuang percuma karna masalah ini."
"Sayang aku serius!"
"Aku juga serius, ayo tidur sekarang!" Perintahnya dengan nada otoritas yang otomatis langsung di patuhi Meira.
Gadis itu merebahkan dirinya dan tidur di sebelah Arga dengan wajah cemberut.
Arga menahan tawa geli melihat ekspresi wajah gadis itu, dia kemudian balik badan dan menghadap Meira.
"Tidurlah, besok aku akan bicara pada Reihand. Kau puas?" Katanya penuh kelembutan.
"Benarkah?" Tiba tiba raut wajahnya berubah senang.
Arga menarik selimut dan mengecup keningnya lembut.
"Iya sayang.. tidurlah, selamat malam."
"Selamat malam sayang."
Meira tidur menghadap Arga dan memeluk erat tubuh jangkungnya.
bersambung.
__ADS_1