
Sementara itu di ruko bekas mie ayam.
Hujan masih setia menemani sang bumi dalam kegelapan malam. Reihand menatap ruas jalan di depannya dengan seksama.
"Sial! kenapa dari tadi gak ada satupun kendaraan yang lewat sih!" makinya kesal. Dia beralih menatap Flo yang sedang terbujur kaku dalam dekapannya.
Flo masih sadar namun tubuhnya gemetar hebat, bisa Rei rasakan tangan itu sudah mulai berubah suhu menjadi sedingin es, tangan itu mencengkram erat kaosnya demi sedikit mengurangi goncangan tubuh akibat kedinginan ekstrim yang sedang dia alami.
"Flo, please tetap sadar ya," Reihand berbisik pelan di telinga gadis itu, menepuk nepuk pelan pipi Flo.
"Rei..dingin banget!"
"Iya, Flo. Makanya peluknya kencengin ya," pinta Reihand dengan wajah cemas, tangannya terulur memeluk tubuh Flo lebih dalam.
Flo mengangguk, otaknya sudah tidak bisa berpikir apa apa lagi, rasanya dia ingin cepat berbaring di kamar dengan selimut tebal dan secangkir teh jahe favorit ditangannya.
Sudah hampir setengah jam lebih mereka terjebak disana, di dalam ruko bekas mie ayam, tidak ada penerangan sama sekali kecuali sorotan dari lampu lampu penerang reklame jalan, itu pun jaraknya lumayan jauh dari tempat mereka berteduh.
Reihand mendongakkan kepalanya berkali kali ke arah jalanan. Berharap melihat setidaknya satu kendaraan lewat untuk meminta pertolongan.
Seandainya Flo dalam keadaan sehat, seandainya dia sedang tidak kedinginan begini, walaupun hujan masih terus turun dengan lebatnya mungkin Reihand akan tetap nekat menerobosnya dan mengantarkan cewek itu cepat pulang kerumahnya.
Tapi keadaannya berbeda, tubuh Flo sedang lemah, jika dia memaksakan maka kemungkinan terburuk bisa saja terjadi.
Reihand menoleh ke ujung jalan ketika telinga menangkap suara deru mesin mobil yang mendekat. Segera dia mengangkat tubuh Flo dan melangkah ke tepian ruko untuk mendekati bahu jalan.
"TOLONG, DISINI BUTUH BANTUAN!" teriaknya keras, lampu mobil menyorot dari kejauhan. Semakin dekat dan semakin dekat.
Untungnya sang pengemudi melihat Reihand dengan wajah paniknya, dalam kaca mobil pria muda itu terlihat sedang menggendong seorang wanita, ekspresi wajahnya seperti berusaha meminta pertolongan. Sang pengemudi tertarik dan akhirnya memilih untuk menepikan mobilnya.
Ciit
Mobil pun berhenti tepat di depan Reihand, sang pengemudi tidak mematikan mesin mobilnya, dia bergegas keluar menerobos hujan yang lebat.
"Ada apa nak?" seorang pria berusia sekitar 50 tahunan menatap Reihand dan Flo dengan wajah cemas. Kemeja abu abunya basah terkena air hujan, tapi begitu sampai ditempat Reihand dia bahkan sudah tidak memperdulikan lagi keadaanya yang basah kuyup itu, sepasang matanya iba menatap kondisi Flo, gadis itu terlihat pucat seperti selembar tisu.
__ADS_1
"Dia sakit pak, tolong antar saya kerumah sakit terdekat, ponsel saya mati, saya tidak bisa meminta bantuan siapa siapa!" kata Reihand dengan sorot mata memohon.
"Yasudah ayok, masuk mobil saya, biar saya antar kan ke rumah sakit terdekat!" tanpa menunggu waktu lagi juga tanpa berpikir lebih panjang pria tua itu berlari ke arah mobilnya lalu membuka pintu belakang penumpang untuk Reihand.
"Ayo, cepat masuk!"
Reihand mengangguk, dia menutup kepala Flo dengan jaketnya. Reihand lari ke arah mobil dan dengan hati hati memasukkan tubuh Flo lebih dulu, lalu setelah itu dia ikut masuk ke dalam mobil lewat sisi pintu yang satunya.
Setelah masuk ke dalam mobil Reihand mengangkat kepala Flo dan meletakkannya di atas kedua pahanya yang dia jadikan sebagai tumpuan bantal.
"Flo, bertahan ya," Lagi lagi Reihand berbisik ditelinga Flo.
"Hem" Flo mengangguk, matanya tertutup tapi telinganya masih bisa mendengar dengan jelas setiap kalimat yang Reihand ucapkan.
Mobil pun melaju dengan cepat membelah jalanan yang sepi.
Sepuluh menit waktu yang ditempuh untuk bisa sampai di rumah sakit terdekat, hujan lebat berganti menjadi gerimis gerimis manja.
Mobil berhenti tepat di depan sebuah pelataran rumah sakit X. Seorang satpam datang dan membukakan pintu. Reihand langsung keluar dan menggendong tubuh Flo masuk ke dalam rumah sakit.
"Tuan, ikut saya ke IGD!" seorang perawat perempuan menghampiri Reihand. Reihand mengikuti langkah perawat itu ke ujung lorong.
"Tolong baringkan pasien di ranjang ini setelah itu tuan silahkan tunggu di depan ya." pinta perawat itu saat mereka sudah sampai di dalam ruang IGD.
Reihand mengangguk pelan, Flo masih menggenggam tangannya, matanya terbuka sedikit nyaris sipit, dia menatap Reihand dengan wajah pucat nya.
"Rei.. mau kemana?" tanya Flo, suaranya nyaris tak terdengar.
"Flo, gue tunggu diluar ya? gue janji gak akan kemana mana." kata Reihand lembut sambil mengusap rambut Flo yang masih basah.
Pintu IGD pun tertutup, Reihand berjalan kaku dan menyenderkan kepalanya di tembok. Dia cemas teramat cemas pada keadaan Flo.
"Nak!!"
Reihand menoleh ketika mendengar deru langkah kaki mendekat, dia kaget mendapati pria tua yang mengantarkannya tadi tergopoh gopoh lari ke arahnya, Reihand melihat pria itu datang dengan membawa ransel miliknya.
__ADS_1
"Pak, terima kasih banyak sudah mengantarkan kami kemari." Reihand menghampiri pria tua itu.
"Sama sama nak, ini tas kamu ketinggalan di mobil saya, bagaimana keadaan dia?" tanya pria tua itu, Reihand tahu yang dimaksud 'dia' itu Flo.
Reihand mengambil tas dari tangan pria itu.
"Teman saya sedang diperiksa di dalam pak, pak saya tidak tahu harus berterima kasih bagaimana lagi, bapak sudah menyelamatkan kami tadi.." kata Reihand tulus sambil menatap pria tua itu, pria tua itu hanya mengangguk sambil tersenyum hangat.
Reihand membuka ranselnya, mencari cari dompet miliknya, dia benar benar ingin berterima kasih dengan cara memberikan sesuatu kepada bapak itu.
Seandainya pria ini tidak menepikan mobilnya entah apa yang akan terjadi pada nasibnya Flo.
"Pak, tolong terima ini.." Reihand menyerahkan beberapa lembar uang pecahan seratus ribu dan mengepalkan nya ke tangan pria tua itu agar pria itu mau menerimanya, tapi pria itu buru buru menolak dan mengangkat kedua tangannya tinggi tinggi.
"Tidak nak, tidak! saya membantumu tulus tidak mengharapkan apapun, kamu dan anak tadi seusia dengan anak bapak, seandainya anak bapak juga ada di posisi kalian, bapak harap ada orang lain yang akan menolongnya, anggap saja bapak sedang menabung kebaikan untuk anak bapak sendiri.." kata pria itu sambil menepuk pundak Reihand pelan, wajahnya tersenyum hangat pada Reihand.
Reihand membeku, seandainya dia punya seorang ayah, pasti rasanya seperti ini. Pria tua ini berbuat baik tapi bahkan kebaikan yang dia perbuat ini dia harapkan Tuhan akan di balaskan untuk anaknya saja, luar biasa.
Sayangnya orang tua Reihand telah bercerai, sosok ayah pergi dari hidupnya sejak dia menginjak masa remaja.
"Nak, saya pergi dulu ya, saya masih ada urusan penting. Kamu gak apa apakan saya tinggal?" tanya pria itu yang kontan membuyarkan lamunan Reihand.
"Gak apa apa pak, terima kasih banyak ya."
Pria itu akhirnya pergi setelah merasa Reihand dan Flo telah berada di tempat yang aman.
Tak lama pintu ruang IGD pun terbuka, seorang perawat membuka pintu, dokter terlihat keluar dari sana.
"Sus, gimana keadaan teman saya?" tanya Reihand sambil berlari menghampiri.
"Untunglah kamu cepat membawanya kemari, dia mengalami hipotermia ringan, kondisinya sudah ditangani dengan baik, kamu tidak perlu cemas." kata dokter sambil tersenyum kepada Reihand.
Reihand menghela nafas panjang, kelegaan kini muncul diwajahnya yang sedari tadi mendung berat.
berambung
__ADS_1