Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Perasaan Flo untuk Manji


__ADS_3

Mandala telah ramai sejak gerbang dibuka tepat pukul 6.10 wib tadi.


Hiruk pikuk kegiatan mahasiswa memenuhi seisi bangunan, ada yang langsung sibuk masuk kedalam kelas sekedar membuka buku catatan, ada yang hanya duduk di pinggir lapangan sambil mengobrol dan bersenda gurau menunggu bel pelajaran dan ada juga yang menghabiskan waktunya ke kantin kampus untuk mencari kudapan untuk sarapan.


Widya dan Flo, dua gadis cantik terlihat tengah berjalan di lorong menuju kantin kampus yang letaknya tepat di tengah tengah bangunan antara laboratorium dan bangunan fakultas hukum.


"Meira masuk gak ya hari ini?" tanya Widya sambil melirik jam ditangannya, masih ada waktu setengah jam lagi sebelum bel masuk pelajaran pertama.


"Kurang tau deh Wid." Jawab Flo sambil mengangkat bahu.


"Mudah mudahan sih masuk wid, tapi kayaknya mustahil deh ngeliat sikap Arga kemaren, huhu kasian banget ya Meira." Kata Flo lagi.


"Iya sih kasian, tapi kalau diliat liat Meira beruntung banget tau Flo, Arga bersikap posesif kaya kemaren karna dia khawatir sama Meira, dia ngejaga Meira supaya Meira gak kenapa napa, aduh jadi pengen nikah gue haha biar ada yang merhatiin kaya Arga." Widya tertawa geli saat ingat peristiwa kemarin di depan ruang kesehatan.


"Nikah sama siapa? pacar aja gak punya lo!" Ucap Flo sarkas.


"Haha iya sih, mang sedih ye nasib kita."


"Nasib lo aje, jangan bawa bawa gue, gue sih ada ayang Manji yang ganteng." sahut Flo sambil senyum senyum sendiri, tiba tiba wajah ganteng Manji terbersit dibenaknya.


"Halah cinta bertepuk sebelah kaki aja bangga bener!" Ucap Widya telak, membuat Flo seketika manyun.


"Bertepuk sebelah tangan maksud lo!"


"Sama aja, intinya sebelah doang cintanya elo, dianya kagak, bhahaha." Widya tertawa puas membalas ucapan Flo yang mengatainya jomblo walaupun emang bener sih.


Mereka jomblo kuadrat.


Semenjak masuk ke Mandala, Flo sudah langsung menambatkan hatinya pada sahabat Arga yang bernama Manji, dia jatuh cinta pada pandangan pertama, tapi sayangnya Flo tidak berani bermimpi tinggi untuk bisa memiliki Manji.


Karna Flo tau Manji adalah salah satu mahasiswa yang cukup terkenal dikampus itu, posisinya sebagai sahabat sang pentolan kampus membuat dirinya juga jadi sorotan disana.


Apalagi Manji memiliki paras yang sangat tampan dan rupawan, selama ini dikampus Manji juga sering dikelilingi para mahasiswi yang tertarik padanya.


Mahasiswi yang mengelilingi Manji juga bisa dibilang primadonanya kampus, mereka memilki wajah yang cantik dan body yang aduhai.


Flo cukup tau diri, dia bisa kenal dengan laki laki itu juga karna kebetulan Manji adalah sahabat baiknya Arga, dan Meira lah yang secara tidak langsung menjadi jembatan penghubung dirinya untuk bisa kenal dengan laki laki itu.


"Coba deh lo kirim pesan ke nomornya Meira, tuh anak masuk gak hari ini."


"Udah Wid, tapi gak dibales."


"Yaudah ke kantin dulu aja deh yuk, gue belum sarapan nih, hehe." Widya nyengir saat menyadari cacing di perutnya mulai berdemo.


"Yaudah yuk kita kesana aja sambil nungguin kelas dimulai, gue juga kebetulan lagi pengen mesen es kopi nih, gara gara nonton drakor sampe tengah malem, gue jadi ngantuk berat nih sekarang."


Flo memang terlihat menguap terus dari tadi.


Widya dan Flo pun akhirnya masuk ke area kantin, Widya mencari tempat duduk sementara Flo yang memesan makanan.


Setelah memesan sepiring nasi uduk pesanan Widya, Flo bergegas menghampiri penjual es disebelahnya.


"Bu Nenden, aku pesen es kopi ya satu sama es teh manis satu."


Flo menyerahkan uang 20 ribuan ke tangan penjual es itu.


"Nya atuh siap neng, sekedap nyah, (oke atuh siap neng, tungguin ya)." bu Nenden menerima uang itu lalu menyerahkan kembalian 10 ribuan ke tangan Flo.


"Kamu suka ngopi juga Flo?" tanya Manji.


Flo menoleh kaget ketika dia melihat Manji ternyata sudah berdiri di belakangnya. Wangi parfum dengan aroma maskulin yang berasal dari tubuh Manji membuat jantung Flo berdetak lebih cepat.


Ya tuhan pagi pagi udah cuci mata aja, seger bener. Batin Flo.


Flo tak bergeming saat penjual es memanggil namanya.


"Neng Flo, ari neng teh kunaon atuh ngelamun isuk isuk? Sangadi kasambeut dei (neng teh kenapa atuh ngelamun pagi pagi, nanti kesambeut loh)."


Bu Nenden menepuk lengan Flo, barulah gadis itu sadar, dan betapa malunya ketika dia melihat Manji tertawa geli melihat tingkahnya.


"Eh, iya bu maaf ya." Buru buru mengambil es kopi dan es teh manis yang dipesannya dari tangan bu Nenden.


"Sini aku bawain satu." Tawar Manji sambil mengambil salah satu gelas dari tangan Flo, gadis itu menahan nafas ketika tangannya tak sengaja bersentuhan dengan tangan Manji.


Mereka pun berjalan menuju tempat duduk dimana Widya telah menunggu.


Widya mengernyit kaget ketika melihat Flo datang dengan Manji.


"Loh kok.."

__ADS_1


"Gak sengaja ketemu di tukang es." Sela Flo buru buru sebelum Widya membuka mulutnya yang ember dan bicara yang tidak tidak.


"Ouh kebetulan toh." Widya mengangguk sambil melirik Flo dengan menahan tawa geli.


"Kalian lagi mau sarapan ya? gue boleh gabung gak?" Manji duduk merapat disebelah Flo.


"Iya, nih kita mau ngisi perut dulu sebelum bel masuk, si Farel mana? biasanya tuh anak sama lo mulu." tanya Widya, dia ngerasa heran karna biasanya dimana ada Manji disitu pasti ada Farel, seperti upin dan ipin yang tak terpisahkan.


"Dia lagi ada urusan sama anak fakultas hukum."


Flo sudah tak bisa konsen ketika bahunya bersentuhan dengan bahu Manji tanpa sengaja.


Dia menggigit bibirnya, ya ampun jantung gue gak aman nih! batin Flo.


Widya yang menyadari kegugupan Flo malah tertawa cekikikan.


Dasar lo Wid, seneng banget liat gue kesiksa, awas aja ya.


"Eh, ka Manji ada disini?" Seorang perempuan bertubuh molek dengan riasan yang lumayan mencolok tiba tiba berdiri disebelah Manji.


Manji hanya membalas dengan senyuman dan anggukan.


"Rosa boleh gak gabung disini kak?" tanya perempuan itu sambil melirik bangku kosong disebelah widya.


"Duduk aja Rosa kalau mau duduk.." jawab Manji acuh tak acuh.


Flo memperhatikan gadis bernama Rosa itu, wajahnya sangat manis, dia sepertinya suka juga pada Manji, terlihat dari gestur tubuhnya yang terus memperhatikan ke arah Manji.


"Kak Manji udah sarapan?" tanya Rosa lembut, gadis itu langsung mengambil tempat duduk kosong disebelah Widya.


"Kebetulan belum, ini lagi nunggu nasi uduk sih." Manji mengeluarkan ponselnya sambil menunggu nasi uduk pesanannya datang.


Flo dan Widya hanya saling lempar tatapan, membiarkan dua orang itu mengobrol.


"Ka, aku bawa sesuatu nih buat kak Manji.." Tangan Rosa sudah sibuk membuka resleting tasnya.


Rosa mengeluarkan sebuah kotak makan berwarna abu abu lalu menyodorkannya ke hadapan Manji.


Flo hanya memperhatikan sambil gigit jari. Rosa tampaknya akrab sekali dengan Manji, dia bahkan tidak canggung sama sekali saat berbicara dengan pria yang ditaksirnya itu.


Sedangkan Flo hanya tak sengaja bersentuhan saja bisa membuatnya seperti orang linglung.


"Apa nih?" Manji memperhatikan kotak bekal itu sambil menaruh ponselnya ke atas meja, lagi lagi bahunya dan bahu Flo bersentuhan, Flo meremas ujung bajunya.


"Wey, malah ngelamun!" Widya menepuk pelan lengan Flo hingga gadis itu tersentak kaget.


Flo kembali memperhatikan Rosa, gadis itu tersenyum manis sambil membuka kotak abu abu yang ada diatas meja.


"Wah, kelihatannya enak!" Flo tanpa sadar berucap ketika melihat nasi dan lauk berupa ayam pedas manis lengkap dengan lalapan timun yang dihias dan di tata dengan sangat estetik.


"Iya, ini bekal yang aku siapkan sendiri aku masak ini subuh tadi." Kata Rosa bangga, dia menaruh sendok diatas kotak itu dan menggeser kotak makannya ke hadapan Manji.


"Ini buat gue?" Manji menunjuk dirinya sendiri.


Rosa baru mau membuka mulutnya u untuk menjawab pertanyaan Manji namun tiba tiba seorang pedagang datang diantara mereka, bu Marni sang penjual nasi uduk itu terlihat membawa nampan berisi dua buah piring berisi nasi uduk.


"Misi den, non, ini pesanan uduknya udah jadi." bu Marni meletakan nasi uduk dimeja itu lalu pamit pergi.


"Makasih ya bi." Kata Widya sambil menggeser salah satu piring nasi uduk miliknya.


"Rosa, sorry banget ya, tapi gue udah terlanjur pesen nasi uduk nih, lo simpen aja bekal lo buat makan siang nanti, oke?!" Manji menggeser kembali kotak makan itu ke hadapan Rosa.


Rosa terlihat kecewa, bibirnya manyun beberapa inci.


Flo menahan senyum.


Haha dosa gak sih bahagia diatas kesedihan orang lain?! batin Flo.


"Yaudah aku tutup lagi, tapi kaka bawa ya buat makan siang kaka, tolong diterima, aku bener bener niat banget ngasih ini, aku pengen kak Manji bisa nyobain masakan yang aku buat." Rosa memasang wajah memelasnya.


Flo dan Widya menatap Rosa takjub, gila ternyata gadis ini sangat terang terangan. Sepertinya Flo akan tertinggal jauh.


Manji menarik napas panjang.


"Yaudah kamu tinggalin aja disitu, nanti aku ambil."


"Serius? ah, terima kasih kak Manji." Ucap Rosa sambil mencubit salah satu pipi Manji dengan gemas.


Flo hampir saja menyemburkan es kopi yang baru masuk ke dalam kerongkongannya.

__ADS_1


astaga beraninya dia menyentuh Manji ku! di dalam hati Flo memaki Rosa.


"Lo bakal disalip Flo." Widya berbisik pelan, dia malah cekikikan melihat tampang semrawut Flo, dasar tidak Widya, bukannya ditenangin malah diketawain!


Setelah menyerahkan bekal yang dimasaknya itu, Rosa pamit pergi, gadis itu berlari menghampiri teman temannya yang hendak pergi dari kantin.


Widya, Flo dan Manji melanjutkan acara makannya tanpa banyak bersuara.


Flo hanya diam dan sesekali melirik ke arah Manji, dia memperhatikan bekal yang Rosa tinggalkan diatas meja.


Harus diakui, Rosa adalah wanita yang berani,


bekal ini menjadi bukti jika Rosa pasti serius dengan perasaan yang dimilikinya untuk Manji.


Flo menarik nafas panjang, astaga kenapa rasanya sesak sekali memikirkan ada wanita lain yang juga tengah menyukai seseorang yang spesial di hatinya.


"Gue cabut duluan ya guys!" Kata Manji saat dia telah selesai menyantap nasi uduknya.


Manji hendak berdiri. Flo otomatis berdiri.


"Tunggu, ini bekalnya Rosa gimana? gak kamu bawa?"


"Buat kamu aja Flo, atau mau kamu kasih ke orang lain juga bebas."


"Loh, kenapa? bukannya tadi kamu mau nerima pemberian Rosa?"


Manji diam sejenak.


"Gue terima karna tuh cewek berisik banget, kalau gak gue terima bakal lebih berisik juga, jadi terpaksa!"


Flo tersentak mendengar jawaban Manji yang menurutnya kejam.


"Jadi kamu cuman basa basi aja nerima ini?" tanya Flo sambil mengangkat kotak bekal tinggi tinggi.


"Basa basi?" Manji menatap Flo heran.


"Ayolah Flo ini cuman bekal makanan, kasih aja sama Widya tuh, jangan terlalu dibesar besarin, aku gak peduli."


Manji sudah mau pergi namu Flo menahan tangannya.


Wajah gadis itu terlihat sangat marah.


Widya sampai kaget dan ikut berdiri, dia tidak pernah melihat kemarahan Flo seperti ini sebelumnya.


Widya mencoba menenangkan Flo karna sekarang mereka tengah menjadi pusat perhatian di kantin itu.


"Ji, gue tau lo itu famous, lo juga ganteng, gue akuin! tapi jangan sombong dan seenaknya ji!" Kata Flo.


Manji tertegun.


"Lo gak pernah ngerasain jatuh cinta ya? si Rosa pasti udah nyiapin bekal ini dengan sepenuh hati, seenggaknya kalau emang lo gak ada niat buat nerima bekel ini, lo kasih tau tuh anak baik baik tadi! jangan diterima kalau akhirnya lo kasih juga ini ke orang lain, lo gak punya hati banget sih! lo gak bisa apa ngehargain pemberian orang ke lo?!" kata Flo lagi, suaranya terdengar berapi api.


Flo benar benar kecewa dan tanpa sadar dia sudah kehilangan kontrol dengan apa yang diucapkannya.


Manji semakin mengerutkan alisnya, namun dia tetap membiarkan Flo meluapkan semuanya.


"Nih, terima ini, ini bekal lo! jangan dikasih ke orang apalagi dibuang! " Flo menyerahkan kotak bekal Rosa.


Meskipun dia benci ketika melihat ada wanita lain yang mendekati Manji, tapi sebagai sesama wanita Flo juga rasanya tidak rela jika pengorbanan seorang wanita di sia siakan seperti ini, menurut Flo Manji sudah keterlaluan.


"Flo, tenang Flo.." Widya masih berusaha menyadarkan Flo, ini benar benar diluar kebiasaan Flo, marah marah didepan banyak orang. Kalau Flo sadar, Widya yakin nih anak bakal malu seumur hidupnya, jadi untuk mencegah hal itu terjadi Widya harus segera bertindak.


"Lepasin Wid! gue harus kasih tau Manji kalau dia gak bisa mainin perasaan orang lain seenaknya!" Flo menepis tangan Flo yang berusaha menenangkannya.


astaga nih anak, kesambet setan apa sih! Widya menggerutu kesal.


Melihat Manji hanya diam, Flo langsung menarik salah satu tangan Manji dan memaksa pria itu menerimanya.


Manji sampai ternganga mendapat serangan terus menerus dari Flo, dia menatap lurus mata Flo, mata gadis itu malah yang berkaca kaca, Manji jadi tambah bingung.


dia yang marah, dia juga yang nangis!


Flo akhirnya sadar ketika dia melirik ke sekitar, pandangan orang orang tengah tertuju heran kepadanya. Bahkan sebagian dari mereka melihat Flo dengan pandangan aneh, kenapa nih anak dari tadi marah marah sendiri, begitu Flo menterjemahkan tatapan mereka.


Flo menggigit bibirnya, menyadari kebodohannya yang barusan lepas kontrol dihadapan Manji dan semuanya.


Gadis itupun menerobos melewati Manji dan lari sekencang kencangnya meninggalkan kantin.


Widya menepuk jidatnya, dia sudah bisa menebak ending dari sikap gegabah nya Flo.

__ADS_1


"Maafin Flo ya Ji, maklum dia lagi PMS, dia pasti gak sadar apa yang dia ucapin tadi."


Akhirnya Widya menyusul Flo pergi. Tinggallah Manji yang berdiri sambil menatap kepergian Flo dengan seribu tanda tanya di kepalanya.


__ADS_2