
Seketika Flo mengerjap saat merasakan air mengguyur diatas kepalanya. Stella terbahak sambil terus mengguyur tubuh Flo dengan air di dalam botol yang ditumpahkannya ke atas tubuh gadis itu.
"Stella!!!" Flo berteriak keras namun nahas suara teriakannya tertelan di ruangan yang kedap suara itu.
Salah satu teman Stella ternyata sudah mengunci pintu saat mereka masuk tadi.
Setelah memastikan seluruh air di dalam botol itu tumpah, Stella menyuruh kedua temannya melepaskan cengkeraman tangan mereka di kedua lengan Flo.
Stella berjalan mendekat dengan seringai tajamnya dia menyapu keseluruhan wajah Flo yang terlihat sangat jengkel.
"Mampus! sekarang lo tau kan lo lagi berhadapan dengan siapa?" Tanyanya sengit.
Flo mengusap sisa air yang masih mengalir diwajahnya.
"Kurang aja! dasar nenek lampir, lo sengaja nyuruh gue kesini cuman mau bikin gue basah? belom pernah kena bogem lo ya!" Sengit Flo balik, dia menyentak salah satu bahu Stella hingga tubuh gadis itu mundur kebelakang.
Stella terbelalak, tidak menyangka jika Flo akan berani melawan balik dirinya.
Akibat perlawanannya pada kepala geng mereka, kedua teman Stella yang tadinya diam jadi ikutan bertindak.
Mereka menarik tubuh Flo dan menghentakkan dia ke tembok belakang.
Flo tersenyum mengejek.
"Cih, beraninya maen keroyokan!"
"Diem, lo jalaang! bisa diem gak lo!!" Stella sudah sangat berang.
Flo menyipitkan matanya, emosi memuncak saat Stella mengeluarkan kata kata hina itu dari mulutnya.
Jalaang? Cih, dia bahkan tidak bisa melihat kata kata itu sangat cocok untuk dirinya sendiri.
"Lo gak punya kaca?" Kata Flo balik.
"Diem, gue bilang diem! Lo lupa salon nyokap lo ada ditangan gue?" Bentak Stella dengan menggertakan gigi giginya hingga menimbulkan bunyi ngilu di kuping.
Alena akhirnya harus mati matian menekan emosinya agar tidak menguap ke luar. Lagi lagi Stella mengeluarkan kartu as untuk mengancamnya.
Stella akhirnya mencoba menguasai dirinya agar tidak emosional lagi. Dia merapihkan rambutnya yang sedikit berantakan, dia harus tetap terlihat elegan di depan musuhnya ini.
__ADS_1
"Sebenernya apa mau lo? gue udah nurutin mau lo buat jauhin Manji! kenapa lo masih ngeganggu gue?" Akhirnya Flo bertanya. Nadanya sudah tidak setinggi tadi.
"Gue mau apa? lo beneran mau tau gue mau apa?" Stella bertanya balik.
"Cepet ngomong!"
"Sewot amat sih lo! cukup terkesan sih gue lo sepertinya gak punya rasa takut sama sekali!" Kata Stella kembali menyipitkan matanya.
"Gue gak takut sama lo atau siapapun!"
Stella kembali tersulut emosi namun dia sadar Flo ternyata orang yang bebal, sekuat apapun dia kalap dan berusaha menunjukkan kekuasaannya, gadis ini malah akan menjadi lebih galak darinya.
Padahal posisinya saat ini ada dibawah Stella, Salon yang sudah berpindah tangan menjadi miliknya bahkan tidak sanggup membuat Flo tunduk secara sempurna dihadapannya.
Gadis ini masih memberikan perlawanan perlawanan atas setiap serangannya, seperti saat ini, Flo bahkan masih berani menatap balik tatapan tajamnya.
Padahal sebelumnya jika posisi Flo diganti dengan gadis lain, gadis itu pasti sudah pingsan karna tak tahan di bully olehnya.
"Gue akuin nyali lo gede juga, lo gak tau ya gue siapa?" Tanya Stella menyombong.
Flo memutar bola mata malas.
Stella tertawa mendengar pertanyaan balik Flo yang sangat merendahkan dirinya.
"Gue bisa bikin hidup lo hancur cuman dengan menjentikkan jari gue, harus lo inget baik baik kata kata gue ini!" sungut Stella, wajahnya berubah serius.
"Oh, Iya?" Tanya Flo pura pura kaget.
"Lo harusnya tunduk dibawah kaki gue!"
"Hahaha lo bukan Tuhan Stell, jangan kelewatan, gila kali lo." Flo tertawa dengan nada mengejek membuat Stella kembali tersulut emosi.
"Lo boleh ketawa sekarang, tapi besok besok liat aja, ada yang bakal lebih parah dari ini." Stella mengamati Flo dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Lagi pula lo sama sekali bukan level gue!"
"Ouh iya? terus kenapa lo takut Manji gue rebut?" Tanya Flo menohok.
Stella bagai tersengat dengan pertanyaan Flo barusan.
__ADS_1
Kalau di pikir pikir benar juga ucapan gadis ini, dari segi penampilan saja Flo sama sekali tidak modis, dia memang cantik tapi kalau dibandingkan Stella yang setiap bulan perawatan ke klinik kecantikan sampai menghabiskan budget yang sangat fantastis, Flo mungkin tidak bisa di sejajarkan dengannya, wajahnya yang nyaris tanpa pori pori dan warna kulit yang nyaris transparan karna seringnya melakukan suntik vitamin c membuat Stella kelihatan benar benar terawat dari mulai ujung kaki sampai ke ujung rambut.
Kecantikan Flo benar benar alami berbanding terbalik dengan Stella yang sudah banyak mendapat sentuhan tangan dari Dokter Bedah.
"Kenapa? lo takut? gue yakin dengan wajah cantik yang lo punya, Manji gak akan nolak lo, tembak aja dia, sekarang jaman udah kebalik kan? udah ada yang namanya kesetaraan gender, jadi gak usah gengsi, kalau lo cinta sama dia, lebih baik lo ungkapin duluan, siapa tau dia juga sayang sama lo!"
"Lo ngeledek gue?"
"Suudzon aja lo. Gue ngasih saran sih!"
Stella terdiam, tapi benar juga ucapan Flo barusan, dia memang tidak pernah menembak Manji secara resmi, selama ini mereka terus berada di zona teman tapi mesra. Stella tidak pernah berpikir untuk mengungkapkan perasaannya lebih dulu karna dia ingin menunggu sampai Manji duluan yang memintanya untuk menjalin hubungan dengannya.
Flo menahan tawa melihat reaksi kebengongan Stella. Ternyata cuman tampangnya aja yang dia poles tapi otaknya sekalipun gak pernah dipake.
"Lo udah puaskan ngejahilin gue, liat nih sekujur tubuh gue basah!! masih ada lagi gak yang mau lo puas puasin ke gue?" Tantang Flo pada Stella. Dia benar benar sudah ingin pergi dari gudang itu. Sekujur badannya sudah basah kuyup, sejujurnya Flo mulai merasa kedinginan.
Stella benar benar kehabisan kata, ternyata tidak mudah menakut nakuti Flo. Di serang dari berbagai arah pun dia malah nantang balik, benar benar mengal baja.
Akhirnya karna lawannya malah menantang dengan penuh keberanian, Stella menyuruh kedua temannya yang sedari tadi memegangi tangan Flo untuk melepaskan tawanannya kali ini. Sepertinya rencananya untuk membuat Flo basah kuyup hingga menimbulkan efek ketakutan gatot alias gagal total. Flo malah kelihatan tenang sekali.
"Gimana ini bos?"
"Cabut! biarin aja dia kali ini!"
Stella pun akhirnya pergi dengan tangan hampa. Dia harus memikirkan rencana lain untuk membuat Flo takut pada dirinya.
Flo masih berdiri tegak, dia tidak boleh terlihat lemah di depan lawannya, dia tidak ingin Stella semakin semena mena, hanya dengan berpura pura berani dia bisa sedikit membuat gadis jahat itu tak melewati batas.
Namun pada akhirnya tepat ketika pintu telah tertutup rapat, kedua kaki Flo yang memang sejak tadi sudah lemas akhirnya ambruk juga ke lantai, keberanian yang dia perlihatkan tadi juga nyatanya hanya di mulut saja, Flo menatap tubuhnya sendiri dengan rasa sedih.
Dis tahu ini baru awal, masih banyak kejutan yang akan Stella persiapkan untuknya di depan sana. Bagaimana esok dia akan melewati hari harinya, kecemasan dan ketakutan mendadak menggila di dalam benaknya.
Perlahan Flo memejamkan matanya seiring dengan itu buliran bening jatuh meluruh di kedua pipinya. Flo terisak dalam diam.
Sekarang dia harus bagaimana? tidak mungkin dia keluar dengan kondisi basah kuyup begini.
Ya Tuhan, siapapun tolong aku! Gumamnya tanpa sadar.
bersambung.
__ADS_1