Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
akhirnya tuan Heru tau semuanya


__ADS_3

Esoknya setelah selesai mandi Arga dan Meira turun ke bawah untuk sarapan bersama.


Meira berhenti sejenak diujung tangga dan melihat ke arah kamar Andrew.


"Ada apa?" Tanya Arga saat melihat Meira hanya mematung.


"Apa ka Meta gak ikut kita sarapan Ga, aku gak lihat dia dari kemaren."


Arga berbalik dan meraih tangan Meira untuk kembali menuruni tangga.


"Dia udah balik kerumah orang tuanya Mei, mungkin dia merasa sungkan tinggal disini tanpa Andrew."


Meira tersentak, tidak menyangka jika Meta juga akan ikut hengkang dari rumah besar, meskipun Meta menyebalkan tapi dia tetap merasa kasihan pada kakak iparnya itu.


"Ayo kita sarapan." Arga menarik salah satu kursi dimeja makan.


Meira duduk disamping Arga. Melihat meja makan yang begitu panjang namun hanya dia dan Arga yang ada disana kenapa rasanya hati Meira tiba tiba hampa ya? Meira melirik Arga, meskipun Arga tidak mengatakan apapun, tapi dia tahu laki laki itu pasti sedih melihat keluarganya terpecah belah seperti ini.


"Kau tidak akan menghukum ka Meta kan atas kesalahan yang Andrew perbuat?" Meira ragu bertanya.


Arga tak langsung menjawab, dia diam sejenak sambil menghela nafas panjang.


"Kau tidak perlu khawatir Mei, aku tidak akan menghukum seseorang yang tidak berbuat salah. Selama Meta tidak terlibat dengan kejahatan Andrew, aku akan memastikan dia aman."


Meira terlihat lega mendengarnya.


"Sudahlah kita jangan bahas itu dimeja makan, habiskan ini, kau suka ayam geprek kan?" Tanya Arga sambil meletakan sepotong ayam ke atas piring Meira.


"Selamat pagi semua.." Tiba tiba terdengar suara yang sangat familiar ditelinga Arga.


Arga dan Meira menoleh ke arah ruang tamu, seketika wajah Arga menegang saat melihat ternyata yang datang adalah ayahnya, Heru Alexander. Pria tua itu ternyata kembali lebih awal dari dugaan Arga.


"Arga, Meira kalian sedang sarapan?" Tuan Heru bertanya ramah sambil menghampiri meja makan, memeluk Arga dan Meira secara bergantian.


Meira melirik Arga, dia melihat suaminya seperti patung, tak bergeming meskipun tuan Heru mengusap punggungnya sambil melemparkan senyum ramah.


"Kenapa papah pulang lebih awal? aku pikir papah kembali nanti malam."


tuan Heru mengerutkan alisnya mendengar pertanyaan Arga, tidak biasanya anaknya itu peduli pada hal hal seperti itu.

__ADS_1


"Loh emang papah gak boleh balik lebih awal?" tanya tuan Heru sambil tertawa kecil.


Tuan Heru menarik salah satu kursi diujung meja.


"Kebetulan nih papah dari bandara belum sarapan, oh iya kemana mamah mu dan Andrew Ga? apa mereka belum bangun jam segini?" Tuan Heru melirik jam ditangannya.


"Ouh iya Meta kemana? dia juga kenapa belum gabung di meja makan? kemana mereka sih mereka?" tanya tuan Heru lagi.


Tuan Heru membuka piring lalu tak lama seorang pelayan membantu memindahkan nasi dan lauk ke atas piringnya. Biasanya ini jadi tugas istrinya Lusi.


Arga dan Meira saling bersitatap. Meira bisa merasakan kecemasan diwajah tampan itu. Pasti Arga kebingungan mau menjelaskan mulai darimana.


"Pah.." Ucap Arga terbata.


"Ada apa Ga?" Tuan Heru mulai menyendok nasi dipiringnya.


"Andrew dan ibu Lusi sudah kabur, mereka tidak akan berani pulang kesini lagi."


Deg, tangan yang hampir mau menyuapkan sendok berisi nasi itu terhenti diujung mulut, tuan Heru kembali meletakan benda itu ke atas piring. Dia beralih menatap Arga lurus.


"Apa?" Wajah tuanya tampak syok, namun seketika pria itu mencoba tersenyum, dia pasti terlalu lelah diperjalanan tadi hingga pendengarannya jadi terganggu.


"Pah, Andrew dan Lusi.." Ragu Arga melanjutkan kalimatnya, dia tidak tega ketika melihat raut khawatir di wajah ayahnya, pasti ayahnya tau jika yang akan dia ucapkan ini bukan kabar baik.


"Andrew dan ibu Lusi yang udah ngerencanain kecelakaan aku kemarin dan.."


"CUKUP!" tuan Heru berteriak lantang membuat Meira tersentak kaget.


"Jangan sembarang ngomong Arga! papah tau kamu tidak akur dengan Andrew dan Lusi, tapi bagaimanapun mereka itu sudah jadi bagian dari keluarga kita!"


Rahang Arga mengeras, dia tak menyangka bahkan disaat seperti ini papahnya masih membela dua orang tidak berguna itu.


"Papah yang cukup! kali ini dengerin aku baik baik, selama ini mereka berdua sengaja ingin melenyapkan Arga agar ibu Lusi bisa menjadikan Andrew pewaris utama perusahaan kita!"


Tuan Heru tampak syok, Meira mencoba menenangkan Arga yang juga terlihat emosi.


"Arga!!" tuan Heru mencoba mencela.


"Tidak! kali ini papah harus mendengar kebenarannya meskipun aku tau papah tidak akan percaya! Andrew dan Lusi yang udah menjadi dalang kematian kak Stefan pah!!! kejahatan mereka sudah terlalu banyak! setidaknya pikirkan kak Stefan."

__ADS_1


"APA?" tuan Heru melotot, urat urat diwajahnya menegang mendengar kabar yang begitu mencengangkan, kematian Stefan? tidak mungkin! anak sulungnya itu kan bunuh diri, tidak mungkin Andrew yang membunuhnya.


"Stefan, maksudmu kematian kakakmu direncanakan oleh Andrew dan Lusi?" tuan Heru bertanya dengan suara bergetar.


"Iya, dan selanjutnya target mereka adalah aku dan Meira." Arga mendekati ayahnya, laki laki tua itu memegang dadanya, terlihat sangat kaget dan tak percaya.


"Meira, perlihatkan rekaman percakapan antara Andrew dan ibu Lusi waktu itu."


Meira mengangguk dan buru buru mengeluarkan ponselnya dari saku celana.


Dia memang memegang salah satu bukti percakapan penting antara Andrew dan Lusi yang membahas tentang kematian Stefan.


Meira pun menyerahkan ponselnya ke tangan Arga setelah sebelumnya dia membantu membuka folder video yang Arga ingin tunjukan kepada ayahnya.


Arga memutar ponsel Meira sambil memegang tangan ayahnya.


Detik demi detik berlalu sampai akhirnya tuan Haru mengusap wajahnya sendiri, terlihat kalut dan sedih sampai sampai dia tidak mengucapkan apapun setelah melihat video itu.


"Pah.." Suara Arga melembut. Arga bersimpuh didepan ayahnya sambil mengelus tangan laki laki yang mulai keriput itu.


Tuan Heru hanya diam menunduk, tetesan air mata jatuh diatas punggung tangan Arga.


"Pah, aku tau papah syok mendengar ini, tapi papah harus tau kebenarannya karna kak Stefan harus mendapatkan keadilan, dia memang bunuh diri tapi Andrew dan Lusi juga berperan dalam kematiannya!"


"Arga bagaimana mungkin mereka.." isak tangis terdengar begitu lirih.


Meira ikut mendekat dan mencoba mengusap pelan punggung ayah mertuanya.


"Papah tidak menyangka mereka akan tega berbuat begitu keji pada keluarga kita!"


Arga dan Meira hanya diam mendengarkan, membiarkan tuan Heru meluapkan segalanya.


"Kau tau dimana mereka sekarang?" Tanya tuan Heru sambi menatap Arga, masih ada sis aair mata diujung matanya.


Arga menggeleng pelan.


"Belum, tapi polisi dan orang orang kita sedang bergerak untuk mencari keberadaan mereka, papah gak usah khawatir, yang terpenting sekarang papah harus tenangin diri papah dulu ya."


Arga memeluk ayahnya, pelukan yang cukup membuat tuan Herus semakin terisak dalam tangisnya.

__ADS_1


__ADS_2