
"Kamu kelewatan banget sih Ga jadi orang!" Kata Meira dengan setengah berteriak.
Dia kasihan melihat Novi diperlakukan sedemikian rupa oleh Arga. Meskipun Novi sudah jahat kepadanya tapi Meira tetap merasa sikap Arga mempermalukan Novi di depan umum dengan menyiramnya pakai segelas jus alpukat bukanlah hal yang patut untuk dibenarkan.
Arga menggeleng heran.
"Kamu tuh aneh banget ya jadi cewek, udah di tolongin bukannya bilang terima kasih malah ngoceh ngoceh!"
"Iya Mei, biarin aja biar si Novi kapok!" Timpal Manji. Farel mengangguk ikut setuju dengan sikap Arga yang membalas kejahilan Novi.
Meira menahan kesal. Akhirnya dia pun memilih pergi dari pada harus beradu mulut lagi dengan Arga.
***
Meira menyusuri lorong, sekarang dia bingung harus bagaimana dengan kondisi roknya yang bolong tidak mungkin dia menunggu pelajaran kedua yang bakal dimulai sore nanti.
Meskipun Arga sudah menutupi lubang di roknya itu dengan melilitkan jaket di pinggangnya tapi rasanya Meira masih merasa kurang nyaman, apalagi seisi kantin tadi tahu apa yang terjadi, pasti dia akan menjadi pusat perhatian hari ini.
"Apa gue balik dulu aja ya buat ganti rok?" Tanya Meira pada dirinya sendiri.
Meira pun mengacak ngacak rambutnya sendiri, argh frustasi sekali dia! rasanya ingin menjerit sekuat tenaga, hari pertama masuk kuliah setelah beberapa hari cuti malah disambut dengan banyak masalah, sudah telat masuk pelajaran pertama dan sekarang dijahili oleh fans bar barnya Arga si Novi!
"Meira!!" Teriak Reihand yang tiba tiba sudah muncul tak jauh dari tempatnya berdiri.
Reihand berjalan cepat menghampiri Meira yang masih tak menyadari kehadirannya.
Reihand menatap Meira bingung, Meira terlihat kacau, dia berjalan tertunduk sambil menendang nendang permukaan lantai yang kosong.
"Mei!"
Barulah Meira menoleh kaget ketika sadar cowok ganteng itu sudah berdiri disampingnya.
"Reihand! lo sejak kapan disini?"
"Sejak tadi Mei, lo kenapa sih?"
Kedua alis Reihand bertaut, tidak biasanya dia melihat Meira ngelamun seperti ini.
"Gak apa apa kok Rei, lo kok gak masuk kelas pertama?" Tanya Meira mengalihkan topik, dia malas untuk membahas apa yang barusan dia alami di kantin tadi.
Reihand menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Hehe gue bolos Mei, kesiangan, lo sendiri kenapa gak masuk?"
"Gue juga sama kesiangan, tuh gara gara si Arga nurunin gue ditengah jalan!" Jawab Meira masih agak kesal.
Raut wajah Reihand seketika berubah serius.
"Si Arga udah masuk kuliah?"
"Iya." Jawab Meira ringkas.
"Terus lo naik apa tadi kesini?"
"Jalan Rei, gak ada angkot."
Reihand menggertakan giginya, meskipun sedang hilang ingatan tapi bagi Reihand tindakan Arga itu sangatlah konyol.
"Yaudah mulai besok gue jemput aja ya?" Kata Reihand sambil berjalan disebelah Meira. Mereka menyusuri lorong dan berbelok ke arah taman kampus.
__ADS_1
Hah?
Meira menoleh kaget.
"Gak usah Rei, gausah!" Meira menggeleng cepat.
"Kenapa? dari pada lo jalan kaki kaya tadi."
"Gue gak mau bikin masalah baru Rei, ntar yang ada orang salah paham, lagian sebenernya ada supir dirumah, cuman gue pengennya bareng Arga aja." Desah Meira dengan wajah ditekuk.
Reihand terdiam, dia menatap Meira lekat lekat.
"Lo gak usah khawatir Mei, gue yakin Arga bakal secepatnya ingat sama lo lagi." Ucap Reihand sambil merengkuh bahu Meira.
Merekapun duduk di bangku taman yang terletak dibawah pohon pohon kenari yang tumbuh mengelilingi area kampus.
Udara sejuk menerpa wajah Meira, entah kenapa dia selalu betah duduk berlama lama disana, jajaran pohon kenari sebagai salah satu pohon legendaris yang dipertahankan dikampus itu membawa hawa sejuk ditengah teriknya matahari.
Reihand dan Meira pun sesekali tertawa ditengah perbincangan mereka.
Tanpa mereka sadari Arga berdiri mematung dibelakang mereka, pandangannya lurus menatap ke depan, dadanya bergejolak hebat, entah kenapa dia tidak suka sekali melihat gadis itu tertawa begitu lepas bersama pria lain.
***
Jam pelajaran kedua telah usai, hari sudah mulai gelap, Meira memutuskan untuk langsung pulang dari kampus dengan diantar oleh Reihand menggunakan mobilnya.
"Makasih ya Rei." Ucap Meira setelah menutup pintu mobil.
Kaca mobil Reihand terbuka
"Siap tuan putri." Reihand tersenyum lebar sambil menundukkan sedikit kepalanya agar bisa melihat Meira diluar, setelah berpamitan dia pun menutup kaca mobilnya lagi lalu mulai menjalankan kembali mobilnya.
Meira pun berbalik untuk masuk ke dalam gerbang namun langkahnya seketika terhenti ketika dia mendengar deru motor yang semakin mendekat.
"Siapa tadi?" Arga membuka kaca helmnya tepat setelah motornya berhenti didepan Meira.
Meira terkesiap, pandangan mereka bertubrukan sesaat. Sepertinya ada kemarahan dimata Arga, tapi Meira tidak berani berspekulasi lebih, mungkin ini hanya perasaannya saja, dia tidak mau geer, Arga kan sedang lupa ingatan, tidak mungkin dia punya rasa cemburu disaat dia tidak ingat sama sekali padaku! gumam Meira dalam hati.
"Siapa?" Tanya Arga lagi, nadanya terdengar lebih dingin.
"Dia Reihand, dia orang yang waktu itu ngejekuk kamu dirumah sakit, kamu inget gak?"
"Iya aku tahu, maksud aku dia itu siapanya kamu?" Arga memperjelas arah pertanyaannya.
"Reihand itu cuman temen.."
"Temen tapi mesra?" Potong Arga.
"Temen kita Ga!"
"Kita? aku gak inget sama sekali sama dia!"
"Ck!" Meira mendesah, bagaimana dia harus menjelaskan semuanya sih! kalau menceritakan sosok Reihand dari awal sampai akhir bisa makan waktu seharian, lama lama jengkel juga dia menghadapi Arga.
"Yaudah kalau gak inget gak usah diinget inget!" Kata Meira akhirnya. Dia pun kembali melangkah dan masuk ke dalam halaman rumah. Meira sudah cukup cape hari ini, dia lelah, dia ingin secepatnya merebahkan dirinya di kasur.
Arga menggertakan rahangnya mendapati dirinya di acuhkan begitu saja oleh Meira.
__ADS_1
Beraninya nyuekin gue!
Arga pun langsung memarkirkan motornya di parkiran depan. Setelah mematikan mesin dia langsung melompat dari jok dan setengah berlari mengejar Meira.
Gadis itu hampir sejengkal lagi masuk ke dalam kamar, namun tiba tiba sebuah tangan terulur dari belakang, meraih lalu mencengkram lengannya dengan kuat.
"Arga!" Meira kontan memekik kesakitan saat pergelangan tangannya digenggam terlalu erat.
"Masuk!" Arga membuka pintu lalu menyeret Meira ke dalam kamar.
Sampai di dalam kamar, dihempaskannya tubuh mungil itu ke atas kasur hingga posisi Meira terlentang disana.
"Kamu kenapa sih Ga?" Meira berusaha untuk duduk namun Arga sudah lebih dulu maju dan naik ke atas tubuhnya. Dia mengunci kedua lengan Meira disamping kepala gadis itu.
Arga tidak menjawab, dia hanya sibuk menatap Meira dengan sorot mata yang tajam.
Meira menelan ludah berat, dia takut melihat sorot mata itu, sorot mata yang begitu tak asing, Arga pernah menatapnya seperti itu dulu, sorot mata itu penuh dengan kebencian.
"Seharusnya kamu tahu posisi kamu!"
Meira mengerutkan kening. "Maksudnya?"
"Katanya kamu istri aku, kenapa malah deket deket sama cowok lain? segampangan itu ya kamu?"
Meira menyipitkan matanya sambil menggeleng heran. Sepertinya dia memang harus melayangkan satu bogem mentah ke wajah Arga, dia sudah keterlaluan! bagaimana bisa kata kata serendah itu bisa keluar dari mulutnya.
"Jangan jangan dulu kita nikah karna kamu ngejebak aku kan?"
Meira terbelalak. "Ngejebak?"
Arga menatapnya lurus.
Meira berusaha melepaskan diri namun Arga malah semakin mempererat cengkeramannya, dia pun mengunci kaki Meira dengan kakinya. Gadis itu mati kutu, tidak bisa bergerak sedikitpun.
"Terserah kamu mau bilang apa! aku lagi cape!aku lagi gak mood berantem! lepasin gue Ga!" Pinta Meira dengan nada sewot.
Bukannya melepaskan Meira, Laki laki itu malah mendekatkan wajahnya, seketika Meira membeku, dia berhenti memberontak saat tiba tiba Arga memagut bibirnya. Pagutan itu begitu dalam.
Meira mencoba melepaskan diri namun Arga tak bergeming, dia terus menikmati bibir Meira, melummatnya dengan sangat brutal.
Meira memukul mukul dada Arga ketika salah satu lengannya berhasil terlepas dari cengkraman pria itu.
Namun bukannya berhenti Arga malah memegangi kepalanya, ciumannya masih belum terlepas, Meira merasakan jika ciuman kali ini begitu kasar.
"Arga!" Meira menjerit dan mulai terisak pelan.
"Inget ya, aku emang gak inget sama kamu, tapi kamu istri aku kan? aku gak suka saat barang yang aku punya disentuh oleh orang lain! jangan berani pulang bareng cowok tadi lagi, paham?" Arga langsung bangkit dan melepaskan cengkeramannya.
"Barang? kamu nganggep aku barang?" Tanya Meira berang.
Arga tertawa sinis. "Lalu mau aku anggep apa?"
"Apa kamu gak inget sedikitpun Ga? apa kamu bener bener gak bisa inget sama kenangan kita sedikitpun?" Meira menghapus air matanya lalu berdiri menatap Arga dengan sorot mata tak percaya.
"Iya, aku gak inget!" Arga membuka kemejanya lalu melemparkannya dengan kasar ke lantai. Dia pun berjalan ke lemari dan mengambil handuk dari dalam sana.
Meira mengikuti langkahnya dari belakang.
__ADS_1
"Kita belum selesai bicara!"
"Gue udah selesai!" Kilah Arga tanpa menoleh sedikitpun.