
Velina pulang lebih awal di bandingkan Diego, hari ini acara meetingnya gagal, karena client mereka memilih pergi begitu saja. Dan Velina baru tahu jika wanita di kantor bernama Helen, putri dari tuan Hansel pemilik perusahaan yang cukup ternama di negri ini. Velina khawatir jika wanita itu benar-benar akan membuat masalah, secara perusahaan milik keluarganya cukup berpengaruh di negri ini.
Ceklek...
Suara pintu yang terbuka membuyarkan lamunan Velina. Ia menoleh dan mendapati Diego baru memasuki rumah.
"Dimana nyonya?" Tanya Diego pada pelayannya yang baru saja membukakan pintu. Ia menyerahkan tas dan jas pada wanita paruh baya itu.
"Nyonya sedang ada di dapur, tuan." Bibi Nun menjawab seraya menunduk hormat.
"Aku di sini," Velina akhirnya menyahut dari arah dapur. Ia melambai ke arah Diego. Pria itupun memberi isyarat pada Bibi Nun agar berlalu. Kemudian ia melangkahkan dirinya sendiri menuju dapur yang tak di sekat dengan ruangan lainnya.
Lantai bawah memang sengaja di design tanpa sekat agar tampak luas.
"Tumben kau tidak pulang larut," ujar Velina ketika Diego sudah sampai di hadapannya.
"Memang kapan aku pernah pulang larut?" Diego balik bertanya.
Sebenarnya Velina tidak tahu pasti jadwal pulang Diego tepatnya jam berapa. Tapi ia banyak mendengar cerita dari Juan jika wanita itu lebih suka menghabiskan waktunya di luar rumah, bahkan kadang tidak pulang. Semenjak mereka tinggal bersama, Diego juga jarang pulang lebih awal.
"Terserah padamu sajalah." Velina tiba-tiba merasa tidak mood. Semenjak kehamilannya, sepertinya moodnya jadi sering terganggu.
"Aku tahu. Kau pasti marah karena malam ini kita gagal makan malam bersama kan?" Tebak Diego.
Velina tidak menyangka jika pria seperti Diego masih ingat dengan janjinya. Sedangkan dirinya sendiri sudah lupa. "Tidak masalah, aku tahu kau seorang bos, dan jadwalku tak menentu." Velina mencari sesuatu di dalam kulkas, ia hendak masak sesuatu untuk dirinya sendiri.
"Kenapa kau masak sendiri? Bukankah sudah ada pelayan di rumah ini?" Diego mengalihkan pembicaraan.
"Ya... aku hanya bosan saja jika terus di layani, aku tidak suka di perlakukan layaknya tuan putri. Aku pernah bilang kan, aku ingin pindah ke rumah yang lebih kecil saja agar aku bisa mengerjakan pekerjaan rumah sendiri. Tapi kau malah bawa banyak pelayan kemari." Velina sudah tampak mengeluarkan bahan-bahan makanan dari dalam kulkas dan menaruhnya di meja.
"Kenapa kau harus sekeras kepala ini?"
__ADS_1
"Apa maksudmu?" Velina balik bertanya tanpa menatap ke arah Diego, tangannya sibuk membersihkan sayuran di wastafel.
"Kenapa kau lebih memilih hidup susah jika kau bisa memilih hidup mudah?" Kadang Diego benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Velina. Wanita itu sangat berbeda dari wanita-wanita yang pernah dekat dengannya selama ini.
"Siapa yang kau bilang lebih suka hidup susah? Aku hanya berusaha menjadi diriku sendiri." Awalnya Diego mengira, jika Velina melakukan hal berbeda dari wanita lainnya karena ingin menarik perhatiannya. Tapi di lihat dari caranya yang menjawab apa adanya, itu sepertinya memang prinsip hidupnya.
"Memangnya kau mau masak apa? Biar ku bantu." Di bandingkan melanjutkan perdebatan, Diego memilih mengajukan bantuan.
"Tidak perlu, kau duduk saja di meja makan."
"Tidak, kali ini izinkan aku membantumu." Tanpa aba-aba Diego meraih sayuran yang sedang di bersihkan Velina, namun tanpa sengaja tangan mereka malah bersentuhan. Mata mereka pun bertemu untuk beberapa saat.
Sejak tadi Velina sengaja menghindari kontak mata dengan pria itu, tapi kali ini wajah pria itu malah berada tepat di hadapannya. Seolah ada kekuatan magnet, wajah Diego perlahan mendekat.
Velina mengalihkan wajahnya ke arah lain sebelum bibir Diego berhasil merenggut bibirnya. "Kendalikan dirimu, sekarang tidak hanya kita berdua saja di rumah ini."
Tapi keinginan dari dalam diri Diego terlanjur bangkit, dan sepertinya ia tak dapat menahan diri lebih lama lagi.
Diego mendekatkan bibirnya ke telinga Velina, "kalau begitu, bagaimana kalau kita melakukannya di kamar saja?" Bisiknya dengan suara sensual.
"Diego, apa yang kau lakukan?" Velina kaget saat Diego tiba-tiba saja membopong tubuhnya.
"Tentu saja aku menginginkanmu, memang apa lagi?"
"Tapi aku sedang masak, aku lapar, memangnya kau tidak lapar?"
"Tidak, aku ingin kau makan kau saja."
Kini keduanya telah sampai di kamar atas, Diego segera melempar tubuh Velina di atas kasur dan menindihnya. "Tapi aku belum mandi." Rajuk Velina.
"Memang kenapa kalau tidak mandi?" Diego dengan cepat melucuti pakaiannya sendiri.
__ADS_1
"Aku malu." Wajah Velina memerah dan itu membuat Diego makin bergairah.
"Kenapa harus malu?" Kini ia beralih melucuti pakaian Velina. "Aku tidak percaya kau masih malu-malu padahal kita sudah beberapa kali melakukannya." Diego segera membenamkan wajahnya di ceruk leher Velina.
Kali ini Velina hanya bisa terdiam, pria kembali menguasai tubuhnya, juga pikirannya. Semua seolah tak bisa di ajak kompromi dengan kata hatinya. Seharusnya ia tak boleh melakukan ini tanpa cinta. Itu tidak benar.
Diego terjatuh di atas tubuh Velina, ia baru saja mencapai puncak kenikmatannya, napasnya masih tampak terengah-engah. Ia tidak pernah merasa sebergairah ini sebelumnya.
"Diego..."
"Hem..."
Diego kini sudah berpindah posisi tidur di sisi Velina, mereka tidur tanpa berbalut busana dan masih bergelung di bawah selimut yang sama.
"Bagaimana jika ... seandainya aku hamil?" Velina meneguk ludah kasar, akhirnya kata-kata itu lolos juga dari bibirnya.
"Tidak mungkin, kau sudah meminum obat pencegah kehamilan kan?" Diego malah balik bertanya.
"Aku hanya bertanya seandainya," kilah Velina. Ia ingin tahu apa tanggapan pria di sampingnya itu.
"Tidak masalah, kau bisa menitipkan bayi itu padaku, dan kau boleh pergi jika ingin pergi."
Velina tidak tahu harus bereaksi seperti apa setelah mendengar jawaban dari Diego. Cairan bening dari sudut matanya tiba-tiba menetes. Seperti ada sayatan yang menyakitkan di relung hatinya.
"Setelah aku pergi, apa kau akan menikah lagi?" Velina makin tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Kenapa juga ia harus menanyakan hal itu pada Diego. Bukankah ia membencinya?
"Hei... kenapa tiba-tiba membahas hal itu?" Diego beralih menatap Velina. Wajah wanita itu tampak murung. Tidak tahu apa yang sedang di pikirkannya, tapi ia merasa akhir-akhir ini Velina terlihat berbeda.
"Jawab saja." Ucap Velina lirih.
"Jika iya kenapa? Jika tidak kenapa?" Balas Diego.
__ADS_1
Velina jadi jengkel di buatnya, ia menatap pria itu dengan tatapan kesal. Melihat itu Diego malah tersenyum, akhirnya ia bisa melihat wajah Velina yang biasanya. "Bisa tidak jawab saja dan tidak perlu bertanya balik?"
Bersambung