Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Ciuman paksa


__ADS_3

"Kok bengong Wid, mau gue suapi?" Tanya Reihand lagi.


Widya buru buru menganggukkan kepalanya saat tersadar dari lamunan.


"Mau Rei, mau!" jawab Widya antusias.


Wajah Widya terlihat sangat bahagia, Flo menarik nafas panjang, mencoba menyingkirkan rasa sesak yang tiba tiba memenuhi rongga dadanya.


Flo ikut senang melihat Widya sepertinya mulai bisa meluluhkan perasaan Reihand.


"Makannya pelan pelan Wid, nanti keselek." Kata Reihand lembut setelah menyuapkan sesendok nasi dan lauk cumi saus pada ke mulut Widya.


Widya mengangguk, hampir saja dia mau menangis saking senangnya. Penantiannya selama ini mendapatkan perhatian Reihand ternyata membuahkan hasil.


"Iya Rei, makasih ya."


Reihand mengangguk.


"Wah, keterlaluan, kalian mau saling pamer kemesraan ya!" Tuding Farel sambil menatap Arga dan Reihand secara bergantian.


Arga menaikkan satu alisnya sambil tertawa miris.


"Gue gak pamer, apa yang gue lakuin sama Meira bukan pura pura." Kata Arga enteng.


Semua mengernyitkan alisnya.


"Emangnya Reihand pura pura?" Tanya Farel polos.


Reihand terlihat cuek tidak menjawab, dia tetap melanjutkan makannya dan sesekali menyuapi Widya yang ada di sebelahnya.


"Udah makan, sibuk banget ngurusin percintaan orang!" Desi Manji sambil menyikut lengan Farel agar temannya itu berhenti untuk ngoceh ngoceh tidak jelas.


Manji memajukan bibirnya beberapa senti. Halah pada gak asik nih.


Flo kembali melanjutkan makannya, dia tiba tersedak.


Uhuk uhuk uhuk.


Reihand menoleh kaget, tangannya sudah terulur dan meraih segelas air didepannya, tapi tiba tiba gerakannya terhenti. Dia jadi ingat tujuan awalnya tadi. Dia tidak akan peduli pada Flo untuk sementara waktu ini.


Akhirnya Reihand mengurungkan niatnya untuk memberikan Flo minuman.


"Flo, pelan pelan aja makannya." Kata Meira sambil menepuk nepuk punggung Flo.


Flo mengangguk, buru buru dia meraih segelas minuman di dekatnya dan meneguknya.


"Oh, iya karena besok hari terakhir, sebelum pulang kita singgah dulu ya ke Tebing Cinta yang ada di dekat sini." Ucap Arga.


Seketika semua menoleh kaget.


"Hah Tebing Cinta? tempat apaan tuh?" Meira mengernyitkan keningnya.


"Tebingnya berbentuk seperti hati, makanya dinamain Tebing Cinta, di atas tempat itu kita bisa melihat pemandangan laut yang begitu indah..kita berangkat dari sini siang hari biar dapet pemandangan Sunset di atas sana."


Farel dan yang lain langsung kegirangan.


"Wih, bener lo Ga. Mantap kalau gitu, thanks ya saudara Doraemon." Kata Farel sambil menyeringai lebar.


"Yoi."

__ADS_1


...***...


Semua balik ke kamar masing masing setelah acara makan malam itu selesai. Flo sedang mengepak baju bajunya ke dalam koper.


Tiba tiba dia teringat kejadian di meja makan tadi, Flo menarik nafas dalam dalam, ternyata sesesak ini melihat orang yang kita sayang memberi perhatian kepada perempuan lain.


Sementara Widya yang berada di dalam kamarnya tak hentinya menari jingkrak jingkrak, hatinya seakan tengah diliputi bunga bunga mawar yang bermekaran, dia sangat bahagia.


Akhirnya Reihand mau menoleh kepadanya, Widya bertekad setelah ini akan membuat Reihand benar benar menjadi miliknya seutuhnya.


Jam menunjukkan pukul 02.00 dini hari.


Di dalam kamar, Flo gelisah, dia tidak bisa tidur sama sekali.


Flo menarik selimut lalu turun dari atas ranjang, dia akhirnya memutuskan untuk jalan disekitar jembatan kayu untuk mencari udara segar.


Semilir angin menerpa wajahnya, angin malam di atas resort terasa menusuk kulitnya.


Flo berpegangan di sisi jembatan kayu sambil memandang ke atas langit. Bintang bintang terlihat bersinar benderang di atas sana.


"Sedang apa disini?"


Flo menoleh kaget, menyadari suara yang sangat familiar ditelinganya.


"Reihand!" Flo berbalik dan kaget melihat Reihand sudah berdiri di belakangnya.


Sepasang matanya menatap Flo dingin, Flo tidak tahan melihat tatapan itu. Hatinya tersayat. Sekarang Reihand menatapnya seperti orang asing. Tapi baguslah, Flo juga bersyukur, berarti dia tidak harus bersusah payah menjauh dari Reihand.


"Gue, gak bisa tidur makanya kesini nyari angin seger, gue duluan ya!" Flo hendak pergi dari tempat itu tapi Reihand mencekal salah satu tangannya.


"Rei apaan sih! lep..."


Mata Flo membulat seketika, dia meronta memukul dada Reihand, berusaha melepaskan diri saat sadar dari kekagetannya.


Tapi Reihand sama sekaki tidak bergeming, dia malah memperdalam ciumannya, sesekali menyesap bibir ranum Flo dengan lembut, menautkan lidahnya dengan lidah Flo secara intens. Reihand bahkan menekan tengkuk Flo dan membuat gadis itu tak bisa bergerak sama sekali.


Cukup lama dia meluumat bibir Flo dengan perasaan yang bergemuruh, Reihand tak bisa menahan keinginannya menyentuh bibir gadis yang sangat disayanginya, sekuat apapun dia berusaha menyangkal, tapi dia tidak bisa berbohong pada hatinya sendiri.


Barulah setelah beberapa menit Reihand melepaskan ciumannya, Flo tersedak, dia berusaha menghirup nafas sedalam dalamnya, seperti seekor ikan yang baru di lepaskan ke atas darat.


Flo memicingkan matanya, menatap Reihand dengan marah.


Plak!


Satu tamparan keras mendarat di pipi Reihand.


"Lo bener bener kurang aj.."


"Hmmft.."


Belum selesai Flo dengan makiannya, tiba tiba Reihand kembali menciumnya, ciuman yang sama panasnya seperti tadi. Lagi lagi Flo tidak bisa melepaskan dirinya, tenaga Flo bukan apa apa bagi Reihand.


Setelah beberapa menit, Reihand melepaskan ciumannya lagi. Flo menarik nafas dalam dalam.


Ari mata tumpah di kedua pipinya, dia menatap Reihand berang.


Plak!


Sekali lagi tamparan yang tak berarti apa apa di wajah Reihand dilayangkan Flo sebagai bentuk protes.

__ADS_1


Reihand malah tersenyum sinis. Sepasang mata elangnya menguliti keberanian Flo yang sedang menatapnya marah.


Reihand langsung menyambar tubuh Flo dan menciumnya lagi, kali ini ciumannya begitu rakus dan kasar, dia tak sadar sedang melampiaskan rasa marahnya kepada Flo lewat ciuman ini.


Hanya dengan cara ini Reihand merasa kesal dihatinya bisa tersalurkan pada orang yang dia anggap bertanggung jawab penuh karna sudah berani membuat dia jatuh cinta dan patah hati disaat yang bersamaan.


Flo menangis terisak, tapi mulutnya tak bisa mengeluarkan suara karna mulut Reihand masih membungkam erat mulutnya.


Barulah setelah Flo tidak lagi berontak Reihand melembutkan ciumannya, dia menatap sepasang mata Flo lurus, entah kenapa Flo melihat kesedihan yang dalam dimata itu.


Sekian lama Reihand melepaskan ciumannya.


"Sekarang bilang sama gue Flo, bilang kalau lo gak cinta sama gue.." Desis Reihand pelan.


Sepasang matanya menyipit, dia bukannya tidak tahu jika yang dilakukannya barusan akan membuat gadis yang disayanginya ini semakin menjauh, tapi tidak ada cara lain, dia ingin tahu isi hati Flo yang sebenarnya langsung dari mulutnya sendiri.


Flo masih terisak, dia mengepalkan kedua tangannya kuat kuat.


"Widya yang cinta sama lo!"


"Gue gak lagi bahas Widya!" Reihand mencengkram kedua bahu Flo dengan tatapan tajam yang menusuk hati. Kurang ajar, lagi lagi dia membawa bawa Widya!


"Jawab gue, apa perasaan lo sama gue?"


Cowok berkaos hitam itu masih menunggu jawabannya.


Flo merasa cengkeraman tangan Reihand semakin menyakitkan, lelaki itu kelihatannya benar benar sedang marah besar padanya.


Jauhin Reihand sekeras yang lo bisa!


Kata kata Widya waktu dikamar itu terus terngiang ngiang di telinga Flo.


Reihand menjulurkan kepalanya sejajar dengan Flo, sengaja agar gadis itu dapat mendengar dengan jelas apa yang akan diucapkannya ini.


"Sekali aja Flo, sekali aja lo bilang kalau lo cinta sama gue, gue akan perjuangin lo apapun yang terjadi!" Bisik Reihand, suaranya terdengar parau dan putus asa.


Reihand menatapnya dalam, berharap Flo jujur dengan hatinya sendiri.


Flo memejamkan kedua matanya, menarik nafas dalam dalam, meski sulit akhirnya dia membuka mulutnya.


"Gue gak cinta sama lo Rei." Kata Flo dengan suara yang dipaksakan terdengar tenang tapi Reihand masih bisa mendengar getaran dari cara bicaranya.


Reihand terguncang, Reihand melepas cekalan tangannya di bahu Flo.


Flo buru bulu pergi dari tempat itu, namun baru satu kali melangkah, Reihand kembali mencekal lengannya.


"Jangan noleh, jangan ngeluarin suara. Sekali aja lo noleh, sedikit aja lo ngeluarin suara, maka gue akan tahan lo balik!" Ucapnya pelan.


Dilepaskannya kembali tangan Flo. Gadis itu pergi dari genggamannya sekali lagi, Rei masih menatap kepergian Flo dengan mematung di atas jembatan kayu.


Ada permohonan yang menggila dalam diam, agar Flo menoleh, agar Flo sedikit saja mengeluarkan suara, agar dia masih punya alasan untuk menarik gadis itu kembali ke sisinya.


Akhirnya Flo sampai di depan pintu utama resort, dibawah tatap Reihand yang makin menajam diiringi degup jantung Reihand yang makin meliar, gadis itu masuk ke dalam pintu dan akhirnya...hilang!


Melihat itu tubuh Reihand terguncang, hatinya patah untuk kesekian kalinya, Reihand mengatupkan rahangnya kuat kuat, kedua tangannya terkepal, ditinjunya pegangan jembatan hingga kayu itu terbelah menjadi dua, kemudian tanpa sadar dia berteriak sejadi jadinya.


"Sial..sial..sial.."


bersambung.

__ADS_1


__ADS_2