
"Ikut gue ke atas panggung yuk!" Ucap Widya. Tapi kalimatnya tadi jelas saja bukan ajakan malah lebih ke paksaan.
Karna tanpa menunggu jawaban si empunya tangan yang sudah dipaksanya untuk ikut. Widya membawa Reihand mengikutinya di belakang.
Terpaksa Reihand kali ini membiarkan hanya karna menghormati Widya yang sedang berulang tahun. Meskipun dia tidak tahu apa yang sebenarnya mau dilakukan gadis di depannya ini.
Dibawah panggung, Flo terus memperhatikan sambil meremas jari jemari tangannya.
Sepertinya hanya dia dari sekian banyak orang disana yang tahu apa yang sebentar lagi akan terjadi.
Malam kemarin sebelum acara pesta ini berlangsung, Widya menelponnya tengah malam.
'Sebenernya gue gak pengen bikin hubungan kita yang udah renggang makin hancur Flo. Tapi gue kasih lo kesempatan deh, besok gue bakal ungkapin cinta gue ke Reihand. Gue harap dia bakal nerima gue jadi pacarnya. Kalau dia nerima gue, lo dan semua kesalahan lo yang kemarin kemarin bakal gue maafin. Jadi berdoa lah semoga besok Reihand dan gue bersatu jadi sepasang kekasih'
Setelah menjelaskan itu, Widya langsung mematikan ponselnya. Flo terbengong bengong. Dia tahu Widya menyukai Reihand tapi tidak menyangka jika effort Widya sampai sejauh ini.
Flo mundur ke belakang. Dia sepertinya tidak akan sanggup melihat apa yang selanjutnya akan terjadi di atas panggung itu.
Widya dan Reihand kini sampai di atas panggung. Dengan wajah bingung dan penuh tanda tanya Reihand menatap Widya begitupun orang orang yang berkerumun mengelilingi mereka. Semuanya tampak penasaran menunggu apa yang akan Widya lakukan selanjutnya.
"Terima kasih ya kalian mau menunggu.." Widya kembali mengambil mikrofonnya.
"Ini Reihand. Temen temen di kelas pasti udah kenal dia kan?"
"Kenal lah!"
"Iya lah kenal!" Seru yang lainnya.
"Ada apa sih Wid? Reihand sama lo jadian?" salah seorang dari kerumunan teman temannya nyeletuk.
Semua bersorak ramai.
Sontak Reihand melotot kesal. Asal aja kalau ngomong! Tapi muka Widya malah kelihatan bahagia banget dengan dugaan yang sama sekali tidak benar itu.
"Sebenernya.." Widya tampak malu malu.
Di kening Reihand semakin muncul banyak lipatan. Sebenarnya Widya mau apa sih.
"Rei.." Widya meletakkan mikrofonnya kembali ke atas meja, dia meraih kedua tangan Reihand dalam genggamannya. Di tatapnya Reihand lurus lurus. Kegugupan tiba bisa di sembunyikan terpancar dari wajahnya.
"Udah lama gue suka sama lo, gue juga udah sering ngomong ini berkali kali, gue cinta sama lo Rei.."
__ADS_1
Sepasang mata Reihand kontan melebar. Begitupun teman temannya yang sedang menyaksikan dibawah panggung, mereka tersentak bersamaan.
Flo benar benar tidak tahan, hatinya akan sakit, akhirnya dia memutuskan untuk pergi berjalan ke pinggir kolam renang, menunggu pengungkapan cinta Widya sampai selesai di jarak yang menurutnya paling aman, jarak dimana dia tidak akan bisa mendengar apapun yang akan membuatnya sakit. Bukankah itu keputusan paling bijak untuk dirinya sendiri?
Dengan menarik nafas dalam dalam. Flo berdiri menunggu di dekat bangku yang ada di pinggir kolam renang.
Selesai sudah semuanya. Jika Reihand menerima cinta Widya maka semuanya benar benar akan berakhir.
"Rei.. lo mau kan jadi cowok gue?" Lanjut Widya di atas panggung.
Gadis itu terlihat nervous tapi berusaha tersenyum lebar dihadapan cowok jangkung yang kini tengah terlihat tegang. Reihand tau Widya nekat. Tapi tidak menyangka jika nekatnya sudah di level akut ternyata.
Sekarang dia benar benar bingung harus menjawab apa. Apalagi semua mata kini tengah menatap ke arahnya. Mereka penasaran menunggu jawaban Reihand untuk ungkapan cinta Widya barusan.
Meira dan Arga saling berpandangan. Arga memasang wajah yang tidak bisa di tebak. Sementara Meira cemas dengan kondisi ini. Semuanya tampak tegang. Tak ada yang berani membuka mulut sebelum mereka mendengar jawaban Reihand.
.
Sementara di dekat kolam renang.
Stella menyeringai saat melihat Flo sendirian di pinggir kolam renang.
Wah seru juga nih, gue kerjain aja kali nih si Flo. Biar tau rasa dia! sok kecantikan banget sih lo. Umpat Stella dalam hati.
Dia mendekat ke kolam. Flo terkejut ketika melihat kehadirannya..
"Stell.." Flo menyipitkan matanya, berharap yang di lihatnya ini salah.
"Apa? lo kaget gue disini?"
"Iya. Lo kok bisa disini sih!?"
"Bisa lah, kan gue di undang sama yang punya rumah!" Kata Stella sambil tertawa.
"Maksud lo Widya ngundang lo kemari?"
Stella mengangguk membenarkan.
Flo tersentak. Kenapa Stella bisa kenal sama Widya?
Belum hilang keterkejutannya. Stella semakin mendekat dan merapatkan jarak dengan Flo. Gadis itu menyunggingkan senyum jahat yang tercetak di bibirnya.
__ADS_1
"Bisa renang gak lo?"
"Maksud lo?"
Stella semakin mendekat.
"Jawab aja bisa renang enggak!"
Flo menggeleng spontan. Meski bingung tapi dia tetap menjawab pertanyaan yang terdengar aneh karna tiba tiba ditanyakan dalam kondisi begini.
"Oh gitu, kalau gitu.."
Stella menjulurkan badannya. Sesaat Flo hendak mundur tapi kedua tangan Stella keburu meraih bajunya dan tanpa aba aba mendorong tubuhnya ke arah kolam renang di sampingnya.
"Sorry, Flo!" Kata Stella pura pura prihatin setelah tangannya berhasil membuat gadis itu jatuh ke dalam air.
Byur
Suara berisik dari dalam kolam renang kontan membuat semuanya menoleh.
Bukannya ngerasa bersalah Stella tertawa puas.
Reihand menyipitkan matanya. Dia terbelalak ketika melihat kepala Flo yang muncul sesaat setelah bunyi benda yang jatuh ke dalam air itu.
Tangan Flo tergantung tinggi tinggi.
"Tolong! hmmpt!" Flo meminta tolong saat tubuhnya benar benar tidak bisa bergerak mengambang di atas air. Kolam itu lumayan dalam membuat badannya tenggelam sepenuhnya.
"FLO!" Reihand berteriak keras. Sedetik kemudian dia langsung melompat ke bawah, berlari sekencang kencangnya ke arah kolam renang. Salah satu sepatu Reihand bahkan tertinggal di atas panggung karna pria itu berlari dengan sangat tergesa gesa.
Widya terbengong bengong. Masih tidak paham dengan apa yang terjadi. Tapi ketika dia melihat kepanikan Reihand dan cowok itu tanpa pikir panjang meninggalkannya sendirian di atas panggung saat sedang menyatakan cinta kepadanya membuat kemarahan Widya seketika membuncah keluar.
Akumulasi antara kemarahan juga dendamnya pada Flo semakin menjadi. Dia melihat ke arah kolam renang. Sebagian teman temannya sudah berlarian juga kesana.
Satu nama, satu nama itu yang selalu menjadi penghalangnya untuk bersatu dengan Reihand. Lagi lagi tentang Flo!
Reihand menceburkan dirinya ke dalam kolam renang. Di carinya tubuh Flo yang mulai tenggelam ke dasar kolam. Di raihnya tubuh itu lalu dia kembali naik ke atas air.
Reihand dan Flo mundul berbarengan. Dengan mengapit tubuh Flo. Reihand berenang mencapai pinggiran kolam.
bersmbung
__ADS_1