Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Arga sadar dari koma


__ADS_3

Seminggu sudah Arga terbaring diruang yang penuh dengan peralatan medis itu. Arga yang terbaring lemah di ranjangnya membuat hati Meira benar benar teriris perih.


"Pulanglah nak, sudah seminggu ini kamu tidak masuk kuliah, apa tidak apa apa?" Tanya tuan heru, sore itu mereka duduk di depan kamar ICU.


Meira menggeleng pelan.


"Aku sudah memutuskan untuk mengambil cuti pah, aku ingin menemani Arga disini sampai dia siuman.." Meira menarik nafas dalam dalam.


"Aku tidak akan meninggalkannya sendirian."


Tuan Heru tersenyum mendengar jawaban Meira, dia sangat bersyukur Arga dipertemukan dengan gadis sebaik Meira, ternyata anaknya itu memang tidak salah memilih istri.


Sementara itu dikediaman Heru Alexander yang berada di Jakarta.


Andrew tengah bercinta di ranjang bersama Meta, wanita itu menggeliat dan terengah engah melayani Andrew yang sangat buas.


Sejujurnya Meta enggan disentuh oleh pria yang sekarang sedang menjajah tubuhnya ini, namun dia terlalu takut untuk menolak dan melayani keinginan Andrew, sejak dia mendengar dan mengetahui kalau ternyata Andrew lah yang sengaja membuat Arga celaka, Meta jadi lebih berhati hati dalam tindakannya.


Dia tidak ingin gegabah dan membuat Andrew marah, ternyata Andrew tidak sebodoh dugaannya. Jika dia bisa begitu kejam pada adiknya sendiri bukan tidak mungkin dia juga bisa melakukan hal yang sama pada dirinya, itu yang membuat Meta ngeri.


"Ah, sayang aku percepat ya, aku mau sampai." Erang Andrew saat dia sudah merasa miliknya berdenyut hebat dibawah sana.


Meta mengangguk pelan, tanpa sadar tangannya mencengkram seprei dengan kuat saat Andrew mempercepat ritme permainannya, tak lama dia merasakan semburan yang hangat, sepertinya Andrew sudah selesai karna sekarang tubuh pria itu terkulai lemah dengan posisi memeluknya dari atas.


"Apa kau sudah selesai?" Tanya Meta.


Andrew bangun dan ikut berbaring disamping Meta, nafasnya masih terdengar ngos ngosan.


"Terima kasih sayang, aku mencintaimu."


Pria itu mendekat dan menggelayut di dada Meta, membuat Meta merinding setiap kali dia mengingat jika Arga yang sekarang tengah kritis itu akibat ulah dari suaminya ini.


Andrew mendongak karna Meta tidak juga menjawab perkataannya.


"Kenapa kamu diam? apa ada yang sedang mengganggu pikiranmu sayang?"


"Eh, engga kok, itu.. aku hanya sedang memikirkan bagaimana kondisi Arga ya? apa dia akan segera siuman?" Jawab Meta buru buru.


Wajah Andrew tiba tiba jadi masam.


"Ma-maaf Ndrew, apa aku salah bicara?" Meta menggigit mulutnya sendiri.


"Kenapa kamu harus minta maaf sayang?" Andrew merasa aneh melihat wajah Meta yang mendadak ketakutan.


"Aku hanya merasa kesal setiap kali membahas soal Arga, kau taukan aku tidak pernah akur dengannya.." Ucap Andrew lagi.


"Hem" Meta diam sambil terus mendengarkan.

__ADS_1


"Kemarilah, kenapa kau seperti ketakutan sekali akhir akhir ini? ada apa?"


Andrew menarik tubuh Meta dan membenamkan kepala gadis itu di dadanya.


"Ti.. tidak sayang, itu hanya perasaanmu saja." Kilahnya tanpa berani menatap wajah Andrew.


Andrew tersenyum lalu mencium pucuk kepala istrinya itu.


"Kau tahu tidak, dua hari lagi papah akan mengumumkan soal penerus perusahaan Alexander, sejak Arga koma pengumuman itu sudah diundur selama seminggu, kemarin dewan direksi mengadakan rapat dan mendesak papah untuk memilih kandidat baru.." Kata Andrew tiba tiba.


Lalu dia melanjutkan perkataannya lagi.


"Dan kau pasti taukan siapa yang akan menggantikan posisi yang harusnya diisi oleh Arga itu?"


Meta mengangguk pelan.


"Iya, aku tahu, aku juga mendengar kabar itu di kantor kemarin, banyak staf yang malah bertanya soal itu kepadaku sayang."


Andrew tersenyum seakan dia baru saja mendapatkan sebuah undian besar.


"Ouh ya benarkah? karna kau istriku makanya mereka pasti ingin tahu langsung dari mulutmu."


Meta bergidik, ternyata memang benar motifnya Andrew menyingkirkan adiknya sendiri untuk semua ini, untuk merebut jabatan sebagai pewaris utama.


"Jadi isu itu ternyata memang benar? kamu yang akan menjadi penerus perusahaan nanti?"


"Lalu bagaimana dengan Arga? memangnya papah setuju untuk menggantikan posisi Arga dengan kamu sayang?" Tanya Meta dengan suara yang pelan, dia tidak ingin menyinggung perasaan Andrew dengan pertanyaannya ini.


"Setuju tidak setuju dia tidak punya pilihan lain sayang, Arga masih terbaring koma dan belum pasti kapan dia akan sadar, lagi pula papah juga akan pensiun dalam waktu dekat, jika posisi itu tidak segera diisi maka akan dikhawatirkan muncul suatu masalah kedepannya bagi perusahaan."


Andrew mengangkat kepala Meta dan menatap matanya. Meta kaget namun dia tetap berusaha tenang.


"Kalau aku sudah jadi pemegang satu satunya perusahaan, aku janji akan memberikan semua yang kamu mau Met, aku ingin membahagiakanmu sayang.." Ucap Andrew sambil tersenyum, dia mendekatkan wajahnya lalu memberikan satu kecupan di kening Meta.


Meta hanya diam, di dalam hatinya dia merasa takut juga jijik, bagaimana mungkin dia bisa bahagia dengan lelaki yang bahkan tega ingin menghabisi nyawa adiknya sendiri.


***


Esoknya dirumah sakit.


Meira membuka matanya perlahan saat menyadari seseorang mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan itu.


Ternyata yang datang adalah Dokter dan juga seorang suster dibelakangnya, mereka menghampiri ranjang Arga sambil tersenyum ke arah Meira.


"Maaf kami mengganggu tidur kamu Mei." Kata Abian, Dokter yang masih berusia dua puluh tujuh tahunan itu dia sampai hapal pada Meira karna sudah seminggu dia kebagian tugas untuk mengawasi kondisi kesehatan Arga.


Dia melihat Meira terus setia berada di samping Arga. Bahkan sepertinya gadis ini tidak pernah beranjak seharipun dari ruang ICU ini.

__ADS_1


Abian terlihat mengeluarkan stetoskop dan memeriksa denyut nadi Arga.


Meira berdiri dan hanya memperhatikan dengan seksama.


"Bagaiman kondisinya dok?"


Abian menghela nafas pendek.


"Masih belum ada perubahan Mei, tapi kamu harus tetep optimis ya?"


Meira mengangguk pelan. Abian menepuk pundaknya lalu kemudian pergi bersama suster setelah selesai mengecek kondisi Arga.


Tinggalah Meira mematung sambil menatap Arga dengan wajah sedih. Entah kapan Arga akan sadar, sudah hampir seminggu lebih dia koma, setiap hari rasanya begitu panjang untuk dilewati.


Perlahan dia mendekat ke arah ranjang, menarik kursi lalu duduk di salah satu sisi ranjang itu


Meira meraih tangan Arga, tangan yang dulu selalu membalas genggamannya itu kini benar benar kaku dan juga dingin.


Tanpa sadar air matanya menetes, Meira mendekatkan kepalanya dan membaringkannya disebelah lengan Arga, dia menangis dalam diam, dia membekap mulutnya sendiri dengan tangannya agar tangisnya tak mengeluarkan suara.


Dia tak setegar yang terlihat, apalagi setiap kali melihat Arga dengan balutan kabel kabel medis itu, hatinya benar benar hancur.


Meira mengelus lengan Arga lalu menggenggamnya erat. Dia memejamkan matanya perlahan, namun beberapa detik kemudian dia tersentak kaget saat menyadari jari jemari Arga ternyata merespon genggamannya.


"Arga!!" Ucapnya tak percaya.


Meira pun mencoba mengelus elus lagi punggung tangan Arga dan berharap Arga mau meresponnya.


Dan ternyata usahanya berhasil, jari jemari Arga bergerak seakan tahu dia sedang diajak komunikasi oleh Meira meski gerakan itu sangat lemah. Meria tersenyum takjub, dia benar benar bahagia melihat kejadian itu.


"Sayang, apa kau bisa mendengarku sekarang? Arga sayang bangunlah.." Bisik Meira ditelinga Arga.


Dia mencium pipi Arga, wajahnya yang murung tadi mendadak hilang.


Kepala Arga bergerak dan tak lama mata yang sudah seminggu lebih itu tertutup hari ini untuk pertama kalinya terbuka perlahan. Arga menoleh dan menatap Meira lurus.


Meira menangis namun kali ini tangisnya bukan lagi tangis kesedihan, tangisnya kali ini adalah tangis kebahagiaan.


Akhirnya Arga sadar dari komanya, dengan wajah bahagia dia langsung memeluk Arga dengan erat.


"Hei nona lepaskan aku, kau siapa?"


Deg.


Meira mendongak dan mengangkat alisnya, dia mungkin salah dengar tadi.


"Kau siapa?" Arga mengulangi pertanyaannya, suaranya masih terdengar lemah.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2