
Setelah membuat kekacauan di Salon Flo, Stella dan kedua temannya akhirnya pergi dari sana sekitar jam 8 malam.
Ibu Flo terduduk lemas di atas sofa, dengan tatapan sedih dia menatap Flo anaknya.
"Flo, sebenernya gadis itu siapa? dan kenapa sepertinya dia sengaja merebut salon ini untuk mengerjai mu, ibu mendengar semua yang dia bicarakan tadi tentang syarat syarat tak masuk akal, dari cara dia bicara dan menghinamu dia sepertinya sangat membencimu, katakan pada ibu Flo, siapa dia?" Tanya Ibu Flo.
Flo hanya diam, ternyata Ibunya membaca situasi keributan tadi.
"Siapa dia Flo?" Ibu Flo mengulang pertanyaannya.
Flo menarik nafas berat.
"Dia salah satu mahasiswi di kampus Flo, Bu. Dari awal ketemu dia emang gak suka sama Flo, Flo yakin dia sengaja membeli Salon ibu buat ngerjain Flo."
"Tunggu dulu deh, kayaknya ibu pernah ngeliat dia, dia yang waktu itu ikut nganterin kamu balik sama temen cowok kamu yang namanya Manji itu kan?"
Flo tersentak, ternyata Ibunya masih ingat.
"Iya Bu, itu dia."
"Emangnya gara gara apa Flo dia sampai benci banget keliatannya sama kamu?"
"Ya gara gara cowok yang namanya Manji itu, Bu.." jawab Flo.
"Kok bisa?" Ibu Flo tambah bingung.
"Stella pikir aku mau merebut Manji dari dia. Padahal aku gak ada perasaan apa apa sama Manji."
Ibu Flo akhirnya paham, ternyata sumber permasalahan diantara Flo dan gadis itu adalah karna seorang cowok.
"Jahat banget sih anak itu!" Kata Ibu yang terlihat marah bercampur kesal.
"Iya, dia emang nenek lampir jahat!"
Ibu Flo meraih tangan anaknya.
"Flo, kita gak usah ikutin permintaan anak jahat itu deh, ibu gak mau kamu jadi kacungnya, kita pikirin cara lain aja." Geram Ibu Flo.
__ADS_1
"Cara lain apa Bu? ini kan salon udah jadi rumah kedua kita Bu, disini kan kita cari nafkah buat bertahan hidup, aku nyesel banget belum bisa membeli salon ini dari Bu Wati, malah keduluan si Stella."
Ibu Flo teriris mendengar kata kata Flo. Flo adalah anak semata wayangnya, sudah dari kecil dia rajin membantu Ibunya di Salon.
Semenjak suaminya pergi bersama wanita lain beberapa tahun silam, Ibu Flo merasa dia tidak ingin hidup lagi di dunia ini lagi, tapi kehadiran Flo membuat dia sadar kalau ada seseorang yang masih membutuhkan kasih sayangnya, Flo lah yang selama ini sudah membuatnya kuat menjalani semua ini.
"Flo, gimana kalau kita buka salon dirumah aja?"
"Bu, rumah kita bukan di pinggir jalan utama, mustahil untuk bisa dijangkau pelanggan, apalagi gang rumah kita sangat sempit, tidak ada lahan parkir. Udah ibu jangan mikirin apa apa, serahin urusan ini sama Flo. Flo yakin bisa menghadapi Stella. Ibu gak usah khawatir ya.." Flo memeluk Ibunya sambil membenamkan kepalanya di dada sang Ibu.
"Gimana ibu gak khawatir, ibu lihat dia itu anak orang kaya sepertinya, kamu pasti bakal di rundung dikampus sama dia, Flo. Ibu gak bisa tenang kalau gini caranya."
"Bu, please. Percaya sama Flo. Flo gak selemah itu, selagi permintaan Stella gak aneh aneh, Flo yakin Flo masih bisa turutin." Kata Flo berusaha meyakinkan.
Ibu Flo kemudian terisak, sedih memikirkan nasib anaknya Flo ke depan. Gara gara membelanya, dia rela mengorbankan dirinya untuk menjadi kacung gadis jahat tadi.
Tanpa Ibu Flo ketahui, Flo juga menangis dalam diam, dia merasa dunia benar benar tidak adil pada dia dan Ibunya.
Tapi satu hal yang membuat Flo sangat penasaran. Stella tau dari mana tentang Salon ini?
...***...
"Lama banget sih, Lo. Sampe lumutan gue!"
Widya menggeser tempat duduknya kala melihat tiga cewek datang kehadapannya.
Widya mengambil segelas jus di atas meja lalu meneguknya sambil memperhatikan Stella yang langsung menaruh pantatnya di sebelah kursinya.
"Sabar lah, lo pikir gue ngapain tadi disana, gue abis perang mulut dulu sama sahabat lo tuh si Flo!" Kata Stella mencibir.
Stella mengibaskan rambutnya, dia duduk sisamping Widya.
"Terus gimana? lo berhasil bikin dia setuju jadi kacung lo?" Tanya Widya penasaran
Stella membusungkan dadanya lalu tersenyum angkuh.
"Iya dong berhasil, Stella gitu loh!" Kata Stella menyombongkan diri.
__ADS_1
"Hahaha bagus! hebat juga lo ternyata!"
Mereka kemudian tertawa terbahak bersama. Seperti habis mendapatkan undian besar saja.
"Ini juga berkat informasi lo tentang Salon Ibunya, gue ikutin saran lo buat beli tuh Salon dari pemilik aslinya, habis itu gue teken si Flo buat setuju jadi kacung gue, hahaha. Ternyata emang cara itu ampuh banget, lo tau gak muka dia dan ibunya tadi sampe pucat banget, hahaha" Stella tertawa lagi.
Widya meringis mendengarnya, sedih juga sih sebenarnya harus membawa bawa Ibu Flo ke dalam permasalahan ini, padahal selama ini Ibu Flo selalu bersikap baik saat Widya main kerumahnya.
Tapi Widya tidak punya cara lain, hanya ini cara yang terpikirkan di otaknya, dia sudah kepalang benci pada Flo. Sahabatnya itu dia anggap sudah menjadi penghalang bersatunya dia dengan Reihand.
Entah setan apa yang merasukinya, Sore tadi setelah selesai menemani Reihand latihan basket di kampus, Widya bergegas menemui Stella dirumahnya, untungnya sopir pribadinya hafal rumah Stella karna orang tua Widya memang sempat beberapa kali berkunjung kerumah orang tua Stella.
"Ngomong ngomong, bukannya lo sahabat baiknya, kenapa lo malah nyuruh gue buat ngejahatin tuh anak?" Tanya Stella sambil melirik Widya penasaran.
Widya hanya tersenyum kecut sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Dia emang sahabat gue, tapi sejak gue tahu orang yang gue sayang jatuh cinta sama dia, gue udah anggep dia udah mati! gue gak sudi punya sahabat yang nikung gue dari belakang! lo pikir aja, mana mungkin gue masih mau temenan sama orang picik kaya dia!" Jawab Widya kecut, ada nada marah dalam suaranya.
Dia memang sudah sangat benci pada Flo, teramat benci.
Stella mengangkat satu alisnya sambi tersenyum kecil.
"Jadi nasib kita sama? cowok yang kita suka ternyata malah jatuh cinta sama tuh cewek, gue curiga deh, jangan jangan temen lo itu pake jampi jampi lagi! liat aja penampilannya, dia tuh biasa banget, gak modis sama sekali, cantikan gue juga kemana mana, tapi anehnya Manji malah kecantol sama dia akhir akhir ini." Akhirnya praduga aneh keluar dari mulut Stella
Widya mengangguk setuju.
"Iya kali dia pake jampi jampi. Pokoknya lo bikin aja dia sengsara selama dia jadi kacung lo! siksa dia kek kalau perlu biar tuh anak kapok!"
"Bener nih gak apa apa?"
"Hahaha iyalah gak apa apa banget lagi!" Widya tertawa puas membayangkan kesialan yang akan menimpa hari hari Flo di depan sana.
Stella berdecak. "Ngeri juga ya lo, sahabat lo sendiri lo umpanin sama gue buat gue jahatin! hahaha"
"Dalam cinta gak ada yang nama jahat! semuanya adil, semuanya halal buat dilakuin sekalipun menyingkirkan temen lo sendiri."
"Ngeri banget!" Lagi lagi Stella berdecak sambil menggeleng heran, ternyata ada yang lebih jahat darinya.
__ADS_1
"Kalau perlu bikin Flo sengsara sampai sampai dia gak mau masuk kuliah lagi, jujur aja gue udah empet liat mukanya!" Tambah Widya dengan senyum lebar yang terlihat mengerikan.
bersambung