
Melihat Juan mendekat, Dea dan kedua rekannya ingin buru-buru berlalu, namun segera di cegah oleh Juan. "Kalian mau kemana?" Juan menatap ketiganya dengan tatapan kesal. "Kalian sengaja, ya? Melakukan itu pada Velina?!"
Dea dan kedua temannya tampak panik, "ti-tidak, pak." Mereka saling pandang dan menunduk.
"Kalian masih mau menyangkal? Aku tadi liat sendiri dengan mata kepalaku sendiri, kalian pasti sengaja, kan?!" Hardik Juan lagi.
"Pak, sudahlah. Ini bukan salah mereka, aku yang tidak memperhatikan jalanan." ujar Velina.
"Tuh, kan, Pak. Benar, bukan salah kami," Dea malah membela diri.
"Dasar tidak tahu diri, kau--"
"Pak, sudahlah." Velina memberi isyarat pada Juan agar tidak memperpanjang masalah.
"Baiklah, jika lain kali aku melihat kalian berbuat seperti ini lagi pada Velina. Aku tidak akan segan-segan untuk memberikan kalian hukuman, atau bahkan pemecatan."
Mendengar hal itu, Des dan kedua rekannya terhenyak. "Sekarang kalian boleh pergi." Sentak Juan, ia masih berusaha menahan rasa kesalnya.
"Juan, seharusnya kau tidak boleh melakukan itu pad mereka," ucap Velina saat Dea dan kedua rekannya telah berlalu dari hadapan mereka. "Aku takut mereka akan semakin membenciku. Kau terlalu berlebihan tadi, seharusnya kau tidak perlu membelaku, aku bisa menjaga diriku sendiri," lanjut Velina dengan wajah kesal.
"Velina, tindakan mereka itu tidak bisa di biarkan. Jika terus begitu, mereka akan semwna-mens padamu." Juan memegang kedua bahu Velina, dan wanita itu dengan cepat menyingkirkannya.
"Tapi aku tidak suka caramu." Velina pergi berlalu begitu saja meninggalkan Juan. Sedangkan Juan masih mematung di tempatnya dengan tatapan tak mengerti. Ia tak tahu apa yang salah dengan dirinya.
Tanpa permisi, Velina memasuki ruangan kerjanya, di dalam ia di kejutkan oleh kehadiran seorang wanita yang tengah berbincang dengan Diego di sofa tempat menerima tamu. "Maaf," dengan canggung Velina menunduk hormat.
Wanita bergaun merah itu seolah tak menyukai Velina. Tatapannya sinis dan mengejek. "Siapa dia?"
Diego tak langsung menjawab, ia melirik ke arah Velina sebentar, "dia adalah... sekertaris."
"Sekertaris?" Wanita itu pura-pura kaget. Ia menatap Velina dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Ku pikir tadi ia ofice girl di sini," lanjutnya penuh nada sindiran.
Velina seketika mengangkat kepalanya, ingin rasanya ia mencakar mulut wanita yang asal bicara itu. Tapi ia tahu harus menahan diri. "Memangnya kenapa dengan pekerjaan ofice girl? Ku rasa tidak ada yang salah dengan pekerjaan itu? Dan menurutku semua pekerjaan itu terhormat asal halal. Justru orang yang suka merendahkan orang lain yang tidak punya atitude yang baik."
"Kau--" Wanita di hadapannya itu seketika mendelik mendengar ucapan Velina, ia tiba-tiba kehilangan kata-kata. "Diego, bagaimana bisa kau memiliki sekertaris kurang ajar seperti dia?!" Protesnya pada Diego.
Diego tersenyum tipis dan bersikap tenang, "apa kau tersinggung dengan ucapannya?"
__ADS_1
"Apa yang kau katakan?" Wanita itu bertambah kesal karena Diego tak membelanya.
"Jika kau merasa tersinggung, itu tandanya apa yang di ucapkannya benar. Sebaiknya kau memperbaiki sikapmu."
"Apa?! Aku tidak percaya kau mengatakan ini padaku."
"Kenapa tidak?"
Wanita bergaun merah itu bertambah keki karena Diego terus mengabaikannya. "Aku akan mengatakan pada ayahku, bahwa proyek kita batal." Ia meraih tas selempang nya di sofa, "akan ku pastikan kau menyesal karena berlaku seperti ini padaku." Ancam lagi, setelah itu buru-buru berlalu dari ruangan.
"Kau tidak ingin mengejarnya?" Tanya Velina.
"Untuk apa?"
"Kau baru saja kehilangan client, dan itu gara-gara aku." Velina tampak sedikit bersalah.
"Hanya satu client, tidak masalah."
"Tapi kau tidak bisa begini. Bagaimana dengan reputasimu?" Kau tidak dengar apa yang dia ucapkan tadi? Sepertinya dia bebar-benar sakit hati. Aku takut dia kan berusaha menjatuhkan nama baik perusahaan ini." Velina benar-benar merasa bersalah.
"Apa?" Dahi Velina mengeriyit bingung.
"Sudahlah, lupakan." Diego kesal karena sepertinya Velina tidak peka. "Oh... apa kau sudah makan siang? Apa kau sudah jadi pergi ke dokter?" Mencoba mengalihkan pembicaraan.
Velina tertunduk lesu. Ia jadi teringat akan masalahnya. Masalah yang tidak sepele sama sekali. "Ya..." Jawabnya ragu.
"Laku apa kata dokter? Kau sakit apa?"
Velina menggeleng, "aku tidak apa-apa, dokter bilang aku hanya sedikit kelelahan dan telat makan, jadi magh ku kambuh." Velina berharap Diego mempercayai alasannya.
"Oh ... begitu, kalau begitu kau harus lebih memperhatikan kesehatanmu."
"Iya."
Keadaan tiba-tiba hening. Keduanya terdiam dan larut dalam pikiran masing-masing.
"Diego..."
__ADS_1
"Ya..."
Velina menghela napas panjang sebelum mulai bicara, "bagaimana jika seandainya--" rasanya sangat sulit melanjutkan kalimatnya, seolah ada yang mengganjal di tenggorokannya.
"Apa? Katakan saja?" Diego jadi penasaran dan tak sabar.
"Bagaimana jika nanti malam kita makan di luar saja." Velina belum memiliki keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya, tadinya ia ingin bertanya, bagaimana seandainya dirinya hamil?
Velina tampaknya belum siap dengan jawaban Diego. Baginya ini terlalu cepat. Semua seolah melesat dari rencana awalnya. Ia hanya ingin membalas dendam pada pria ini. Tapi kenapa malah jadi begini?
"Ya... baiklah." Diego merasa ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Velina. Tapi ia akan menunggu sampai Velina memberitahunya sendiri.
"Aku pikir kau kemana tadi. Ternyata langsung kemari?" Suara dari arah pintu membuat keduanya menoleh. Juan tampak sudah memasuki ruangan. "Aku minta maaf soal tadi, aku janji tidak akan seperti itu lagi." Ia menatap Velina penuh penyesalan.
"Tunggu sebentar, ada apa ini?" Diego bertanya pada keduanya.
"Tidak ada apa-apa, hanya masalah kecil saja," Juan reflek merangkul pundak Velina yang ada di sisinya. "Benar kan?" Matanya mengering manja pada wanita itu.
"Juan, jaga sikapmu." Velina kembali menyingkirkan tangan Juan dari bahunya.
"Maaf, aku tidak bermaksud apa-apa. aku hanya ingin melindungimu." Juan masih menatap Velina dengan senyum tak biasa, sepertinya ia benar-benar sedang kasmaran.
"Dia benar, seharusnya kau tidak menyentuhnya sembarangan." Tambah Diego.
"Hei... sejak kapan kau seperti itu? Kau sepertinya sangat peduli juga pada Velina. Apa kau juga berniat memilikinya? Apa kau sungguh ingin bersaing denganku?" ujar Juan sembari menatap curiga ke arah Diego.
"Bukan seperti itu, kau salah paham." Diego jadi sedikit gelagapan. "Aku hanya tidak ingin suasana kerja kita terganggu hanya karena masalah percintaan."
"Benarkah hanya itu?" Jua masih mendesak.
"Tentu saja. Memang apa lagi?"
Juan menatap Diego dan Velina secara bergantian. "Ya... kali ini aku percaya. Karena Velina mungkin bukan seleramu. Meskipun ia tampak cantik, tapi ia sangat sederhana penampilannya. Tidak seperti wanita-wanita yang kau kencani selama ini."
Baguslah jika Juan berpikir demikian. Diego bisa bernapas lega sekarang. Bagaimanapun ia tidak ingin ada masalah dengan rekan kerja sekaligus sahabatnya itu. Mereka sudah berteman sejak mereka masih kecil. Dan Diego tidak ingin hubungan mereka rusak begitu saja.
Bersambung
__ADS_1