
Setelah Heru mengetahui semua kebusukan Andrew dan Lusi, hubungan antara dirinya dan ayahnya jadi semakin membaik.
"Apa kau lega setelah mengatakan semuanya pada papah?" Tanya Meira ketika mereka melewati lorong kampus.
Arga mengangguk sambil membelai pucuk kepala istrinya.
"Aku sangat lega, sekarang tinggal memikirkan cara untuk meringkus Andrew dan Lusi."
Mereka pun terus berjalan menuju kantin. Terlihat Manji dan Farel sudah lebih dulu duduk disana.
"Woy, Men. Sini!" Manji melambai pada Arga.
Arga menarik lengan Meira berjalan ke arah meja dimana Manji dan Farel duduk. Saat sudah sampai disana dia menekan bahu gadis itu untuk ikut duduk juga.
"Aku mau ke kelas aja deh Ga!" Tolak Meira.
Gadis itu hendak berdiri namun secepat kilat salah satu tangannya disambar Arga, ditariknya dengan paksa hingga tubuh Meira sontak kembali ke tempatnya.
"Duduk! kelas mu masih mulai satu jam lagi kan?" Perintah Arga sambil memperlihatkan jam tangannya ke hadapan wajah Meira. Seolah mengatakan dengan jelas kalau 'aku tahu kamu hanya mau menghindar duduk bersama para tengil inikan?'
Farel dan Manji saling bertatapan, lalu tak lama mereka tertawa geli.
"Gue perhatiin kayaknya semenjak tawuran itu hubungan kalian jadi kembali deket ya bos?" Goda Farel sambil tersenyum jail.
Bibir Meira terlipat, malu teramat malu! entah sudah semerah apa wajahnya kini. Dia melirik Arga, laki laki itu malah terlihat santai, dia bahkan tak meladeni kicauan dari sahabatnya itu.
Ini nih yang bikin dia males nimbrung sama mereka, Meira tahu Manji dan Farel pasti tidak akan melewatkan kesempatan untuk menggodanya.
"Kamu mau minum atau ngemil?" Arga menatap Meira, gadis itu hanya menggeleng pelan.
"Aku balik aja deh ya ke kelas, si Widya sama Flo mungkin udah dateng Ga." Meira masih terus berusaha.
"Panjang umur tuh dua anak! Itu Widya sama Flo!" Manji tiba tiba menunjuk ke arah pintu masuk kantin.
Meira ikut melihat ke arah yang ditunjuk Manji, benar kata Manji, kedua temannya terlihat sedang berjalan ke arah deretan para pedagang.
Arga memberi kode Manji untuk memanggil kedua teman Meira itu.
"Gih panggil mereka!"
"Ok, bos!"
Manji berdiri dan langsung berjalan ke arah Widya dan Flo yang terlihat sedang memesan makanan.
Tak lama dua teman Meira itu pun ikut bergabung bersama di meja Farel.
"Mei, lo disini juga? pantesan dikelas tadi gak keliatan batang hidungnya! taunya lagi ehem!"
Widya menyikut Flo dan senyum senyum sendiri ketika melihat tangan Arga yang terus bertengger manis menggenggam tangan Meira.
Meira jadi memejamkan matanya, malu!
"Iya, nih tau gitu kan gue langsung kesini aja!" Tukas Flo sambil mencuri pandang melirik Manji, pria yang sudah lama dia taksir.
"Sekarang udah gak ada alasan kemana mana lagi kan?! tunggu disini biar aku pesenin minuman buat kamu."
__ADS_1
Akhirnya Meira mengangguk pasrah. Arga memang tidak pernah mau menerima yang namanya penolakan. Laki laki itu segera bangkit dan menghilang diantara kerumunan mahasiswa lain.
Tak lama dia sudah kembali dengan dua jus alpuket ditangannya.
"Nih, minum," Menyodorkan jus kehadapan Meira.
Meira menerimanya lalu menyeruputnya dengan rakus hingga tanpa tindakan brutalnya itu membuat jus menempel di salah satu ujung bibirnya.
Arga yang menyadari sisa jus itu langsung menempelkan ibu jarinya ke bibir Meira, mengusapnya perlahan, lalu menyedot sisa jus yang kini telah berpindah ke jarinya dengan santainya.
Semua yang duduk disitu mendadak bengong, tidak menyangka jika sang pentolan kampus akan melakukan hal yang tak di duga duga.
Meira refleks memukul bahu Arga dengan kencang.
"Aw, kenapa sih?"
Meira memberikan jawaban dengan melotot, tidak tahu sudah semerah apa kedua pipinya.
"Haha kita jadi kaya obat nyamuk nih disini, kalau liat kalian mesra begini jadi pengen cepet cepet nikah deh." Kata Farel sambil tertawa geli.
"Iya, mesra banget caileh bos!"
"Mesra apanya? gue cuman ngelap jus pake jari aja kalian udah bengong gitu, gimana kalau gue lapnya pake bi.."
Belum sempat Arga melanjutkan kalimatnya, Meira sudah lebih dulu membekap mulutnya. Dia tahu betul apa yang akan Arga ucapkan selanjutnya bakal lebih parah dari adegan tadi.
"Udah ah, ayo Wid, Flo kita balik aja ke kelas!" Meira yang kesal langsung berdiri dan hendak menerobos kursi Arga.
Namun belum sempat dia melangkah pandangannya tiba tiba kabur, kepalanya terasa berputar hebat.
Meira hampir ambruk kalau saja kedua tangan kekar itu tidak menopang tubuhnya, membawa Meira kedalam pelukannya.
"Meira! kamu kenapa Mei?"
Meira masih bisa mendengar sayup sayup suara Arga yang memanggil namanya namun lama lama dia sudah tidak ingat apa apa, Meira pingsan.
Diruang kesehatan kampus
Setelah Meira pingsan Arga langsung membopongnya ke ruang kesehatan.
Baru kali ini Manji dan yang lainnya melihat Arga begitu panik, wajah yang biasanya tampak santai itu kini sedang menatap cemas gorden hijau yang menutupi tubuh Meira di dalamnya.
Setelah beberapa menit menunggu akhirnya seorang dokter wanita membuka gorden hijau itu.
Dia menghampiri Arga yang sedang berdiri cemas, sementara Manji, Farel, Widya dan Flo menunggu diluar ruangan.
"Arga ada yang ingin saya sampaikan." Kata dokter wanita itu sambil mempersilahkan Arga duduk.
"Ada apa dengan Meira dok? kenapa dia bisa pingsan? apa sakitnya serius?" Tanya Arga bertubi tubi. Wajah tampannya tampak tidak tenang.
Dokter itu hanya menggeleng sambil tersenyum.
"Kau tidak perlu cemas Arga, semuanya baik baik saja, tubuhnya hanya sedang gampang kelelahan karna dia sedang hamil muda."
"APA?" Arga tersentak, mulutnya terbuka lebar tak mampu menyembunyikan keterkejutan dengan kabar yang baru saja dia dengar.
__ADS_1
Saking syok nya dia sampai tidak tahu harus berkata apa.
Meira hamil? benarkah?
"Iya Arga, selamat ya kamu sebentar lagi akan menjadi seorang ayah." Dokter itu menepuk nepuk bahu Arga sambil tersenyum ramah.
Arga masih merasa ucapan itu seperti mimpi.
"Temui lah Meira, aku akan meresepkan beberapa vitamin untuk diminum olehnya, tunggu sebentar ya," Dokter itu pun bangkit lalu terlihat sibuk menulis sesuatu diatas kertas resepnya.
Arga yang masih tak percaya mencoba bangkit dan menghampiri ranjang. Dia melihat Meira masih tertidur pulas diatasnya.
"Mei, aku.. aku tidak tahu harus berkata apa," Arga terbata, raut tidak percaya, senang dan juga terharu bercampur menjadi satu.
Arga menggenggam tangan yang masih tak bergerak itu.
"Meira..terima kasih sayang, aku benar benar senang mendengar kau sedang hamil buah cinta kita." Arga mendekatkan tangan Meira ke bibirnya, mengecupnya berkali kali. Tidak bisa diungkapkan betapa bahagianya dia saat ini.
"Arga.." Ucap Meira pelan.
Arga kaget dan menghentikan kecupannya. Meira ternyata sudah membuka matanya.
"Kenapa sayang? aku disini, apa ada yang sakit?" Tanya Arga lembut sambil membelai kepala Meira.
Meira menggeleng lemah.
"Kenapa aku bisa disini? apa aku pingsan?" Tanya Meira sambil menatap langit langit ruang kesehatan.
Dia bingung saat sadar kenapa dia bisa ada ditempat ini.
Arga tersenyum namun matanya tampak berkaca kaca.
"Kamu kenapa Ga? kamu nangis?" Tanya Meira panik, namun laki laki itu justru memeluknya erat sambil beberapa kali mengecup pucuk kepalanya.
"Terima kasih Meira, terima kasih karna kamu sudah memberikan aku kebahagiaan yang sangat besar.."
Meira mengerutkan alisnya, dia tidak mengerti dengan apa yang Arga ucapkan.
"Meira sayang, kamu sedang hamil buah cinta kita." Ucap Arga sambil memegang wajah Meira dengan kedua tangannya. Suara Arga terdengar antusias.
"Hamil?" Meira menatap Arga tak percaya.
"Iya Meira kamu sedang hamil." Arga mengecup kening Meira.
Meira tak dapat lagi membendung air mata bahagianya, dia mengelus perutnya perlahan. Mencoba merasai apakah benar sekarang dia sedang mengandung buah hatinya dengan Arga?
Kalau di ingat ingat dia memang belum datang bulan selama hampir dua bulan terakhir.
"Arga, aku benar benar tidak percaya kalau aku sedang hamil, rasanya sungguh aneh, ini seperti mimpi."
"Kenapa tidak percaya? kan kita sudah melakukannya lebih dari sepuluh kali." Bisik Arga sambil tersenyum menggoda.
Kontan Meira melotot sambil menutup mulut Arga.
"Haha tenanglah aku hanya bercanda sayang,"
__ADS_1
Arga memeluk Meira dan membenamkan kepala gadis itu di dadanya. Hari ini di dalam hidupnya, Meira sudah memberikan kebahagiaan yang begitu besar, gadis itu tengah mengandung buah cinta mereka, Arga berjanji di dalam hatinya, dia akan menjaga Meira dengan segenap jiwa raganya.