Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Marah Karna Flo di Goda


__ADS_3

Flo mengangguk.


"Gue pulang duluan ya Wid.."


"Hemm.." Widya hanya tersenyum tipis.


Flo berdiri dengan langkah gontai dia meninggalkan kedai Ibunya Reihand itu.


Manji mengantarkan Flo sampai di depan halaman rumahnya.


"Makasih ya Ji, Re.." Kata Flo saat mereka sudah sampai di depan rumah Flo.


Manji mengangguk begitu juga Farel yang duduk di kursi belakang.


"Maaf ya Ji, gue gak bisa nawarin lo mampir. Soalnya gue abis ini mau langsung ke salon." Kata Flo sebelum turun.


"Santai aja, Flo. Gue sama Farel juga udah mau balik. Lo pasti cape kan hari ini?" Kata Manji sambil tersenyum hangat.


Flo mengangguk.


"Yaudah kita pamit pulang dulu ya."


Flo melambai ke arah Manji dan Farel.


"Hati hati bawa mobilnya." Ucap Flo selanjutnya.


Dia berdiri di depan pagar rumah hingga mobil Manji melesak pergi dan menghilang di ujung gang.


Dengan mengehela nafas panjang, Flo berjalan gontai ke arah rumah, setelah mandi dia langsung menyusul Ibunya ke salon.


Di dalam Salon.


Flo membuka pintu Salon. Dia mengendarkan pandangannya ke segala arah. Tumben sekali tidak ada pelanggan satu pun. Flo melirik ke arah lantai, biasanya banyak rambut rambut berserakan disana yang menandakan jika banyak pelanggan Ibunya yang datang hari ini untuk sekedar merapihkan rambut.


Tapi lihatlah, lantai itu sangat bersih, tidak ada sehelai rambut pun yang tercecer disana. Tempat cuci rambut yang biasanya basah dan wangi shampo juga nampak kering, sepertinya seharian ini tempat itu tidak di gunakan oleh Ibunya.


"Ada apa mah? apa ada masalah?" tanya Flo sambil ikut duduk di sebelah Ibunya Flo.


Dia seakan merasa ada yang tidak beres, jangan jangan seharian ini tidak ada yang datang ke salon satu orang pun..


"Ada apa mah?"


Ibu Flo menoleh kaget, dia baru sadar putrinya ternyata sudah datang. Karna asyik melamun dia sampai tidak ngeh Flo sudah duduk di sebelahnya.


"Eh, Flo. Kamu udah balik sayang.. Flo udah makan?" Tanya Ibunya.


"Mah, kenapa salon bersih sekali, apa tidak ada yang datang hari ini?" Tanya Flo lagi sambil menatap ke arah Ibunya.


Ibu Flo hanya diam, tapi beberapa saat kemudian dia menggeleng dan memberikan senyum hangat pada Flo.


"Udah kamu jangan mikirin apa apa. Gimana kuliah kamu hari ini?"


"Jadi bener gak ada yang dateng satu pun.."


Flo syok berat, dengan mencoba mengalihkan topik pembicaraan, secara tidak langsung Ibunya membenarkan pertanyaan Flo tadi.


"Kenapa mah? apa ada salon baru di sekitar sini?"


Ibu Flo tampak menarik nafas dalam dalam. Wajah tuanya dipenuhi gurat gurat kesedihan. Tampak jelas dan dia memang tidak pandai menyembunyikan ini dari Flo.


"Iya sayang, mamah juga gak ngerti kenapa, sejak pagi gak ada yang datang satu pun kesini." akhirnya terpaksa dia harus jujur pada Flo dan menceritakan semuanya.


"Kenapa bisa begitu mah, masa satu orang pun gak ada?"


"Mungkin emang lagi gak ada yang mau potong rambut aja kali sayang, mudah mudahan besok rejeki kita lebih baik dari hari ini ya." Kata Ibu Flo berusaha berpikir positif.


Memang sudah beberapa hari ini salon miliknya sepi pengunjung dan puncaknya yang paling parah adalah hari ini, hari ini bahkan tidak ada satu pun pengunjung baru maupun pelanggan lama yang mampir ke tokonya. Kalau terus begini, bisa bisa tokonya gulung tikar.


Flo terdiam, sepertinya ada yang tidak beres dengan semua ini, dia harus mencari tahu ada apa.


Esoknya Flo bangun lebih pagi, setelah membantu membereskan rumah, Flo langsung ke dapur untuk membuat bekal untuk dirinya sendiri.


Flo memutuskan untuk mengurangi jatah uang jajannya untuk meringankan sedikit beban ibunya.


"Kamu lagi ngapain Flo? bangunnya kok pagi banget sayang?" Ibu Flo mengangkat satu alisnya, dia heran saat masuk ke dalam dapur sudah melihat gadis itu sibuk disana.


"Aku lagi bikin bekel buat dibawa ke kampus mah.." Flo tersenyum sambil tangannya terus memasak nasi goreng di atas teflon.


"Wah, wanginya enak banget. Tapi emang kenapa mau bawa bekel segala? tumben banget sih.."


"Gak apa apa mah, lagi pengen aja. Udah mamah mandi sana. Flo tadi udah masukin baju baju kotor ke dalem mesin cuci, tinggal di jemur aja ntar."


Ibu Flo berdecak terharu, meski dia tahu Flo sibuk dengan urusan kuliahnya, tapi Flo tidak pernah membiarkannya bekerja sendiri dirumah maupun di salon.


"Makasih ya sayang.."

__ADS_1


"Apaan sih makasih makasih segala, aku kan anak ibu, wajar dong aku bantuin kerjaan rumah."


Ibu Flo mengangguk sambil membelai kepala putrinya.


"Yaudah, ibu mau mandi dulu ya.."


Flo mengangguk. Tak lama ibunya sudah menghilang ke dalam bilik kamar mandi.


waktu menunjukkan pukul 07.30 wib di kampus Mandala.


Flo berjalan tergesa gesa ke arah kelasnya. Hari ini dia datang mepet ke kampus. Ternyata membantu pekerjaan rumah malah menyita banyak waktunya.


Brugh


Flo bertabrakan dengan seseorang di lorong, tubuhnya terdorong ke belakang dan jatuh dengan sukses di atas lantai kampus yang dingin.


"Kalau jalan tuh di pake matanya dong!"


Flo mendongak. Terperanjat saat sadar ternyata yang bertabrakan dengannya adalah Stella si nenek lampir.


Flo segera berdiri dan membersihkan roknya yang agak kotor.


Dia berdecak kesal sat melihat roknya terbelah sobek di bagian samping sampai ke tengah pahanya.


"Ish, sialan lo! gara gara lo nih rok gue jadi robek kan!" Flo buru buru menutup roknya dengan kedua tangan.


Stella malah tertawa terbahak bahak melihat itu.


"Hahaha sukurin, makanya pake pakaian tuh yang mahal, jatuh kaya gitu aja rok lo sampai robek setengahnya!"


Flo menggeram kesal. Kalau saja tidak ingat sekarang sertifikat salon yang ditempati Ibunya ada di tangan cewek ini, dia pasti sudah melayangkan satu tamparan keras ke wajahnya.


"Minggir lo!" akhirnya Flo meringsek maju dan memilih meninggalkan Stella di lorong. Yang waras ngalah aja deh! gumamnya dalam hati.


Stella tertawa puas sambil terus menatap kepergian Flo.


"Tuh anak mukanya kusut banget kalau di perhatiin, jangan jangan rencana Widya buat memboikot pelanggan pelanggan salon ibunya berhasil. Haha sadis juga sih tuh anak, apa Flo gak sadar ya dia punya temen yang bener bener psikopat! nusuk dia dari belakang diam diam, ngeri juga gue sama Widya. Ah, tau ah bodo amat!" Ucap Stella sambil menatap Flo nanar.


Dia memang jahat, tapi ternyata ada yang lebih parah jahatnya dari dia. Kemarin kemarin Widya sempat menceritakan idenya itu pada Stella, kalau dia akan menyuruh orang untuk memboikot pelanggan salon milik ibunya Flo karna dia ingin memberikan pelajaran pada cewek itu.


"Yang harus lo waspadai adalah sahabat lo sendiri Flo!" Gumam gumam kecil. Stella kemudian berbalik dan melanjutkan langkahnya menuju ke kelasnya.


Saat sampai di ambang pintu, Flo menghentikan langkahnya sambil melirik ke arah roknya. Bagaimana ini? tidak mungkin dia masuk ke dalam kelas dengan kondisi rok yang robek begini, mana lagi gak bawa jaket. Dia tidak bisa menutupi robekannya karna lumayan besar.


"Flo!" Seseorang dengan suara yang terdengar berat memanggil namanya dari belakang.


"ngapain berdiri disini? kenapa gak masuk?"


Flo membalikkan badannya. Benarkan, Reihand ternyata sudah berdiri disana sambil mengangkat satu alisnya. Menatap Flo penasaran.


Dia juga terlihat bingung melihat gelagat Flo yang aneh, kedua tangan gadis itu mencengkeram roknya dengan kedua tangan.


"Kenapa rok lo?"


Seketika wajah Flo memucat.


"Kenapa rok lo?" Reihand menaikkan intonasi suaranya.


Flo melotot sebal, akibatnya anak anak yang hendak masuk ke pintu jadi menoleh dan ikut memperhatikan ke arahnya.


Sadar malah jadi pusat perhatian Flo malah lari ke dalam kelas meninggalkan Reihand yang masih penasaran dengan kelakuannya.


Tapi saat sampai di dekat papan tulis, seorang mahasiswa yang sadar kalau roknya robek langsung menarik tangan Flo. Seketika ikatan tangan Flo di roknya terlepas. Flo tercengang, kontan pahanya yang putih mulut langsung terekspos sempurna di balik robekan itu.


Dengan wajah yang merah padam, Flo buru buru menyatukan robekan roknya lagi dengan mencengkeramnya kuat kuat.


"Wih pagi pagi udah berbagi pemandangan surga aja, muluuuus banget kayak jalan tol, dijual berapa biar gue bisa nyicip, Flo? hahaha!" Ucap Dendi sambil tertawa dan bersiul keras.


Cowok itu tadi yang menarik tangan Flo hingga robekan di roknya terlihat. Kontan seisi kelas jadi ikut tertawa mendengarnya terutama cowok cowok yang memang duduknya paling depan. Mereka tadi yang ketiban rejeki bisa melihat paha Flo dengan sangat jelas.


Reihand yang sedari tadi ikut terperangah di luar pintu, kontan mengepalkan kedua tangannya kuat kuat, rahangnya mengeras melihat kejadian barusan. Ternyata itu yang sedari tadi membuat kelakuan Flo jadi aneh. Roknya ternyata robek di bagian samping.


Sepasang matanya yang nyalang kini tertuju pada Dendi yang masih terdengar jelas sisa tawanya. Sepertinya dia sangat puas menggoda Flo. Dengan amarah yang siap meledak, Reihand meringsek maju ke dalam kelas dengan langkah langkah panjang.


"Bangsat, mulut kotor lo ngomong apa tadi?" Desis Reihand dengan sepasang mata berkilat yang memancarkan kemarahan yang sangat besar. Cowok itu sekarang sudah berdiri di hadapan Dendi.


Sontak tawa di mulut Dendi langsung hilang. Cowok itu mengerjap kaget saat Reihand menarik paksa kerah bajunya. Tubuh Dendi ikut terangkat, seketika suasana kelas yang tadinya riuh menjadi hening, semua mata terarah pada keributan di depan kelas itu.


Flo yang juga kaget mencoba menghampiri Reihand. Dia tidak ingin ada ribut ribut yang bisa membuat Reihand dalam masalah. Tapi cowok itu sepertinya tidak peduli.


Matanya yang merah dan melotot sanggup membuat nyali Dendi seketika menjadi ciut.


"Ngomong apa lo tadi bangsat!" Desis Reihand mengulangi pertanyaannya.


Yang ditanya sudah tidak karu karuan tampangnya, ketakutan setengah mati.

__ADS_1


Reihand menarik paksa tubuh Dendi dengan mencengkeram kerah baju cowok itu, kancing kancing kemeja yang ditarik dengan kekuatan penuh itu sampai terlepas dan berjatuhan ke lantai.


"Lepasin gue Rei, lo kenapa sih marah gara gara cewek ini doang! lo mau juga ngeliat paha mulusnya? tuh bilang sama anaknya! mumpung gratis."


Ucapan Deni malah membuat Reihand menjadi semakin kalap.


Reihand melempar tubuh Dendi ke arah papan tulis dengan kasar. Cowok itu langsung terpelanting, dia mengerang panjang saat merasakan benturan yang hebat di punggungnya yang membentur papan tulis dibelakangnya. Papan tulis itu sampai jatuh di bagian salah satu sisinya.


"Reihand, udah stop!" Flo berteriak tapi Reihand sama sekali tidak berniat menghentikan aksinya. Dia terlanjur tersulut emosi.


Masih belum puas sampai disitu. Reihand maju dan menindih tubuhnya dengan tatapan berang.


Meira dan Widya yang baru datang kontan ikut terbelalak dengan pemandangan di depannya.


"Ada apa ini!" Meira tampak syok berat.


Buru buru gadis itu menelpon Arga dan memintanya untuk secepatnya datang ke kelasnya. Keadaan sangat gawat, hanya Arga yang bisa menghentikan kegilaan Reihand ini.


"Bangsat! ini karna lo udah berani bikin dia malu!" teriak Reihand menggelegar.


Brugh


Reihand melayangkan satu tonjokan keras ke wajah Dendi, seketika Dendi kembali mengerang keras. Dia memegangi hidungnya, cairan merah terlihat keluar dari salah satu lubang hidungnya.


"Dan ini karna lo..udah berani ngerendahin dia di depan banyak orang!" Reihand menjulurkan wajahnya, lalu menindih dada Dendi dengan salah satu siku kakinya, Dendi terbatuk batuk. Otot diwajahnya menegang. Dia mengerang panjang untuk kesekian kalinya dan memohon lewat sorot matanya agar Reihand mau melepaskannya.


Dadanya terasa sangat sesak akibat tekanan yang diberikan Reihand.


"Reihand udah! Lo bisa bikin anak orang mati tau!" Pekik Arga.


Arga yang baru datang langsung menarik kedua lengan Reihand dari belakang dengan sekuat tenaga. Mencoba mencegah hal buruk terjadi.


Akhirnya cowok itu berhasil dia angkat dari tubuh Dendi. Dendi baru bisa bernafas kembali setelah merasakan beban di atas dadanya hilang.


"Lo kenapa jadi kalap begini sih?" Arga menatapnya heran.


Reihand tampak terengah engah dengan kemarahan yang belum sepenuhnya menghilang dari sorot matanya, dia tidak menjawab pertanyaan Arga, malah berbalik dan hendak memukul Dendi lagi, tapi Arga segera mencegahnya, cowok itu benar benar kewalahan menghadapi amukan Reihand.


Karna Reihand terus membabi buta akhirnya dia harus menggunakan senjata terakhir untuk meredam amarah sahabatnya itu.


"Stop Rei, liat tuh! Flo jadi ketakutan banget.." Desis Arga.


Benar saja, ucapannya itu berhasil membuat Reihand kontan berangsur angsur sadar dari emosinya.


Dia melirik Flo. Memang benar Flo terlihat sangat ketakutan. Kedua tangan gadis itu tampak gemetar.


Arga melepaskan kedua tangannya di tubuh Reihand saat yakin cowok itu tidak akan kalap lagi. Dia menatap Dendi, keadaannya sangat memprihatinkan. Tubuhnya penuh dengan luka luka.


Sementara itu Reihand mendekat ke arah Flo. Gadis itu menatapnya ketakutan.


"Gak usah takut, gue gak akan nyakitin lo.." Kata Reihand lembut. Seolah tahu apa yang ada di pikiran Flo.


Cowok itu melepas jaketnya, dia membungkuk dan kemudian melilitkan jaketnya itu ke pinggang Flo. Gadis itu menahan nafas dengan takut takut dia melirik ke arah Widya yang berdiri di ambang pintu.


Widya melengos memalingkan wajahnya. Terlihat sangat kesal. Tapi Flo tidak bisa melihat ekspresi wajah itu, Flo tidak enak hati pada Widya. Tapi dia juga pada akhirnya tetap membiarkan jaket itu melingkar di pinggangnya untuk membantu menutupi bagian yang robek tadi.


Tak lama seorang Dosen wanita datang, Bu Sam kaget saat melihat keadaan kelas yang sangat kacau.


"Ada apa ini? astaga Dendi kamu kenapa?"


Bu Sam tercengang saat melihat kondisi Dendi yang sangat mengenaskan. Cowok itu mengangkat tangannya seolah memberikan isyarat agar Bu Sam menolongnya..


Teman temannya yang lain terlihat ketakutan untuk menjawab. Mereka tidak mau kena amuk Reihand. Cukup melihat Dendi di libas habis Reihand saja sudah membuat nyali mereka ciut. Lagi pula yang salah di awal memang cowok itu, dia yang sudah memancing keributan dengan menggoda Flo.


Tapi melihat Reaksi Reihand yang sangat berlebih ini akhirnya seluruh teman sekelasnya bisa menyimpulkan sesuatu, sebenarnya hati Reihand itu bukan benar benar untuk ceweknya Widya. Tapi ternyata milik Flo.


"Rei, lo urus sisanya, gue cabut dulu!" Arga melenggang keluar kelas, saat berpapasan dengan Meira di pintu dia mengelus pucuk kepala gadis itu.


"Sayang, kalau Reihand sampai kumat lagi, siram aja pake air!" Bisik Arga, yang kontan membuat Meira menahan senyum geli.


Meira kemudian mendekati Flo dan bertanya apa yang sebenarnya sudah terjadi.


"Sebenarnya ada apa ini?" Tanya Bu Sam yang masih tidak tahu akar masalah sebenarnya.


"Saya udah nonjok dia bu, soalnya mulutnya kayak sampah Bu." jawab Reihand dengan santai.


Semua kontan terperangah lalu kemudian menahan tawa melihat ekspresi Dendi yang kebakaran jenggot dikatain mulut sampah.


"Reihand kamu dan Dendi iku ibu ke ruang rektor! SEKARANG!"


Ibu Sam naik pitam lalu kemudian dosen itu pergi keluar kelas dengan langkah cepat.


.


bersambung

__ADS_1


Wkwk si Dendi ya nyari ribut aja, gimana makin seru gak?


__ADS_2