Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Jantung berdebar


__ADS_3

Velina baru saja keluar kamar mandi saat Diego masuk ke dalam kamar. Mata mereka kembali bertemu dan keduanya tampak canggung. "Ini adalah kamarku, jadi ini bukan kesalahanku," tiba-tiba Diego bicara dengan ketus.


Velina yang hanya mengenakan handuk terlilit di badan, menunduk canggung, "kau benar, aku akan berganti pakaian di dalam kamar mandi saja." Tangannya meraih piyama yang ia sudah siapkan di atas ranjang, lalu buru-buru masuk kembali dalam kamar mandi.


Diego mengacak rambutnya kasar, kenapa aku harus jadi salah tingkah seperti ini? Batinnya sembari mengusap wajahnya frustasi.


Beberapa menit kemudian Velina keluar lagi dari kamar mandi dengan pakaian tidur lengkap, ia mengenakan setelan piama lengan panjang warna merah.


"Lusa ... Apa kau juga akan mengundang keluargamu di acara pernikahan ... Kita?" Tanya Diego ragu.


Benar apa yang di katakan Luna. Diego tidak tahu apa-apa tentang Velina. Apa wanita ini masih memiliki sanak famili atau tidak.


"Tidak ... Ku rasa itu tidak perlu." Sahut Velina canggung.


"Kenapa?" Diego menatap menyelidik,  "maksudku, apa kau masih punya keluarga atau--?"


"Mereka ada, tapi mereka menganggap ku tidak ada," wajah Velina seketika berubah sedih.


Diego akhirnya berhenti dan tidak ingin bertanya lebih lanjut lagi, ia tidak ingin mencampuri masalah pribadi wanita ini.


"Aku bersyukur kau mau menampungku di sini. Aku merasa hidupku sebatang kara dan aku tidak punya tempat untuk pulang." Lanjut Velina seraya mengulas senyum.


Diego menduga wanita ini kabur dari rumah karena masalah keluarga, itulah sebabnya ia tak punya pilihan lain selain tetap tinggal di sini.


Tapi haruskah dengan menikah? Ini sangat aneh. Mengingat sebuah ikatan pernikahan bukanlah suatu ikatan yang main-main, itu sakral, dan seharusnya ada cinta di dalamnya. Tapi ini?


Diego tak ingin melanjutkan pikirannya lebih jauh lagi. Dirinya juga merasa serba salah, wanita ini telah membantu adiknya untuk kembali pada suaminya. Jadi pernikahan ini balasan yang setimpal untuk wanita itu.


"Baiklah, kau tidurlah di sini dengan tenang, biar aku tidur di ruang kerjaku saja."


"Tapi ini kamarmu, jika kau tidak suka aku tidur di ranjangmu, biar aku saja yang tidur di sofa," Velina melirik ke arah sofa panjang yang terletak di dekat jendela kaca besar.


"Tidak... Tidak perlu, kau tidur saja di sini. Biar aku saja yang pergi." Setelah itu, Diego buru-buru berlalu keluar.

__ADS_1


Ia tidak mengerti dengan jantungnya sendiri yang tiba-tiba berdetak sangat cepat, berada di dekat Velina membuatnya gugup.


Kenapa dia harus secanggung ini pada seorang wanita? Bukankah dirinya dan Velina sudah beberapa kali melakukan hubungan intim? Tapi kenapa wanita itu bisa membuatnya sangat salah tingkah.


Tidak!


Ini tidak benar!


Diego menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia mencoba menepis pikirannya sendiri, ia tidak mungkin tertarik pada wanita itu, apa lagi jatuh cinta. Tidak mungkin. Sekuat tenaga ia mencoba menyangkal perasaanya sendiri.


Setelah sedikit lebih tenang, ia lanjut melangkah ke ruang kerjanya.


***


Hari yang sebenarnya paling tidak ingin di tunggu oleh Velina, akhirnya tiba juga. Pernikahan diam-diam Diego dan Velina berlangsung sederhana, meski begitu Diego menyuruh seluruh maid nya mendekorasi rumah. Dan tentu saja, tamu yang datang untuk menjadi saksi hanyalah Luna, asistent Gun, dan... Farel.


Pria itu menatap Velina nanar ketika Diego mulai menyematkan cincin bertahta berlian di jari manis wanita itu.


Seolah seluruh harapannya hancur berkeping-keping. Ia jadi teringat beberapa tahun ke belakang. Betapa ia dan Velina pernah merajut kasih bersama. Bayangan-bayangan kebersamaanya dengan Velina muncul satu persatu dalam benaknya, layaknya rol film yang sedang di putar di kepalanya.


Luna yang sadar jika suaminya terus memperhatikan Velina, ia pun buru-buru mengamit lengan pria itu. Farel terkejut dan menoleh ke samping, terlihat Luna berusaha tersenyum manis padanya. Farel tak membalas dan hanya menatapnya tanpa ekspresi. "Aku senang akhirnya kau mau mengubah keputusanmu, aku senang akhirnya kau mau memberi kesempatan untuk kita," ujar Luna dengan senyum lebih lebar.


Farel menatap kembali ke arah Velina dan Diego, ia terpaksa melihat sesuatu yang seharusnya tak perlu di lihatnya. Bagaimana bisa ia melihat bibir Velina di cium oleh wanita lain.


Dengan perasaan kesal, ia mengibaskan tangan Luna dan pergi meninggalkan ruangan, ia turus berjalan keluar rumah dengan perasaan marah.


"Farel! Tunggu!" Seru Luna. Kemudian ia melirik ke arah Velina sebentar dengan tatapan sinis, setelahnya berlari menyusul suaminya.


"Maaf, aku tadi sengaja melakukannya agar Farel melihatnya, agar dia yakin jika aku sudah benar-benar berpaling," Velina menyentuh bibirnya canggung, ia tadi baru saja mendaratkan ciuman di bibir Diego.


Diam-diam pria itu pun tersenyum sendiri dalam hati, namun di jika hadapan Velina ia memasang wajah dingin, "aku mengerti maksudmu."


Di taman depan rumah, Farel tak kuasa menahan air mata yang berusaha ia tahan mati-matian sejak tadi. Hatinya begitu terluka, ia masih begitu mencintai Velina dan mengharapkannya. Ia pikir, Velina tidak sungguh-sungguh berpaling pada Diego, ia pikir Velina hanya terpaksa, dan ia masih berharap mendapat kesempatan untuk bisa merebut wanita itu kembali padanya.

__ADS_1


Tapi... Setelah melihat kejadian tadi, ia merasa cinta nya mungkin kini hanya bertepuk sebelah tangan.


"Kenapa?"


"Kenapa?!"


Farel berteriak histeris dan terisak sendirian. Suara tangisannya begitu menyayat. Kenapa Velina begitu cepat berpaling darinya, sedangkan dirinya sendiri belum merasa rela wanita itu pergi dari sisinya.


"Farel..."


Suara Luna yang mendekat membuat Farel buru-buru mengusap pipinya yang basah.


"Ada apa?" Ucap Farel dingin tanpa berniat menoleh ke arah wanita yang kini tepat ada di belakangnya.


"Kau tidak apa-apa?" Luna bertanya dengan sangat hati-hati.


Farel menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan, mencoba membuat dirinya sendiri sedikit tenang, setelah itu menghadap ke arah Luna. "Aku ingin tanya satu hal padamu, apa boleh?" Ucap Farel tiba-tiba.


"Tanya apa?" Mata Luna melebar sedikit bingung. Tidak biasanya Farel mau menanyakan suatu hal padanya. Biasanya pria itu sangat dingin padanya.


"Apa yang membuatmu tidak pernah menyerah padaku? Bukankah aku sudah sering menyakitimu? Membuatmu menangis? Kenapa kau sama sekali tidak membenciku dan malah ingin tetap bersamaku? Kenapa?"


Selama ini, Farel tidak pernah bertanya, kenapa Luna bisa sangat menginginkannya?


"Apakah aku  harus menjawabnya?" Luna malah membalas dengan pertanyaan. "Kenapa baru sekarang kau tanyakan itu semua?"


Farel mencoba menghindari kontak mata dengan wanita di hadapannya itu, ia tak ingin melihat ke dalam hati hati wanita itu melalui matanya.


"Ku rasa, tanpa ku harus ku beri tahu, kau pasti juga tahu jawabannya. Tapi mungkin bagimu, aku ini hanya wanita konyol, wanita manja, yang tidak tahu malu karena terus mengejar dan mempertahankan pria yang tidak mencintainya, iya kan?"


Farel menunduk makin dalam. Ia sadar Luna sangat mencintainya, dan wanita itu sadar jika perasaanya tidak terbalas, tapi kenapa wanita itu masih saja mau mempertahankan cinta yang begitu menyakitkan untuk di jalani? Bukankah itu konyol sekali?


"Kata orang cinta itu buta, anggap saja itu benar." Mendengar pernyataan itu, Farel segera mengangkat kepalanya.

__ADS_1


Ia melihat Luna seperti dirinya sendiri. Cinta itu buta dan membuatnya menjadi bodoh. Sudah jelas-jelas Velina mencampakannya. Kenapa dirinya masih begitu berharap?


Bersambung. 


__ADS_2