Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Ketahuan


__ADS_3

"Mei, lo gak apa apakan?"


Tanya Manji.


Meira menggeleng, wajahnya sudah mulai terlihat tenang. Flo dan Widya langsung membawanya ke pojok kantin untuk duduk disana.


"Mei, ini beneran elo?" Flo menatap Meira takjub, dia mencoba mencubit salah satu tangannya.


"Aw, sakit!" Gumamnya sambil mengelus ngelus tangannya.


Manji terkekeh geli melihat kelakuan Flo.


"Lo ngapain sih Flo?"


"Gue cuman ngeyakinin diri sendiri aja Ji, takutnya ini cuman mimpi, abis Meira tadi keren banget ih!" Sahut Flo kagum.


"Iya ih, keren banget, lo tuh orang pertama yang berani ngelawan Novi tau Mei! haha liat engga tadi mukanya merah kaya kepiting rebus." Timpal Widya.


Meira hanya diam sambil menyeruput es teh milik Widya.


"Lain kali lo gak usah ladenin Novi deh." Tutur Farel. Salah satu sahabat Arga itu baru saja balik dari meja pedangan siomay, membawa sepiring penuh siomay di tangannya.


Farel ikut nimbrung dimeja itu.


Meira mengangkat satu alisnya.


"Emang kenapa?"


"Dia itu cewek gila!" Jawab Farel santai.


"Yap, dia terobsesi banget sama Arga." Tambah Manji sambil mencomot siomay milik Farel.


Hah? Meira mulai penasaran dengan topik pembicaraan.


"Dia itu nekat Mei, bokap nya punya saham dikampus ini sekitar dua puluh persen, ya walaupun kecil, itu angka yang gak bisa kita remehkan." Farel mengingatkan namun dengan wajah yang terlihat tenang.


"Lo harus hati hati, apalagi Arga kan lagi jarang ke kampus akhir akhir ini." Manji ikut menimpali, sepertinya mereka berdua sedang berusaha untuk mengingatkan Meira kalau Novi tidak bisa diremehkan.


"Dia tuh ya pernah ngerjain mahasiswi baru cuman gara gara gak suka kalau mahasiswi itu naksir sama Arga. Dikerjain abis abisan! dikurung di gudang bawah, dilemparin saos dari lantai atas, yah pokoknya lo harus jauh jauh dari dia."


Widya dan Flo meremas tangan Meira.


"Mei, udah mending lo nurut dan dengerin mereka deh, gue kok ngeri banget denger ceritanya. Sinting kayaknya tuh cewek!"


Meira malah cuek, tak terlihat raut ketakutan sedikitpun.


***


Sementara itu Dikantor.

__ADS_1


Arga sedang sibuk dengan berkas berkas ditangannya. Akhir bulan ini dia akan pergi ke puncak bogor untuk mengurus salah satu proyek besar perusahaan.


Waktunya jadi tersita banyak untuk mempelajari strategi yang akan mereka pakai untuk bisa meraih poin plus dihadapan koleganya nanti. Arga tidak ingin perusahaan ayahnya kehilangan kesempatan emas ini.


Tok tok tok


Tiba tiba suara ketukan pintu memecahkan konsentrasinya.


"Masuk!" Ucapnya tanpa menoleh.


Ternyata Meta, dia masuk dengan membawa sebuah map merah ditangan kanannya.


"Permisi, maaf saya mengganggu bapak, saya mau menyerahkan ini untuk ditanda tangani."


Meta berdiri dihadapan Arga. Dia bersikap formal di dalam kantor meskipun sekarang hubungannya telah naik level menjadi kakak ipar Arga, dia tetap takut kena semprot lagi oleh Arga seperti waktu itu.


"Taruh saja disitu, nanti akan saya pelajari dulu. Kamu boleh keluar sekarang." Ucapnya tanpa bergeming.


Meta tampak berpikir. Apa yang harus dia lakukan agar Arga mau menoleh sedikit saja kepadanya.


"Kenapa masih disini?" Suara gertakan Arga tiba tiba membuat lamunan Meta buyar.


"Eh, enggak pak, takutnya bapak butuh sesuatu lagi."Jawabnya tak tahu malu.


"Kalau saya suruh keluar, KELUAR!" Suara Arga mulai mengeras. Kontan Meta jadi membeku ditempat, wajahnya yang ceria mendadak hilang.


"Kau harusnya tau, saya tidak suka mengulangi ucapan saya lagi." Kali ini Arga menatapnya tajam.


Sambil menahan kesal, dia menutup pintu ruangan Arga dengan sedikit membanting.


"akhhhh sialan! susah banget sih mau deketin Arga!" Teriaknya dalam hati.


****


Malamnya, Lusi memanggil Andrew ke balkon kamarnya, wajah tuanya tampak begitu resah, sudah hampir setengah jam dia mondar mandir seperti setrikaan panas di balkon itu.


Tok tok tok


"Masuk!" Ucapnya sambil menatap ke arah pintu.


Andrew terlihat muncul dari baliknya, dia menatap ibunya dengan wajah heran.


"Kenapa sih mah pake sms segala manggil aku kesini? ada apa? kok keliatannya gelisah banget."


"Ouh iya, papah masih diluar kota?" Andrew melihat sekeliling kamar, dia kemudian mendekati ibunya. Kini mereka duduk di balkon kamar yang cukup luas.


"Iya, papahmu pulang lusa."


Mereka lalu diam beberapa saat.

__ADS_1


"Ndrew, mamah tau saat ini kamu sedang menikmati masa masa indahmu sebagai pengantin baru, tapi jangan lupa Ndrew! inget! Awal bulan papahmu akan menyerahkan seluruh perusahaannya ke tangan Arga! apa kamu gak khawatir?!" Desahnya sambil menatap Andrew dengan wajah serius.


Andrew menatap ibunya lalu tersenyum simpul.


"Jadi itu yang dari tadi membuat pikiran mamah tidak tenang, mah.."


Andrew mendekati ibunya, dia berlutut lalu memegang kedua tangan Lusi.


"Mamah percayakan sama aku?" Tanyanya sambil mengelus punggung Lusi lembut. Dia tahu saat ini ibunya itu pasti merasa posisinya sedang terancam sebagai pewaris dirumah ini.


Di dalam hatinya dia juga merasa tidak tenang, tapi dia harus bisa mengendalikan diri saat ini, dia tidak ingin gegabah karna dia tahu Arga itu tidak seperti kakaknya Stefan, sudah beberapa kali dia gagal mencelakai Arga, kali ini dia harus sangat hati hati memikirkan cara untuk secepatnya menyingkirkan adik tirinya itu.


Lusi hanya diam, memandang wajah anak semata wayangnya dengan menghela nafas panjang. Hatinya masih merasa was was selama Arga masih hidup, kemungkinan terburuk akan selalu terjadi.


"Apa kau sudah punya rencana?"


Andrew mengangguk pelan, lagi lagi sambil tersenyum menenangkan.


"Bulan depan, mamah akan mendengar kabar kematiannya lebih dulu sebelum kabar dia menjadi pewaris utama perusahaan papah. Aku janji!"


***


Sementara itu diluar ruangan, Arga baru saja kembali dari kantornya, wajah tampannya tampak begitu lelah. Dia terlihat berjalan masuk dari halaman depan dengan langkah santai.


Meta yang melihat kedatangannya dari lantai atas langsung melompat kegirangan. Dia buru buru keluar ruangan padahal saat itu dia sedang memakai pakaian tidur yang lumayan tipis.


Meta setengah berlari dan menunggu Arga diujung tangga, tentunya dia memastikan lebih dulu kondisi di sekelilingnya apakah aman, dia tahu Meira saat ini sedang berada di dalam kamarnya, sementara Andrew sedang mengobrol di kamar ibunya. Makanya dia berani keluar kamar disaat yang pas ini.


"Arga.., kok baliknya malem banget?"


Sapa Meta saat laki laki itu telah sampai diujung tangga paling atas.


Meta berdiri tepat ditengah tengah jalan, Arga mau tak mau menghentikan langkahnya sesaat.


Gadis itu kini sudah berdiri dihadapannya dengan lemah gemulai, dia tersenyum sambil menarik ujung piyama tipisnya agar pahanya bisa terekpose dengan lebih jelas oleh Arga. Tujuannya sudah pasti untuk menggoda iman Arga. Dia penasaran apakah Arga seperti laki laki lain yang mudah tergoda dengan tubuh seksinya.


"Lo pasti cape ya?" Tanyanya lagi, Arga masih tak bergeming. Dia hanya menarik sedikit salah satu ujung bibirnya. Jangankan tergoda, dia justru sekarang merasa sangat jijik pada gadis dihadapannya.


Dikendorkan dasinya sendiri. Meta tersenyum, dia berpikir Arga pasti mulai tergoda. Akh sialan! andai dia sedang tidak diruang terbuka, dia pasti sudah melompat dan memeluk berondong tampannya ini.


"Gerah ya?" Tanyanya dengan suara yang terdengar manja.


"Apa maumu?" Ucap Arga akhirnya. Arga masih berusaha diam, dia ingin tahu apa yang sebenarnya Meta rencanakan.


Meta meraih jas kemeja Arga, dia seperti ulat bulu yang menggeliat mengelilingi pria berbadan jangkung itu.


Kedua bola matanya menatap sekeliling memastikan keadaan masih aman. Dia melihat pintu kamar mertuanya masih tertutup rapat juga kamar Meira yang berada dibelakangnya masih terlihat tak ada pergerakan sedikitpun, sementara jam sudah menunjukkan pukul 22.10 wib.


Dia pun melancarkan aksinya dan hendak mendaratkan satu ciuman di bibir Arga, namun dia tersentak kaget ketika menyadari seseorang tengah berdiri dibelakang punggung Arga, menatap ke arahnya dengan wajah ternganga.

__ADS_1


"Apa yang sedang kalian lakukan?"


bersambung..


__ADS_2