
Sementara di dalam kantin kampus.
Reihand melirik jam di tangannya. Lima menit lagi bel pelajaran kedua akan berbunyi.
Semua sudah memutuskan untuk kembali ke kelas masing masing.
Sebagian mahasiswa dan mahasiswi telah berada di dalam ruangan, yang lain sudah sibuk mengeluarkan catatan untuk pelajaran selanjutnya.
Reihand melirik ke arah tempat duduk Flo yang baru. Gadis itu belum muncul, bangkunya terlihat masih kosong tanpa penghuni, padahal bel masuk sebentar lagi akan berbunyi.
Reihand tampak cemas, terakhir kali Flo meninggalkan kantin dengan tergesa gesa, ditambah raut muka cewek itu jelas memancarkan kekesalan. Dia yakin ada yang tidak beres. Entah kenapa hatinya berbisik untuk segera mencari Flo sekarang juga.
Dengan gusar diketuk ketuknya meja hingga membuat Widya teralih perhatiannya.
"Kenapa Rei?"
Tapi bukannya menjawab, Reihand malah mengacuhkan pertanyaan Widya dan memilih untuk pergi keluar kelas.
Widya hendak bangkit dan mengejarnya, tapi Reihand sudah menghilang dibalik pintu dengan langkah langkah gesitnya.
Widya membatalkan niatnya untuk mengekor Reihand karna baru beberapa langkah dia berjalan ke arah pintu, bel masuk telah berbunyi dan Dosen terlihat muncul dari arah pintu.
Meira ikut mengerutkan keningnya melihat kejadian itu, dia melirik ke arah bangku Flo, cemas saat Flo ternyata belum masuk ke dalam kelas.
Lalu kemudian Meira mengambil kesimpulan dengan perginya Reihand keluar dari ruangan itu, jangan jangan dia mau mencari keberadaan Flo?
Widya yang duduk di bangkunya tak kalah cemas, tapi kecemasannya bukan ditujukan untuk Flo, melainkan Reihand.
Dia takut Reihand akan nekat mencari Flo. Bagaimana kalau Reihand melihat semuanya, semua yang tengah di lakukan Stella dan teman temannya di gudang belakang. Cowok itu pasti tidak akan tinggal diam.
Widya berharap Reihand tidak ke gudang belakang, karna tempat itu adalah tempat yang dipilih Stella untuk menjahili Flo.
Akhirnya karna tak bisa melakukan apa apa, Widya pun mengirimkan pesan melalui ponselnya kepada Stella dan menanyakan kondisi Flo.
From: Widya
Lo dimana Stell? Gimana si Flo? udah beres?
Tak lama pesan dari Stella muncul dilayar ponselnya.
From: Stella
Beres, tapi tuh anak bebal juga ya, gak ada takut takutnya sama gue! bingung gue mau ngapain dia lagi.
Widya membaca pesan dari Stella itu dengan kening berlipat. Jadi ternyata Flo memberikan perlawanan pada Stella.
From: Widya
Emang lo apain tuh anak?
Beberapa detik kemudian muncul lagi balasan dari Stella.
From: Stella
Gue bikin dia mandi air botol hahaha mampus, gue yakin tuh anak gak berani keluar dari gudang, pas banget lagi dia lagi pake baju putih, keliatan woy kacamata hitamnya! haha
Widya jadi ikut ketawa melihat ketikan pesan yang dikirim Stella.
__ADS_1
Dia merasa sangat puas tanpa harus repot repot mengotori tangannya sendiri untuk menyingkirkan Flo, ada orang lain yang dengan suka rela menggantikan posisinya.
From: Widya
Kerja bagus, keren juga lo Stell, tapi gue boleh minta tolong gak, gue ngeri nih, Reihand tadi keluar kelas, kayaknya dia mau nyamperin si Flo deh, perasaan gue soalnya gak enak, lo bisa gak tolong liat sikon di gudang sekali lagi aja? Please.
Widya harap harap cemas menantikan balasan dari Stella.
Tak lama ponselnya kembali menyala dikolong meja.
From: Stella
Sorry Wid, gak bisa. Gue udah cabut keluar ada urusan, mending lo cari tau sendiri aja!
"Sialan lo Stell!" Tanpa sadar Widya mendesis sambil menggebrak mejanya sendiri.
Seisi kelas kontan menoleh ke arahnya termasuk Dosen yang sedang menerangkan di depan kelas.
"Ada masalah Widya?" Tanya Bu Endang, Dosen yang sedang mengajar. Dosen yang masih muda itu menurunkan sedikit kacamatanya dan menatap ke arah Widya.
"Engga bu." Jawab Widya buru buru.
"Kalau begitu tolong fokus, jangan ada keributan lagi, paham?" Kali ini pertanyaan Bu Endang terarah untuk semua yang ada di dalam kelas.
"Paham Bu." Jawab semuanya serentak.
Kelas pun kembali hening, Bu Endang pun kembali menjelaskan materi pelajarannya yang sempat tertunda.
Sementara di lorong kampus. Reihand tampak kelimpungan mencari keberadaan Flo. Dia merogoh ponselnya mencoba menelpon nomor gadis itu, tapi ponsel Flo kelihatannya mati, dia sama sekali tidak bisa menyambungkan ke nomornya.
"Kemana sih? masa balik, Flo bukan tipe yang suka bolos. Pasti ada apa apa nih!" Ucap Reihand pada dirinya sendiri.
Akhirnya dengan langkah yang mulai pelan Reihand memutuskan untuk menyeret langkahnya kembali ke kelasnya.
"Woy Rei, ngapain? emang gak ada Dosen?"
Tanya Irma setengah berteriak.
Sepupu Flo itu menghampiri Reihand. Dia bingung melihat Reihand ada di depan kelasnya.
"Eh, elo Ir, gue lagi nyari Flo, kemana ya tuh anak, padahal lagi ada pelajaran, malah ngilang."
Kening Irma berlipat mendengar ucapan Reihand.
"Loh, tadi gue liat dia jalan ke gudang belakang, gue mau manggil tapi tuh anak keliatannya buru buru banget."
"Gudang belakang yang dibelakang fakultas kesenian maksud lo Ir?"
"Iya, noh disana." Irma menunjuk gedung fakultas kesenian yang ada di sebrang gedung yang sekarang mereka tapaki. Gedung Fakultas Seni itu memang terlihat berbeda sendiri, namanya juga gedung fakultas anak anak yang memiliki jiwa kesenian yang tinggi, setiap tembok di setiap sisinya di penuhi coretan coretan indah hasil dari tangan tangan berbakat anak anak kesenian.
Reihand mengangguk-angguk, dia langsung melesat pergi meninggalkan Irma yang terbengong bengong ditempatnya.
Di dalam gedung belakang.
Dari jauh Reihand berlari sekencang kencangnya, setelah bertanya pada seorang mahasiswa yang kebetulan lagi duduk di depan kelas dia langsung berbelok ke arah belakang gedung Fakultas kesenian dimana tempat gudang belakang berada.
Reihand menghentikan langkahnya di depan pintu gudang yang kelihatan sedikit terbuka. Entah apa yang membuat dia tertahan di depan pintu itu.
__ADS_1
Perlahan kedua tangannya terulur memegang handle pintu. Ditariknya handle itu hingga akhirnya dua daun pintu itu pun terbuka dengan sempurna.
Seketika Reihand membelalakan matanya, dia terkejut melihat Flo ternyata memang benar sedang ada di dalam sana. Gadis itu tengah meringkuk sambil memeluk kedua lututnya, Reihand teriris melihat keadaan Flo, rambut dan tubuh gadis itu basah kuyup.
Flo mendongak saat mendengar suara pintu terbuka, refleks dia berdiri tegak. Namun seketika Flo terhenyak saat melihat sosok yang ada di depannya.
Reihand, cowok jangkung itu kini tengah menatap lurus ke arahnya.
"Reihand.."
Flo benar benar tak menyangka Reihand yang menjadi jawaban atas doanya tadi. Dia berharap pada Tuhan agar mengirimkan seseorang untuk menyelamatkannya keluar dari situasi ini. Tapi kenapa Reihand? kenapa harus dia?
Reihand mengepalkan kesepuluh jarinya kuat kuat. Siapa yang sudah berani membuat Flo sampai seperti ini? Amarah di dadanya seketika berkumpul.
Reihand berjalan ke arah Flo dan secepat kilat dia menyambar tubuh gadis itu, dipeluknya Flo dengan erat, dengan nafas yang memburu.
"Siapa? bilang sama gue siapa yang udah bikin lo kaya gini? biar gue abisin dia!" Desis Reihand dengan suara yang terdengar serius.
Flo menggeleng sambil membalas pelukan Reihand tanpa sadar. Rasanya nyaman, Flo merasa tubuh Reihand selalu bisa memberikan energi hangat untuk tubuhnya.
Reihand melepaskan pelukannya, ditatapnya Flo dari ujung rambut hingga ujung kaki, gadis itu terlihat sangat kacau, mirip kucing yang baru kecemplung ke sebuah kolam, dia terlihat basah kuyup dan kedinginan.
Reihand tiba tiba teringat kejadian saat Flo pingsan di ruko bekas mie ayam dulu. Gadis inikan tidak tahan dingin.
Tanpa membuang waktu, dia buru buru melepaskan kemejanya, untungnya Reihand selalu memakai kaos polos sebagai dalaman sehingga dia tidak harus bertelanjang dada dan memamerkan otot otot perutnya yang seperti atlet.
Reihand memakaikan kemejanya ke badan gadis itu, Seketika Reihand terkesima, kemejanya yang kebesaran di tubuh Flo malah membuat Flo terlihat lucu.
Flo menundukkan wajahnya menahan malu.
"Flo, bilang sama gue, siapa yang udah ngerjain lo kaya gini? biar gue bilas tuh orang!" Reihand membungkukkan wajahnya serendah mungkin demi melihat wajah Flo yang sedang pemiliknya sembunyikan.
Flo lagi lagi menggeleng. Tidak mungkin dia mengatakan kalau Stella lah yang sudah melakukan ini semua, bisa bisa Salon Ibunya langsung di tutup sama tuh nenek lampir, untuk urusan ini Flo memilih bungkam.
Sekali lagi Reihand berusah mencari tahu.
Diangkatnya dagu Flo lembut dengan salah satu tangannya yang terulur.
Gadis itu akhirnya mendongak, seketika mereka saling bersitatap. Flo melihat kecemasan yang terpancar jelas di wajah Reihand untuknya.
"Ngomong sama gue, siapa yang udah bikin lo kaya gini, Flo." Desis Reihand dengan gigi gemeretak.
Dia terlihat tidak sabar. Siapapun yang sudah berani menyakiti orang yang dia sayang, maka tidak ada ampun.
"Gue gak apa apa Rei, ini cuman kecelakaan aja."
"Kecelakaan ya? tapi kenapa ada botol dan banyak jejak kaki disini." Reihand menunjuk lantai tempat mereka berdiri dengan sepasang matanya yang melirik ke bawah.
Flo menahan nafas, di lantai basah itu tercipta banyak jejak kaki manusia, seolah olah jejak itu menjelaskan jika tadi ada orang lain disana selain Flo.
"Gue bilang itu cuman kecelakaan ya kecelakaan Rei, gue gak akan jelasin apapun."
Jawab Flo kekeh.
Reihand mendesah jengkel. Dengan menahan kekesalan yang hampir meledak keluar, akhirnya Reihand merengkuh bahu Flo dan mengajak gadis itu keluar dari dalam gudang.
"Ok, gue gak akan nanya nanya lagi, tapi gue bakal tetep cari tau sampai gue tau orangnya liatin aja gue bakal bikin perhitungan sama dia, sekarang gue anter lo pulang dulu, dan kali ini gak ada penolakan!" Tandasnya dengan nada final.
__ADS_1
bersambung