
"Flo!" Reihand berusaha menahan langkah Flo, tapi gadis itu berontak sejadi jadinya.
"Flo, jelasin ke gue kenapa gue gak boleh suka sama lo?"
"Gak boleh Rei, pokoknya gak boleh!" jawab Flo.
Flo akhirnya berhasil melepaskan tangannya dari cengkeraman tangan Reihand dengan menggunakan cara terakhirnya yakni menggigit tangan cowok jangkung itu.
Reihand kontan memekik kesakitan saat gigi gigi runcing Flo tertancap di kulitnya, refleks Reihand melepaskan tangan Flo.
"Aw," Reihand mengibaskan tangannya ke udara.
Cukup dalam juga gigitan Flo barusan sampai meninggalkan bekas giginya yang berjejer di atas punggung tangan Reihand.
Berbarengan dengan lengahnya Reihand, Flo langsung lari sekencang kencangnya balik ke arah resort.
Reihand hendak kembali mengejar Flo, tapi urung ketika tak jauh dari tempatnya berdiri, dia melihat Widya, gadis itu keluar dari sebuah pohon kelapa yang terletak tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Widya, sejak kapan lo ada disitu?" Reihand tercengang. Apa jangan jangan dia melihat semuanya?
Reihand melihat sepasang mata Widya merah, entah gadis itu habis menangis atau sedang marah.
"Baru aja gue dateng Rei, tadi lagi bete dikamar, jadi kesini deh buat nyari nyari angin seger." Widya mendekat dan berjalan santai ke arahnya sambil tersenyum manis.
Reihand membeku, dia bingung haruskah dia mengejar Flo, tapi Widya seperti hendak mengatakan sesuatu kepadanya.
Gue gak akan biarin lo ngejar Flo, Rei, gak akan! batin Widya.
"Lo sendirian kesininya? bahaya Wid, lebih baik kita balik ke resort sekarang, ini udah mau maghrib."
"Iya sih, gue juga rencananya mau balik nih, disini ternyata udaranya cukup dingin ya." Widya mengusap usap kedua bahunya sengaja memberi isyarat pada Reihand kalau saat ini dia tengah kedinginan.
Reihand menatap ke arah jembatan kayu, Flo sudah sampai disana, Reihand menghela nafas gusar, percuma juga mengejar gadis itu, gesit juga ternyata dia, padahal dia pikir tadi Flo sudah kehabisan tenaga.
Reihand mengacak rambutnya frustasi, kenapa semuanya malah kacau begini, dia sangat heran pada sikap Flo. Kenapa setelah mengungkapkan perasaannya pun Flo masih tidak mau menerima dirinya.
"Rei, kok bengong?"
Reihand mengangkat kepalanya, Widya kini sudah berdiri persis didepannya. Gadis itu sedang memeluk tubuhnya sendiri dengan kedua tangannya.
Reihand langsung paham, dia membuka jaket levis nya dan meletakkannya ditangan Widya.
"Pakai ini Wid, cuaca memang lumayan dingin." kata Reihand sembari mulai berjalan kembali ke arah resort.
Widya mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Sialan! Reihand bahkan tidak mau menemaninya walau hanya sekedar mencari angin.
Tapi lain dengan Flo, gadis itu sepertinya begitu berarti buat Reihand, dia sudah mendengar semuanya dengan sangat jelas bagaimana Reihand mengungkapkan perasaannya tadi.
__ADS_1
Widya tidak habis pikir ternyata diantara Reihand dan Flo telah terjadi sesuatu yang membuat mereka sama sama suka.
Dada Widya bergemuruh, dia merasa Flo telah mengkhianatinya.
"Wid, ayo pulang." Reihand berbalik dan menatap Widya yang masih berdiri mematung ditempatnya.
Widya mengangguk, memaksakan senyumnya lalu ikut berjalan dibelakang Reihand.
Akhirnya sebelum menjelang maghrib, mereka pun telah kembali ke cottage masing masing.
...***...
Di dalam kamar Flo, dia duduk diatas ranjangnya sambil memeluk guling. Masih terngiang ngiang di telinganya tentang pengakuan cinta Reihand kepadanya.
Kalau boleh jujur dia sangat senang, tapi di sisi lain dia juga sedih mengingat perasaan Widya yang begitu besar untuk Reihand.
Dari pada memilih menerima perasaan Reihand, Flo bertekad untuk mengalah demi sahabat baiknya Widya.
Tok tok tok
"Flo, ini gue Meira, gue boleh masuk gak?"
Flo bangun dan buru buru menghapus air mata di pipinya.
Dia segera berkaca dan merapihkan rambutnya yang berantakan, dia tidak mau Meira curiga kalau dirinya habis menangis tadi.
Flo membuka pintu, Meira muncul dengan membawa sebuah Cake coklat yang kelihatannya sangat enak.
"Taraaaa, ini masakan gue Flo, tadi gue minjem dapur resort buat masak ini, gue pengen elo nyicipin ini.." kata Meira dengan wajah riang.
Dia berjalan melewati Flo dan masuk ke dalam kamar.
Flo menutup pintu, dan berusaha bersikap sesantai mungkin, padahal hatinya saat ini sedang sangat kacau.
"Ayo, Flo cobain dong!" Meira meletakan piring berisi Cake itu ke atas meja.
Flo ikut duduk di samping Meira sambil mengambil sendok dan menyuap sepotong Cake itu ke dalam mulutnya.
Matanya tiba tiba melebar, lalu kemudian senyum mengembang diwajahnya.
"Wah, ini enak banget Mei." puji Flo.
Meira tersipu malu, tapi kelihatan sangat bahagia ketika melihat Flo begitu menikmati Cake buatannya.
"Ini lo bikin sendiri Mei?" Flo tidak berhenti memindahkan Cake itu ke dalam mulutnya. Dengan mulut yang penuh potongan Cake, Flo menatap Meira dengan yang kelihatannya sedang sangat bahagia.
"Iya Flo, tiba tiba gue pengen bikin Cake, gak tau deh apa ini bawaan dia..hihi" Meira tertawa sambil mengelus perutnya.
__ADS_1
"Wah, apa jangan jangan dia cewek? pinter masak kayaknya." Sahut Flo.
Meira mengangkat bahu sambil tersenyum lebar.
"Bisa jadi Flo, hehe." Tawa masih terdengar di mulutnya.
Flo menyuap potongan Cake itu hingga ludes tak bersisa, sungguh ajaib, dia kenal Meira itu tidak pandai memasak, tapi hari ini gadis itu bisa memasak Cake yang menurutnya Cake terenak yang pernah dia makan.
Orang hamil memang kadang bisa melakukan hal yang tak di duga-duga.
"Oh, iya Flo, Widya kemana ya? gue ketok ketok kamarnya kayaknya gak ada orang deh, tadinya gue mau ngasih dia juga biar dia nilai masakan gue enak apa engga." kata Meira.
Flo terdiam, lalu menggeleng pelan.
"Gue juga gak tau Mei dia dimana.."
"Oh gitu.." Meira manggut manggut.
Dia melirik Flo, gadis itu kelihatannya lagi banyak pikiran, Flo menghela nafas berat berkali kali sambil matanya menatap ke bawah dengan sorot yang sendu.
"Flo, ada apa?"
Meira mengelus lengan Flo. Flo menoleh lalu kemudian menggeleng pelan.
"Kalau ada yang mau lo ceritain apapun itu, gue siap Flo buat jadi pendengar yang baik, kita kan sahabatan udah lama Flo, gue sedih kalau lo ada masalah tapi gak bisa berbagi sama gue.." kata Meira.
Flo menahan diri untuk menyimpan semuanya rapat rapat, tapi omongan Meira barusan membuatnya sadar, sebenarnya dia butuh teman untuk berbagi.
Flo merubah posisi duduknya menghadap Meira, dengan menarik nafas dalam dalam akhirnya Flo memutuskan untuk menceritakan permasalahan yang sedang dialaminya saat ini.
"Mei, gue gak tau apa reaksi lo nanti setelah ngedenger ini dari gue.."
Flo memenggal kalimatnya, dia ragu, tapi Meira kemudian tersenyum seolah mengisyaratkan kalau semuanya bakal baik baik saja.
"Mei, sebenernya belakangan ini banyak yang terjadi antara gue dan Reihand, gue rasa..gue dan Reihand sama sama jatuh cinta.."
"Apa?" Meira melotot, mulutnya terbuka lebar, tapi dia buru buru menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Gue tau lo bakal kaget ngedenger ini, Mei..gue juga gak bisa nyegah perasaan ini, semuanya terjadi gitu aja."
Flo akhirnya menceritakan semuanya, kejadian saat di lapangan basket dan di ruko bekas mie ayam. Kejadian kejadian di tempat itu yang menjadi awal mula perasaan itu muncul.
Meira masih syok, dia tidak tahu harus bereaksi apa, apalagi saat mendengar cerita terakhir Flo kalau Reihand baru saja secara terang terangan mengungkapkan perasaannya.
Flo menutup wajahnya dengan kedua tangan, tangisnya seketika pecah.
"Gue ngerasa bersalah banget sama Widya, gue tau dia suka sama Reihand, gue emang bukan sahabat yang baik Mei.."
__ADS_1
Meira tercengang mendengar setiap ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut Flo. Jadi selama ini kecurigaannya tentang janggalnya sikap Reihand pada Flo benar, inilah jawabannya, Reihand ternyata menyukai gadis dihadapannya.