
Sejak diberitahukannya rencana liburan itu, yang paling terlihat bersemangat selain Meira adalah Farel.
Sebelum hari H dia bahkan ikut menginap dirumah Reihand karna takut tidak ada yang membangunkannya saat malam keberangkatan. Maklum diantara mereka semua hanya Farel lah yang tinggal di kos kosan. Jangankan ada yang bangunin, ada yang merhatiin aja enggak!
Sebenarnya Farel berasal dari kalangan salah satu konglomerat di jakarta, hanya saja hubungannya yang tidak baik dengan kedua orang tuanya lah yang membuatnya tidak betah dirumah dan memilih untuk tinggal di kosan yang berada di dekat kampus.
Tinggal di dalam kamar seorang diri kerap membuat hidup Farel jadi terlalu santai juga kesepian.
"Gue nginep sini ya men? hehe!" katanya sambil pasang tampang super melas.
Malam itu Farel tiba tiba saja nongol di depan rumahnya lengkap dengan koper besar ditangannya.
Reihand hanya menghela napas pendek sambil mengangguk.
"Anggep aja rumah sendiri, ayo masuk!" Reihand membuka pintu kamarnya lebar lebar.
Dia mempersilahkan salah satu sohibnya itu untuk menginap hari itu.
"Berangkatnya jam berapa sih?"
"Jam 02.00 kata Arga, gue udah pasang alarm tenang aja. Lo tidur aja kalau ngantuk, masih ada waktu 5 jam sebelum berangkat.." kata Reihand sambil menarik kursi di meja belajarnya, ia lalu mendaratkan bokongnya disana.
Farel langsung menghamburkan diri di atas ranjang besar milik Reihand, berguling guling kesana kemari.
Kamar Reihand ini sangat nyaman, dekorasinya terlihat sangat estetik juga rapi, padahal kamar cowok tuh jarang banget ada yang serapih ini.
"Ah gue mana bisa tidur jam segini men, kita nonton itu aja yuk?" sepasang matanya menatap usil ke arah Reihand.
Reihand mengangkat alisnya, curiga.
"Nonton apa?"
"Itu loh yang banyak adegan itunya.." Farel memonyongkan bibirnya mirip moncong ikan lohan.
"Bokep? mesum lu!" Reihand melempar buku yang ada di atas meja ke arah Farel.
"Bhahaha becanda men, tapi lo cepet banget nyambungnya kalau soal yang begituan!" Farel ketawa geli melihat reaksi Reihand.
"Dasar lo! kalau mau nonton tv remotnya ada dibawah laci sana." Reihand menunjuk sebuah meja kecil disamping ranjang.
"Yaudahlah nonton tv aja sambil nungguin jam berangkat." Farel bangkit dari tidurnya, dia menyeret tubuhnya ke samping meja, mencari cari remot tv yang Reihand sebutkan tadi.
"Gue pikir lo kesini mau numpang tidur, kalau lo nonton tv ngapain nginep? kan bisa di kosan lo.." Reihand merasa heran melihat tingkah Farel.
__ADS_1
"Yaelah justru itu masalahnya, gue suka ketiduran sambil nonton tv." jawab Farel santai.
Reihand hanya menggelengkan kepalanya.
Farel pun dengan antengnya nonton tv diatas ranjang, kadang tubuhnya berguling kesana kemari mencari posisi yang nyaman untuk menonton layar hidup didepannya.
Sementara Reihand sedang sibuk membereskan baru bajunya ke dalam koper, memilih beberapa celana dan baju santai untuk dibawa kesana.
"Eh, lo Rei, lo udah pernah ciuman belum?"
Pertanyaan konyol yang tanpa ada angin dan hujan itu sontak membuat gerakan Reihand yang sedang merapihkan bajunya terhenti.
"Apaan sih lo!"
"Noh liat?" Farel menunjuk layar tv nya, memang pas ada adegan sepasang sejoli yang sedang menikmati ciuman.
"Kadang gue ngiri deh sama Arga, dia udah ada pasangan yang bisa dia ajak berbuat apa aja.."
Reihand mengangkat satu alisnya lalu kemudian ketawa pelan.
"Lo cari istrilah kaya Arga!"
"Yaelah jangankan istri, pacar aja kagak ada gue!"
"Apa gue tembak aja ya salah satu sahabatnya Meira, si Widya atau Flo, haha kali aja ada yang mau jadi pacar gue.." kata Farel mulai ngaco lagi.
Tiba tiba tawa Reihand lenyap.
Mendengar nama Flo perhatiannya teralih.
"Tembak Widya aja, kali aja dia suka sama lo." timpal Reihand akhirnya. Bukan bermaksud memberi saran, tapi nama Flo coba dia amankan dari kejaran sohibnya.
Farel mengernyitkan alisnya.
"Ah, tapi Widya terlalu wah buat gue, dia kan bapaknya pejabat, gue mah ogah ngejalanin hubungan sama anak anak orang berpengaruh, ribet, ntar yang ada hubungan gue gak direstuin lagi, kan gue gembel Rei.."
"Gembel tapi isi atm lo ngalahin anak pejabat ye?" ejek Reihand yang langsung dibalas cengengesan oleh Farel.
Dia tahu Farel hanya merendah, meskipun dia tinggal di kosan tapi untuk urusan uang, kedua orang tuanya tidak pernah absen untuk mentransfer ke atmnya dengan nominal yang fantastis abis.
"Gue sih kalau disuruh milih diantara mereka berdua, mending milih Flo aja deh, tuh cewek kalau lama lama di liat manis banget tau Rei."
"Apalagi kalau dia lagi senyum, duh kadang gue pengen banget nyubit pipinya yang chubby itu!" Farel masih terus nyerocos.
__ADS_1
Wajah Reihand sudah tidak bisa dikondisikan, untung saja dia membelakangi Farel jadi Farel tidak tahu kalau sekarang Reihand sedang menahan kesal kepadanya.
"Gue pernah tuh gak sengaja ngobrol berdua sama Flo, tuh anak ternyata asik banget diajak ngobrolnya, gue liat anaknya juga lugu deh gak neko-neko kaya yang lain, menurut lo cocok gak kalau Flo jadi cewek gue?"
Mendengar pertanyaan Farel darahnya langsung mendidih, Reihand menutup kopernya dengan kasar.
"GAK COCOK!" Desisnya jengkel. Dia berjalan dan merebahkan tubuhnya disebelah Reihand dengan wajah yang tidak bersahabat.
"Apaan sih lo, sensi banget kaya udah kaya si Manji aja, tiap kali gue ngomongin Flo dia pasti bakal langsung emosi, gak asik lo berdua.." Farel mendelik sebal.
Padahal diakan cuman meminta pendapat, sekedar mengutarakan opsi pilihannya dan berandai andai kepada dua cewek itu, apakah dia bisa memiliki salah satu diantaranya, karna menurut Farel ngapain nyari jodoh jauh jauh kalau yang deket ada.
Bisa jadikan yang deket itu ternyata temen satu tongkrongan mereka sendiri.
Tapi kenapa kedua sohibnya itu rese banget sih, gak Manji gak Farel malah memberikan jawaban seolah olah dia tidak cocok dengan pilihannya, Flo.
apa mereka maunya dia ngejomblo seumur hidup, gitu?
"Eh, tapi kalau gue perhatiin, lo sadar gak sih kayaknya si Widya suka deh Rei sama lo!" tandas Farel.
Reihand melonjorkan kakinya sambil melipat kedua tangan di depan dada.
"Apaan sih lo? gue sama Widya cuman temen."
"Tapi serius gue, waktu kemarin dia sempet nanya nanya ke gue tentang lo!"
"Nanya apa?" Reihand akhirnya melirik, meski tidak berminat sama sekali membahasnya.
"Dia nanyain ke gue kesukaan lo apa, hobi lo apa dan macem macem lah, gue udah ketemu banyak cewek, ya gue taulah dikit dikit tentang gelagat cewek yang lagi fall in love." Farel mematikan tv dan ikut merentangkan badannya disebelah Reihand.
Reihand malah tertawa mendengar ucapannya.
"Ngaco lo! mana ada Widya naksir gue."
"Lah emang kenapa? gue aja bisa kan naksir salah satu diantara mereka, siapa tau gue suka sama Widya atau bisa jadi Flo. Gak mustahilkan?" Farel malah membuang bom molotov di wajah Reihand dengan perkataannya barusan.
"Lo suka salah satu diantara mereka?" Reihand malah balik bertanya dengan mimik serius.
Farel mengernyit lalu kemudian terbahak keras.
"Lo kenapa sih? jangan jangan lo suka ya sama salah satu diantara mereka?" tebak Farel akhirnya.
Reihand terdiam, dia memalingkan wajah, tak ingin Reihand menangkap ekspresi kebenaran di wajahnya.
__ADS_1