Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Ternyata Widya


__ADS_3

.


"Widya!" Reihand memanggil manggil Widya sambil menepuk nepuk pipinya agar gadis itu sadar.


Flo yang mendengar teriakan Reihand langsung kembali dan kaget saat melihat sahabatnya itu sudah pingsan di dalam pelukan Reihand.


"Rei, Widya kenapa?" Tanya Flo panik.


"Dia tiba tiba aja pingsan, Flo."


Arga, Meira dan yang lainnya yang ikut mengekor ke halaman depan pin ikut ternganga. Melihat sang empunya pesta telah tak sadarkan diri.


"Ya ampun Widya anaknya Mommy kamu kenapa nak?" Mamahnya Widya berteriak histeris seraya menghampiri anaknya yang sedang terbaring dalam dekapan Reihand.


"Lebih baik segera di bawa ke kamarnya saja. Saya bakal langsung panggilkan Dokter kesini." Kata Arga mengusulkan. Dia langsung merogoh ponselnya dan menelpon Dokter langganannya.


"Jon, tolong bubarkan pesta dulu. Maaf sekali acara ini tidak bisa di lanjutkan sekarang. Kondisi Widya sedang kambuh." Kata Papahnya Widya pada satpam yang sedang berdiri tak jauh dari kerumunan.


Satpam itu pun mengintruksikan teman teman Widya untuk membubarkan dirinya.


Sontak semuanya kecewa berat. Bukan karna tidak jadi menikmati pesta meriah ini. Tapi karna rasa penasaran mereka akan digantung jika mereka pulang sekarang. Mereka tidak akan pernah tau ending dari kelanjutan drama yang menurut mereka lebih seru dari pada sinetron tv ini. Apakah Reihand pada akhirnya akan bersama Widya atau Flo.. Begitu lah isi kepala teman temannya bertanya tanya.


Tapi diantara kerumunan orang yang kecewa itu, ada satu diantaranya yang malah terlihat sangat bahagia dengan dibubarkannya pesta ini. Stella menghembuskan nafas lega.


"Lepasin gue Rel! lo gak denger tuh kata bokap nya Widya tadi. Acara bubar!" Kata Stella sambil mencoba melepaskan cekalan tangan Farel yang sangat ketat.


"Gak akan. Mimpi aja lo!" Tandasnya membuat Stella kembali panik.


Bagaiman ini, dia harus segera memikirkan cara untuk bisa lari dari Farel.


Akhirnya karna tidak bisa menemukan ide yang bagus. Stella memakai cara klasik. Dia menggigit pergelangan tangan Farel. Cowok itu mengerang kesakitan saat gigi gigi Stella menancap di kulit tangannya. Sontak cekalan nya terlepas. Dan ketika Farel lengah itu lah Stella buru buru mengambil langkah seribu. Dia lari melesatkan diri ke arah parkiran.


Farel sengaja tidak mengejarnya. Suasana sedang panas. Kalau pun dia mau membongkar tindakan Stella tadi mungkin tidak sekarang waktunya. Tapi dia berjanji pada dirinya tidak akan melepaskan gadis biang onar itu. Tidak akan.


"Awas lo ya Stell! kurang ajar betul berani menggigit tangan gue yang mulus ini!" Kata Farel kesal.

__ADS_1


"Taruh Widya di sofa dulu aja. Kalau ke atas terlalu jauh kasian dia." Kata Mamahnya Widya.


Reihand mengangguk, segers diangkatnya tubuh gadis itu dan diletakkannya ke atas sofa panjang di ruang tamu.


Meira mendekat ke arah Flo dan menggenggam tangan gadis itu yang terasa sangat dingin.


"Flo, biar lo balik sama gue aja yuk. Gue anterin balik ya pake mobil?" Bujuk Meira. Tidak tega juga dia melihat Flo yang sedang basah kuyup itu kedinginan.


Flo menggeleng cepat.


"Engga Mei, gue mau lihat kondisi Widya dulu, gue khawatir sama dia.." Kata Flo.


Meira terhenyak. Astaga setelah banyak caci maki yang dia terima, dia masih saja peduli pada Widya. Meira jadi dilematis.


Tak berapa lama sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan pekarangan rumah Widya. Seorang pria berjas putih keluar dari dalam sana.


Dia tergesa gesa berjalan ke arah ruang tamu.


"Dokter Jerry, tolong periksa keadaan teman saya, tadi dia tadi tiba tiba pingsan." Kata Arga pada Dokter pribadinya.


Ibunya Widya menghampiri Dokter Jerry dengan wajah cemas.


"Anak saya kenapa dok?" Tanyanya dengan wajah cemas.


Semua menatap ke arah Dokter pribadi keluarga Arga itu.


Dokter Jerry tampak ragu membuka mulutnya. Dari ekspresi wajahnya, Arga yang kenal dekat dengan Dokternya tahu betul jika ekspresi wajah demikian bukan pertanda baik. Pasti ada hal gawat pada kondisi Widya.


"Sepertinya ini bukan penyakit biasa. Lebih baik Ibu dan Bapak langsung melakukan pengecekan ke Rumah Sakit terdekat."


"Memangnya anak saya sakit apa Dok?" Ibu Widya mulai tak sabar.


"Iya, Widya sakit apa Dok?" Meira ikut penasaran.


"Kemungkinan Widya mengalami kanker darah, tapi untuk tingkat stadiumnya saya belum berani memastikan sebelum kita malakukan pengecekan lebih dalam."

__ADS_1


Hah?


Semua yang ada disitu terperanjat kaget. Ibu Widya bahkan hampir jatuh pingsan kalau saja Farel dan Manji tidak menopang tubuhnya, begitu pun dengan ayahnya Widya. Pria tua itu memegang dadanya yang seketika mengalami serangan sakit luar biasa di bagian jantungnya setelah mendengar kenyataan yang di sampaikan oleh Dokter itu.


"Gak mungkin Dok! Widya gak pernah sakit selama ini!" Ibu Widya mencoba menyangkal.


"Memang kadang di beberapa pasien kanker, tidak ada tanda gejala sakit yang hebat. Lebih baik bawa Widya untuk melakukan pengecekan lebih dalam. Saya hanya menyampaikan sesuai dengan keadaan kesehatannya saja." Kata Dokter Jarry.


Reihand dan Flo saling pandang. Hati Flo bagai di patahkan menjadi berkeping keping. Meira memeluk Flo dan menangis bersamanya.


Sahabat yang sangat mereka sayangi, ternyata mengidap salah satu penyakit yang sangat mematikan di dunia.


"Wid.." Flo terisak sedih. Hatinya hancur. Dia merasa sangat prihatin dengan kondisi kesehatan Widya.


Flo jongkok di samping sofa sambil menggenggam tangan sahabat yang dulunya sangat akrab dengannya itu. Terlalu banyak memori indah yang sudah mereka lewatkan bersama. Flo tidak bisa membenci Widya meskipun gadis ini sangat menyebalkan akhir akhir ini. Baginya Widya tetap jadi salah satu sahabat terbaiknya selain Meira.


Widya merespon sentuhan tangan Flo. Gadis itu mengerjap. Kedua matanya perlahan terbuka. Dia terperanjat saat melihat Flo tengah duduk di sampingnya.


"Lepas!" Widya buru buru menarik tangannya dari genggaman Flo. Sepasang matanya menyorotkan kebencian yang dalam pada Flo


Widya mengendarkan pandangannya ke arah teman temannya. Flo tau siapa yang sedang di cari Widya.


Dia berdiri dan menggandeng tangan Reihand untuk mendekat ke arah Widya.


Reihand terkejut baru saja dia hendak membuka mulutnya tapi Widya sudah terduduk dan memeluk tubuhnya dengan cepat.


"Gue takut, jangan tinggalin gue sendirian. Please tetap di samping gue ya?" Pinta Widya dengan suara yang mulai terdengar serak dan lirih.


Semua tersentak kaget. Bahkan setelah pingsan pun Widya masih tetap melalukan usaha untuk mendekati Reihand. Ternyata sedalam itu cintanya pada Reihand.


Arga menatap Reihand. Reihand terlihat sangat bingung harus merespon perasaan Widya ini dengan cara bagaimana.


Di satu sisi dia tidak tega juga setelah mendengar penjelasan dokter tadi tentang kondisi Widya. Tapi di sisi yang lain. Dia tidak mungkin menerima cinta gadis ini hanya karna rasa kasihan.


.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2