
"Arga.." Pekik Meira sambil menahan sensasi aneh ketika Arga terus mengulum kedua bola kembar miliknya dengan mulutnya.
Arga mendongak, dibelainya pipi Meira dengan lembut.
"Mei.. bagaimana kalau mulai detik ini kita ganti panggilan gue elo dengan sayang?" Ucap Arga tiba tiba.
Meira mengangkat alisnya.
"Apa?"
"Iya, aku mau mulai sekarang kamu manggil aku sayang.."
"Ha..aku?"
Meira hampir terbahak namun urung ketika dia melihat wajah serius Arga.
"Kenapa? apa berat buat manggil sayang?" Tanya Arga lagi.
Meira hanya diam, apa yang harus dia jawab? kenapa Arga yang terkenal cuek tiba tiba malah membahas soal panggilan, bukankah selama ini mereka sudah cukup nyaman dengan panggilan beken elo gue.
Arga mengendus kesal ketika melihat Meira tak juga memberikan reaksi.
"Yaudah kalau gak mau!" Suaranya terdengar kecewa.
"Engga bukan itu maksud gue.." buru buru Meira menggeleng.
Arga memalingkan wajahnya. Wajahnya yang hangat tadi seketika berubah jadi dingin. Meira menelan ludah berat. Dia sungguh benci ketika Arga berubah dingin seperti itu.
"Ga.." Meira mencoba meraih tangan Arga, namun Arga malah menghindar.
"Sa..sayang." Ucap Meira gelagapan. Rasanya gugup karna ini kali pertama panggilan itu keluar dari mulutnya.
Barulah Arga menoleh, seulas senyum langsung muncul di wajah tampannya.
"Ulangi lagi!" Perintah Arga.
"Sayang.."
"Lagi!"
"Sayang sayang sayang!" Seru Meira akhirnya.
"Bagus! panggil aku tiap hari kaya gitu!" Pinta Arga.
Meira menahan nafas. Pipinya mungkin sudah semerah kepiting rebus saat ini. Entah apa yang ada dipikiran Arga. Dia tak pernah menyangka jika cowok yang dikenalnya tengil ini suatu hari akan membuatnya salah tingkah begini.
"Mei, apa kamu menyukai ini?" Tangan Arga kembali bermain dengan tubuh gadis didepannya.
Meira menahan nafas, rasanya dia hampir mati setiap kali jari jari itu menyentuh kulitnya, padahal ini bukan yang pertama, tapi sentuhan Arga selalu sanggup membuatnya melayang sampai ke nirwana.
"Suka apa?"
"Apa kamu suka waktu aku nyentuh kamu? kalau kamu keberatan aku bakal berhenti.."
__ADS_1
Arga menatap gadis didepannya dengan seksama. Gadis yang awalnya hanya ingin dia jadikan sebagai pelampiasan balas dendam, entah bagaimana takdir malah membuatnya jatuh cinta pada Meira.
Gadis ini sudah menjadi candu baginya. Gadis polos dan pemberani ini yang sudah berhasil membuatnya sadar kalau ternyata balas dendam itu tidak akan menghasilkan apa apa.
"Aku.. aku.." Meira gelagapan.
Arga mengecup keningnya.
"Katakan, kalau kau tidak suka..aku akan berhenti."
Buru buru Meira menggeleng. Arga tersenyum melihat reaksi kegugupan gadis itu.
"Baiklah, aku tidak akan berhenti, jadi bersiaplah melayani suamimu ini." Bisik Arga.
Tanpa mengulur waktu, Arga langsung mendaratkan satu pagutan dibibir Meira. Bermain dan menyesap lidah Meira hingga gadis itu beberapa kali hampir kehabisan nafas.
Sementara satu tangannya turun dan masuk diantara celah paha Meira, lalu di elusnya lembut mahkota istrinya itu.
Meira menggeliat ketika jari Arga berhasil masuk dan menggerayanginya.
Hampir saja dia menjerit ketika jari jari itu dengan bebasnya keluar masuk, namun Arga langsung paham dan membungkam mulutnya dengan satu ciuman.
Kini Arga sudah bersiap, Meira menahan sesak yang teramat ketika kejantanan Arga berhasil mengoyak mahkota miliknya. Dengan sekali hentakan kuat, Arga menyatukan miliknya dengan milik Meira.
"Bermainlah, aku akan membantu memegangi pinggangmu sayang." Bisik Arga disela sela nafasnya yang mulai tersengal.
Meira mengangguk patuh, malu malu dia bermain diatas Arga. Awalnya dia merasa kesulitan, namun Arga membantu mengangkat naik turun tubuhnya seperti burble.
Peluh keringat mulai membasahi tubuh kekarnya, sementara Meira semakin meringis merasakan perih dan juga nikmat yang bersamaan.
"Sakit Ga.." Meira mencengkram kuat kedua bahu Arga.
"Sabar sayang, sebentar lagi aku akan sampai.."
setengah jam berlalu akhirnya milik Arga berdenyut hebat
Pria itu mempercepat ritme permainan dengan lenguhan yang begitu panjang, dia sekali lagi memuntahkan bibit cintanya dirahim Meira.
Nafas mereka memburu, keringat sudah bercampur dengan air di dalam bathub. Arga memeluk tubuh polos gadis itu dan mengecup bahunya berkali kali.
****
Jam 21.00
Meira memeluk gulingnya sambil menyelimuti dirinya hingga bagian leher sementara pikirannya terbang kemana mana gara gara membayangkan adegan panas saat dikamar mandi tadi.
Selesai makan malam dia langsung naik ke dalam kamar, Arga yang melihat tingkahnya malah berusaha sok cool seolah tidak terjadi apa apa.
Padahal dikamar mandi tadi dia hampir mati saking gugupnya.
"Ah kenapa gue mikirin itu mulu!" Meira memukul mukul keningnya sendiri.
Klek
__ADS_1
Meira menoleh ketika Arga baru saja masuk.
"Sayang.."
Arga mendekat dan langsung naik ketempat tidur.
Dia masuk ke dalam selimut yang dipakai Meira. Meira tercengang dan hendak berpindah posisi namun Arga sudah keburu mencengkram bahunya.
"Mau kemana sih? kenapa mukanya merah kaya gitu?" Tanya Arga bingung.
Meira menggeleng sambil menutup setengah wajahnya dengan selimut.
Kalau tau jadinya secanggung ini, Meira kadang berharap Arga kayak biasanya aja, dingin, ketus, ngelesin. Kan enak tuh di ajak perangnya. Kalau dia bersikap manis kaya gini, Meira yang jadi kelabakan sendiri.
"Mei, lusa aku akan pergi ke puncak, aku udah pernah bilangkan? ada proyek besar yang harus aku tanganin. Setelah pulang dari sana papah mungkin akan mengumumkan soal pewaris yang akan menggantikannya mengurus semua harta kekayaan papah.."
Meira terus mendengarkan dengan seksama.
"Mungkin.." Arga memenggal kalimatnya.
"Mungkin apa?"
"Mungkin Andrew sedang merencanakan sesuatu untuk menggagalkan itu semua, aku tau dia ingin sekali berada diposisi pewaris utama keluarga."
"Yaudah aku ikut kalau gitu, aku bakal nemenin kamu Ga!"
"Gak bisa Mei!" Tolak Arga.
"Kenapa?" Meira membuka selimutnya sambil menatap Arga.
Arga tersenyum lalu mengusap pucuk kepala Meira dengan lembut.
"Andrew mungkin akan melakukan sesuatu padaku, aku tidak ingin kamu sampai kenapa napa kalau ikut denganku kesana."
Meira menggeleng keras.
"Gak, aku mau ikut, aku khawatir Ga!"
"Aku malah yang bakal khawatir setengah mati kalau kamu ikut, lebih baik kamu disini. Lagi pula Reihand ada disini, aku sudah minta tolong padanya untuk ngejagain kamu selama aku pergi nanti.." Arga meraih kedua tangan Meira lalu menggenggamnya kuat.
"Reihand?" Sesaat Meira tertegun mendengar nama itu.
"Iya, Reihand pindah ke kampus bukan tanpa alasan Mei.."
"Reihand dan aku selama ini berusaha buat nyari bukti siapa yang nyoba nyelakain kamu waktu tawuran, dan ternyata kita tau Bima orangnya, tapi Bima gak pernah punya dendam sama kamu Mei, motifnya juga gak jelas, dan kami berdua menyimpulkan kalau Bima mungkin di suruh oleh seseorang buat nyelakain kamu.."
Meira tersentak kaget, jadi selama ini ternyata dia juga diincar?
"Mei.. dengerin gue kali ini, saat gue pergi nanti, Reihand bakal ngejagain lo disini, please jangan kemana mana sendirian ya? ngertikan?!" Tatapannya seakan memohon. Sebenarnya Arga begitu berat menyerahkan sementara perlindungan Meira ke tangan Reihand.
Namun untuk saat ini dia tidak punya pilihan lain. Dia tidak ingin sesuatu hal yang buruk menimpa Meira ketika dia tidak ada disamping gadis itu nanti.
bersambung..
__ADS_1