
Sekarang baru saja istirahat jam pertama. Kantin sudah mulai penuh, alasannya bukan karna banyak mahasiswa yang hendak jajan saja, namun demi menyaksikan pemandangan langka di dalam sana.
Meira, Widya dan Flo duduk berdampingan, dihadapannya duduk Manji, Farel dan juga Reihand.
"Gila, kenapa mereka natep kita terus dari tadi?" Widya menatap sekeliling dengan heran, bulu kuduknya langsung berdiri.
"Bukan natep elo, lebih tepatnya lagi ngeliatin gue sih." Ucap Reihand santai.
Semua yang ada dimeja makan itu langsung menoleh ke arahnya.
Meira malah memperhatikan Manji dan Farel, kedua sohib Arga itu juga sama terlihat santainya seperti Reihand.
"Kalian berdua gak mau interogasi si Reihand gitu sama kaya mahasiswa lain? Kenapa dia tiba tiba pindah kesini, kalian gak curiga?" Ucap Meira terang terangan.
Mandi dan Farel saling bersitatap lalu kemudian tertawa santai.
"Engga perlu."
"Kenapa?" Meira tak mengerti.
"Karna Arga udah ngasih tau kita semalem."
Hah? Sontak kedua bola mata Meira melebar. Jadi Arga juga sudah tau kalau Reihand mau pindah ke Mandala?!
"Udah Mei, gak usah bingung lagi, gue disini karna emang beneran mau belajar sama kayak kalian, gak ada sedikitpun niat mau nyari musuh, dan oh ya satu lagi, gue bukan lagi pentolan anak Jayakarta, gue sekarang adalah teman kalian, iya kan?" Ucap Reihand sambil menatap Manji dan Farel bergantian.
Manji dan Farel mengangguk lalu menyodorkan gorengan ke hadapan Reihand. Reihand menerimanya lalu kemudian merekapun terlihat saling bercakap satu sama lain.
Inilah yang paling membuat Meira ternganga, sikap Manji dan Farel yang begitu welcome dengan kehadiran Reihand. Sebenarnya ada apa ini?
***
Di belahan bumi yang lain. Sebuah mobil berwarna hitam terlihat memasuki pekarangan sebuah bangunan rumah bercat warna putih.
Seorang pria turun dari kursi pengemudi dengan jas serba hitam dia melangkah masuk tanpa mengetuk pintu lebih dulu.
"Kau disini." Bima membuka pintu lalu mempersilahkan tamunya masuk. Sepertinya dia sudah menunggu tamunya sejak dari tadi.
"Gimana? apa kamu ada waktu buat ngebahas rencana yang kita bicarakan di telfon semalem?"
Bima mengangguk. Merekapun berjalan menaiki tangga menuju kamar atas.
"Aku tidak suka basa basi, lebih baik langsung ke intinya saja, bagaiman? apa kau bersedia menerima tawaranku semalam?" Tanya Andrew saat mereka sudah sampai di balkon kamar Bima.
Bima mengambil cerutu yang sudah menyala lalu menyesapnya. Dia memandang selembar foto yang baru saja tamunya berikan.
__ADS_1
"Oke, gue setuju Ndrew. Tapi imbalannya harus sepadan."
"Kamu gak perlu khawatir soal imbalan, tapi pastikan kali ini jangan sampai rencana mu gagal lagi." Kata Andrew sambil mengeluarkan sebuah cek dari saku kemejanya.
"Cek satu milyar ini bakal jadi milik kamu kalau kamu berhasil menghabisi nyawa Arga, juga satu posisi bagus di perusahaan aku akan memberikannya kepada kamu Bim" Kata Andrew lagi.
Bima menatap cek itu, dia terdiam sesaat. Pikirannya sempat ragu beberapa waktu lalu, namun keadaan ekonomi memaksanya untuk menerima tawaran Andrew.
Dia berjanji pada dirinya sendiri, jika kejahatannya menjadi pembunuh bayaran akan dia akhiri dan dia tutup dengan tugas terakhir untuk menghabisi nyawa Arga.
Dia sudah terlalu lelah hidup dalam ketakutan. Apalagi Andrew menjajikannya sesuatu yang sudah dia damba dambakan dari dulu. Dia ingin mempunya pekerjaan terhormat seperti orang pada umumnya.
"Ok gue setuju.." Ucap Bima yakin.
Andrew mengulurkan tangannya sambil tersenyum lebar.
"Deal!"
***
Malamnya dikediaman keluarga Alexander.
Meira duduk sambil merapihkan buku buku pelajarannya ke dalam tas sambil melirik jam di dinding kamar yang menunjukkan pukul 18.30 wib. Arga sepertinya belum pulang dari kantor.
Meira pun berjalan ke arah lemari dan mengambil handuk dengan langkah gontai.
"Ah, berendam air hangat kayaknya enak nih!" Seru Meira.
Dia pun masuk ke dalam kamar mandi dan mulai menanggalkan bajunya satu persatu.
"Seneng banget sih mancing mancing gue.." Suara Arga dibelakang kupingnya tiba tiba membuat Meira tercengang.
Aroma sabun mandi seketika menyeruak disekelilingnya, Meira hendak berbalik, namun lengan Arga menahannya. Laki laki itu memeluk Meira dari belakang dan mengunci lengan gadis itu ditembok.
"Sejak kapan lo disini?" Suara Meira sedikit tercekat. Jantungnya mulai berdisko lagi.
"Sejak tadi." Bisik Arga.
"Yaudah, lo mandi duluan aja, gue yang keluar!" Meira hendak melepaskan diri namun Arga malah mempererat pelukannya.
Diciumnya leher Meira dari belakang. Kecupan itu begitu dalam hingga meninggalkan bekas merah.
"Ga!"
"Ya?" Arga menghentikan sesapannya sesaat.
__ADS_1
"Lepasin, gue mau keluar!" Pinta Meira.
Meira deg degan menunggu reaksi Arga. Namun beberapa saat laki laki itu hanya diam saja.
Meirapun sekali lagi mencoba melepaskan dirinya karna mengira Arga setuju melepaskannya untuk keluar kamar mandi.
Namun dia salah besar, ternyata tangan Arga sudah mulai naik ke atas, meraih dua buah bola indahnya yang menggantung lalu memainkannya dengan meremas halus ujung bola kembarnya.
Meira menggigit bibir, mencoba agar tidak melenguh dan terpancing.
Arga membalikkan tubuhnya dengan cepat. Menatapnya dalam.
Tubuh kekar itu sekarang telah mengurungnya.
"Lo mau apa Ga?" selidik Meira gugup.
Bukannya menjawab, Arga malah menggendong tubuhnya yang polos dan meletakkannya di dalam bathub dengan hati hati.
Arga kemudian menyalakan kran air dan ikut masuk kedalam bathub dengan posisi berhadapan dengan Meira.
"Naiklah kesini!" Arga menunjuk pahanya sendiri, memberikan isyarat agar Meira mau duduk di pangkuannya.
Meira tak bergeming, dia masih diam meringkuk memeluk kedua lututnya.
Arga menahan senyum melihat kegugupan dimata Meira. Dia lalu menarik salah satu lengan Meira saat melihat gadis itu tak juga mau bergerak dari tempanya.
Meira tersingkap dan diapun jatuh ke dalam pelukan Arga.
Arga mendekatkan wajahnya, mengusap pelan bibir Meira dengan ibu jarinya.
"Kau selalu berhasil membangkitkan gairahku nyonya Alexander.." Ucap Arga.
Dia kemudian memberikan satu pagutan dibibir Meira. Meira hendak menolaknya namun Arga menekan tengkuknya sehingga dia tidak bisa lari kemana mana.
Ciuman itu begitu lama. Muka Meira tampak memerah, dia hampir kehabisan nafas namun Arga masih tak mau melepaskan tautan mulutnya.
"Arga!" Meira tersengal. Dia berusaha menghirup udara sebanyak banyaknya saat Arga melepaskan ciumannya.
Baru saja dia bisa bernafas sedikit, Arga langsung membuatnya gelagapan lagi. Kini tangan itu malah mengangkat tubuhnya dan meletakkannya diatas kedua paha Arga.
Kini wajah Arga sejajar dengan dadanya. Arga tersenyum lalu mengeluarkan lidahnya dan menempelkannya diujung bola kembar milik Meira.
Meira mengerjap merasakan sensasi aneh ketika lidah itu bertemu dengan salah satu bagian sensitifnya.
Tanpa terasa tangannya mencengkram erat bahu Arga, apalagi ketika Arga mengulum bolanya dan menyesapnya dengan sangat kuat.
__ADS_1
bersambung...