Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Mengantar Widya Membeli Gaun


__ADS_3

Esoknya di kampus Mandala.


Arga menemui Reihand di taman belakang kampus. Sengaja dia datang lebih awal. Kalau saja tidak khawatir pada Meira, sebenarnya Arga paling malas untuk mencampuri urusan orang lain sekalipun Reihand itu sahabatnya sendiri.


"Ga!" Reihand menepuk bahu Arga saat dia sudah sampai di belakang punggungnya.


Arga sedang duduk di sebuah bangku besi yang ada di taman itu. Arga menoleh lalu menyuruh Reihand untuk duduk di sebelahnya.


"Ada apa? tumben ngajak ketemuan disini berdua doang?" Kening Reihand berkerut sambil menatap Arga sahabatnya.


"Ada sesuatu yang mau gue omongin sama lo Rei."


"Apa? ngomong aja Ga. Serius amat sih, tentang apa emang?" Tanya Reihand semakin penasaran.


"Sebenarnya ini udah masuk ranah privasi lo, gue gak mau ikut campur. Tapi kalau gue gak nanya ini, Meira bakal terus gelisah dan.."


"Dan gue gak mau liat Meira gelisah."


Reihand menatap Arga lurus, semakin tak mengerti dengan arah pembicaraannya.


"Emang lo mau nanya apa sih? langsung aja Ga." Kata Reihand.


"Sebenernya.."


Ragu Arga melanjutkan ucapannya.


"Lo suka sama Flo atau Widya?"


"Hah? hahaha gue kira mau nanya apaan!" Reihand malah tertawa. Padahal Arga sudah tegang bertanya takut takut dia marah karna ini menyinggung soal perasaannya.


Mata Arga menyipit menunggu jawaban Reihand.


"Hmm sebenernya tanpa lo tanya pun gue yakin lo tau jawabannya men!"


Arga terkesiap, dia kemudian mengangguk pelan.


"Lo suka Flo kan?" Tebaknya.


Reihand mengangguk pasti.


"Jawaban lo tepat sekali, gue suka Flo. Gue jatuh cinta sama gadis itu."


"Terus kalau gitu kenapa lo malah deketnya sama Widya. Sorry.." Arga bertanya hati hati. Bahkan pria itu menyelipkan kata maaf di ujung pertanyaannya. Dia tahu pembahasannya kali ini sangat sensitif.


Yang namanya ranah pribadi harusnya Arga tidak pernah mengusiknya. Tapi jika urusannya sudah menyangkut ketenangan Meira. Dan ketenangan Meira itu tergantung dari jawaban yang akan Reihand berikan. Maka dengan sangat amat terpaksa, kali ini Arga harus ikut campur meski dia sendiri tidak menyukainya.


"Santai aja Ga. Gue punya alasan kenapa gue biarin Widya ada di dekat gue."


"Kenapa?"


Reihand tertunduk tapi kemudian mengangkat lagi kepalanya dan menatap Arga.


"Gue terpaksa ngelakuin itu, gue pengen liat reaksinya Flo. Gue tau dia juga punya perasaan yang sama ke gue, Ga."


"Terus gimana sama Widya?"


Reihand terdiam. Tidak bisa memberikan jawaban untuk pertanyaan Arga yang ini.


Arga mendengus pelan.


"Rei, lo harus lebih hati hati dalam bertindak. Lo hadir diantara kedua sahabat itu. Lo pasti tau sekarang ada jurang diantara mereka berdua. Mereka berdua keliatannya sama sama suka sama lo. Mendingan lo pilih salah satu diantara mereka secepatnya dan beri pengertian pada yang lainnya."


Reihand mengangguk. Dia memang sedang menunggu waktu yang tepat. Tapi untuk mencapai keinginannya itu dia terpaksa harus mematahkan hati Flo lebih dulu.


"Iya, Ga. Gue akan secepatnya memilih." Jawabnya kemudian dengan raut muka serius.


Di kantin selepas jam pelajaran pertama telah usai.


Widya dan Meira duduk di salah satu baris bangku sedang menikmati hidangannya. Meira melambaikan tangan ketika melihat Flo masuk dari arah pintu kantin.


"Kesini Flo!" Teriaknya sambil melambai.


"Gue beli makan dulu." Jawab Flo sambil menunjuk konter makanan yang berderet di sebelahnya.


Setelah beberapa saat, gadis itu datang dan ikut duduk diantara Meira dan Widya.


"Kalian udah pesen makan?" Tanya Flo sambil menatap Widya dan Meira bergantian.


"Udah, Flo. Tadi gue mesen siomay. Udah lama nih gak makan siomay mang udin hehe." Kata Meira sambil tersenyum.


"Elo Wid?"


"Udah. Gue udah pesen bakso." Jawabnya cepat seolah malas meladeni pertanyaan Flo.


"Oh iya Wid, acara ultah lo jadinya hari apa?" Tanya Meira yang tiba tiba jadi teringat pesta ulang tahun yang akan di adakan oleh Widya.


Gadis itu menatap Meira sambil tersenyum antusias.


"Jadinya hari minggu sore. Lo dateng ya Mei.." Kata Widya.


Meira melirik Flo. Flo tampak canggung saat Widya hanya mengajak Meira ke acara ultahnya, padahal jelas jelas dia ada disitu juga.


"Em Wid, Flo juga di undangkan?" Akhirnya Meira gatal untuk bertanya.


Widya memutar bola mata. Malas sebenarnya tapi mau bagaimana lagi.

__ADS_1


"Iya, lo juga di undang kok. Dateng aja, gak usah bawa kado gue tau uang jajan lo pas pasan."


"Wid! kok ngomongnya gitu sih?!" Bentak Meira tanpa sadar.


Menurut Meira sikap Widya sekarang benar benar berubah. Dia jadi sangat kasar dan frontal.


"Loh emang gue salah ngomong?" Widya malah semakin nantang. Dengan sombongnya dia mencibir Flo lewat tatapannya yang merendahkan.


Tepat ketika mereka hendak adu mulut lagi. Tiba tiba gerombolan cowok datang.


"Reihand.." buru buru Widya berdiri dan menarik tangan Reihand untuk duduk di sebelahnya.


"Duduk disini." Pintanya dengan nada manja. Reihand hanya bisa menarik nafas panjang, sementara Arga mengamati setiap pergerakan mereka lewat sudut matanya.


Arga tahu betul sikap Widya ini di sengaja sepertinya untuk membuat hati Flo terbakar api cemburu.


Reihand hanya diam tapi tangannya yang di tarik paksa tak ayal membuatnya terduduk juga tepat di sebelah Widya.


"Wih, udah pada pesen makan belum?"


Tetap setelah Farel melontarkan pertanyaannya. Pesanan makanan para cewek cewek itu datang. Bakso, siomay dan nasi ayam geprek dibawa ke hadapan meja mereka.


"Wih, garcep amat!" Kata Farel menyeringai, dia mengambil siomay dan hendak melahapnya. Tapi tangan Arga bergerak lebih cepat.


"Siomay Meira. Jangan lo empat juga Rel! pesen sana!" Arga menggeplak lengan Farel yang sudah hendak menyendok siomay di piring.


Meira tertawa geli melihat muka cengoknya Farel.


"Ya ampun pelit banget sih bos. Bagi sepotong napa!"


"Bukan pelit. Lo mau gue beliin siomay sama abang abangnya juga sok aja ambil. Ini tetep siomaynya Meira. Awas kalau lo ambil."


"Iya iya, galak bener nih Pak Mil."


Kening Arga dan yang lainnya berkerut.


"Apaan tuh Pak Mil?"


"Bapak Hamil! hahaha." Farel tertawa puas diikuti seringai geli yang lainnya.


"Dasar lo! udah sana pesen sekalian gue nitip juga." Kata Manji.


"Iya iya!" Farel berdiri lalu menghilang diantara konter konter makanan di belakangnya.


"Oh iya Wid, pesta lo hari minggu sore kan?" Manji tiba tiba bertanya.


Widya mengangguk. Semua kini tengah menatap kearahnya.


Farel yang baru kembali dari konter makanan ikut melihat ke arah Widya.


"Siapin cemilan yang banyak ya, soalnya si Farel tuh kalau makan suka gak cukup sekarung!" Ucap Manji sambil menunjuk Farel dengan dagunya. Yang lain kembali menyambut dengan geladak tawa mendengar ucapan Manji.


"Banyak makanan gak Wid?"


"Banyak lah."


"Kalau cewek banyak gak?"


Kedua alis Widya bertaut.


"Gak gitu banyak sih, soalnya yang gue undang cuman temen temen deket aja, paling anak anak kelas."


"Yah." Farel tampak kecewa.


"Emang kenapa nyet? kan yang lo peduliin makanan bukan cewek!" Kata Manji.


"Kata siapa lo? gue juga peduli kali, seru kan tuh makan sambil ngeliatin cewek cewek cantik hahaha kaya berasa di surga gak tuh?!" Farel tertawa puas sendirian seolah olah ucapannya itu lucu. Padahal yang lainnya malah saling pandang, merasa aneh.


"Dasar ngeres lo! cewek tuh bukan objek yang bisa seenaknya lo liatin!" Arga menjitak kepala Farel. Cowok itu malah tertawa terpingkal pingkal.


"Gak bisa banget sih kalian tuh di ajak becandanya!" Sungut Farel agak kesal.


Yang lain jadi ikut meringis melihat kekesalan Farel.


"Oh, iya Rei, lo mau gak temenin gue pulang kuliah nyari gaun buat pesta?"


Flo tertegun, dia melirik Farel. Pria itu spontan ikut melirik ke arahnya. Dengan nada santai dan senyum yang mengembang dia menganggukkan kepalanya.


"Boleh." Jawab Reihand.


"Bener Rei? Makasih ya.." Widya menggelayut manja di lengan Reihand. Itu artinya pulang kuliah nanti dia bisa punya kesempatan berduaan saja dengan Reihand.


Meira melirik Flo. Sorot mata gadis itu memancarkan kesedihan yang dalam meski pun dia tak mengatakan apa apa. Gadis itu tampak menggigit bibir bawahnya. Flo pasti sedang menahan rasa sakit di hatinya.


Jam 16.30 di parkiran kampus.


Reihand berjalan ke motornya sementara Widya sedari di dalam kelas memang sudah jadi buntut Reihand. Gadis itu terus mengekor di belakang punggung Reihand.


"Kita mau nyari gaun dimana?" Tanya Reihand sambil menyerahkan helmnya ke tangan Widya.


Widya terkejut, mematung beberapa saat ketika melihat pemandangan di depannya. Ternyata Reihand membawa motor dan bukan mobil. Seketika wajahnya bertambah bahagia. Itu artinya selama di perjalanan tidak akan ada jarak yang terlalu membentang diantara mereka. Tubuh mereka akan saling menempel sempurna. Dia akan memeluk tubuh kekar itu dari belakang.


Membayang itu Widya langsung bersemangat memakai helmnya.


"Kita ke butik yang ada di jalan X!" Kata Widya sambil naik ke atas jok dibelakang motor Reihand.

__ADS_1


"Oke."


Seperti dugaan Reihand. Tanpa disuruh pun tangan Widya sudah bergerilya di pinggangnya. Gadis itu ternyata tidak beda jauh dengan gadis gadis lain yang pernah dia bonceng. Widya mencuri curi kesempatan untuk memeluknya.


Reihand tersenyum dingin ketika kembali ingat saat dia membonceng Flo. Berbeda dengan Widya, dia bahkan harus memaksa Flo naik dan berpegangan pada pinggangnya. Gadis itu selalu menjaga jarak dengannya bahkan diatas motor sekalipun. Sehingga usaha terakhir yang bisa di lakukan waktu itu adalah ngebut untuk memaksa alam menyerahkan tubuh gadis itu mendekat alami kepadanya.


Tapi lihatlah Widya. Tanpa harus mengeluarkan satu katapun. Gadis ini sudah menempel seperti ulat keket.


"Yuk jalan Rei."


Widya mengetatkan pelukannya sambil menyenderkan kepalanya di punggung Reihand.


Motor Reihand pun seketika melesat membelah aspal jalanan.


Di butik milik keluarga Stella.


Motor gede Reihand terlihat memasuki sebuah pelataran bangunan ruko dengan tiga lantai. Reihand memarkirkan motornya di depan pelataran ruko yang terlihat sangat luas itu.


"Kita udah sampai, yuk turun!"


Widya membuka helm dan menyerahkannya pada Reihand.


Mereka berdua pun masuk ke dalam bangunan butik yang cukup besar itu.


"Eh, ada Widya!" Widya langsung disambut oleh seorang wanita paruh baya yang dari penampilannya Reihand bisa menebak kalau Ibu ini pasti pemilik butik.


"Tante inces!" Widya menyalami Tante Inces.


Tak lupa dia memperkenalkan Reihand kepadanya.


"Widya sama siapa ini?"


"Sama calon pacar Tan."


Reihand agak melotot kaget. Tak menyangka jika Widya akan sefrontal itu.


"Saya Reihand, Tan." Reihand menyambut uluran tangan wanita yang Widya panggil Tante inces itu.


"Senang kenalan sama kamu Rei, tampan sekali anak ini. Selera kamu oke juga Wid."


Reihand agak merinding ketika Tante Inces mengelus pipinya.


Buset nih orang tua, genit juga!


"Widya buru buru menarik lengan Reihand dan mengajaknya melihat lihat baju yang digantung di lemari kaca.


"Kamu lagi nyari baju buat acara apa Wid?"


"Buat pesta ulang tahun aku hari minggu, Tan. Pilihkan dong yang paling bagus."


"Wah, kamu ulang tahun? oke Tante coba pilihkan baju yang paling bagus buat kamu."


Widya mengangguk senang.


Dengan malas, Reihand terus mengikuti Widya sambil melirik jam ditangannya.


"Jangan lama lama ya, gue mau ada urusan lain soalnya." Kata Reihand mengingatkan pada Widya kalau sebenarnya dia ada janji lain dengan Ibunya. Hari ini Ibunya minta tolong Reihand untuk membantunya di kedai mie ramen milik keluarganya. Beberapa pegawai ibunya tidak masuk. Terpaksa Ibu Reihand minta tolong agar anaknya mau membantunya di Kedai mereka.


"Iya iya, Rei gak bakal lama kok."


Saat Widya asik memilih milih baju, tiba tiba bahunya ditepuk pelan dari belakang.


"Hei, Wid! lo disini? kebetulan banget!" Sapa seseorang di belakangnya.


"Stella!!!" Widya terperangah. Tapi kemudian keduanya berpelukan hangat.


"Lo ngapain disini?" Tanya Stella.


Widya tersenyum sambil menggandeng tangan Reihand.


"Kenalin Stell, ini Reihand." Kata Widya sembari menatap Reihand dan menyuruhnya untuk mengulurkan tangan pada Stella.


Reihand mengulurkan tangannya, dia menatap Stella, sepertinya wajah cewek ini gak asing. Dia sering melihat cewek ini di pinggir lapangan.


"Ouh, ini cowok yang sering lo ceritain itu?" Kata Stella membuat Widya langsung melotot ke arahnya.


"Hush ember banget mulut lo!" Kilahnya malu.


Stella terkikik tanpa merasa bersalah sama sekali.


"Lo bukannya cowok yang suka main basket sama Manji kan? temen satu timnya kan?" Stella rasa rasanya sangat familiar dengan wajah Reihand.


Reihand mengangkat satu alisnya. Benar dugaannya, ternyata cewek ini yang selalu dia lihat di pinggir lapangan.


"Wid, ini Tante bawain baju koleksi terbaru di butik Tante, kamu pasti suka.."


Tante Inces yang tak lain adalah ibunya Stella muncul ke tengah tengah mereka sambil membawa sebuah gaun selutut berwarna pink pastel.


Widya terbelalak melihat keindahan gaun yang dibawa oleh Ibunya Stella itu.


"Wah, cantik banget Tante! cocok gak Rei kalau gue pake?" Widya langsung menempelkan gaun indah itu ke tubuhnya dan meminta pendapat Reihand.


Reihand hanya mengangguk sambil melirik sebentar lalu kemudian kembali acuh dan sibuk lagi dengan ponselnya.


Stella yang hanya sekilas melihatnya saja sudah tahu kalau cowok di depannya ini sama sekali tidak menyukai Widya.

__ADS_1


Haha ternyata ini alasan lo Wid nyuruh gue numbalin si Flo, keliatannya dia bahkan gak peduli sama sekali dengan lo. Hebat juga si Flo, selain Manji ada cowok ganteng lain yang suka sama dia. Gumam Stella dalam hati.


bersambung


__ADS_2