
Meira menarik selimut sampai diatas dadanya, memejamkan kedua matanya dan pura pura tidur pulas adalah jalan ninja bagi Meira untuk menghindari Arga saat dia selesai mandi nanti.
Entah apa yang akan diminta laki laki itu darinya. Jika kata terima kasih saja tidak cukup, jangan jangan dia ingin meminta imbalan berupa...
Aaargghh! membayangkannya saja membuat Meira ngeri sendiri. Dia jadi teringat malam malam yang panjang ketika Arga memaksa untuk menidurinya.
Klek
Pintu kamar mandi terbuka, harum sabun mandi seketika menyeruak dari sana. Membuat jantung Meira berdegup lebih kencang. Dia langsung pura pura tertidur pulas diatas ranjang.
Terdengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya. Sekuat tenaga Meira menahan diri untuk tidak bergerak agar Arga yakin jika dirinya sudah terbang ke alam mimpi.
Arga berdiri ditepi ranjang, dia sudah memakai baju ganti yang tadi dibawakan oleh pengawalnya.
Wajahnya tampak serius memandang ke arah gadis itu. Sebenarnya dia tahu jika Meira hanya pura pura tidur, tapi dia tak berniat untuk membangunkannya. Dia tahu Meira pasti sangat lelah hari ini, benturan di kepalanya sampai membuat gadis itu jatuh pingsan.
Arga mengepalkan tangannya kuat kuat, dia kembali teringat pada kejadian tadi siang saat pria bertopeng itu hendak menyerang Meira.
Sepertinya dia harus mengetatkan penjagaannya pada gadis ini. Sedikit saja lengah, nyawa Meira bisa dalam bahaya.
Arga melangkah mendekat ke arah ranjang, dia membungkukkan badannya. Wajahnya kini tepat berada diatas wajah Meira. Tangan kanannya mengulur dan menekan saklar untuk mematikan lampu kamar, cahaya seketika redup.
Meira bisa merasakan telapak tangan Arga kini telah mendarat dan membelai ujung kepalanya. Dia ingin menggeliat tapi tubuhnya seolah mematung seketika. Sentuhan itu membuatnya menahan nafas sekuat tenaga.
Arga mendekatkan wajahnya, mengecup lembut kening Meira. Kecupan itu terasa lama, penuh makna, Meira meremas selimutnya pelan. Jantungnya mungkin akan melompat sebentar lagi!
"Selamat tidur Mei.." Ucap Arga lirih.
Meira bisa mendengar langkah kaki Arga yang menjauh dari ranjang. Dia baru berani membuka mata ketika dia yakin jika tak ada lagi suara yang muncul dari gerakan Arga.
Meira membuka matanya, merenggangkan pandangan sekitar, dia mendapati tubuh jangkung Arga kini sudah terbaring diatas sofa disebelah ranjangnya.
Laki laki itu malah sudah tidur pulas sambil mendengkur, dia tak sadar jika dia baru saja membuat hati Meira melayang di udara.
Esoknya selesai melakukan pengecekan kondisi kesehatan, Meira akhirnya dibolehkan pulang saat itu juga. Dokter meresepkan beberapa obat untuk diminum dirumah.
Mereka pun kembali kerumah besar dan sampai disana pada siang hari.
Seluruh pengawal dan pelayan menyambut kepulangan mereka dengan tatapan bingung. Karna Arga memang tak memberitahukan siapapun dirumah dimana dia dan Meira menginap semalam. Hanya seorang pengawal saja yang mengantarkan baju yang tahu semuanya, itupun Arga menyuruhnya untuk tutup mulut.
"Selamat datang Tuan, Nyonya besar mencari anda dari semalam." Seorang pelayan menghampiri Arga dan Meira sambil membungkukkan badannya.
__ADS_1
"Bi, siapkan teh hangat dan bawa ke kamar atas!" Arga tidak menjawab malah menyuruh pelayan itu sambil menyerahkan tas berisi pakaian kotor dari kursi penumpang.
"Arga tunggu!" Suara nyonya Lusi menghentikan langkah Arga dan Meira saat di tangga.
Arga terdiam sementara Meira berbalik dan hendak berjalan menuruni tangga untuk menghampiri ibu mertuanya namun lengan Arga dengan cepat mencegatnya.
"Katakan apa yang ingin anda katakan!"
Lusi tampak emosi.
"Kalian menginap dimana semalam?" Tanyanya penasaran.
Dia melihat luka di kepala Meira dan langsung bisa menyimpulkan.
"Abis tawuran lagi?!" Tanyanya lagi tanpa menunggu jawaban dari pertanyaan sebelumnya.
"Iya." Jawab Arga singkat.
Lusi baru saja mau membuka mulutnya, namun gerakan Arga lebih cepat, dia langsung menarik tangan Meira dan membawanya pergi naik ke lantai atas.
Arga langsung menyeret Meira masuk ke dalam kamar walaupun dia masih bisa mendengar ibu tirinya mengoceh dibawah tangga.
"Kenapa lo gak jawab dia dengan cara biasa aja sih?!" Meira kesal, bagaimanapun Lusi tetaplah orang tua. Harusnya Arga bisa bersikap sedikit lebih sopan kan?
Meira hendak bangkit namun tubuh Arga kini sudah bertengger manis disebelahnya, tangan kanannya sudah melingkar kuat di pinggang gadis itu. Menekannya agar tidak bisa melarikan diri.
Mati gue! apa tadi salah bicara lagi?!
"Meira, dengerin gue baik-baik. Lo harus lebih berhati hati sama mereka. Andrew dan ibunya bisa saja punya niat jahat sama lo!"
Hah? Meira menoleh kaget, kali pertama Arga memperingatkan dirinya tentang kedua orang itu. Tiba tiba Meira jadi teringat sesuatu.
"Ga, sebenernya gue pengen ngomong hal penting sama lo.." Akhirnya dia berani membuka suara.
Mungkin ini saat yang tepat untuk mengatakan rencana jahat yang pernah di dengarnya dari mulut Andrew dan ibu Mertuanya.
Arga tak menjawab, menunggu Meira melanjutkan kalimatnya. Wajahnya menatap lurus mata gadis itu.
"Tapi, apa lo bakal percaya semua yang bakal gue ucapin ini?" Memastikan lebih dulu, karna Meira tidak tahu sudah sejauh mana posisinya di dalam hidup Arga. Apakah ucapannya kali ini akan dipercaya, karna yang akan dia sampaikan kali ini adalah hal yang sangat serius.
"Katakan Mei." Perintah Arga.
__ADS_1
Meira menarik nafas dalam dalam. Beberapa detik hening. Akhirnya dia memberanikan diri membuka mulutnya.
"Waktu itu, gue gak sengaja ngedenger ibu Lusi dan Andrew lagi ngobrol.."
Arga mulai terlihat tegang. Sepertinya memang yang hendak di sampaikan Meira ini hal yang sangat serius. Dia terduduk dan menarik tubuh Meira untuk ikut duduk.
"Mereka lagi ngomongin.." Meira terlihat ragu untuk melanjutkan kalimatnya.
"Ngomongin apa?" Tanya Arga tak sabar.
Matanya menatap lurus, tak beralih sedikitpun dari wajah Meira.
Meira menelan ludah sebelum akhirnya melanjutkan kembali ucapannya.
"Andrew dan Lusi punya rencana jahat buat nyelakain lo Ga.. dan ternyata perjodohan kak Siksa waktu itu juga rencana mereka berdua.." Meira berucap hati hati.
Dia tertunduk tak berani melihat reaksi wajah Arga. Dia tahu Arga begitu sensitif jika mendengar nama kakaknya.
"Mereka sengaja menjodohkan kak Siska agar kakak lo Stefan depresi dan akhirnya.." Meira tak berani melanjutkan kata katanya lagi. Terlalu tragis.
Dia meremas tangannya sendiri. Pasrah akan apapun reaksi yang akan Arga berikan. Dia hanya ingin menyampaikan apapun yang dia dengar tanpa melebih lebihkan. Walaupun dia tahu informasi yang dia berikan kali ini pasti akan melukai Arga lagi karna menyangkut kematian kakak tercintanya.
"Gue udah tau Mei.." Ucap Arga parau. Suaranya terdengar sedih.
Meira mendongak, kaget melihat Arga bersikap biasa aja. Apa? jadi dia udah tahu semuanya?!
Arga meraih kedua tangan Meira, digenggamnya tangan itu lembut.
"Andai gue tahu lebih awal kalau kakak lo ternyata juga dijebak sama mereka berdua! Sial! gue emang lambat!" Arga mengumpat dirinya sendiri yang dianggapnya tidak becus mencari informasi soal kematian kakaknya.
Terlalu dibutakan amarah sampai sampai dia tidak sadar jika ternyata kematian Stefan adalah rencana jahat dari ibu dan kakak tirinya sendiri. Dan Siska hanyalah kambing hitam di dalam permainan mereka.
Sorot matanya tampak menyesal. Baru kali ini Meira melihat sorot mata itu dari mata dingin selama ini dia tatap. Mata dingin yang dulu menatapnya dengan penuh kebencian.
"Gue baru dapet info kalau perjodohan kakak lo Siska adalah karna sogokan dari Andrew dan ibunya, mereka sengaja membuat mental kak Stefan hancur hingga akhirnya memutuskan bunuh diri!"
Arga mengusap wajahnya gusar. Jujur saja pembahasan tentang kematian kakaknya Stefan selalu berhasil membuat hatinya sakit.
Dan lebih parah lagi ketika dia tahu ternyata dendamnya selama ini salah alamat. Bukan Siska yang bersalah tapi ternyata keluarganya sendiri.
Meira mengusap punggung Arga pelan. Tak ada yang bisa dia katakan. Mau marahpun percuma, toh semua sudah terjadi.
__ADS_1
Ambil hikmahnya saja, seandainya Arga tau lebih awal, mungkin saat ini dia tidak akan duduk disini, sedekat ini, di samping pentolan kampus Mandala, apalagi bermimpi menjadi istri seorang Arga Alexander. Takdir yang luar biasa.
bersambung..