Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Penyatuan


__ADS_3

Harap bijak memilih bacaan sesuai umur ya


Sementara tangan Arga turun dan mengusap paha mulus itu dengan lembut. Satu tangannya yang lain menekan punggung Meira hingga sekarang posisi gadis itu seperti menungging.


"Aku tidak tahan lagi Meira.." Bisik Arga pelan sambil mencium pipi Meira dari samping.


Perlahan tangan kekar itu melingkar di pinggang Meira.


Meira merasakan sesuatu yang keras dan gagah tengah menggesek mahkotanya dibawah sana.


Arga mencium tengkuk Meira dari belakang dengan lembut berbarengan dengan itu dia berhasil menghentakkan miliknya terbenam seutuhnya di dalam liang surgawi Meira.


"AaahhhhHh.." Meira meringis menahan perih yang teramat di bagian intinya.


Sudah lama dia tidak berhubungan suami istri sejak Arga pergi meninggalkannya ke puncak dan akhirnya dia mengalami kecelakaan, ini kali pertama lagi bagi mereka berdua.


"Apa sakit?" Tanya Arga sesaat sambil terpejam karena merasakan sensasi yang luar biasa nikmat ketika miliknya menyatu dengan milik Meira.


"Hmm" Jawab Meira sambil menggigit bibirnya menahan sakit.


Arga memegang kedua tangannya, menggenggam jari jemarinya dari belakang, setelah yakin Meira siap menerima serangan berikutnya Arga pun memulai permainannya dengan penuh kelembutan.


Sesekali dieratkan pelukannya saat Meira melenguh, seakan dia tau jika Meira mungkin butuh jeda untuk bisa menerima ini.


Arga menaikan tempo kecepatan ketika dia yakin Meira sudah terbiasa.


"AahhHhhh.." Arga mengerang saat dirinya merasakan sensasi terjepit dibawah sana, dengan gaya bermain dibelakang Meira seperti ini, miliknya serasa diurut, nafas mereka naik turun beradu menjadi satu.


Meira mempererat genggamannya ditangan Arga, semakin cepat dan semakin nikmat membuat Arga sampai terengah-engah.


Arga merasakan miliknya mulai berdenyut, sepertinya dia akan segera sampai pada puncaknya.


Dia mencium pundak Meira, menggigitnya sedikit. Meira terus mengaduh membuat Arga semakin bernafsu untuk melakukan serangan yang lebih brutal.


Hingga akhirnya setelah setengah jam lebih bergulat dengan peluh keringat yang sudah bercucuran.


Arga menemui pelepasannya.


"AahHh..." ******* berat dan panjang itu menandakan Arga sudah sampai di puncak permainan.


Cairan putih kental itu turun di kedua paha Meira. Meira hampir terjatuh karna lemas namun tangan kekar Arga dengan sigap menangkap tubuhnya.


Dia menggendong Meira kembali, lalu diletakkannya tubuh itu dengan hati hati ke dalam bathub.


Arga duduk dibelakang Meira, kali ini gantian dia yang menggosok punggung Meira dengan lembut.


Meira masih berusaha mengatur nafasnya, dia begitu malu, teramat malu pada apa yang baru saja dia alami, dia tak menyangka Arga akan menyerangnya sebrutal itu.


Pasti mukanya sekarang sudah seperti kepiting rebus, apalagi tadi dia berkali kali mendesah dan melenguh karna merasakan nikmat dan sakit disaat yang bersamaan.


"Apa masih sakit?" Bisik Arga tiba tiba, membuat Meira tersadar dari lamunannya.


Meira menggeleng pelan.


Arga membasuh tubuh mulus itu lalu menggosoknya lagi dengan pelan.

__ADS_1


Namun tiba tiba bayangan dimasalalu saat dirinya menikah dengan Meira muncul, membuat kepalanya serasa mau pecah.


"Argh!"


"Arga! kamu kenapa?" Meira berbalik saat menyadari Arga mengaduh sambil memegangi kepalanya sendiri.


Bayangan bayangan saat dirinya menjahili Meira dikampus pun muncul di dalam memorinya, kejadian kejadian dimasalalu bermunculan dengan acak.


"Sial!" Arga menggebrak sisi bathub. Rasa sakitnya menjalar sampai ke belakang pundaknya setiap kali otaknya mulai bekerja memberikan ingatan dimasalalunya.


"Aku telpon dokter ya sekarang?!" Meira hendak berdiri namun Arga mencegahnya.


"Tidak, tetaplah duduk!"


"Tapi.."


"Aku bilang jangan kemana mana!"


Meira akhirnya pasrah, meskipun dia sangat khawatir, tapi Arga memang bukan orang yang suka dibantah.


Setelah merasa lebih enakan, Arga membuka matanya, dia menatap Meira yang masih termenung di depannya, mata itu sarat akan kecemasan.


"Apa dulu aku selalu menyakitimu?"


Hah? Meira mengerutkan kedua alisnya mendengar pertanyaan Arga barusan.


"Apa kepalamu sakit karna kamu mulai ingat semuanya Ga?" Tanya Meira penuh harap.


Arga tak menjawab, dia hanya membelai kepala Meira.


"Apa kamu benar benar tidak ingat padaku?" Tanya Meira lagi, kali ini nada suaranya terdengar tak bersemangat.


"Kalau aku tidak ingat sedikitpun, aku tidak akan menyentuhmu sekarang."


"Jadi kamu ingat?" Kini Meira tampak bersemangat, matanya berbinar mendengar jawaban Arga.


"Masih belum ingat sepenuhnya."


Meira langsung memeluk tubuh kekar itu, dia menangis haru, meskipun belum sepenuhnya ingat, tapi setidaknya ada harapan baginya jika Arga akan kembali mendapatkan ingatannya, dia akan terus menunggu meskipun entah sampai kapan.


Arga menarik nafas panjang, bayang bayang di masalalunya selalu muncul hanya tentang Meira, setiap kali kejadian di masalalunya muncul dengan gadis ini entah kenapa jantungnya berdegup lebih kencang.


"Kau harus berusaha lebih lagi agar aku bisa ingat semuanya."


Meira melepaskan pelukannya lalu mengangguk patuh.


Esoknya di kampus Mandala


Arga menunggu dengan cemas kedatangan Reihand di taman belakang kampus.


Sebelum berangkat tadi, dia sudah menyuruh Manji untuk menyampaikan pesan pada Reihand agar menemui dirinya disana.


"Arga!" Seketika Arga menoleh kebelakang.


Reihand terlihat setengah berlari ke arahnya, Manji dan Farel juga mengikuti dari belakang.

__ADS_1


"Sorry, udah lama?"


"Lumayan, abis sebungkus gorengan." Tunjuk Arga pada sebuah plastik transparan yang memang sudah terlihat kosong.


Reihand hanya terkekeh sambil mengambil tempat duduk disebelah Arga.


"Ada apa nih? tumben lo manggil gue kesini?" To the poin Reihand bertanya sambil menatap Arga dengan serius.


Arga menghembuskan nafas kasar.


Dia menatap Reihand, Manji dan Farel secara bergantian.


"Lo kenapa Men?" Manji jadi ikut penasaran.


"Gue udah inget sebagian, Reihand. Termasuk soal elo!" Arga menunjuk Reihand dengan dagunya.


Reihan tertegun, lalu detik kemudian mulutnya ternganga.


"Serius lo Ga?" Tanya Reihand memastikan pendengarannya tidak salah tangkap.


"Iya." Jawab Arga pendek, dia mengeluarkan sebatang rokok, menyalakan lalu mulai menyesapnya perlahan.


Manji dan Farel tak kalah kaget, namun berikutnya mereka menampakkan raut wajah bahagia. tentu saja karna itu adalah kabar baik.


"Sejak kapan?"


"Kemarin ketika tawuran, gue mulai inget semuanya, tapi laki laki yang kemarin menyerang Meira, gue bener bener belum bisa inget, apa dia sebelumnya punya hubungan sama gue atau Meira?" Arga gantian menatap Reihand dengan serius.


Reihand terdiam sesaat. Apakah dia harus menceritakan semuanya dari awal?


"Dia Bima Ga, dia.."


Reihand menggantung kalimatnya.


"Dia siapa?" Arga semakin penasaran.


"Dia yang mungkin udah bikin lo mengalami kecelakaan kemarin."


Hah? Arga tersentak kaget.


Reihand mengangguk, akhirnya dia menceritakan semuanya tentang Bima, tentang bagaimana kejinya Bima dulu mengadu domba dia dengan Arga dengan memfitnah Arga yang menghamili sepupunya Viona, dan juga tentang Bima yang dia curigai terlibat dalam setiap penyerangan penyerangan terhadap Arga dan Meira.


Dan yang paling mengejutkan adalah Bima juga dicurigai menjadi orang yang bertanggung jawab atas kecelakaan yang sudah menimpa Arga kemarin.


Arga terbelalak mendengar setiap penjelasan yang keluar dari mulut Reihand, dia tak menyangka jika ternyata laki laki yang kemarin mencoba menyerang Meira adalah penjahat yang ternyata selama ini sudah mengincar dirinya.


"Dimana dia sekarang?" Arga mengepalkan tangannya erat erat, tersirat bara kemarahan yang menyala di kedua bola matanya.


"Dia udah diamankan polisi Ga." Farel ikut menimpali, karena memang kemarin dia ikut membantu Reihand mengurus Bima sampai di bawa pergi oleh pihak kepolisian.


"Gue rasa bukan dia dalang sebenarnya.."


"Maksud lo?"


Reihand terdiam, dia berpikir sejenak untuk mencari kalimat yang tepat agar Arga tak tersinggung.

__ADS_1


"Dia hanya suruhan Ga, gue rasa dalang sebenarnya adalah orang yang kamu kenal, untuk itu kamu harus inget semuanya."


Arga terdiam, tiba tiba sekelebat bayangan tentang Andrew menyeruak di dalam kepalanya, dia seperti dibawa kembali kemasalalu.


__ADS_2