
"Kita semua udah mutusin mulai sekarang lo bukan lagi pemimpin kita!" Satu kalimat itu mampu membuat Reihand mematung sesaat.
Dadanya bergetar hebat. Dia menatap satu persatu teman teman yang selama ini sudah berjuang bersamanya baik di dalam kampus maupun di medan tawuran.
Benar benar tidak menyangka dia akan di lengserkan seperti ini, ini bukan hanya tentang sebuah jabatan, tapi tentang solidaritas! apakah segampang itu mereka berpaling darinya? Setelah apa yang selama ini terjadi, hanya seperti ini sajakah?
"Kalian mau gue gak jadi pentolan Jayakarta lagi? gitu ya?" Reihand bertanya sambil menatap satu persatu teman temannya. Dadanya naik turun, dia begitu emosi namun dirinya masih mencoba menahan diri.
Bima tersenyum kecil dibalik punggung Reihand, rencananya berhasil, ternyata membuntuti Reihand waktu itu bisa membuatnya menemukan kelemahan Reihand.
Dia tahu betul anak anak Jayakarta sangat antipati pada anak anak Mandala. Konflik diantara dua kampus itu memang sudah mendarah daging sejak dulu.
Jadi sekalinya mereka tahu bahwa ada anak Jayakarta yang berteman dengan anak Mandala maka habislah riwayatnya. Mereka akan dianggap pengkhianat kelas berat. Tak ada ampun dan akan langsung mendapatkan hukuman berat.
Posisi Reihand kali ini benar benar tidak menguntungkan, apalagi saat itu fotonya yang sedang membantu memapah Arga dari luar kafe tersebar luas diantara anak anak Jayakarta.
Bima langsung memanfaatkan celah itu untuk menjatuhkan posisi Reihand. Bima tahu Reihand pasti sudah mendengar semua kebusukannya dari Arga.
Apalagi dia mengikuti gerak gerik Reihand beberapa hari kemarin. Dia tahu jika Reihand dan Arga sudah berbaikan. hubungan dua sahabat itu sudah kembali seperti dulu, sudah tidak ada harapan untuknya masuk dan mengadu domba Reihand dan Arga lagi.
Maka satu satunya cara hanyalah ini, merebut kekuasaan Reihand dikampus, dengan begitu dia punya kuasa untuk menyerang kampus Arga dan melancarkan aksinya untuk menghabisi pentolan Mandala itu.
"Lo itu pengkhianat Rei!"
Jakson maju dan mencengkram kerah Reihand lalu sedetik kemudian mendorong tubuh Reihand hingga laki laki itu hampir saja terjatuh kebelakang.
Reihand hanya diam, namun rahangnya mengatup keras, dua tangannya sedari tadi sudah mengepal kuat kuat.
"Sekarang lo bukan lagi pentolan kita!" Ucap Jakson dengan nada tegas.
Sorot mata Reihand begitu terluka dan kecewa.
"Setuju!!!!!" Yang lainnya menyahut bersamaan.
"Bima, lo yang sekarang kita angkat buat jadi pentolan kita, kalian setuju?" lagi lagi jakson bertanya dan dijawab antusias dengan anggukan oleh teman temannya yang lain.
Bima pura pura menolak namun teman temannya dengan wajah yakin menggandeng bima dan memposisikan Bima untuk berdiri didepan mereka.
Cukup sudah, Reihand tidak tahan lagi. Harga dirinya benar benar dikoyak tanpa ampun.
"Kalian harus tahu, gue memang sekarang sudah kembali berbaikan dengan Arga. Namun bagaimanapun lo semua udah gue anggap sebagai teman seperjuangan gue! gue gak masalah siapapun yang akan jadi pentolan, tapi kenapa harus si B A N S A T ini?"
Reihand menunjuk wajah Bima tepat didepan hidungnya.
"Yang bang sat itu lo Rei! justru Bima lah yang udah jadi pahlawan karna dia udah mau dan berani menggantikan elo untuk menyerang anak anak Mandala sore ini!"
__ADS_1
"Apa?" Reihand kaget, namun Bima malah tersenyum penuh kemenangan.
"Jangan ikutin usul Bima, kalian itu cuman dimanfaatin sama dia! dengerin gue, udahlah cukup! kita gak perlu tawuran lagi sama anak Mandala, gak ada untungnya, selama ini apa sih yang kita dapet? kita gak dapet apa apa selain salah satu dari kita ada yang terluka!"
"Diem lo Rei, kita gak butuh pendapat lo!" Ucap salah satu dari mereka dengan nada berang.
Bima bersiul. Dia mulai berjalan memutari badan Reihand seperti sebuah gangsing.
"Udahlah Rei. Terima aja kalau lo tuh sekarang udah gak berguna buat temen temen lo!" Bima berbisik ditelinga Reihand.
Reihand melotot sambil memicingkan matanya. Dia sungguh jijik pada Bima. Begitu bodohnya dia selama ini tidak menyadari jika musuh sebenernya ada dihadapan dirinya, menyamar dan berpura pura menjadi sahabat baiknya.
Bruugh!
"Brengsek lo!" Satu tonjokan keras berhasil mendarat dipelipis wajah Bima. Membuat laki laki itu terjerembab seketika ke atas lantai.
Semuanya tercengang dan mencoba membantu Bima untuk berdiri.
Reihand berdiri sendirian menghadapi Bima dan teman temannya yang kini bergerombol dibelakang Bima dengan wajah yang siap membalas tindakannya tadi pada Bima.
Namun Bima mencoba menghalangi dan berusaha meyakinkan mereka jika dirinya baik baik saja.
Hal itu justru membuat Reihand merasa benar benar tertampar. Tak menyangka jika teman temannya akan memperlakukannya sebegitu hina. Mereka lebih memilih membela Bima dari pada dirinya.
Sementara itu di kampus Mandala
Meira baru saja menyelesaikan kelas pertamanya. Dia duduk dikantin bersama Flo dan Widya.
"Arga masih belum masuk kuliah ya?" Tanya Widya sambil mengaduk jus melon didepannya.
Meira mengangkat bahu.
"Kayaknya dia lagi sibuk di kantor."
Jawab Meira ngasal. Karna dia memang tidak tahu alasan kenapa Arga masih belum masuk kuliah, dia hanya mengira ngira saja.
Tak lama Manji dan Farel pun datang. Kedatangan mereka membuat sikap Flo langsung berubah drastis yang tadinya lemas jadi terlihat lebih bersemangat.
Widya langsung menyikut lengan Meira dan merekapun tersenyum geli melihatnya.
"Kalian udahan kelasnya?" Tanya Manji.
"Iya, udah ji, lo emang gak ada kelas?" Flo buru buru menjawab.
"Udah juga sih barusan, paling nungguin kelas sore nih sekali lagi."
__ADS_1
"Ouh gitu, mau minum? gue pesenin ya?" Flo buru buru berdiri namun Manji segera mencegah tangannya.
"Gak usah, gue udah mesen, lagi dibikinin sama bi Minah. Lo santai aja duduk."
"Oh gitu, oke." Flo benar benar merasa senang karna barusan Manji memegang tangannya. Dia sampai sampai mengelus-elus tangannya sendiri dan berniat untuk tidak mencucinya selamanya. Lebay memang!
"Arga kayaknya sibuk banget ya sekarang. Masih belum sempet masuk kuliah juga." Ucap Farel.
Manji mengangguk, mereka berdua memang merasa seperti kehilangan tiang penyangga, sejak pentolan kampus sekaligus sahabatnya itu mulai masuk ke perusahaan, semuanya seolah berubah. Tak ada lagi hal seru yang biasanya akan Arga ciptakan dikampus itu.
Arga memang terkenal nakal di kampusnya, setiap hari ada saja ulahnya yang membuat pusing kepala dosen dosen pembimbingnya.
Seperti pada suatu hari dia berani menjahili salah satu dosen matematikanya pak Dadang yang terkenal sangat galak dan disiplin. Arga berani menjahili pak Dadang dengan menaruh foto pria itu dipapan tulis namun kumisnya dia hapus dengan tipex sehingga mengundang gelak tawa teman teman sekelasnya.
Manji ingat betul betapa merahnya wajah pak Dadang saat itu, matanya melotot sangar ke arah Arga.
Jelas saja, karna kumis baginya sudah seperti sebuah mahkota keanggungan yang jadi kebanggaannya. Dan Arga dengan tidak tahu dirinya malah menjadikan kumisnya itu sebagai bahan lelucon.
Padahal selama ini tidak ada yang berani berurusan dengan pria yang kumisnya mirip dengan suami pedangdut inul daratista itu.
Namun bukannya takut, Arga malah tertawa terpingkal pingkal melihat raksi dari dosennya itu.
Pak Dadang bisa apa selain hanya menahan emosinya, dia tidak mungkin menghukum Arga karna dia tahu betul taruhannya nanti adalah jabatannya bisa saja dicopot oleh ayah Arga yang tak lain adalah penyumbang sebagian besar saham di kampus itu.
Tiba tiba saat mereka asik mengobrol ponsel Meira berdering.
Meira tertegun saat melihat panggilan masuk itu ternyata dari Reihand.
"Halo, ada apa Rei?"
Manji dan Farel yang mendengar Meira mengucap nama itu langsung memasang wajah sigap.
"Apa?????" Meira menjerit.
Sedetik kemudian dia langsung melongo setelah mendengar sesuatu yang diucapkan oleh Reihand dari dalam telfon. Ponsel dari tangannya pun meluruh ke bawah.
Wajah Meira mendadak panik. Kini semuanya menatap Meira dengan raut penasaran.
"Kenapa Mei?" Tanya Manji.
"Iya, kenapa? ada apa?" Farel ikut bertanya.
"Gawat Ji, Rel, kata Reihand, anak anak Jayakarta mau nyerang kampus kita sore ini!"
bersambung...
__ADS_1