
"Kenapa Met? keliatannya kesel banget." Tanya Jessy sambil menatap wajah dongkol Meta yang baru saja duduk dihadapannya.
Suasana kantin saat itu tidak begitu ramai. Meta menyilangkan kakinya lalu melirik sekilas ke arah Jessy.
Bibir tipis Meta yang dibalut lipstik berwarna merah terang itu terlihat maju beberapa senti.
"Gue lagi kesel banget sama si Arga!"
"Arga? Pak Arga maksud lo?"
"Iya, gue kesel sama dia. Lo bayangin aja, tadi gue udah bela belain pesenin makanan buat dia, tapi jangankan disentuh, dilirik aja engga! nyebelin emang tuh orang!"
Jessy spontan tertawa mendengarnya.
"Jadi lo masih ngotot mau deketin brondong ganteng itu? Met..inget, dia itu udah beristri loh. Dan yang gue denger sih dia itu anaknya sulit buat di deketin sama cewek, kan adek gue pernah satu SMA tuh sama dia." Ucap Jessy seraya menepuk bahu Meta dengan pelan. Dia ingin mencoba menyadarkan Meta bahwa tindakannya itu hanyalah kesiasiaan semata.
Meta melirik ke arah Jessy sambil menaikkan sebelah alisnya. "Iya gue tau, justru karna dia sulit buat di deketin itu gue jadi semakin tertantang Jess!"
Jessy hanya geleng geleng kepala, heran melihat Meta yang begitu terobsesi ingin mendekati big bos nya itu.
Sementara itu di kampus Mandala.
Meira pulang lebih cepat karna hari ini hanya ada satu mata pelajaran dikampus. Dia kembali teringat ucapan Reihand yang menyuruhnya untuk menemui dirinya di Kafe Flower tempat biasa mereka bertemu.
Meira bingung. Haruskah dia kesana? Hari ini memang tidak ada yang memata matainya karna Manji sedang absen dan dia juga tidak melihat batang hidungnya Farel sejak tadi pagi. Itu artinya Meira bebas dari pantauan Arga untuk sementara waktu ini.
Akhirnya Meira memutuskan untuk pergi ke Kafe sebentar, dia juga penasaran apa yang sebenarnya ingin dibicarakan oleh Reihand.
"Meira!" Reihand melambai dari sudut ruangan saat melihat Meira muncul dipintu masuk kafe.
"Rei, lo udah lama disini?"
"Engga, gue juga baru sampe kok.."
Reihand tersenyum sambil memundurkan kursi dan mempersilahkan Meira duduk.
"Makasih." Ucap Meira.
"Oiya Mei, lo mau makan sama mau minum apa?"
"Gue jus alpukat aja deh, masih kenyang Rei."
"Oh, oke gue pesenin dulu ya.."
Meira mengangguk sambil menaruh tasnya dibelakang punggungnya. Dia menatap sekeliling, tampak banyak muda mudi yang sedang makan di dalam kafe. Mungkin karna ini masih jam makan siang jadi suasana kafe terlihat cukup ramai.
Reihand menatap Meira sambil menunggu jus pesanan mereka datang, segera dia memulai topik pembicaraan yang ingin dia tanyakan pada Meira.
"Mei, emangnya kemaren ada tawuran?" Reihand menatap Meira dengan serius.
__ADS_1
Meira menoleh bingung, merasa aneh dengan pertanyaan yang baru keluar dari mulut pentolan Jayakarta itu. Tawuran? ya jelas lah, Hellow pake nanya lagi nih anak!
"Lo amnesia? bukannya kemaren lo juga ikut tawuran ya? itu yang dateng ke Mandala semuanya temen temen kampus lo kan Rei? Pertanyaan lo aneh banget!"
Reihand tampak kaget, namun dia mencoba menetralkan kembali ekspresinya.
"Lo ngeliat gue kemaren diantara anak anak Jayakarta?"
"Engga sih."
"Ya emang gue gak ikut dan gue juga gak tau sama sekali ada tawuran kemarin, sumpah Mei."
Reihand dengan wajah seriusnya menatap Meira lekat lekat.
Meira diam sejenak, dia jadi teringat lagi kejadian saat tawuran kemarin. Tiba tiba Meira merasa takut, bayangan saat dia melihat darah mengucur dibalik leher Arga terlintas kembali.
Reihand yang melihat Meira bengong langsung menepuk pelan pundak Meira.
"Mei, lo baik baik aja?" Tanya Reihand cemas.
"Gue.. gue jadi inget lagi insiden kemarin Rei, ada orang yang mau ngelempar batu ke arah gue dan.."
"Apa? ngelempar batu? ke arah lo?" Reihand memotong perkataan Meira. Dia terlihat sangat kaget.
"Iya Rei, untung ada Arga. Kalau engga, gue gak tau apa yang bakal terjadi sama gue kemarin." Sahut Meira lagi dengan suara tertahan di tenggorokan.
Reihand langsung syok mendengarnya. Berarti memang kemarin telah terjadi tawuran besar di depan Mandala, dan dia sama sekali tidak tahu soal itu.
"Mei.. Bukan gue yang mimpin anak anak Jayakarta kemarin!" Ucap Reihand getas. Dia terlihat mengusap wajahnya dengan gusar. Pasti ada yang tak beres!
Meira langsung mematung, dia memang tidak melihat Reihand saat tawuran kemarin. Tapi apa mungkin anak anak Jayakarta pergi ke Mandala tanpa perintah dari Reihand sang pentolan kampusnya? Mustahil sekali.
"Jadi lo gak tau sama sekali tentang tawuran kemaren? emang lo kemana aja Rei?"
"Gue ketiduran mei, gue bener bener gak ke kampus kemarin! gue juga kaget banget, gue baru tau ada tawuran dari lo Mei, anak anak dikampus gak ada yang ngasih tau apapun ke gue soal tawuran kemaren."
Meira semakin dibuat tercengang.
"Jadi maksud lo kemaren itu tawuran yang dilakukan anak anak Jayakarta bener bener tanpa sepengetahuan lo Rei?"
Reihand mengangguk cepat.
"Dan yang gue gak habis pikir, siapa yang berani ngelempar lo pake batu kemaren Mei? gue selalu wanti wanti anak anak untuk nggak nyerang cewek, gak ada dalam sejarah antara gue sama Arga ada cewek yang terluka!"
Meira diam membisu. Mencoba mencerna setiap penjelasan dari Reihand barusan.
"Gue juga gak tua siapa yang ngelempar batu itu Rei, Gue gak sempet ngeliat karna terlalu panik ngeliat Arga terluka. Apa jangan jangan tawuran kemaren itu emang disengaja buat nyelakain gue ya Rei?" Ucap Meira dengan nada menebak.
Reihand tampak berpikir keras. Orang yang sangat mungkin tau sesuatu soal tawuran kemarin hanyalah sahabatnya Bima. Reihand juga merasa sedikit curiga karna setelah makan dengan Bima dirinya tiba tiba terserang ngantuk yang begitu hebat.
__ADS_1
Padahal Reihand bukan tipe orang yang suka tidur di siang hari. Ditambah ponselnya yang kemarin tiba tiba mati sendiri padahal dia ingat betul tidak pernah mematikan ponselnya kecuali lawbet.
Dan yang lebih membuatnya bertanya tanya, setelah kejadian kemarin itu Bima sulit sekali dihubungi padahal biasanya dia akan selalu nongkrong dirumah Reihand walau hanya sekedar makan siang bareng. Ada apa dengan Bima?
"Hanya satu cara untuk memastikan semuanya." Ucap Reihand akhirnya.
Meira mengangkat alisnya tak mengerti.
Reihand tak menjawab, dia malah merogoh ponsel disaku celannaya.
"Hallo Alan, ke kafe flower sekarang, gue share lokasinya ke whatsapp!" Setelah mengatak itu, Reihand kembali menatap Meira.
Selang sepuluh menit seorang laki laki semuruan Reihand menghampiri meja mereka.
"Ada apa Rei?" Tanya laki laki itu sambil mendekat ke arah Reihand dan Meira.
"Duduk lan, gue mau nanya sesuatu.."
Alan duduk namun melirik sekilas ke arah Meira.
"Mei, kenalin ini temen sekelas gue Alan."
Alan mengulurkan tangannya sambil tersenyum lebar.
"Meira.." Meira ragu ragu menyambut uluran tangan itu.
Setelah mengenalkan diri dan berbincang sebentar, Reihand akhirnya mengatakan maksudnya memanggil Alan ke kafe itu.
"Apa bener kemaren anak anak tawuran ke Mandala?" Tanya Reihand akhirnya.
Alan merasa seperti aneh mendengar pertanyaan pentolan kampusnya itu.
"Loh iya, kan lo yang nyuruh bos! gimana sih.."
Meira dan Reihand saling bertatapan kaget.
"Gue?"
"Iya, lo kan nyebarin perintah ke anak anak lewat whatsapp buat nyerang Mandala. Nih whatsapp nya masih gue simpen kok bos!" Alan mengelurakan ponselnya di dalam saku jaketnya lalu kemudian menyerahkannya pada Reihand.
Reihand tampak ragu untuk menerimanya. Dia takut jika apa yang dia pikirkan sejak kemarin ternyata benar.
Reihand menahan nafas ketika membaca pesan masuk dari nomornya sendiri.
Siap siap, kita serang anak anak Mandala siang ini, jangan kasih ampun!
Reihand terperangah. Perlahan dia menyandarkan tubuhnya ke punggung kursi dibelakangnya.
Bukan dia, jelas bukan dia yang mengirim pesan itu, Reihand mengatupkan rahangnya keras.
__ADS_1
"Bima! ada apa?"
bersambung..