
"Yah Mei, rok lo bolong tuh.." Ucap Novi dengan intonasi yang sengaja dikeraskan.
Seisi kantin mendadak hening, semua mata kini menatap ke arah mereka. Beberapa mahasiswa bahkan berdiri dari bangkunya karna tertarik dengan apa yang diucapkan Novi barusan.
Meira yang berhasil berdiri buru buru duduk kembali, dia sadar roknya sekarang punya satu lubang besar tepat diarea pantatnya.
Meira melirik Novi kesal, rasanya dia ingin sekali menjambak rambut panjang cewek itu. Tapi jika dia bangkit dari tempat duduknya maka sama saja dia akan membunuh harga dirinya.
Roknya sekarang punya lubang besar, jika dia berdiri maka semua mata bisa dengan jelas melihat CD yang dikenakannya lewat lubang itu.
Novi tersenyum puas melihat kepanikan diwajah Meira.
Mata elang Arga terus memperhatikan pun dengan Manji dan Farel, Manji dan Farel terlihat tidak suka dengan apa yang dilakukan Novi, mereka pun hendak bangkit dan menghampiri Meira namun Arga mencegahnya.
Matanya menatap tajam pada kedua sahabatnya dan menyuruh mereka untuk tetap diam ditempat.
Meira menunduk dalam dalam, entah bagaiman dia harus pergi dari sana dengan kondisi roknya yang bolong, apalagi sekarang seisi kantin tengah menatapnya.
Meira meremas ujung roknya, wajahnya tambah gusar.
"Mei, ayo kita ke parkiran, kebetulan gue bawa celana ganti di dalem bagasi.." Ajak Novi sambil meraih tangan Meira dan memaksanya untuk berdiri.
Meira menepis tangannya. Dia tahu Novi bukan mau membantunya melainkan berusaha mempermalukan dirinya agar semua orang dapat melihat dengan jelas lubang di roknya kalau dia berdiri.
"Ayolah Mei!!"
"Enggak, jangan sentuh gue!"
"Ngeyel banget sih! mau dibantuin gak? Ayok!"
"lepaas!" Meira berusaha melepaskan tangan Novi, namun Novi malah menyuruh Ica untuk ikut membantunya menarik badan Meira agar gadis itu mau berdiri.
Dua lawan satu jelas Meira akan kalah, apalagi tenaganya tadi sudah hampir terkuras habis untuk dipakai lari dari perempatan jalan menuju kampus.
Tubuh Meira sudah hampir berhasil ditarik Novi namun sejurus kemudian sebuah lengan mencengkram pergelangan tangan Novi dan seketika menghempaskan nya dari tangan Meira.
"Lepasin dia!" Suara itu terdengar berat.
Novi dan Ica tertegun pun dengan yang lainnya, ternyata sang pentolan kampus telah berdiri dibelakang Meira, menatap ke arah Novi dengan tatapan tajam.
Novi berusaha menelan ludah namun tenggorokannya tiba tiba terasa terhimpit. Arga menatapnya seperti hendak mencabik cabiknya.
Arga memepet tubuh Meira dan sengaja menutupi bagian belakang tubuh gadis itu dengan tubuh jangkungnya.
Meira menoleh kaget. Arga masih menatap Novi dengan tajam, Ica teman Novi yang ketakutan langsung memohon maaf dan pergi dari sana dengan langkah seribu bayangan, tapi naas Manji bergerak lebih cepat. Dia menahan lengan Ica dan menyeretnya kembali berdiri di sisi Novi.
"Enak banget lo ye, setelah bikin masalah malah mau cabut gitu aja!" Sinis Manji sambil memelototi Ica. Ica langsung ciut dan seketika lemas.
__ADS_1
"Ga, gue cuman mau bantuin Meira doang kok serius!" Kata Novi gelagapan.
Nafas Arga memburu, dia ingin membalas perlakuan Novi namun Arga sadar tubuh Meira sedang gemetar, seketika dia tertegun melihat wajah pucat Meira dari samping yang sarat akan kecemasan.
"Woy kalian semua, gue perintahin kalian tutup mata sekarang! jangan ada yang buka mata sampai gue suruh!, kalau ada yang berani ngintip, gue congkel tuh mata kalian, paham?!" Teriak Arga sambil menatap sekeliling kantin.
Sontak semua orang langsung mengangguk dan tak ada yang berani berkomentar apalagi membantah titah sang pentolan kampus.
"TUTUP MATA KALIAN SEKARANG WOY!!" perintah Arga. Semua orang pun menutup matanya meski mereka tak mengerti apa yang sebenarnya ingin Arga lakukan.
Arga mulai membuka jaketnya, dia menunduk dan melihat ternyata memang benar rok Meira bolong di bagian belakang, kedua tangannya terkepal, entah kenapa dia merasa tidak suka saat melihat ada orang yang menjahili gadis ini.
Sehingga tadi saat dia hendak pergi meninggalkan kantin, dirinya malah berbalik lagi dan menghampiri Meira yang masih dijahili oleh Novi.
Arga pun membungkuk dan mengalungkan jaketnya dipinggang Meira untuk menutupi bagian yang bolong itu.
Meira tercengang, dia tak menyangka Arga akan peduli padanya.
"BUKA MATA KALIAN SEKARANG!" kata Arga lagi.
Semuanya pun membuka mata, tiba tiba suara riuh terdengar di segala penjuru kantin.
"Wih Arga so sweet!" Seru seseorang yang berdiri dibelakang mereka. Semua mata menatap terkesima pada sosok pentolan kampus mereka. Ternyata Arga menyuruh mereka menutup mata tadi untuk membantu mengalungkan jaket dipinggang Meira.
Wajah Novi tampak kesal. Dia tak menyangka jika idenya ini malah menguntungkan bagi Meira. Tanpa sadar dia malah ikut membantu Meira mendapatkan perhatian dari Arga dan lebih ngeselinnya lagi semua orang kini malah terpesona pada keromantisan mereka berdua. Sial, bener bener sial!
"Lo sengaja ngasih lem di bangku ini?" Pandangannya beralih ke Ica temen Novi. Wajah gadis itu sudah pucat sejak tadi.
Arga bertanya pada Ica karna tadi dia memang melihat gadis itu yang duduk lebih dulu dibangku kantin.
Ica menatap Novi seperti meminta pendapat, namun Arga tiba tiba menggebrak meja dengan keras.
"Jawab cepet!" Kata Arga nyaris membentak.
Refleks karna ketakutan Ica langsung mengangguk seraya menunjuk Novi. "Aku cuman disuruh Novi Ga"
"Lo!!!" Novi melotot kaget ke arah Ica. Dia buru buru menggeleng dan berusaha meraih tangan Arga, namun jelas Arga tak sudi untuk disentuh.
"Ck! berani juga lo ya ngejahilin dia!" Arga berdecak sambil menghampiri Novi.
Novi menelan ludah berat. Mampus, dia sepertinya telah membangunkan singa tidur.
Katanya Arga hilang ingatan, tapi kenapa dia masih perduli sama Meira? kenapa? pertanyaan besar kini muncul didalam benaknya.
"Ga, gu-gue denger lo gak inget sama Meira.." kata Novi gelagapan.
"Iya terus kalau gue gak inget sama nih cewek, lo boleh gitu ngejahilin dia di kampus ini? lo gak hilang ingatan jugakan? lo pasti tau dia ini siapa?"
__ADS_1
Novi hanya diam, ubun ubunnya hampir meledak saking malu dan kesalnya dia diperhatikan oleh seisi kantin. Rasanya dia ingin lari saja secepatnya dari sana.
"JAWAB!" bentak Ari dengan mata berkilat.
"Iya gue inget dia istri lo!" Novi menjawab agak kesal.
"Kalau gitu nunggu apalagi, cepet minta maaf dong!" Perintah Ari dengan seringai mengerikan.
Novi mengepalkan kedua tangannya. Harga dirinya benar benar sudah diinjak injak oleh Arga.
"CEPET!!" Arga berdecak tak sabar. Dia merengkuh bahu Meira lalu menyodorkan tubuh gadis itu kehadapan Novi.
Meira merasa ini sudah keterlaluan, dia kasihan pada Novi yang wajahnya sudah begitu pias.
"Udah gak gak perlu kaya gini, gue udah maafin dia kok." Meira ingin pergi dari sana namun Arga semakin mempererat rengkuhannya.
"Karna lo cewek, gue masih ngomong baik baik nih!"
"Iya iya, gue minta maaf Mei." Ucap Novi sambil membuang muka.
"Kalau minta maaf tuh tatap mata orangnya woy!" Gertak Arga yang sudah hampir kehabisan kesabaran.
"Iya gue minta maaf, maaf maaf maaf!" Novi akhirnya bertatapan dengan Meira. Meira bisa melihat dengan jelas mata gadis itu sudah berkaca kaca.
"Puas lo Ga, puas?"
"Engga!"
"Terus?" Novi menatap Arga bingung.
Arga tidak menjawab, namun dia tiba tiba berjalan ke samping dan mengambil segelas jus alpukat yang tergeletak diatas meja.
Arga mengangkat gelas itu tinggi tinggi lalu sekejap menumpahkan semua isinya tepat diatas kepala Novi.
Semua orang langsung terhenyak. Mereka tak menyangka Arga akan membalas tindakan Novi langsung ditempatnya, mengerikan.
Novi yang sedari tapi sudah mencoba menahan air matanya untuk tidak keluar akhirnya detik itu tangisnya pecah juga.
Dia mengerjapkan mata karna jus alpukat itu telah turun dan mengalir bebas diwajahnya.
Kini seluruh tubuhnya basah dan juga kotor.
"Arga, cukup! lo keterlaluan!" Meira tak tahan lagi.
Namun Arga malah tersenyum dengan santainya.
Akhirnya dengan menahan malu yang begitu hebat Novi pun berlari meninggalkan kantin.
__ADS_1