
Setelah menurunkan Meira di depan kampus, Arga segera melanjutkan perjalanannya ke kantor dengan terburu buru.
Meira mematung di depan gerbang, diperhatikannya laju mobil milik Arga sampai menghilang di persimpangan. Sejujurnya dia khawatir pada kondisi Arga. Tapi melarang pun percuma, Arga tidak akan mungkin mendengarkannya.
Meira hendak berbalik dan masuk ke dalam kampus namun tiba tiba langkahnya terhenti.
"Meira.."
Sebuah motor tiba tiba berhenti tepat dibelakang Meira, saat sang pemilik motor membuka kaca helmnya sontak kedua mata Meira terbelalak lebar.
"Mei, Sorry ya kemaren gue gak angkat telpon lo.." Reihand tersenyum sambil membuka sedikit masker wajah yang menutupi dagunya.
"Lo ngapain disini? lo mau bonyok dateng kesini!" Tanya Meira panik, dia langsung menoleh ke sekeliling, takut jika sampai ada anak Mandala yang mengenali Reihand, bisa gawat! Bisa dikeroyok dia.
"Gue mau nyamperin lo lah, abis gue telpon balik lo gak mau angkat, terpaksa gue kesini."
"Engga Rei, gue gak marah, gue emang lagi gak pegang hp dari semalem, mending lo balik sekarang deh!" Perintah Meira sambil terus celingukan, dia benar benar tidak ingin ada satu mahasiswa pun yang mengenali pentolan Jayakarta itu.
"Bohong." Ucap Reihand tak percaya.
Untungnya saja Reihand tak sedang memakai almamater kampusnya, dia juga menutupi wajahnya dengan helm hitam dan masker diwajahnya.
Dia sadar datang ke kandang musuhnya adalah sebuah tindakan konyol dan beresiko besar, tapi mau bagaimana lagi, rasa penasarannya sudah membuatnya memutuskan untuk mengambil tindakan nekat ini, mendatangi Meira di Mandala.
"Ish, ngeyel banget sih! lagian gue ngerti kok kemaren lo gak angkat telpon gue pasti karna lo lagi sibuk mimpin tawuran kan?!"
"Hah? tawuran?" Kedua alis Reihand terangkat bersamaan. Wajahnya terlihat bingung.
"Jangan berlaga bego deh!"
"Tawuran apaan sih Mei? perasaan kemaren gue gak tawuran! gue tidur dan hp gue mati makanya gue gak tau kalau lo nelpon!"
Kini gantian wajah Meira yang merasa aneh. Masa Reihand gak tahu kalau kampusnya kemarin kesini nyerang anak anak Mandala! Mustahil.
"Udah deh Rei, jangan becanda sekarang! Mending lo pergi cepet!" Pinta Meira lagi. Tangannya segera menutup kembali kaca helm Reihand dengan paksa.
"Buruan sana pergi!"
Setelah berusaha memaksa, akhirnya Reihand setuju untuk pergi, namun sebelum menjalankan mesin motornya, sepasang mata Reihand menyapu sekeliling area depan gerbang. Memang masih banyak terlihat sisa sisa balok kayu dan batu yang berserakan disisi jalan.
Sepertinya Meira memang tidak berbohong dengan apa yang diucapkannya. Pikirannya seketika melayang jauh, mengingat kembali yang terjadi kemarin, saat dia dan Bima makan bersama. Lalu ketika terbangun dia merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Dia merasa sangat ngantuk, ngantuk yang luar biasa yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
"Mei, kita ketemu di kafe biasa, gue tunggu lo disana pulang kampus." Tanpa menunggu Meira menjawab, Reihand pun segera menggas motornya dan melaju meninggalkan kampus musuh bebuyutannya itu.
__ADS_1
***
"Manji katanya gak masuk sekolah hari ini, kabarnya sih luka sajam bekas tawuran kemarin lumayan parah, ih ngeri deh!" Widya yang baru masuk langsung duduk disebelah Meira dan Flo.
"Kasian si Manji." Ucap Meira sedih. Dia jadi teringat lagi kejadian tawuran mengerikan kemarin.
"Heeh kasian." Timpal Flo. Sejujurnya Flo diam diam menyimpan rasa pada sahabat Arga itu. Namun dia masih tak berani menceritakan soal perasaannya itu pada Meira dan Widya.
"Tapi untung deh Arga dateng tepat waktu, coba kalau dia engga ada, gak kebayang tuh anak anak Jayakarta pasti udah masuk ke dalam kampus Mandala! serem ih" Seru Widya sambil menyangga wajahnya dengan kedua tangannya.
"Keren banget sih Mei suami lo!" Timpal Flo dengan wajah menggoda.
Meira hanya meringis malu. "Apaan sih lo berdua! kenapa malah jadi muji muji Arga!" Sahutnya pura pura tak peduli dengan topik pembicaraan tentang Arga, padahal hatinya sedang deg degan.
"Gimana sih Mei rasanya punya suami ganteng, pemberani dan.." Widya melirik Flo.
"Tajir pastinya" Tambah Flo.
"Biasa aja! kalian gak tau aja gue sering berantem sama dia, dia itu nyebelin tau gak!"
"Nyebelin?" Widya dan Flo melirik Meira bersamaan.
Meira mengangguk.
"Hati hati lo Mei, benci dan cinta itu bedanya tipis banget, saking tipisnya sampe gak bisa bedain!" Widya menyenggol lengan Meira. Lagi lagi menggoda sahabatnya itu.
Meira menahan malu. "Apaan sih lo!"
Widya dan Flo hanya senyam senyum melihat reaksi Meira. Mereka tak sadar jika sedari tadi Meira mencoba mengatur emosinya agar tidak salah tingkah.
***
Sementara itu di salah satu perusahaan milik keluarga Alexander
Arga terlihat tengah memimpin rapat besar disuatu ruangan. Di dalam ruangan itu terdapat banyak kolega besar yang mempunyai pengaruh luar biasa dalam dunia bisnis.
Arga dengan serius tengah mempresentasekan topik rapatnya kali ini. Tanpa sadar semua mata memandangnya takjub, pada setiap detail yang Arga sampaikan, cara pandangnya mengenai permasalahan di dalam dunia bisnis sungguh diluar dugaan semua orang, bahkan Tuan Heru yang duduk di ujung kursi terus tersenyum bangga.
Dia tak menyangka jika anaknya Arga yang selama ini terlihat cuek dan tidak tertarik pada bisnisnya ternyata menyimpan sebuah kemampuan besar dalam memimpin perusahannya.
Andrew melirik ke arah ayahnya. Kedua tangannya tiba tiba mengepal, otot rahangnya mengeras. Di dalam dadanya rasa benci terhadap adik tirinya semakin bergejolak. Dia tidak senang melihat kekaguman dimata ayahnya untuk Arga. Karena itu berarti posisinya sebagai penerus perusahaan ayahnya benar benar terancam oleh kehadiran Arga di perusahaan.
Setelah selesai rapat, Arga langsung pergi keruangan nya. Kepalanya masih terasa sedikit sakit. Dia ingin beristirahat sejenak disana.
__ADS_1
Meta yang melihat Arga sendirian di ruangannya langsung memanfaatkan kesempatan emas itu untuk mendekati Arga.
tok tok tok
Arga yang baru saja hendak memejamkan matanya dan menyenderkan kepalanya di sofa langsung melirik kesal ke arah pintu.
"Siapa?" Tanya nya malas.
"Ini saya Meta, bolehkah saya masuk sebentar."
"Masuk saja." Ucap Arga.
Dia melihat Meta datang dengan sebuah bungkusan coklat ditangannya. Meta berdiri dihadapannya sambil tersenyum manis.
"Maaf Pak Arga, saya cuman mau mengantarkan ini.."
Meta meletakkan bungkusan coklat itu diatas meja. Arga menatapnya dengan wajah datar.
"Itu ada makanan, saya lihat pak Arga gak ke kantin, makanya saya sengaja pesenin ini buat pak Arga." Ucap Meta lagi padahal Arga kelihatan tak tertarik pada bungkusan yang disuguhkannya.
Meta bersikap begitu manis, dia berharap berondong tampan dihadapannya perlahan lahan akan luluh dan akhirnya dia bisa mendekati sang penerus tahta Alexander ini.
Arga hanya tersenyum tipis. Senyum yang lebih terlihat seperti mengejek, dia tahu betul apa maksud meta memberikan itu padanya. Dia melihat Meta sekilas lalu kemudian kembali acuh.
"Terima kasih, kamu boleh keluar sekarang." Ucap Arga dingin, lalu dia kembali memejamkan matanya.
Meta jadi kikuk, tak menyangka Arga akan bersikap seacuh itu. Dia bahkan tak menyentuh bungkusannya sama sekali.
Karena kesal Arga tak mengkhiraukannya, akhirnya meta memilih keluar ruangan dengan perasaan dongkol.
Andrew yang kebetulan lewat menghentikan langkahnya saat melihat gadis yang sudah lama diincarnya baru saja keluar dari ruangan Arga.
Dengan wajah penasaran dia menghampiri Meta sekertaris ayahnya itu.
"Met, ada apa? inikan jam istirahat, kamu abis ngapain keluar dari ruangan Arga?"
"Bukan urusan kamu ndrew!" Jawab Meta ketus.
Meta pun bergegas meninggalkan Andrew. Andrew terlihat kesal diacuhkan seperti itu. Dia punya firasat tidak enak, jangan jangan Meta menyukai Arga!
"Sialan!" Andrew pun tanpa sadar menggebuk dinding dihadapannya. Sudah kepalang tanggung, sepertinya adiknya memang harus segera disingkirkan secepat mungkin!
bersambung
__ADS_1