Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Keripuhan ibu Hamil


__ADS_3

Jam pelajaran pertama masih berlangsung, Dosen pengajar sedang fokus menjelaskan materi di depan kelas, sementara Meira tengah mati matian berusaha menahan sesuatu keluar dari mulutnya.


Entah kenapa mencium aroma parfum teman temannya di dalam ruangan itu membuatnya ingin sekali muntah.


Hoek hoek hoek


Dan akhirnya dia tidak bisa menahan tubuhnya bereaksi atas sesuatu yang sama sekali tidak bisa dikendalikannya.


Hoek hoek hoek


Seketika semua mata tertuju pada Meira.


Meira berusaha membekap mulutnya, namun gagal, rasa mual itu membuat kerongkongannya seperti hendak mengeluarkan semua isi perutnya.


"Meira lo baik baik aja?" Widya dan Flo tampak cemas.


Reihand yang duduk dibelakang mereka kontan berdiri dan menghampiri tempat duduk Meira.


"Ada apa Mei? lo sakit?" tanya Reihand cemas.


"Semua harap tenang, Meira kalau kamu sakit, kamu bisa istirahat diruang kesehatan." Dosen menyuruh Flo untuk mengantarkan Meira ke ruang kesehatan.


Reihand akhirnya duduk kembali, hari ini dia baru masuk lagi setelah beberapa hari kemarin mengambil cuti.


Ibunya sedang sakit dan tidak ada orang yang bisa mengurus Kafe jadi mau tidak mau Reihand menggantikan posisi ibunya kemarin.


"Si Meira kenapa Wid?" tanya Reihand sambil mentoel bahu Widya pelan dari belakang.


"Hormon ibu hamil mungkin Rei,"


"APA!!" tanpa sadar Reihand berteriak membuat semua orang menoleh kepadanya.


"Reihand, ada apa lagi?" Dosen yang bernama pak Herman itu menaikan kacamatanya yang sedikit melorot, menatap Reihand dengan menaikan satu alis lebatnya.


"Engga pak, engga ada apa apa. Maaf pak tadi jari saya kejepit meja." jawab Reihand berbohong.


Sebenarnya Reihand sangat kaget mendengar berita kehamilan Meira. Dia sampai tidak bisa berkata apa apa. Astaga Arga sebentar lagi sahabatnya itu akan menjadi seorang ayah!


Reihand tersenyum tak percaya.

__ADS_1


"Aku ketinggalan banyak, aku bahkan belum menemukan seseorang yang spesial dalam hidupku.." Gumam Reihand pelan.


Widya yang duduk di depan hanya menghela nafas panjang mendengar ucapannya. Andai Reihand tahu kalau dia memiliki tempat yang spesial dihatinya.


Sementara itu di lorong kampus, Flo menemani Meira berjalan ke arah ruang kesehatan, sesekali masih terdengar reaksi ingin muntah dari bibir Meira.


"Mei, lo masih kuat jalan?" Flo menyadari wajah pucat Meira.


Meira mengangguk pelan sambil membekap mulutnya.


"Apa gue perlu kasih tau Arga, Mei?"


"Enggak Flo jangan!" tolak Meira buru buru.


Kalau Arga diberitahu reaksinya malah akan sangat berlebihan.


"Bener lo gak apa apa?" tanya Flo memastikan.


"Iya, Flo. Kata dokter selama semester pertama wajar kalau gue akan mengalami muntah muntah disaat kehamilan, lo gak usah khawatir lagi, ini wajar banget." kata Meira sambil tersenyum riang, dia tidak ingin membuat Flo khawatir tentang dirinya, padahal selain mual, Meira juga merasakan kram diperutnya.


"Yaudah deh, bener ya lo gak apa apa? yaudah yuk Mei gue gandeng sampe sana!" Flo mengapit lengan Meira, menemani gadis itu berjalan menuju ruang kesehatan.


Namun ditengah tengah jalan Meira tak bisa menahan rasa sakit diperutnya yang kian menjadi.


Wajahnya terlihat sangat kesakitan.


"Aduh, masih jauh lagi kesana, gue harus gimana ini?" Flo menatap ruang kesehatan yang memang letaknya di ujung bangunan dekat ruang rektor.


"Mei, masih kuat berdiri gak? gue bantu jalan ya, pegangan ke badan gue ok?" Flo ikut jongkok dan hendak meletakan tangan Meira ke bahunya namun tiba tiba Flo dan Meira saling bertatapan, memasang telinga baik baik saat mendengar deru langkah kaki mendekat ke arah mereka.


"Meira!"


Flo berbalik dan kaget melihat Arga, Manji dan juga Farel sudah sampai dibelakangnya.


"Mei, kamu kenapa?" tanya Arga panik, dia langsung mengangkat tubuh Meira dan menggendong gadis itu ke dalam pelukannya.


"Meira mual kayaknya Ga, terus perutnya kram.." Flo yang menjawab.


Manji meliriknya dan tak sengaja Flo juga menoleh ke arahnya, pandangan mata mereka saling bertemu sesaat, namun buru buru Flo memalingkan wajahnya, memutus kontak mata diantara mereka, kejadian di kantin tadi pagi membuatnya canggung saat harus berhadapan lagi dengan Manji.

__ADS_1


"Aku gak apa apa Ga.." ucap Meira dengan suara lemah.


"Ck! nyali mu besar sekali ya, setelah melihat keadaanmu yang lemah begini kamu masih berani ngomong kamu gak apa apa!" suara Arga terdengar geram, dia melotot kesal ke arah Meira.


"Kita mau kemana?"


"Keruang kesehatan, kalau mau mengikuti kata hati rasanya aku pengennya bawa kamu ke rumah sakit dan nyuruh dokter untuk mengurung kamu disalah satu kamar selama kamu hamil!"


Tuh kan mulai! Meira panik.


"Jangan! aku cuman perlu istirahat aja kok Ga! aku juga masih kuat jalan, turunin aku Ga!" Meira berusaha meyakinkan, dia hendak turun dari gendongan Arga, namun nihil karna tenaga Arga jelas bukan tandingannya, dia tidak bisa lepas dari cengkeraman tangan kekar itu.


"Berani turun? boleh aja, tapi resikonya kamu gak bisa masuk kuliah lagi! gimana? masih mau turun?" Arga terus menggendong Meira menuju ruang kesehatan.


Akhirnya Meira hanya bisa pasrah Arga memarahi dirinya sepanjang perjalanan menuju ruang kesehatan, dia tahu Arga marah karna Arga khawatir pada dirinya dan juga bayi mereka.


Manji, Farel dan Flo masih diam ditempat.


"Gue susul bos dulu ya!" Farel menepuk bahu Manji, melihat kecanggungan diantara Manji dan Flo membuat Farel segera menyingkir dari sana, dia memberikan kesempatan Manji untuk menyelesaikan masalahnya dengan sahabat Meira itu.


Flo menahan nafas, setipa kali berdekatan dengan Manji entah kenapa jantungnya seperti sedang berjoget meledeknya, tidak bisa dikendalikan dan membuatnya harus menarik nafas panjang panjang.


"Flo.." Manji jadi ikutan keki melihat Flo hanya diam.


"Gue.."


Refleks Flo menutup mulut Manji dengan tangannya.


"Manji! lo gak perlu ngomong apa apa! tadi pagi gue yang salah, gue yang udah lancang ikut campur urusan lo, padahal itu kan bekal yang udah dikasih ke lo, jadi terserah lo mau ngapain tuh bekel, mau lo buang kek atau lo kasih ke orang juga gak seharusnya gue protes apalagi marah marahin lo. Gue minta maaf! gue balik dulu ya ke kelas!"


Buru buru Flo menarik tangannya yang masih menempel di bibir Manji.


"Eh, maaf maaf!"


Manji sampai bengong.


astaga gue ngapain lagi si, memalukan! kenapa pake acara megang bibirnya Manji segala sih! bodoh lo flo bodoh!


Flo menggeplak keningnya sendiri, merutuki sikap bodohnya yang bertubi tubi hari ini.

__ADS_1


Flo mundur beberapa langkah, dia berbalik dan segera lari sekencang kencangnya meninggalkan Manji yang masih di buat syok olehnya.


Manji memegang mulutnya, sentuhan Flo seakan masih membekas disana, entah kenapa rasanya lain, ada sesuatu yang berdesir dihatinya.


__ADS_2