
"Tidak... Itu tidak mungkin," Velina tetap menyanggahnya.
"Kenapa tidak mungkin? Kalian satu ruangan, bisa saja benih-benih cinta itu tumbuh, iya kan?" Karina masih saja terus menggoda Velina.
Velina menghela napas berat, ia jadi sedikit merasa tidak nyaman, "aku mohon jangan bahas tentang itu lagi bisa tidak?" Ia sengaja memberi sedikit penekanan pada akhir kalimatnya. Ia ingin Karina benar-benar berhenti mengatakan hal yang tidak masuk akal.
"Oke-oke, baiklah, jangan marah, aku hanya becanda saja tadi."
"Iya, tidak apa-apa, aku hanya merasa tidak nyaman saja, tidak bermaksud marah," jelas Velina dengan wajah menyesal.
"Iya aku tahu, aku juga merasa aku yang kelewatan, maaf."
Velina mengulas senyum, "kalau begitu lupakan saja." Karina pun balas tersenyum. "Oh... Ya, tadi kau bilang aku punya janji padamu, janji apa? Maaf jika aku lupa."
"Oh... Itu, lupakan saja," Karina mendadak salah tingkah.
"Katakan saja ada apa? Jangan membuatku penasaran," desak Velina lagi.
"Tidak... Waktu itu aku pernah bilang padamu, untuk mendekatkan ku dengan Presdir, tapi ku rasa aku berlebihan, aku tidak tahu diri."
"Apa kau sungguh menyukai Presdir?"
"Entahlah, hanya saja saat berada di dekatnya, jantungku berdetak sangat cepat hingga membuat dadaku sesak. Aku tahu mungkin tidak hanya aku yang menyukainya, tapi bolehkah aku sedikit berharap?" Mata Karina tampak berbinar sekaligus sedih karena merasa tak yakin akan perasaanya.
Velina sendiri bingung untuk menanggapinya, jadi ia memilih diam saja.
"Aku tahu, pasti aku berlebihan. Tapi aku telah memutuskan, untuk tetap mencobanya," ucap Karina tiba-tiba dengan wajah berseri.
Mata bulat Velina kembali melebar karena terkejut. Lidahnya juga seketika kelu. Wanita di hadapannya ini menyukai calon suaminya dan berusaha untuk mendekatinya. Dan wanita ini juga baru saja menjadi temannya beberapa menit yang lalu.
Tak ingin membuat wanita itu kecewa, Velina pura-pura mengulas senyum.
"Coba lihat, ada asisten Juan di arah jam dua belas." Seru Karina tiba-tiba.
"Apa?" Velina sontak menoleh ke arah belakangnya, benar saja pria itu baru saja memasuki areal foodcort.
"Ini kan tempat makan khusus karyawan bawahan seperti kita, kenapa dia tiba-tiba ada di sini?" Bisik Karina.
Pria itu makin mendekat ke arah Velina. "Ku rasa ia menuju kemari," bisik Karina lagi.
Velina panik saat pria itu benar-benar ada di sisi mejanya. Mau apa dia kemari? Pikirnya.
"Anda pasti mensilent ponsel anda, aku sudah berusaha menghubungi anda beberapa kali tapi anda tidak mengangkatnya." Ucap pria itu dingin. Mata Karina melebar menatap bergantian ke arah Velina dan asistent Juan.
Velina membalas tatapan Karina, wanita itu tampak sedang menahan senyum. Velina yakin wanita itu pasti makin curiga padanya. Mengira jika Asisten Juan mungkin saja tertarik padanya.
"Kenapa malah diam saja? Coba liat ponsel anda." Lamunan Velina seketika buyar. Ia buru-buru menjejakkan kembali kakinya ke dunia nyata. Lalu dengan gelagapan mencari ponselnya di saku dress-nya.
__ADS_1
Matanya membelalak lebar mendapati lima panggilan tak terjawab dari rekan kerjanya itu. "Maaf, aku lupa mengubah pengaturannya," ucapnya sambil menunduk.
"Lupakan saja, sekarang anda ikut aku ke ruangan kita, kita akan makan di sana saja sambil membahas pekerjaan, kebetulan aku pesan makanan lebih untuk kita."
Velina melirik ke arah Karina, wanita itu makin tersenyum menggoda padanya. Sedangkan Juan masih tampak menunggu.
"Tapi, aku juga sedang menunggu pesananku," Velina beralasan.
"Anda bisa membatalkan pesanan anda." Ujar Juan.
"Mana boleh begitu," Velina hendak protes namun segera di sela oleh Karina.
"Tidak apa-apa, biar makanannya buat aku saja. Kalian pergilah."
"Anda dengar itu? Teman anda yang akan menghabiskan pesanan anda."
Sialan! Situasi macam apa ini? Batin Velina.
Akhirnya ia tak punya pilihan lain selain menurut.
***
"Presdir sedang makan siang di luar, jadi makanlah dengan tenang di sini." Juan mempersilahkan Velina untuk duduk di sofa yang ada di ruangan mereka. Di meja sudah terdapat beberapa kotak makanan beserta minumannya.
Pria itu tampak telaten membuka kotak makan satu persatu. Semuanya tampak lezat, Velina jadi sedikit melupakan kekesalannya.
"Terimakasih," Velina menjawab dengan canggung, "sepertinya makanan ini semuanya enak," ia mengulas senyum.
"Kalau begitu cobalah, semua ini makanan kesukaanku."
"Aku coba, ya?" Velina mengambil sendok yang masih terbungkus tisu di meja, membukanya lalu menyendok salah satu makanan dalam kotak, "Hem... Ini sungguh enak," ucapnya sembari mengunyah makanan yang sempat ia masukkan ke dalam mulutnya, kemudian mulai menyendok kembali dan memasukkannya ke dalam mulut dengan lahap.
Tanpa sadar sudut bibir Asisten Juan tertarik ke atas tersenyum, memperhatikan Velina makan hingga bibirnya belepotan.
"Ini," ujarnya dingin, ia menyerahkan tisu ke arah Velina, "apa anda tidak bisa makan dengan pelan-pelan? Bibir anda sampai kotor semua."
"Astaga, benarkah?" Velina yang panik meraba bibirnya dan membuat nodanya malah makin merambat ke pipi.
"Astaga..." Juan yang merasa tidak tahan melihatnya, langsung mengulurkan tisu ke pipi Velina dan mengusapnya dengan lembut.
Velina mematung di tempat. Ia merasa sangat canggung hingga membuat lidahnya kelu.
"Sudah ku bilang makan pelan-pelan saja, tidak ada Presdir di sini," pria itu mengomel layaknya sedang mengomeli kekasihnya.
Namun setelahnya ia tersadar dan merasa sangat canggung, "maaf... Maaf, jika aku lancang." Pria itu juga mendadak salah tingkah.
"Oh... Iya, anda bilang ingin membicarakan pekerjaan, pekerjaan apa?" Velina mencoba mengalihkan pembicaraan agar suasananya bisa kembali cair dan tidak kaku.
__ADS_1
"Ah ... Benar juga. Tapi sebaiknya anda habiskan makanan anda dulu saja, baru setelahnya kita bicara soal pekerjaan."
"Tapi ku rasa aku sudah kenyang, apa boleh kita mulai sekarang? Aku takut waktu istirahat akan segera habis."
Asisten Juan melirik jam tangannya, "kau benar juga. Sebenarnya aku hanya ingin memberitahumu jadwal meeting Presdir untuk satu Minggu ke depan. Sebentar... Aku akan mengambil laptopku dulu." Juan beranjak dari duduknya dan berjalan ke meja kerjanya.
"Jadi ini lah jadwal Presdir untuk satu Minggu ke depan, selain mengurus jadwal, aku harap anda juga memiliki kemampuan untuk presentasi. Itu akan menjadi nilai lebih untuk anda. Karena kedepannya, kita akan bekerja sama dalam tim untuk bisa mendapatkan kontrak dari klien. Apa anda mengerti?" Ujar Juan saat kembali ke tempatnya.
"Untuk itu anda jangan khawatir, aku juga sudah sering presentasi di kantorku yang lama."
"Bagus, jadi aku mungkin tidak perlu mengajari anda banyak hal. Sepertinya anda banyak kecakapan. Tapi bagaimanapun, untuk setiap proposal sebelum presentasi, aku harap anda bisa mendiskusikannya terlebih dahulu denganku."
"Asisten Juan,"
"Ya,"
"Bisakah kita saling bicara dengan bahasa non formal saja? Maksudku tidak perlu kata 'anda'. Tapi bagaimana kalau kita ubah dengan 'aku dan kau saja', bagaimana?"
Pria itu tak langsung menjawab, wajahnya tampak berpikir sejenak. "Baiklah, kedengarannya itu ide bagus. " Velina tersenyum.
Tak lama pintu terbuka. Seorang pria dan wanita tampak memasuki ruangan. Asisten Juan langsung berdiri untuk menyambutnya, ia juga buru-buru menunduk hormat. Velina terpaksa mengikutinya dan melakukan hal yang sama.
Untuk masuk ke ruangannya, Diego harus melewati ruangan Asistent Juan terlebih dahulu.
"Kakak..." Wanita di sisi Diego tampak merengek saat melihat Velina ada di ruangan tersebut.
Diego mengangkat salah satu tangannya, memberi isyarat pada Luna sang adik agar tidak melanjutkan kalimat protesnya. Luna terpaksa menurut meski kesal. Ia menatap ke arah Velina dengan tatapan tak bersahabat.
"Juan, kau ingat? Hari ini ada klien yang ingin mengajakku bertemu secara tidak resmi di restoran seberang kantor? Aku ingin kau menggantikanku, bisa?" Diego sengaja ingin membuat Juan pergi dari ruangan secara halus, ia tidak ingin membuat pria itu curiga.
"Baik, Tuan." Juan mengangguk hormat kemudian Beringsut keluar ruangan.
Kini tersisa Velina, Diego dan Luna di ruangan yang luas namun mendadak terasa sesak bagi Velina.
"Kakak, kenapa wanita ini tiba-tiba ada di sini?!" Luna tak tahan untuk mengeluarkan rasa penasarannya yang ia pendam sejak tadi.
"Hei... Kau baru saja keluar dari rumah sakit, aku harap kau bisa menjaga sedikit emosimu." Diego mencoba menenangkan.
"Bagaimana bisa aku tenang. Aku melihat wanita perusak rumah tanggaku ada di sini. Apa dia sengaja datang ke sini untuk menertawakan ku, hah?!" Bukannya tenang, Luna tampak makin kalap, "aku tidak mau melihatnya ada di sini! Suruh dia pergi sekarang juga!"
"Luna, cukup!" Tegas Diego dengan suara sedikit keras.
Luna langsung terdiam dan menatap sang kakak tak percaya. Tidak biasanya kakaknya membentaknya seperti ini.
"Maaf... Maafkan aku, aku harap kau bisa belajar tenang, ini demi kebaikanmu," Diego merasa bersalah dan langsung menarik Luna dalam dekapannya. Luna perlahan terdengar terisak.
"Kenapa wanita itu ada di sini?" Tanya nya lagi, namun dengan suara lirih.
__ADS_1
Bersambung.