Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Melihat Arga main basket


__ADS_3

Widya dan Flo sudah berdiri manis di pinggir lapangan, seperti biasa, bisa ditebak kalau penonton sore itu sudah membludak jumlahnya padahal sore itu hanya latihan basket saja.


Meira sampai tercengang begitu mendapati suasana lapangan yang begitu ramai.


"Sayang, kok rame banget? katanya cuman latihan?" tanya Meira sambil mengangkat alisnya tinggi tinggi.


Arga masih menggandeng tangannya erat, Mereka terus berjalan mendekati salah satu sudut lapangan.


"Kampus kita kan jarang ikut turnamen, aku rasa wajar kalau semuanya berantusias." kata Arga.


Meira hanya mengangguk angguk.


Dia menatap sekeliling mencari cari keberadaan Flo dan Widya. Tak lama kedua sahabatnya itu tertangkap sepasang matanya tengah berdiri berdempetan bersama para penonton cewek yang lain.


Widya terlihat sangat bersemangat, sesekali dia meneriakkan nama Reihand sambil tersenyum ceria sementara Flo, gadis itu hanya diam membisu, sesekali menghela nafas entah apa yang ada dipikirannya saat ini.


"Meira, dimana kedua sahabat kamu?" tanya Arga.


"Itu sayang disana.." Meira menunjuk ke arah Widya dan Flo.


Arga pun langsung menarik lengannya, mereka masuk ke dalam lapangan dan menyebrang ke tempat kedua sahabat Meira itu.


Reihand dan Manji seketika menghentikan pandangannya. Kaget melihat Arga ternyata belum pulang.


"Ga, lo masih disini?" Reihand terpana, dia berlari ke arah Arga dengan cepat, tak menyangka jika Arga mau datang ke lapangan basket, dia pikir Arga sudah tidak punya waktu untuk sekedar menonton teman temannya latihan karna laki laki itu sangat sibuk akhir akhir ini.


"Hmm, Meira pengen nonton kalian latihan.." Jawab Arga.


Mereka pun sampai di tempat Widya dan Flo berdiri.


"Mei, bukannya lo mau balik tadi?" Widya dan Flo kaget saat melihat kedatangan Meira.


"Em.. gak jadi Flo, hehe gue jadi pengen nonton juga nih." jawan Meira sambil cengengesan.


Reihand mendekat dan menepuk pelan bahu Arga


"Kebetulan nih Ga, si yoga gak bisa ikut latihan dadakan ini, katanya doi lagi ada urusan genting, gimana kalau lo aja yang gantiin dia?" tawar Reihand sambil menatap Arga penuh harap.


Yoga teman satu tim nya memang sedang berhalangan masuk, ketika melihat Arga dagang langsung muncul ide di kepalanya, kenapa dia tidak mencoba saja mengajak kembali sahabatnya itu untuk turun lagi ke lapangan basket, sudah lama juga mereka tidak main bareng.


Kontan semua menoleh dan ikut menatap ke arah Arga.


Meira menggigit bibirnya, duh sebenernya dia juga pengen banget ngeliat Arga main basket, tapi kalau meminta secara langsung kepada Arga dia tidak berani.


Meira melirik Arga, penasaran apakah Arga akan menerima tawaran Reihand itu atau tidak.


Arga tampak berpikir, dia melirik juga ke arah Meira dan saling tatap beberapa saat. Seulas senyum muncul di wajah tampannya.


Dia membungkukkan badannya seraya membisikkan sesuatu di telinganya.


"Kau mau melihatku main basket?" tanya Arga lembut.


Meira terperangah. Arga seperti bisa membaca pikirannya. Apa terlihat jelas?


Meira mengangguk spontan, memang dia sangat ingin melihat Arga main bola.


"Emangnya kamu gak keberatan? aku sebenernya udah denger dari Reihand kalau kamu jago main basket pas SMA sulu.." kata Meira pelan.


"Kalau tuan putri yang minta, aku mana bisa nolak sih.." Arga mengecup pipi kirinya lembut sambil tersenyum hangat.


Kontan semua orang disitu bersiul ke arah mereka. Menyoraki dan ikut bertepuk tangan.


"Ashooii sang pentolan kembali ke kandang!" seru salah seorang pemain basket, mereka mendekat ke arah Arga dengan wajah bahagia.


"Arga mau main basket, gak salah denger nih?" Manji jadi ikut terheran heran.


"Wah, bakal seru nih!"


dan banyak lagi kasak kusuk lainnya.


Namun Arga tampak tak peduli, sepasang matanya malah berkeliaran ke segala arah dan pandangan matanya berhenti tepat di tempat gerombolan mahasiswa yang sekelas dengannya, mereka tengah duduk duduk santai di bangku semen yang ada di pinggir koridor.


"Woi ambilin bangku cepet!" perintah Arga pada mahasiswa yang berdiri dibelakang punggung Meira.


Mereka terperanjat saat Arga memanggilnya, tapi semuanya buru buru mengangguk patuh. Salah satu dari mereka malah terlihat langsung semangat berlari dan tak lama membawa sebuah bangku kayu ditangannya, dari bentuknya sepertinya itu milik kantin kampus.


"Ini, Ga." pria bernama Tomi meletakkan bangku kayu itu di depan Arga.


"Thanks ya Tom, kirim aja nomor rekening lo ntar gue kasih sangu buat beli sepeda baru!" kata Arga sambil menarik kursi itu dan meletakannya ditempat yang dia pikir jaraknya aman untuk Meira bisa menonton basket.


Sangu dalam artian sesungguhnya adalah berupa ucapan terima kasih bisa bentuknya uang atau apapun.

__ADS_1


Wajah Tomi langsung berubah sumringah, tidak salah dia tadi langsung sigap menuruti perintah sang pentolan kampus.


Arga pun segera mendudukkan Meira disana dengan nyaman.


"Kamu duduk manis disini ya, liat aku baik baik.. jangan lihat pemain lain oke?!" kata Arga kalem tapi tegas.


Dia pun berjalan mundur masuk ke area lapangan sambil mengedipkan satu matanya pada gadisnya itu.


"Meira ini buat kamu cantik!" teriaknya yang kontan saja membuat seisi lapangan yang tadinya hening berubah heboh!


Reihand sampai kehabisan kata kata melihat tingkah Arga. Dia ternganga sambil menahan geli. Sahabatnya yang selalu menjaga image itu kini bisa melakukan hal gila didepan banyak orang.


Perlahan pandangan matanya beralih pada Meira, diam diam dia takjub pada Meira, Arga berubah banyak juga pasti karna pengaruh dari gadis itu.


Tak pernah Reihand bayangkan jika Arga akan serius dengan satu cewek dan menikah secepat ini, mengingat dulu Arga adalah playboy kelas kakap.


Reihand jadi garuk garuk kepala membayangkan seandainya dia juga punya orang spesial yang bisa membuatnya bucin seper akut seperti Arga. Haha pasti menyenangkan sekali.


Sepasang matanya tiba tiba melirik gadis yang berdiri disebelah bangku Meira, Flo.


Flo sedang fokus berbincang dengan Meira dan Widya. Gadis itu yang akhir akhir ini sering datang dalam mimpinya tanpa diundang, yang wajahnya sering kali membuatnya tanpa sadar jadi sering senyum senyum sendiri.


Reihand pun akhirnya balik badan sambil menahan rasa yang mulai bergejolak di dalam hati dan ikut bergabung bersama Arga dan yang lainnya.


Meira yang duduk di bangkunya terlihat berbinar, dia benar benar tak sabar ingin melihat suaminya bermain basket lagi.


Dia melihat ke arah lapangan, Arga sedang berdiri diantara teman temannya, ternyata cukup gampang menemukan Arga diantara yang lain meskipun jaraknya agak jauh, cowok itu punya postur paling tinggi, Meira baru menyadari ternyata Arga mencolok banget.


Meira melihat Arga mulai melepas kemejanya dan menggantinya dengan kaos basket dan celana pendek.


Mata Meira kontan membulat lebar, tak mampu menyembunyikan keterpesonaannya begitupun dengan yang lain, meski mereka hanya kasak kusuk dan bicara sangat pelan, kuping Meira masih bisa menangkap dengan jelas kalau cewek cewek yang berdiri disekitarnya sedang mengagumi sosok sang pentolan yang terlihat semakin tampan dengan stelan baju basketnya.


Manji membawa bola dan lari ketengah lapangan, latihan akan segera dimulai, semua terlihat bersiap ditempatnya masing masing.


Saat pluit dibunyikan bola dari tangan lawan tim Arga Cs digiring ke arah ring mereka. Reihand berusaha merebutnya dengan bantuan Manji bola berhasil berpindah tangan dengan cepat.


Beberapa lawan mencoba menghadang Reihand namun gagal, pria itu mengoper bolanya pada Ian teman satu timnya yang lain.


"Woi tangkap!" teriaknya keras sambil melempar bola itu ke arah Ian.


Ian yang berada di pojok lapangan langsung sigap menerima bola itu, dia hendak melakukan shooting namun sepertinya mustahil akan mencetak poin jika melemparnya di posisinya saat ini.


Ian akhirnya paham, dia pun berusaha mendribble bola itu dan langsung mengopernya ke tangan sang pentolan kampus.


Bola mendarat sukses dikedua tangan Arga. Kemeriahan di lapangan seketika bertambah ketika sang pentolan menunjukkan kemampuannya.


Dengan tangan yang sibuk mendribble bolanya dia berhasil melewati beberapa tim lawan. Sepasang mata elangnya menyipit tajam ke arah ring. Baru setelah dia yakin sudah siap arga melangkah tiga langkah kedepan dan setelah tiga langkah itu dia langsung mengambil lompatan tinggi dan melakukan shooting ke dalam ring.


Brugh


Bola oranye itu sukses masuk dengan sangat sempurna ke dalam ring dan memberikan poin untuk tim Arga.


Semua bertepuk tangan meriah untuk kemenangan pertama.


Arga berdiri mematung di tempatnya sambil menatap tangannya sendiri, sudah lama sekali dia tidak merasakan perasaan ini, perasaan bahagia ketika dia berhasil mencetak poin ke dalam ring dengan tangannya sendiri.


Arga menoleh ke arah Meira, gadis itu tengah menatapnya kagum sambil mengacungkan kedua jempolnya tinggi tinggi.


Reihand dan Manji menghampirinya seraya memberikan pelukan selamat, mereka benar benar kaget ternyata kemampuan Arga tidak berkurang sama sekali walaupun pria itu sudah jarang menyentuh bola oranye itu.


"Hebat, kapten!" kata Reihand sambil menepuk bahu Arga.


Tak lama permainan pun dimulai kembali, babak demi babak terlewati dengan sangat sengit tapi tim Arga Cs akhirnya berhasil keluar sebagai pemenang.


"Gila, Arga keren banget!"


"Iya, mana ganteng banget lagi kalau lagi serius main basket gitu!"


"Yaah.. sayang banget doi udah nikah sih! coba kalau belum kan bisa kita deketin tuh!"


Kali ini bukan hanya kasak kusuk, tapi pujian pujian itu langsung Meira dengar dari segala sisi lapangan, terlontar secara alami dari mulut cewek cewek yang ada disebelah kiri juga kanannya.


Sepertinya cewek cewek itu saking bersemangatnya melihat Arga sampai lupa kalau Meira tengah ikut menonton pertandingan juga, Meskipun agak jengkel tapi dia tidak bisa menyalahkan mulut mulut itu karna semua pujian yang mereka ucapkan untuk Arga tadi memang benar adanya.


Bukan hanya tampan dan kaya, tapi pria yang kini menjadi ayah dari anak yang tengah dikandungnya itu ternyata memiliki banyak kemampuan yang belum Meira ketahui. Selain jago bela diri ternyata Arga juga jago banget basket.


Kadang kadang Meira sampai minder dengan dirinya sendiri, apakah dia pantas jadi istri seorang Arga?


Arga dan timnya berkumpul di sudut lapangan, Reihand menyerahkan sebotol air mineral yang dia ambil dari dalam ranselnya.


"Lo masih aja keren men!" ucap Reihand sambil duduk disebelah Arga.

__ADS_1


Pria itu hanya ketawa pelan, dia pun kaget ternyata tangannya masih lihat dalam memainkan bola oranye itu.


"Ga, lo masuk aja ke tim inti, dengan kemampuan yang lo miliki ini gue yakin lo bisa bawa tim kita menang!"


Arga terdiam sejenak, tapi kemudian dia menggeleng sambil tersenyum lebar kepada Manji.


"Terus yoga mau kalian kemanain hah?" Arga malah balik bertanya.


Sontak semuanya terdiam mendengar pertanyaan Arga.


"Guys, gue tau banget yoga udah dari semester satu jadi tim inti basket, dia juga kan yang jadi pendiri tim ini setelah lama vakum? kalian yakin mau gue ngegantiin dia?"Arga berdiri dan menatap wajah wajah teman temannya yang mendadak bisu.


Reihand tersenyum kecil, dia sudah menduga reaksi Arga ini.


"Kalau kalian mau tumbuh jadi tim yang besar, kalian harus kompak, saling ngelindungin satu dengan yang lainnya, dan oh iya ini poin paling penting yang harus dimiliki setiap anggota tim basket.." Arga memenggal kalimatnya, sengaja menambah ketegangan di wajah teman temannya.


"JANGAN EGOIS!" sambungnya penuh penekanan sambil menatap satu persatu anak anak basket yang masih diam terkesima dengan perkataannya.


Dia menepuk bahu Manji dan menatap yang lainnya sambil tersenyum lebar.


"Guys, gue cabut dulu!" ucap Arga kalem, dia balik badan dan berjalan menghampiri Meira.


Reihand ketawa pelan, Arga sahabatnya memang tidak pernah berubah dalam urusan ini, dia selalu memperhatikan setiap orang di dalam timnya tanpa terkecuali, makanya waktu itu dia yang diberi kehormatan untuk mengisi posisi kapten basket, karna dialah orang yang paling dipercaya bisa memimpin teman temannya.


"Hei, sayang.." sapa nya lembut sambil berjongkok dihadapan kursi yang Meira duduki.


"Sayang.. kamu hebat banget tadi!" Meira menarik kedua pipi Arga dengan gemas.


Arga tersenyum lebar dan mencium pipi kanannya lembut. Tak peduli lagi semua orang disana sibuk memperhatikan ke arah mereka.


"Udah puaskan liat aku main basketnya?pulang yuk.." Arga berdiri dan mengulurkan tangannya.


Dengan tersipu malu Meira menyambut uluran tangan itu, sekarang dia masabodo pada pandangan orang orang disana. Apalagi cewek cewek yang iri melihat kemesraannya, kalau di pikir pikir bukankah harusnya dia bangga? karna dari sekian banyak orang yang tergila gila pada Arga, pada kenyataannya hati dan raga cowok itu seutuhnya miliknya.


Meira pun menyambut uluran tangannya dengan senyum mengembang dan dagu yang terangkat tinggi.


"Yuk!"


Arga tersenyum dan menggandeng lengannya erat, mereka berjalan keluar dari lapangan basket.


"Gue duluan ya Wid, Flo!" Widya menoleh sebelum pergi, kedua sahabatnya itu tersenyum lebar sambil mengacungkan jempolnya.


"Hihi hati hati ya Mei!" Flo melambaikan tangannya.


"Meira beruntung banget ya bisa punya suami kayak Arga, disaat kita masih sibuk mikirin kuliah Meira malah udah ketemu jodohnya.." kata Widya pelan.


Flo mengangguk tapi kemudian dia ketawa.


"Lo kan cantik Wid, lo juga pasti bentar lagi ketemu jodoh lo Wid.." Flo menyenggol bahunya dengan tatapan menggoda.


Widya cengengesan dia balik badan dan menatap Reihand.


"Iya, Flo mudah mudahan jodoh gue itu.." Widya memenggal kalimatnya sambil memandang lurus ke arah Reihand yang tengah mengobrol di sudut lapangan.


"Reihand." sambungnya sambil tersenyum.


Flo terhenyak, dia ikut menatap ke arah Reihand. Jadi benar ya dugaannya, Widya memang serius dengan perasaannya.


Flo menundukkan pandangannya, bagaimanapun dia akan selalu mendukung Widya, dia sudah bertekad akan mengenyahkan bayang bayang Reihand dari pikirannya.


"Lo juga sama Manji gimana? udah ada kemajuan? kemarin malam kan lo dianter pulang sama dia? gimana gimana kelanjutannya?" tanya Widya tiba tiba, wajahnya sangat antusias.


Dia memang belum sempat menanyakan kelanjutan dari pulang barengnya Flo dan Manji kemarin.


Flo terdiam lalu kemudian mengangkat bahunya.


"Gak tau."


"Kok gak tau?"


"Iya gak ada kelanjutan apa apa Wid, kebetulan aja kemarin Manji nganterin gue balik, lagian udah ada Stella Wid disamping Manji, gue liat sih mereka deket banget, kayanya bukan sekedar hubungan temen biasa deh.." kata Flo, dia jadi teringat kejadian saat Manji mengantarkannya pulang dengan ditemani Stella.


Stella saat itu memang terlihat sangat dekat dengan Manji. Mereka tampak akrab satu sama lain.


"Masa sih? kok lo yakin banget?"


"Bukan yakin sih, tapi gue rasa Stella emang suka sama Manji.." kata Flo.


"Terus Manji nya?"


Lagi lagi Flo mengangkat bahunya, berlaga tidak tahu, padahal jelas jelas kemarin Stella mengancamnya untuk menjauhi Manji, kalau bukan karna suka apalagi namanya?

__ADS_1


__ADS_2