Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Siapa kau?


__ADS_3

"Kau siapa?" Arga mengulangi pertanyaannya. Dia menatap Meira dengan bingung.


"Ga ini aku Meira!" Meira mendekat dan berusaha meraih lengan Arga namun Arga menepisnya.


"Maaf, jangan menyentuhku sembarangan!" Elaknya dengan menatap tajam Meira.


Meira terperangah.


"Ini dimana? kenapa aku bisa ada disini?" Arga menatap sekeliling ruangan tanpa memperdulikan keterkejutan Meira dengan sikapnya.


"Hei, kenapa kau malah bengong? Katakan padaku kenapa aku bisa ada disini? apa yang terjadi?" Arga kembali menatap Meira, mata gadis itu sepertinya hendak menangis.


Meira mundur beberapa langkah lalu kemudian keluar ruangan dengan tergesa gesa untuk memanggil dokter. Dia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Arga, kenapa dia tidak ingat pada dirinya!


Tak lama dokterpun masuk ke ruang ICU bersama Meira dibelakangnya.


Abian memeriksa Arga dengan teliti. Dia menanyakan beberapa pertanyaan sambil mengamati kondisi Arga dengan seksama.


"Arga, apa kau benar benar tidak ingat apapun tentang kejadian sebelum kamu mengalami kecelakaan?" Tanya Abian.


"Iya, aku tidak ingat apa apa."


"Apa kau juga tidak ingat siapa nona ini?" Abian menoleh ke arah Meira.


Arga ikut menatap ke arah Meira lalu kemudian mengangkat bahunya.


"Tidak, memangnya dia siapa?"


Meira menahan nafasnya, rasanya nyes dihati ketika Arga mengatakan itu terlebih saat melihat sorot mata Arga padanya kali ini, menatapnya seakan akan dia adalah orang asing.


Abian mengusap wajahnya lalu berbalik dan mendekat kearah Meira.


"Meira, kita perlu bicara diruangan saya ya.."


Setelah mengatakan itu merekapun kembali meninggalkan ruang ICU.


"Meira, maaf sekali saya harus menyampaikan kabar kurang mengenakan ini, sepertinya Arga kehilangan sebagian ingatannya akibat benturan keras itu.." Kata Abian saat mereka telah sampai di ruangan kerja dokter muda itu.


Meira yang masih shock hanya bisa diam. Beberapa detik yang lalu dia amat bahagia karna Arga telah bangun dari komanya, namun kebahagiaannya itu tidak berlangsung lama karna ternyata dia harus dihadapkan kenyataan pahit kalau Arga telah kehilangan ingatannya dan lebih parahnya dia menjadi bagian yang sama sekali tidak diingat oleh Arga.


Nafasnya memburu, dadanya terasa sesak, air mata pun melesak keluar dengan bebas. Tak sadar tubuhnya ikut melemas.


"Meira, kau baik baik saja?" Tubuh Meira tak sampai jatuh ke lantai, sepasang tangan menopangnya. Sepasang tangan menahan tubuhnya agar tidak ikut tunduk dalam gravitasi bumi.


"Meira duduklah." Abian membantu Meira duduk di bangku. Gadis itu terlihat kacau dimatanya. Abian prihatin sekaligus kasihan.


"Meira dengarkan aku, Arga memang sedang kehilangan ingatannya, tapi ini mungkin hanya sementara."


"Mungkin?" Meira mendongak sambil menatap Abian dengan serius.


"Iya, mungkin. Dia bisa saja kembali mengingatmu seperti sedia kala."


"Benarkah?" Air mukanya langsung berubah senang, namun sesaat dia kembali terisak.


"Tapi sampai kapan?" Tanya Meira lagi.


"Aku tidak bisa memastikan, tapi kamu bisa berusaha membantunya untuk mengingatmu kembali Meira, biasanya pasien akan cepat kembali mendapatkan ingatannya jika dia tanpa sengaja melewati kembali momen momen tertentu yang pernah dia alami dimasa lalu yang berkesan diingatannya." Tutur Abian sambil tersenyum.


Meira menahan nafas. Momen tertentu? momen seperti apa? apakah dia harus menciptakan momen indah agar Arga bisa mengingatnya kembali? atau mengulang kenangan yang pernah dia alami bersama Arga dulu?

__ADS_1


***


Setelah berbicara dengan Abian tadi hatinya sedikit lega, setidaknya ada harapan Arga akan bisa mengingatnya kembali.


Meira berjalan pelan di lorong sambil membayangkan kenangan saat dia pertama kali bertemu dengan Arga.


Sebenarnya bukan kenangan yang menyenangkan untuk diingat, karna waktu itu untuk pertama kalinya dia bertemu dengan sang pentolan Mandala di dalam tawuran antar kampus.


Andai saja dia waktu itu tidak terjebak disana, mungkin saat ini dia tidak akan pernah mengenal sosok Arga.


Meira mengeluarkan ponselnya di dalam saku celana, dia berniat mengirimkan pesan pada ayah Arga tentang kondisi Arga yang sudah siuman. Laki laki tua itu pasti senang dengan kabar baik ini.


Meira menarik nafas dalam dalam, kini dia sudah sampai di depan pintu kamar ICU. Lama dia berdiri disana, tangannya perlahan meraih handle pintu, namun entah kenapa dia belum juga berani masuk kedalamnya.


Pukul 12.30 wib


Arga sudah dipindahkan keruang perawatan setelah kondisinya membaik. Seluruh keluarga berkumpul disana termasuk Andrew dan Lusi.


Lusi dan Andrew saling pandang, wajah mereka menampakan kecemasan yang teramat besar. Mereka berdiri disudut ruangan sambil menatap Arga yang sedang tertidur pulas.


Namun wajah wajah cemas itu mendadak hilang ketika mereka mengetahui kalau Arga hilang ingatan.


"Jadi, dia tidak ingat apapun dok?" Tanya Lusi kaget.


Dokter menggeleng. "Hanya sebagian, dia masih mengingat namun ada beberapa bagian dari kenangan dimasa lalunya yang hilang."


Andrew mengerutkan keningnya, rahangnya mengatup keras, apes! bener bener apes! bocah ini punya berapa nyawa sih? kenapa dia selalu saja selamat dari rencana jahatnya! dia pikir Arga kritis dan koma untuk selamanya.


Tapi lihat bocah ini sekarang dengan segala keberuntungannya dia bisa bangun dari komanya, meski dia hilang ingatan, namun tetap saja ini bukan kabar baik. Dia harus waspada dan bersiaga, jangan sampai Arga menyelidiki tentang kecelakaan yang dia alami ini.


Setelah melihat kondisi Arga, semua orang keluar dari ruangan, Meira terduduk lemas di kursi panjang yang ada didepan ruang perawatan.


Tuan Heru menatapnya dengan iba.


Meira menoleh, matanya sembab. Tuan Heru duduk disebelahnya.


"Kau harus sabar ya, Arga pasti akan kembali mendapatkan ingatannya, kau harus percaya itu.."


Meira mengangguk lemah.


"Pah, bagaimana dengan rapat pengumuman penerus perusahaan? papah tidak berencana membatalkannya kan besok?" Andrew dengan tidak tau malunya tiba tiba menyela pembicaraan mereka.


"Andrew! apa pantas membicarakan hal ini dirumah sakit?!" Bentak Tuan Heru berang.


"Aku tau, maaf, aku hanya ingin tahu pah.."


"Kita bisa membahasnya dirumah nanti."


Lusi mendekat dan langsung menengahi.


"Andrew hanya ingin tahu, papah tidak usah mengeraskan suaramu seperti itukan? Andrew juga anakmu pah, jangan pilih kasih!"


Meira melirik sebal, astaga lihatlah kedua orang ini, sungguh tidak punya rasa empati sedikitpun!


"Cukup! apa pantas kau berbicara soal ini sekarang disaat anakmu baru saja siuman?" Tandas tuan heru sambil berdiri dan melotot ke arah istrinya.


Akhirnya Lusi dan Andrew hanya bisa diam. Mereka pun langsung bergegas pergi dengan wajah masam.


****

__ADS_1


Malam pun tiba, Reihand datang bersama Widya dan juga Flo ke rumah sakit tempat Arga dirawat.


Dari lorong mereka bertiga berjalan dengan sedikit tergesa gesa.


"Meira!" Panggil Widya saat mereka hampir sampai di depan ruang perawatan VIP.


Mereka melihat Meira sedang duduk sambil menyenderkan kepalanya.


"Kalian?" Meira tersikap. Tak menyangka jika teman temannya akan berkunjung kesana malam malam begini.


"Meira!" Flo dan Widya langsung memeluk erat sahabatnya itu.


"Apa kau baik baik saja?" Tanya Flo sambil melihat keadaan Meira yang begitu kacau, wajahnya pucat, kantung matanya begitu sembab.


"Aku baik baik saja." Meira menyunggingkan senyum paksa.


Sepasang mata coklat Reihand menatapnya lurus, dia tahu Meira sedang berbohong, apalagi setelah mendengar kabar darinya jika Arga hilang ingatan dan tidak dapat mengenalinya. Hal itu pasti membuat Meira benar benar sedih


"Meira, kenapa kau diluar? Apa Arga sedang tidur?" Tanya Reihand, dia menoleh sekilas ke arah pintu masuk.


Meira menggeleng. "Tidak, dia ada di dalam bersama Manji dan juga Farel.


"Hah?" Flo tersentak.


"Jadi mereka juga datang kesini? kapan?" Flo tiba tiba sumringah.


"Iya, mereka sudah disini sajak tadi." Jawab Meira.


Meira pun membuka gagang pintu dan mempersilahkan mereka masuk.


"Kenapa kau tidak ikut masuk Mei.." Langkah mereka semua terhenti ketika Reihand berkata begitu.


Mereka menoleh dan melihat Meira hanya diam mematung di garis pintu.


"Ayo masuk juga!" Reihand menarik tangan gadis itu ketika melihatnya hanya diam saja.


Arga, Manji dan Farel menoleh kaget saat melihat kedatangan mereka.


"Eh, kalian kesini juga?" Manji dan Farel yang sedang duduk langsung berdiri seketika.


Arga memperhatikan mereka satu persatu, pandangan matanya berhenti pada Flo dan Widya.


"Kalian berdua, bukannya kalian anak anak dari fakultas ekonomi? kenapa kalian ada disini?" Tanya Arga heran. Dia tahu Widya dan Flo karna di dalam ingatannya dia sering melihat kedua gadis itu di kampus.


Widya dan Flo hanya mengangguk sebari melongo karna ternyata yang disampaikan Meira di telpon benar adanya. Arga kehilangan sebagian ingatannya.


"Arga.." Reihand berjalan mendekat ke arah ranjang.


"Kau siapa?" Sepasang mata Reihand membulat seketika. Langkahnya langsung terhenti saat melihat tatapan tidak bersahabat dari Arga.


"Hei, kalian sebenarnya mau ngapain disini? apa ada kerabat kalian yang kebetulan dirawat dirumah sakit juga. Kalau iya, gih pergi sana temui orang itu saja!" Usir Arga terang terangan.


"Dan kau!" Arga menunjuk Meira yang berdiri mematung di dekat pintu masuk.


"Kau dari pagi belum pergi juga? apa kau sudah tidak punya muka lagi hah! entah kenapa aku muak sekali melihat wajahmu! pergi sana dan bawa teman temanmu ini keluar dari hadapanku sekarang juga!" Desis Arga jengah. Wajahnya benar benar tampak kesal.


Mereka semua yang berada di dalam ruangan itu sontak terperangah. Terlebih Reihand. Dia mengepalkan tangannya dan hendak menjawab perkataan Arga namun Meira langsung mencegahnya.


"Jangan Rei, kumohon. Ayo kita keluar dari sini.." Dengan tatapan mengiba Meira mengajak teman temannya keluar dari sana.

__ADS_1


Reihand menahan dongkol namun akhirnya dia menuruti ucapan Meira ketika melihat sudut mata gadis itu sepertinya hendak mengeluarkan air mata.


bersambung


__ADS_2