
"Tuan, ada yang ingin bertemu dengan anda."
"Siapa?" Farel masih fokus pada layar laptopnya.
"Nona Velina."
Begitu nama itu di panggil oleh sekretarisnya, kepalanya seketika mendongak. "Suruh dia masuk," wajahnya juga berubah sumringah.
"Baik, Tuan."
Farel membenarkan rambut dan kemejanya, bibirnya tak hentinya menyunggingkan senyuman, ia tak percaya Velina sendiri yang akan datang mengunjunginya. Ia pikir wanita itu pasti merindukannya dan akhirnya memutuskan untuk menemuinya.
"Selamat pagi." Velina mengangguk hormat pada Farel.
"Kenapa kau bersikap formal seperti itu," Farel beranjak dari duduknya dan mendekat ke arah Velina. "Aku sangat merindukanmu." Farel hendak memeluk Velina, namun wanita itu menahannya.
"Em-- maaf, aku lupa kalau kita sudah putus," Farel mendadak salah tingkah, "tapi, aku masih berharap kita bisa kembali, kau tahu, lusa aku akan resmi bercerai dengan Luna, jadi bisakah kau--"
"Maaf, Farel. Tapi kedatanganku kemari bukan untuk membicarakan hal itu," potong Velina dingin. Mata mereka bertemu, seolah sedang menyelami pikiran masing-masing.
"Lalu, untuk apa kau datang kemari?" Ujar Farel ragu.
Velina menghela napas sebelum mulai bicara lagi, "aku akan menikah."
"Apa? Menikah? Dengan siapa?!" Farel mendadak histeris karena kaget, ia bahkan sampai memegang kedua lengan Velina dan mengguncangnya.
Velina menghela napas sekali lagi, mencoba membesarkan hati, perlahan ia melepas cengkraman tangan Farel di lengannya. "Dengan Diego Michael, kita akan menjadi ipar."
Farel tak dapat menyembunyikan raut keterkejutannya juga kebingungannya, "ini tidak mungkin, sejak kapan kau dengan Diego? Dan kenapa memutuskan untuk menikah?!" Mata Farel mulai berkaca-kaca. Velina tak tahan melihatnya dan akhirnya mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Aku tidak perlu menjelaskan apapun padamu kan? Jika kau tidak percaya, kau bisa datang ke pernikahanku lusa, pernikahan di adakan secara tertutup oleh kalangan keluarga saja." Jelas Velina lagi.
"Tidak, ini tidak mungkin!" Farel berteriak histeris merasa tidak trima. "Kau pasti berbohong kan! Ini tidak mungkin! Kenapa harus dengan pria itu? Kenapa?!" Farel menjambak rambutnya sendiri frustasi.
Sebenarnya bagi Velina, ini juga sebuah keputusan yang sulit, kenyataanya ia juga masih belum bisa menghilangkan Farel sepenuhnya dalam hatinya. "Jika kau ingin kita tetap berhubungan baik. Aku harap kau tidak menceraikan Luna. Tapi jika kau tetap bersi keras menceraikan Luna. Aku akan meminta Diego agar kami tinggal saja di luar negri setelah menikah."
Farel tersentak dengan penuturan Velina. "Apa kau bilang?" Ia berusaha menatap Velina yang sejak tadi menundukkan pandangannya. "Sekarang aku mengerti, ini semua karena perintah darinya, iya kan? Kenapa kau menurutinya?!" Farel berteriak tepat di depan wajah Velina, mencengkram dagu wanita itu agar mau mendongak menatapnya.
"Lepaskan aku!" Velina mengibaskan tangan Farel dari wajahnya. "Apa kau sungguh ingin dengar alasannya? Aku hanya takut kau tak kan sanggup menerima kenyataanya," lanjutnya dengan suara dingin.
"Apa maksudmu?" Dahi Farel mengeriyit heran.
__ADS_1
"Alasannya tentu saja, dia lebih kaya darimu dan bisa memberikan apapun yang ku mau." Sebenarnya apa yang di katakannya sangat bertentangan dengan kata hatinya, tapi Velina terpaksa melakukannya.
"Aku tidak percaya ini, sejak kapan kau berubah seperti ini?" Karena Velina yang Farel kenal selama ini begitu sederhana, polos dan pengertian, bukan wanita yang suka dengan kemewahan. "Siapa kau sebenarnya?" Farel menatap Velina tak percaya. Ia sedikit mundur ke belakang dan memperhatikan wanita yang ada di hadapannya itu dari ujung kaki hingga kepala. Benar saja, apa yang di kenakannya semua adalah barang bermerk, dari sepatu, baju, tas, hingga perhiasan.
"Kau lihat sendiri kan? Ini lah yang ku inginkan," ucap Velina lagi dingin.
Farel menggeleng linglung, "ini bukan kau, Velina yang ku kenal dulu bukanlah wanita seperti ini."
"Itu dulu, tapi sekarang aku sudah berubah, maka dari itu kau jangan berharap pada manusia yang mudah berubah."
"Tidak! Aku juga bisa membelikan apapun yang kau mau!" Farel masih ingin bersikap keras kepala.
"Cukup Farel! Aku tahu kau tidak memiliki banyak uang lagi. Kau bahkan sudah menghabiskan sebagian uangmu untuk mengembalikan suntikan dana dari Diego kan? Dan sisanya hanya cukup untuk kau gunakan sebagai modal demi melanjutkan perusahaan ini. Jika kau memaksakan diri untuk memenuhi apa yang ku mau. Aku takut kau tidak akan sanggup." Velina sebenarnya tidak tega jika harus menyakiti harga diri Farel hingga sedalam ini. Tapi ia terpaksa, dan ingin pria itu menyadari, jika hubungan di antara mereka sudah tidak mungkin lagi terjalin.
Farel terdiam, ia hanya bisa mengepalkan kedua tangannya erat-erat menahan emosi, ia merasa kesal dengan ketidak berdayaannya saat ini.
"Lusa datanglah, aku harap kau bisa datang di hari pernikahanku dengan Diego, permisi..." Velina pamit sembari membungkuk hormat dan membalik badannya untuk melangkah keluar.
"Tunggu!"
Langkah Velina terpaksa terhenti, "ada apa lagi?" ujarnya tanpa menoleh ke arah pria di belakangnya. Sebenarnya saat ini ia sedang menahan air matanya mati-matian agar tidak jatuh.
Deg!
Satu tetes cairan bening akhirnya jatuh dari sudut matanya, Velina buru-buru mengusapnya.
"Agar kelak kau bisa menyadari, jika aku sungguh-sungguh mencintaimu, Aku akan melakukannya karenamu."
"Kenapa harus karena aku? Kenapa kau tidak mencoba untuk jatuh cinta pada Luna? Dia sangat mencintaimu, apa kau tidak menyadarinya? Bahkan sekarang ia sedang terbaring di rumah sakit karena tidak ingin bercerai darimu."
"Apa?"
"Kau tidak bisa selalu memikirkan dirimu sendiri, apa kau mengerti? Selamat tinggal." Velina menutup kalimatnya dan lanjut keluar ruangan.
Ia berlari menuju mobil dan segera menumpahkan air matanya di sana. Sopir yang duduk di depan hanya terdiam, dia bingung harus berkata apa pada nona majikannya itu.
Stelah menunggu beberapa saat akhirnya tangisnya pun mereda, "pak, lanjut ke kantor Tuan muda Diego, ya?" Ujarnya dengan masih mengusap sisa-sisa air mata nya yang menempel di pipi.
"Baik, nona."
Sang sopir pun melaju meninggalkan pelataran kantor milik Farel.
__ADS_1
Saat mobil mulai terparkir di kantor Diego, dan saat hendak turun dari mobil. Velina tersadar jika dirinya belum berganti pakaian. Tadi ia sengaja memakai pakaian mewah serta pernak-perniknya hanya untuk memprovokasi Farel.
Pakaian itu sebenarnya memang pemberian Diego, namun Velina tidak ingin terlihat mencolok saat ada di kantor. Dan kali ini ia lupa membawa pakaian ganti.
"Nona, kita sudah sampai."
Lamunan Velina buyar ketika sang sopir membukakan pintu untuknya.
"Ah... Iya," wajah Velina terlihat kebingungan.
"Ada apa nona?"
Velina menggeleng, "tidak... Tidak ada apa-apa." Lalu ia memilih keluar dari mobil.
"Pak, lain kali antar aku sampai di ujung jalan dekat kantor saja, jika sampai sini aku takut ada yang melihat," ujar Velina sembari celingak-celinguk ke kanan dan kiri. Keadaan parkiran masih tampak sepi karena mungkin masih terlalu pagi.
"Baik, nona." Pria paruh baya itu pun menunduk hormat. Velina melakukan hal yang sama.
"Kalau begitu, aku permisi dulu," ujarnya sembari berlari dengan mengendap-endap ke arah lobi kantor.
"Velina!"
Sebuah suara membuat langkahnya terpaksa terhenti, ia menoleh ke asal suara dan mendapati Juan asistent Diego sedang berlari ke arahnya.
"Kebetulan kita bertemu di sini, kau datang dengan siapa?" Juan menatap Velina yang kini tampak salah tingkah. Wanita itu terlihat beberapa kali membenarkan rambutnya ke telinga.
"Apa anda lihat orang lain di sisiku, tentu saja aku datang sendiri," sahutnya sembari tersenyum konyol.
Aku harap ia tidak mencurigaiku yang aneh-aneh. Batin Velina.
Juan menatap Velina tak percaya, jelas-jelas tadi ia melihat Velina baru saja keluar dari sebuah mobil mewah. Sebenarnya siapa wanita ini? Kenapa ia berbohong? Juan terus bertanya-tanya dalam benaknya. Tak lupa ia memperhatikan Velina dari ujung kaki hingga kepala.
Sadar di perhatikan, Velina langsung memberikan alasan, "anda jangan salah paham dulu, semua barang yang ku pakai ini semuanya imitasi," jelas Velina.
"Siapa juga yang tanya," ucap Juan ketus. Mata Velina mendelik, tidak percaya jika akan mendapat respon seperti itu dari pria di hadapannya. Baguslah, pria ini sepertinya tidak peduli dan tidak suka mencampuri urusan orang lain, pikirnya.
"Sudahlah, karena kebetulan kita bertemu di sini, kita bisa ke ruangan Presdir sama-sama, aku akan menunjukkan meja kerjamu sekalian." Pria itu kembali melanjutkan langkahnya menuju lift tanpa menunggu Velina.
"Astaga... Orang ini, sok cool sekali dia!" Gumam Velina sembari berlari menyusul langkah Juan.
Bersambung.
__ADS_1