Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Menyerah


__ADS_3

"Motor kamu taruh disini aja Rei. Nanti biar pulangnya diambil. Kamu naik mobil saja sama Widya ya?" Usul mamahnya Widya.


Reihand hanya mengangguk pasrah.


Dia ingin sekali melirik Flo. Ingin sekali melihat reaksi gadis itu tapi dia tidak sanggup.


Flo berjalan ke arah gerbang depan. Langkahnya gontai. Kini semuanya sudah selesai. Berakhir sampai disini.


"Ji, lo lebih baik lo anter Flo balik!" Arga menepuk pundak Manji. Semua orang tidak sadar Flo sedang berjalan ke arah gerbang kecuali Arga.


Manji terkesiap, dia mengangguk dan langsung lari menyusul Flo.


"Ya, ampun. Iya Flo mana?" Meira yang juga baru sadar ikut celingukan. Saking paniknya dia ikut mengantar Widya ke parkiran. Dia sampai tak menyadari kalau Flo sudah tidak ada disebelahnya.


Akhirnya matanya menemukan keberadaan Flo. Gadis itu sudah sampai di ujung gerbang.


"Sayang aku mau susul Flo dulu ya!" Meira hendak menyusul Flo tapi Arga menahannya.


"Jangan Mei. Biarin dia sendiri dulu buat saat ini. Kita langsung balik. Kamu udah terlalu lama di luar rumah. Kamu harus istirahat. Kekacauan ini pasti bikin kamu stres! aku gak mau mengambil resiko apapun!" Arga memperingati lewat sorot matanya yang tajam. Kali ini tatapan tegasnya menandakan dia tidak ingin di bantah.


Dia menarik Meira dan berjalan ke arah mobilnya. Akhirnya dengan sangat terpaksa Meira menuruti perintah suaminya.


Di dalam kendaraan Arga.


Sang sopir sudah menjalankan mobilnya ke luar dari area rumah Widya.


Saat mobil mereka sampai di depan gerbang depan, Meira melihat Manji sedang menghampiri Flo. Mudah mudahan Flo mau diantar Manji pulang ke rumah. Gadis itu pasti sudah benar benar kedinginan. Tapi dia tetap bertahan untuk tidak pulang karna khawatir pada Widya.


Meira menyandarkan kepalanya di kursi sambil menghela nafas panjang. Benar kata Arga. Dia sangat stres hari ini. Banyak kejadian yang membuat Meira kehabisan kata kata, terutama Widya. Banyak kejutan yang diberikan oleh Widya hari ini.


"Mei.." Arga meraih tangan gadis yang duduk di sampingnya itu.


"Iya sayang.."


"Kemarilah.."


Arga menarik tubuh Meira mendekat dan menyandarkan kepala Meira di dadanya. Dengan lembut pria itu mengelus kepalanya.


"Aku tau apa yang kau pikirkan. Jangan cemas Mei. Semuanya akan baik baik saja." Kata Arga menenangkan.


"Bagaiman aku tidak cemas sayang. Kedua sahabatku sedang dalam pusara masalah yang sangat besar, aku.."


"St!" Arga menekan jari telunjuknya di bibir Meira.


"Aku udah bilang jangan cemas. Semuanya akan baik baik saja." Pinta Arga. Dia khawatir pada kesehatan Meira. Stres tidak baik untuk ibu hamil. Sengaja dia langsung mengajak Meira balik karna tidak ingin membuat Meira tambah kepikiran.


Di tambah dirinya juga kesal sekali melihat kejadian tadi. Rasanya dia ingin sekali mendamprat Widya. Tingkahnya membuat dia emosi tingkat dewa. Andai saja wanita itu tidak sedang sakit, Arga pasti sudah menguliti gadis itu sampai ke akar akarnya.


"Tidurlah, aku akan membangunkan mu saat kita sudah sampai dirumah."


"Hmm." Meira mengangguk pelan, perlahan mulai memejamkan kedua matanya yang terasa amat berat.


.


Di gerbang rumah Widya.


"Tunggu Flo! gue anter lo pulang ya?" Manji tiba tiba sudah berdiri di belakangnya. Meraih salah satu tangannya. Pria itu menatapnya cemas.


Flo terkesiap sesaat. Dia yang memang sedang melamun kaget saat Manji tiba tiba menarik tangannya begitu saja. Sontak tubuhnya limbung dan hampir saja gadis itu jatuh ke belakang kalau saja Manji tidak buru buru mengulurkan kedua lengannya untuk menangkap tubuh Flo.


Bersamaan dengan itu, mobil yang dikemudikan Reihand melewati mereka berdua!.


Flo melirik ke dalam mobil, pandangan mereka sempat bertemu tak sengaja. Reihand buru buru membuang muka ke arah lain. Flo meremas jari jemarinya. Kenapa hatinya sakit sekali. Bukankah ini yang dia inginkan dari kemarin. Reihand bersatu dengan Widya. Tapi kenapa setelah semua terjadi hatinya malah tidak kuat menerimanya?


"Flo.." Manji menggoyangkan bahunya pelan. Membuat gadis itu tersadar dari lamunan.


"Eh, iya Ji."


"Yuk, gue anter pulang." Manji menengadahkan tangannya kehadapan Flo.

__ADS_1


Flo menyambut uluran tangan Manji. Seketika Manji terbelalak. Kulit tangan gadis itu begitu dingin layaknya es.


"Flo, kamu kedinginan ya?" Manji menatap Flo cemas.


Flo menggelengkan kepalanya. Dia tertunduk. Perlahan Manji menarik nafas dalam dalam. Gadis yang tanpa sadar memiliki tempat spesial di hatinya ini sedang sedih berat sekarang, sorot matanya saat melihat Reihand bersama Widya menjelaskan segalanya.


"Yuk, kita langsung balik aja, biar lo bisa cepet ganti baju. Gue anter pake mobil gue ya?"


Flo hanya mengangguk. Dia sudah tidak ada tenaga lagi meski hanya sekedar mengeluarkan suara untuk membalas pertanyaan Manji.


Manji menuntun Flo ke dalam mobilnya. Tak lama mobilnya sudah melesat meninggalkan rumah besar Widya itu.


.


Jam 19.10 Wib


Mobil Manji berhenti tepat di depan pagar rumah Flo. Gang yang sempit membuat mobil parkir menyamping untuk memberi jalan kendaraan lain yang hendak lewat.


Sepanjang perjalanan tadi tak ada yang bersuara diantara mereka. Flo sibuk dengan pikirannya, sementara Manji juga enggan mengganggunya. Manji tahu kalau Flo pasti sangat syok dengan kejadian hari ini. Mengetahui Widya sahabatnya ternyata terkena kanker pasti membuatnya sangat sedih. Ditambah Reihand.. ah, Reihand. Kenapa Flo malah menyukai Reihand dan bukan dirinya!


"Kita udah sampai." Kata Manji sambil mematikan mesin mobilnya. Dia menghadap Flo.


Lagi lagi Flo melamun. Dia kaget ketika Manji menyentuh lembut punggung tangannya.


"Eh, iya. Makasih ya Ji."


Flo hendak turun. Tapi Manji mencegat tangannya. Dengan kening bertaut, Flo menatap Manji bingung.


"Ada apa Ji?" Tanya Flo. Pintu mobil yang sudah terbuka terpaksa dibiarkan sementara. Flo menunggu cowok itu berbicara.


"Gue tau lo sedih. Tapi jangan terlalu di pikirin ya, kalau ada apa apa. Lo bisa telpon gue kapan pun, gue akan selalu ada buat lo." Kata Manji lembut.


Flo mengangguk pelan. Ternyata terlihat sangat jelas ya suasana hatinya. Apa jangan jangan Reihand juga menyadarinya? tapi kenapa saat tadi dia bertatapan di gerbang cowok itu malah buang muka..


"Gue akan berusaha selalu ada kalau lo butuh temen curhat, oke? lo masih simpen nomor gue kan?"


Lagi lagi Flo hanya mengangguk pelan.


Sebenarnya Manji ingin Flo tau kalau bukan hanya Reihand yang selama ini peduli pada dirinya. Bukan hanya pria itu yang bisa dia andalkan.


Meski selama ini Flo tidak pernah melihat keberadaannya, atau bahkan tidak pernah sadar ada dia yang selalu ingin Flo butuhkan kehadirannya. Tapi sayangnya, cewek ini begitu sulit untuk hanya sekedar di raihnya sebagai sandaran.


Dia tidak bisa melangkah lebih jauh ke arahnya, karna cewek ini keburu membangun tembok pembatas yang begitu tinggi. Dia terlalu sulit untuk di gapai.


Tapi hari ini, akhirnya hari ini datang juga. Hari dimana dia harus terpaksa bahagia melihat Flo terluka. Karna hanya di momen ini lah Manji bisa memanfaatkannya untuk mengikis jarak yang selama ini membentang diantara mereka berdua. Terlebih Reihan. Pria yang Flo cintai sudah mengundurkan dirinya secara resmi tadi saat dia menerima cintanya Widya.


"Gue masuk dulu ya.."


Seketika Flo melepaskan genggaman tangan Manji. Dia melompat dari mobil dan berjalan ke dalam halaman rumahnya.


Langkahnya gontai. Dia ingin secepatnya berganti baju dan merebahkan dirinya di atas kasur.


Manji masih memperhatikan di belakang stir kemudinya. Dia tetap diam disana hingga akhirnya cewek itu menghilang ke dalam rumahnya.


.


Jam 20.00 Wib.


Di rumah sakit X


Reihand duduk di depan bangku sebuah ruangan rumah sakit.


Widya dan kedua orang tuanya sedang berada di dalam sana.


Dia tertunduk lesu. Hatinya patah berkeping keping, hari ini dia sudah kalah, kalah pada keadaan. Dia bukan hanya mengorbankan perasaanya tapi juga kesempatan untuk bisa bersatu dengan cewek yang di sukainya, Flo.


Rei mengangkat kepalanya. Menyandarkannya di tembok belakang. Dia menghirup nafas panjang. Sesak menyelimuti rongga dadanya. Rasanya untuk bernafas tenang saja begitu sulit.


Bayang bayang wajah muram Flo saat tak sengaja berapapasan di gerbang tadi sudah membuat keyakinannya goyah. Tapi untuk mundur pun dia tidak bisa. Terlanjur mencemplungkan dirinya ke dalam kubangan ini. Dia harus bertanggung jawab dengan kata katanya.

__ADS_1


Pintu ruangan dibelakangnya terbuka.


Reihand berdiri dan melihat kedua orang tau Widya keluar dari sana.


Pak Burhan dan Ibu Dinda menghampiri Reihand.


"Terima kasih ya Reihand. Berkat kamu, Widya mau melakukan pemeriksaan medis. Sekarang dia sedang ditangani di dalam sana."


Reihand mengangguk.


"Widya memanggil kamu ke dalam sana." Kata Pak Burhan.


Lagi lagi Reihand hanya mengangguk.


Dia berjalan ke arah pintu ruangan bercat putih itu. Perlahan dibukanya pintu itu.


Dia melihat Widya terbaring di sebuah ranjang panjang di salah satu sudut ruangan.


Widya menoleh saat menyadari kedatangannya. Cewek itu tersenyum cerah. Meski wajahnya kelihatan begitu pucat.


"Reihand, sini." Widya menyuruhnya mendekat.


Reihand berjalan ke salah satu sisi ranjang. Dia kemudian menarik kursi dan duduk di dekat ranjang itu.


"Thanks ya udah nemenin gue kesini."


"Lo udah enakan? gimana hasilnya?"


"Belum keluar, mungkin beberapa jam lagi hasil labnya keluar."


"Sejak kapan Wid?" Tanya Reihand dengan nada serius.


"Sejak kapan apanya, Rei?" Tanya Widya tak mengerti.


"Sejak kapan lo sakit?"


Widya terdiam, menggigit bibir bawahnya.


"Gue gak tau pasti, tapi sejak balik dari liburan di ambon waktu itu, gue ngerasa ada yang aneh sama badan gue."


"Kenapa lo gak pernah cerita ke orang tua lo atau sahabat lo seenggaknya." Kata Reihand.


Dia kasihan juga melihat kondisi Widya yang sepertinya sudah terlanjur parah.


Widya menghela nafas panjang.


"Gue gak mau bikin orang tua gue khawatir. lagi pula lo tau kan hubungan gue dan Meira juga Flo akhir akhir ini renggang..Gak ada tempat gue buat berbagi masalah ini."


"Kenapa sih lo ngomong kaya gitu. Yang gue liat mereka selama ini care banget sama lo. Apalagi Flo. Dia.."


"Cukup, Rei! gue gak mau denger apapun tentang dia. Kalau lo cuman mau muji dia di depan gue, mendingan lo pergi aja!" Bentak Widya kesal ketika Reihand menyebut nama gadis itu.


Reihand mendesis jengkel. Mengepalkan kesepuluh jari tangannya kuat kuat.


Tapi melihat kondisi Widya yang sangat pucat, Rei mencoba menekan rasa kesalnya. Dia menarik nafas panjang. Harus ekstra sabar menghadapi Widya kali ini.


"Wid. Kalau lo punya problem jangan di pendem sendirian. Ceritain sama orang disekitar lo. Lo bisa kasih tau gue kan?"


Widya mengangguk. Sepasang matanya menatap Reihand dalam.


"Gue sayang sama lo Rei."


Reihand tersentak. Kenapa dia selalu tiba tiba mengatakan perasaannya seperti ini sih. Widya terlalu frontal. Dia bahkan tidak peduli rekasi Reihand saat mendengarnya. Gadis itu hanya menyalurkan apa yang dia pikirkan. Tak peduli sang pendengar nyaman atau tidak.


Reihand cuman bisa diam. Menatap Widya lurus. Dia tidak punya perasaan apapun pada Widya. Tidak tahu harus menjawab kalimat Widya barusan dengan kalimat apa.


"Thanks ya udah mau jadi cowok gue.." Widya meraih salah satu tangan Reihand dan menggenggamnya di depan dada.


Lagi lagi Reihand cuman bisa diam. Dia merasakan genggaman tangan Widya semakin erat. Tak lama gadis itu tertidur setelah menyalurkan semua isi hatinya pada cowok yang sangat dicintainya ini.

__ADS_1


.


bersambung


__ADS_2