Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Menyangkal


__ADS_3

Setelah berdebat lumayan lama, akhirnya Arga setuju untuk pulang bersama Meira.


Mobil silver itu masuk kedalam pekarangan luas sebuah bangunan nan megah milik keluarga Alexander.


Meira membantu Arga turun namun Arga dengan kesal menepisnya.


"Gue gak jompo! gue bisa jalan sendiri! minggir!" Bentak Arga.


Meira hanya diam dan berusaha untuk tidak terpancing, sungguh tabiat Arga kali ini benar benar seperti kembali seperi dulu, angkuh dan ngeselin!


Arga pun melangkah masuk ke dalam rumah, dia melihat sekeliling ruangan, ada beberapa memori yang tiba tiba muncul dan membuat kepalanya sakit.


"Aw!" Arga mengerang sambil memegangi kepalanya. Meira langsung berlari mendekat dan berusaha memapah tubuh jangkung itu.


"Kamu gak apa apa?" Tanya Meira panik.


"Lepasin tangan lo! jangan terus terusan nyentuh badan gue sembarangan!" Arga menatap Meira tajam.


Meira tergelak dan reflek menarik kembali tangannya yang sudah menyentuh bahu Arga. Hatinya teriris melihat tatapan tidak suka dari mata Arga itu.


Tiba tiba Tuan Heru dan yang lainnya turun ke bawah. Mereka langsung menghampiri Arga yang masih berusaha berdiri dengan memegangi kepalanya.


"Arga, nak kamu sudah sampai? kenapa kepala kamu nak? duduk dulu duduk!" Ajak Tuan Heru sambil memapah Arga ke atas sofa panjang yang berada dibelakangnya.


"Aku hanya pusing sedikit pah, aku mau istirahat dikamar aja."


"Ya sudah, Meira kamu antar Arga ke kamarnya ya." Pinta Tuan Heru.


Arga menggeleng kuat kuat. "Nggak!"


"Kenapa? Biarkan istrimu yang menemanimu." Kata Tuan Heru lagi. Dia memberi kode agar Meira mendekat ke Arga.


Arga menoleh kaget.


"Istri?" Arga mengulangi kalimat papahnya, dia berharap apa yang didengarnya itu salah.


"Iya, dia ini istri kamu Arga!" Tuan Heru mempertegas kalimatnya.

__ADS_1


Arga tercengang sambil menggelengkan kepala.


"Ngga mungkin! Pah, jangan becanda, Aku gak suka ya!"


"siapa yang bercanda, dia memang istri kamu Arga, kalau kamu tidak percaya, pergilah ke kamarmu, disana ada foto pernikahanmu dan juga barang barangnya Meira!" Tuan Heru bersikeras, dia berharap Arga mau mengingat kembali Meira dengan melihat foto pernikahannya di kamarnya.


Arga melirik Meira, gadis itu hanya tertunduk. Dengan kesal dia menghampiri Meira dan menarik lengannya dengan paksa.


Tuan Heru menyuruh Arga untuk tidak menyakiti Meira namun Arga malah semakin berang. Terus ditariknya tangan Meira menuju lantai atas.


Dia langsung masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu dari dalam. Bahkan teriakan Tuan Heru diluarpun tidak digubrisnya.


Arga merasa dirinya sedang dipermainkan. Pasti ada yang salah, tidak mungkin gadis ngeselin ini istrinyakan?


"Sakit Ga, lepaas!" Pinta Meira sambil meringis. Tanpa sadar Arga mencengkramnya terlalu kuat.


"Mana? mana foto pernikahan itu? kau dan papah pasti sedang mempermainkan ingatanku kan? sejak kapan aku menikah? aku bahkan tidak ingat sedikitpun tentang kamu!" Bukannya melepaskan cengkramannya, Arga malah semakin menatapnya kesal.


"Mana fotonya?" Mata Arga berkeliling. Dia berusaha mencari figura yang terpajang namun tidak ada satu foto pernikahanpun yang membuatnya semakin yakin kalau omongan papahnya itu hanyalah sebuah lelucon.


Meira mencoba mengatur nafasnya, sabar, memang harus sabar menghadapi Arga dengan sosok baru yang kembali ketabiat semula ini.


Setelah kemarin hubungan mereka membaikpun Meira belum sempat memajang foto itu di dinding kamar mereka.


Arga langsung melepaskan tangan Meira dan berjalan ke arah meja rias.


Perhatiannya seketika teralih pada deretan makeup dan skincare yang jelas saja bukan miliknya. Tidak mungkinkan lipstik dan bedak itu miliknya. Kenapa benda benda itu ada disana? Keningnya berkerut namun dia langsung memfokuskan kembali tujuannya untuk mencari foto pernikahan yang dimaksud Meira tadi.


Dia membuka laci dan melihat sebuah album dengan sampul burung merpati putih di depannya.


Matanya seketika menajam saat membaca deretan kata yang tercetak jelas disampul album itu.


Meira & Arga


Hatinya mulai ambigu, yang tadinya yakin mendadak dia goyah, dengan ragu dia mulai membalik satu halaman pertama album itu.


Deg dan betapa terkejutnya Arga saat melihat foto dirinya mengenakan jas hitam sedang berdiri manis bersebelahan dengan gadis yang kini tengah berdiri dibelakangnya menatapnya dengan penuh harap.

__ADS_1


Meira berharap dengan melihat foto itu Arga bisa mengingatnya walau hanya sedikit.


Arga membulatkan matanya saat membuka lembaran lain yang memperlihatkan dengan jelas dirinya yang sedang duduk berdua dikursi pelaminan.


"Nggak mungkin!" Arga menggeleng. Dia masih tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Bagaimana bisa dia menikah dengan orang yang sama sekali tidak dia ingat? siapa sebenarnya Meira?


"Ga.." Meira mencoba untuk mendekat.


Arga menoleh lalu menyuruh Meira untuk stop dan diam ditempatnya.


Meira menahan air matanya, dia melihat betapa Arga sangat syok hingga nyaris merobek album ditangannya. Namun untung saja tidak jadi karna Arga langsung membuangnya dengan kasar ke atas lantai.


Brak


Album itu terpental ke sisi ranjang. Meira buru buru memungutnya dan memeluknya dengan erat.


"Sial kenapa aku gak bisa inget sedikitpun tentang kamu!" Geram Arga sambil memukul mukul kepalanya sendiri.


"Jangan Ga, stop! jangan sakitin kepala lo sendiri!" Meira berusaha mendekat namun Arga lagi lagi melarangnya dengan menatap tajam ke arah Meira.


Meira tak dapat lagi menahan tangisnya, hatinya benar benar hancur.


"Entah bagaimana kita bisa sampai menikah, pasti ini sebuah kekeliruan! iya kan? apakah papah yang menjodohkan kita? iya, benar! pasti papah yang menjodohkan kita!" Arga berusaha menerka-nerka sendiri.


Dia berusaha keras mengingat pernikahan itu namun gagal, Meira sangat sedih melihat Arga yang begitu kacau, dia tidak ingin Arga terluka hanya untuk berusaha mengingatnya.


"Arga.."


"Berhenti memanggil namaku! entah kenapa aku begitu benci mendengarnya!" Arga terduduk dilantai, dia menatap ke arah Meira.


Mata gadis itu sudah sembab, dia sepertinya banyak menangis akhir akhir ini. Namun entah kenapa dia tidak merasa kasihan sedikitpun.


"Bisakah kau keluar dari kamar ini? aku ingin sendirian untuk sementara waktu, aku butuh waktu untuk mencerna semuanya.." Kata Arga pelan. Meira hendak menyahut namun laki laki itu mulai memejamkan matanya.


"Aku, akan keluar sekarang, istirahatlah." Ucap Meira getir, meskipun matanya terpejam, Meira tahu Arga masih mendengarnya.


Akhirnya Meira mengalah, dia mengusap air matanya dan berjalan pelan menuju pintu keluar.

__ADS_1


"Jika kau butuh sesuatu aku ada dibawah ya.." Meira menoleh lagi untuk memastikan. Namun Arga hanya diam saja.


Sesaat sebelum dia menghilang dibalik pintu, Arga membuka matanya, menatap ke arah Meira dengan pandangan kosong.


__ADS_2