Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Penyerangan tiba tiba


__ADS_3

Semua orang tergelak kaget saat Meira melontarkan kalimat barusan.


"Lo yakin Reihand gak lagi main main?" Manji memastikan, karna dia ragu dengan apa yang baru saja di dengarnya.


Meira mengangguk serius.


"Tapi tunggu dulu deh, kok Reihand malah ngasih tahu lo sih kalau temen temennya mau nyerang kita? apa untungnya buat dia? jangan jangan ini cuman taktik dari dia! lo lupa dia itu musuh abadinya Arga!" Ucap Farel dramatis.


"Emangnya Arga belum cerita sama kalian berdua?"


Manji dan Farel saling bertatapan tak mengerti.


"Cerita soal apa? apa ada sesuatu yang terjadi yang kami gak tau?"


Meira diam sesaat. Haruskah dia mengatakan yang terjadi kemarin antara Arga dan Reihand? tentang kedua pentolan yang sudah kembali berbaikan itu?


Akhirnya setelah menimbang nimbang, Meira memutuskan untuk menceritakan semuanya pada Manji dan Farel.


Kedua orang itu begitu kaget namun mereka kini cukup lega saat tahu jika perseteruan diantara Arga dan Reihand ternyata hanya sebuah kesalahpahaman belaka.


"Terus gimana dong kalau ternyata mereka beneran mau nyerang Mandala? suasanya bisa kacau lagi kaya waktu itu!" Flo terlihat panik, tanpa sadar dia menggigit kuku tangannya sendiri.


"Iya masalahnya Arga juga lagi gak disini! kita gak punya ujung tombak buat mimpin anak anak. Mana kelas sore ada banyak!" Manji jadi sedikit was was.


Meira berdiri, lalu mondar mandir tak karuan. Haruskah dia memberitahu Arga soal ini? tapi Arga pasti sedang sibuk dengan urusannya di kantor.


Belum lagi dia ngeri membayangkan insiden terakhir ketika Arga terkena lemparan batu karna berusaha melindunginya saat tawuran kemarin.


Meira menggeleng keras. Tidak! dia tidak akan membiarkan Arga masuk ke dalam bahaya lagi.


Akhirnya setelah bermusyawarah semuanya sepakat untuk meminta bantuan Dosen agar membubarkan kelas sebelum sore tiba. Mereka tidak ingin mengambil resiko besar bertempur tanpa sang pentolan kampus apalagi tanpa persiapan apa-apa.


Namun naas bagi anak anak Mandala. Baru saja salah satu dosen mengumumkan tentang diliburkannya semua kelas sore dikampus itu lewat pengeras suara, tiba tiba datang mahasiswi berlarian dari arah gerbang depan dengan langkah pontang panting dan wajah wajah panik.

__ADS_1


"Gawaaat! di depan banyak anak anak Jayakarta woy! kita semua dikepung!" Seseorang diantara mereka berlari dan menghampiri Manji yang terlihat sedang berjaga di dekat gerbang.


Meira, Flo dan juga Widya yang baru saja akan keluar gerbang langsung menghentikan langkah mereka di lorong kampus sambil tertegun melihat suasana di sekeliling yang terlihat mulai kacau.


"Ada apa nih?" Mereka bergegas menghampiri Manji dan Farel yang terlihat sibuk mengumpulkan bala bantuan mahasiswa yang ada disekitar gerbang.


"Ji, kenapa?" Flo bertanya dengan wajah panik.


"Kalian masuk lagi sekarang ke kelas, gawat! anak anak Jayakarta ternyata udah ngepung kita diluar!"


Meira terperangah, tunggu dulu, bukannya Reihand mengatakan jika anak-anak Jayakarta akan datang sore nanti, tapi kenapa meraka udah ada di depan?


Meira buru buru merogoh ponsel di saku celananya dan mencoba menelpon Reihand, namun sayangnya nomor Reihand tidak aktif.


"Duh, gimana nih, Reihand gak bisa dihubungin!" Meira menggigit bibir bawahnya, dia cemas.


"Udah, kalian semua ke kelas sekarang! gak aman di depan sini, mereka bisa nyerang ke dalem kapan aja! buruan sana!" Farel langsung mendorong tubuh Meira dan kedua sahabatnya menjauh dari lorong menuju kelasnya.


Widya dan Flo mengangguk bersamaan.


"Iya, mending lo hubungin Arga sekarang Mei, anak anak cowok pasti butuh pemimpin saat ini."Usul Flo.


Tanpa pikir panjang, Meira langsung menelpon ke nomor Arga namun nomor Arga pun ternyata sama saja, tidak bisa dihubungi.


Meira menggerutu jengkel, kenapa sih dua orang pentolan itu malah gak mengaktifkan ponsel mereka disaat genting seperti ini.


Dia tidak tenang hanya menunggu di dalam kelas saja. Suasana di depan juga sudah mulai terdengar meriah, dia yakin tawuran di depan sana pasti sudah pecah. Bahkan bisa terdengar dengan jelas nyaring suara bom molotop padat alias batu yang dilemparkan ke arah atap bangunan kampus.


"Woy lari ke lantai atas! sekarang!!!!!" Seorang mahasiswa tiba tiba masuk ke kelas sambil berteriak lantang ke seisi kelas membuat semuanya terhenyak dan kaget.


"Ada apa?"Tanya Flo.


"Udah cepetan jangan banyak nanya, kalau kalian mau selamet lari ke lantai atas sekarang!!!!!" Perintahnya lagi. Wajahnya terlihat panik, sesekali dia menatap ke arah luar kelas memastikan keadaan.

__ADS_1


Kali ini semuanya menurut dan langsung berhamburan ke luar menuju tangga yang akan membawa mereka ke lantai atas gedung kampus itu.


Mereka sempat menjerit histeris ketika tau ternyata alasan salah satu mahasiswa tadi menyuruh mereka ke lantai atas adalah karna anak anak Jayakarta ternyata sudah berhasil menerobos masuk ke dalam gerbang.


Suasana terlihat sangat kacau, terlihat beberapa mahasiswa Mandala masih berusaha menahan anak anak Jayakarta meskipun mereka benar benar kalah jumlah bahkan sangat telak!


Meira sempat menghentikan langkahnya ditengah tangga saat melihat kebawah ada seorang perempuan terjebak diantara anak anak yang sedang sibuk saling serang.


Meira menyipitkan matanya, ternyata yang sedang terjebak di dalam tawuran itu adalah salah satu teman sekelasnya Dinda. Gadis culun yang selalu memakai kacamata dan berpenampilan kuno itu kini tengah meringkuk disudut tembok, wajahnya terlihat begitu ketakutan.


Seolah kilas balik, Meira merasa iba karna dia tahu betul posisi itu, beberapa kali dia pernah terjebak di posisi menakutkan itu.


"Mei, kenapa berhenti? ayo kita ke atas!" Widya berusaha menarik lengan Meira namun Meira menepisnya.


"Kalian duluan aja, gue mau ngurusin sesuatu dibawah!" Kata Meira buru buru.


Meira langsung berlari dan berbalik arah menuju ke lantai bawah lagi, tak dipedulikannya teriakan kedua sahabatnya Widya dan Flo yang berusaha mengejarnya dari atas.


Sampai dilantai bawah, Meira tertegun, langkahnya langsung terhenti, bagaimana mungkin dia bisa menjangkau posisi Dinda. Anak itu benar benar dikelilingi para mahasiswa yang sedang sibuk baku hantam.


Di depannya sudah banyak mahasiswa yang tumbang. Lutut Meira tiba tiba lemas, sejujurnya dia sangat takut, tapi dia tidak mungkin membiarkan Dinda dalam bahaya.


Bagaimana ini? Meira mencoba melihat sekeliling, dia mencoba meminta bantuan mahasiswa Mandala yang lewat disekitarnya, namun mereka tak menghiraukan dan malah menyuruhnya untuk naik ke lantai atas karna terlalu berbahaya untuk seorang perempuan berada disana.


"Dindaaa!!!" Meira berusaha berteriak sekuat tenaga, berharap agar Dinda mendengarnya, tapi sayangnya Dinda malah semakin meringkuk dan menenggelamkan kepalanya diatas kedua lututnya.


"Duh, gimana nih?" Meira meringis, dia baru sadar ternyata anak anak Jayakarta sudah hampir menguasai gerbang depan.


Menyeramkan ketika melihat banyaknya teman teman Meira yang sudah tumbang dan tersungkur dilantai dengan kondisi babak belur.


Akhirnya Meira menarik nafas dalam dalam dan membulatkan tekatnya kuat kuat, tidak ada jalan lain, dia harus menerobos ke dalam tawuran untuk menyelamatkan Dinda. Harus!!!


bersambung..

__ADS_1


__ADS_2