Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Berani melawan


__ADS_3

Meira langsung pergi ke kampus setelah menyelesaikan sarapannya tadi. Di sepanjang jalan dia terus memikirkan sikap Meta yang menurutnya sangatlah aneh. Dia begitu terlihat antusias saat menanyakan soal Arga atau mungkin cuman perasaannya saja ya?


Tak berapa lama mobil pengawal Arga yang membawa Meira itu pun sampai di depan gerbang kampus. Meira segera melompat dari dalam mobil. Dia berjalan santai di lorong menuju kantin kampus. Masih ada satu jam sebelum kelas dimulai.


"Meira sini!" Teriak Flo dan Widya sambil melambaikan tangannya di pojok kantin.


Meira tersenyum lalu setengah berlari ke arah sahabatnya itu. Namun saat sampai di tengah tengah kantin, kakinya tiba tiba tersandung sesuatu.


Brugh


Terdengar benturan yang cukup keras antara lututnya yang beradu dengan lantai dibawahnya. Meira meringis sambil memegangi kakinya.


"Hahaha rasain!" Terdengar gelak tawa tak jauh dari tempatnya terjatuh.


Meira mendongakan kepalanya. Seorang gadis berambut pirang tengah menatap ke arahnya dengan tatapan puas. Masih terdengar sisa tawa dari mulutnya.


Meira mengepalkan tangannya ketika tau ternyata yang membuatnya tersandung tadi adalah karna gadis itu menyelonjorkan kakinya secara tiba tiba. Sepertinya dia sengaja.


Widya dan Flo langsung menghampiri Meira dan mencoba membantunya berdiri.


"Mei lo gak apa apa?"


"Gue gak apa apa Wid"


Meira berdiri dan mencoba membersihkan ujung roknya yang sedikit kotor. Dia pun kembali menatap gadis pirang tadi dengan wajah kesal.


"Ngapain lo ngeliatin gue?"


Dia balik menatap Meira dengan tajam. Teman teman wanita pirang itu yang duduk disampingnya pun ikut menatap ke arah Meira dengan tatapan tidak bersahabat.


"Namanya Novi Mei, dia salah satu cewek dikampus yang tergila gila banget sama Arga!" Bisik Flo di telinga Meira.


Meira menghembuskan nafas kasar lalu kemudian tertawa sinis. Sekarang dia mengerti kenapa gadis ini sengaja membuatnya terjatuh ke lantai.


Dia maju dan menghampiri tempat duduk gadis berambut pirang itu.


"Lo sengaja ya bikin gue jatoh?" Tanya Meira.


Widya dan Flo saling berpandangan. Mereka kaget dan tidak menyangka jika Meira akan seberani itu menghampiri gadis yang dikenal cukup punya power di kampus ini.

__ADS_1


Novi tak langsung menjawab, dia memperhatikan Meira mulai dari ujung rambut sampai ujung kepala lalu tak berapa lama dia tertawa seakan tengah mengejek sesuatu.


"Lo nanya sama gue?" Desisnya sambil mengibaskan rambut pirangnya yang menjuntai indah di depan pundaknya. Dia dan gengnya menatap Meira dengan pandangan tidak suka.


"Iya, gue nanya sama lo, gue tau tadi lo sengajakan selonjorin kaki lo itu biar gue kesandung!" Tanya Meira sambil balas menatap Novi dengan tajam.


Widya dan Flo langsung mendekati Meira.


"Mei, lo sadar gak sih lagi ngomong sama siapa? udah mending kita cabut aja Mei!" Ajak Flo sembari mencoba menarik salah satu tangan Meira dari belakang.


Namun Meira menepisnya.


"Emang dia siapa?"


Wanita yang bernama Novi itupun berdiri, dia lalu mendorong salah satu pundak Meira secara tiba tiba dengan cukup keras. Meira hampir saja terjatuh lagi kalau saja Widya dan Flo tidak menahan tubuhnya.


"Lo!" Meira melotot marah, habis sudah kesabarannya.


"Apa? lo mau ngelawan gue? iya, gue emang sengaja tadi bikin lo jatoh, kenapa? lo mau marah hah?" Novi berkacak pinggang sambil menunjukan wajah soknya.


"Jadi lo istrinya Arga? gue bener bener gak habis pikir kenapa selera Arga turun begitu drastis! gue yakin lo pasti pake guna gunakan? dasar cewek kampung! Arga tuh gak pantes bersanding sama lo tau gak!" Desisnya lagi sambil mengelilingi Meira seperti gangsing.


Meira menggertakan rahangnya keras keras.


Widya dan Flo berusaha mengajak Meira pergi dari sana, suasana sudah mulai terlihat tidak kondusif karna semua mata yang ada di dalam kantin itu kini tengah menatap ke arah mereka.


"Mei, udah kita pergi aja yuk!" Bisik Widya ditelinga Meira. Tapi Meira tak bergeming sedikitpun.


"TARIK KEMBALI KATA KATA LO!" pinta Meira dengan suara menggelegar, diikuti dengan tangannya yang menggebrak keras meja yang ada disebalahnya. Benda itu berdenyit seiring dengan melongonya wajah wajah yang ada disekitar situ.


Suasana mendadak jadi hening, semua mata langsung tertuju pada Meira. Widya dan Flo bahkan tak mampu berkedip saking kagetnya melihat sikap sahabatnya itu.


Mereka langsung melirik ke arah Novi. Gadis itu membeku bagaikan patung, dia tak menyangka jika Meira akan memberikan reaksi sedemikian rupa atas perlakuannya.


"Lo budeg? gue bilang TARIK KEMBALI KATA KATA LO!" Sungut Meira, kali ini dengan mendorong bahu Novi sampai gadis itu terjerembab dan mencium meja disebelahnya.


Novi menghembuskan nafas kasar, sungguh tak menyangka jika ternyata Meira berani membalas perlakuannya. Dia pikir gadis ini penakut, ternyata dugaannya salah besar.


Novi lalu berdiri kembali dengan dibantu teman temannya. Dia terperangah, masih tak menyangka jika Meira akan berani membalas sikapnya tadi.

__ADS_1


Meira memicingkan matanya.


"Lo denger ini baik baik!" Desis Meira sambil mengangkat jari telunjuknya dihadapan wajah Novi.


"Gue, gak pernah sekalipun ngeguna guna Arga! jangan pernah lo berani fitnah gue dengan mulut lo itu, lo siapa sampai berani ngomong kaya gitu tentang gue?"


Wajah Novi menjadi merah padam, niatnya untuk mempermalukan Meira malah menjadi boomerang untuk dirinya sendiri, dia hendak melayangkan tangannya untuk menampar Meira namun Meira dengan cepat berhasil menahan tangan Novi.


Meira tertawa meledek sambil menghempaskan tangan Novi.


"Liat, ternyata yang kampungan itu bukan gue! tapi elo!"


Novi menggertakan rahangnya menahan malu dan emosi di dadanya. Dia hendak kembali menyerang Meira namun tiba tiba Manji dan Farel muncul ditengah tengah mereka.


"Nov, lo mau ngapain?" Manji langsung berdiri ditengah tengah Meira dan Novi.


Tiba tiba Flo membisikan sesuatu ditelinga Farel yang berdiri disebelahnya lalu kemudian Farel memberitahukannya pada Manji tentang asal muasal keributan ini terjadi.


"Oh ya?" Manji langsung melotot. Ditatapnya Novi dengan tatapan tajam.


"Nov, lo gak ada kapoknya ya? lo mending cepet deh cabut dari sini sekarang!"


"Engga, gue gak mau! dia udah bikin gue malu tau!" Novi kalap sambil menunjuk ke arah Meira dengan berang. Gadis itu hendak menyerang Meira lagi, namun kali ini Manji yang berhasil mencegatnya.


"Lo tuh ya dari dulu gak pernah mempan dibilangin baik baik. Lo tau gak sih yang lo ganggu itu siapa?" Desah manji sambil menggeleng kesal.


Kali ini Manji berdiri tepat dihadapan Novi.


"Dia itu ibu negara. Lo mau tau gak pesan dari Arga apa?"


Manji mendekatkan wajahnya ke telinga Novi.


"Dia akan ngabisin siapapun yang bikin ibu negara lecet, tanpa terkecuali."


Novi langsung membeku, bisikan Manji kali ini berhasil. Gadis itu perlahan mundur meski amarah masih jelas tergurat diwajahnya yang cantik.


Akhirnya Novi pergi, alasan pertama dia sudah kepalang malu karna Meira ternyata tidak sepenakut yang dia kira, dia pikir dia akan menang dengan menindas gadis itu, tapi Meira bahkan berani melawan balik dirinya.


Dan yang kedua, dia ngeri mendengar ucapan Manji barusan, jika Arga sampai berpesan begitu, berarti Meira sangat berarti baginya. Ancaman Arga jelas bukan sesuatu yang bisa diabaikan begitu saja.

__ADS_1


Teman teman Novi pun langsung ikut berlari mengejar kepala suku mereka yang hengkang dari situ.


bersambung..


__ADS_2