
Sejak kehilangan ingatannya, sikap Arga benar benar berubah seratus persen. Seringkali Arga memperlakukannya dengan sangat kejam.
Seperti suatu hari saat Meira sedang mandi, Arga sengaja mematikan aliran air dikamar mandi, Akibatnya Meira yang sedang keramas terpaksa harus mengungsi ke kamar mandi bawah dengan kepala yang masih dipenuhi dengan busa.
Dia harus menahan malu ketika seisi rumah menatapnya dengan kening berkerut. Busa busa masih menempel disekitar wajahnya. Pak hamis sampai menegur Arga karna dia tahu pasti ini ulah dari anaknya.
Bukannya merasa bersalah Arga malah tertawa terbahak setiap kali dirinya berhasil menjahili gadis itu.
"Kamu kenapa sih ngeselin banget!" Kata Meira, ketika mereka telah sampai di parkiran kampus.
"Turun!" Arga membuka kaca helmnya, dia menoleh ke belakang.
"Masih bagus aku mau boncening kamu sampai sini!" Kata Arga lagi.
Meira semakin kesal, tadi pagi dia hendak naik taksi namun Arga malah mencegatnya ditengah jalan, memaksanya naik ke atas motornya.
"Lagian aku gak minta dianterin!!"
"Kalau gak dianterin nanti kamu malah macem macem sama cowok lain!"
Meira melotot. "Cowok lain? maksudnya Reihand?"
"Kayaknya tuh mulut udah lancar banget nyebut nama cowok itu!" Arga menatap Meira tajam.
Dibukanya helm, Arga turun dari motor dan menghampiri Meira.
Meira tertegun, dia tak mengerti mengapa Arga seperti orang yang sedang cemburu begini.
Meira menyipitkan matanya.
"Jangan geer, kan aku udah bilang, aku tuh gak suka barang yang aku punya disentuh sama orang lain!"
"GUE BUKAN BARANG!" Teriak Meira kesal.
Arga malah menyeringai, dia pun berbalik dan melambaikan tangannya tanpa menoleh sedikitpun, pria itu berjalan ke arah lorong kampus.
Meira menatap kepergian Arga dengan tatapan kesal sekaligus sedih, sampai kapan Arga akan bersikap seperti ini? sejujurnya dia sudah mulai lelah, dia ragu apakah ingatan Arga tentang dirinya akan kembali lagi?
Meira pun mulai melangkah ke arah lorong mengikuti Arga yang sudah semakin menjauh dari pandangannya.
***
"Kenapa Mei? muka lo kusut banget.."Tanya Widya ketika kelas pertama telah selesai.
Flo ikut menatap ke arah Meira.
"Biasa."
"Soal Arga ya?" Tebak Flo.
Meira mengangguk pelan.
"Sabar ya Mei, lo harus tetep yakin kalau Arga pasti bakal kembali inget sama lo!" Widya mencoba memberi semangat meskipun dia tahu kalimat itu percuma, melihat situasi dan kondisi Meira yang semakin mengkhawatirkan.
"Gue bingung, gimana caranya ya biar dia bisa inget gue lagi?" Meira menatap lurus hamparan taman didepannya.
__ADS_1
Siang itu sambil menunggu pelajaran kedua dimulai, mereka bertiga memilih duduk di taman kampus.
"Hei girls!" Reihand tiba tiba sudah berdiri dibelakang mereka bertiga.
Senyum hangat mengembang diwajah tampannya. Widya dan Flo terkesima, di dalam hati mereka memuja mahluk yang nyaris mendekati sempurna ini.
Reihand duduk disebelah Meira, menatap gadis itu dengan wajah cemas.
"Lo kenapa Mei? keliatannya pucet, lo belum makan ya? gue beliin sesuatu ya dikantin?" Reihand hendak berdiri lagi namun Meira mencegat tangannya.
"Gak usah Rei, udah lo duduk aja disini, gue lagi gak nafsu makan." Tolak Meira sambil tersenyum kecil.
"Dia lagi mikirin Arga." Widya menjelaskan dengan setengah berbisik dibelakang punggung Meira.
Reihand mengangguk pelan, tiba tiba dia memindahkan posisi ranselnya. Reihand terlihat mencari sesuatu dari dalam ransel itu.
"Mei, gue ada sesuatu buat lo.."
Reihand mengeluarkan sebuah kotak kecil panjang berwarna merah tua.
"Terima ini.." Reihand menyodorkan kotak itu kehadapan Meira.
Meira mengerutkan alisnya. "Apa ini Rei?"
"Buka aja Mei, ini dari Arga."
"Maksdu lo?" Meira semakin tak paham.
Reihand hanya diam, dia memberikan isyarat dengan mengangkat dagunya agar Meira mau membuka kotak itu, Meskipun dia masih tak mengerti namun akhirnya Meira menuruti Reihand, dia pun perlahan membuka kotak kecil yang sekarang ada ditangannya.
Pandangannya lurus menatap benda yang ada di dalam kotak kecil itu, ternyata isinya sebuah kalung, kalung dengan liontin sayap merpati.
Meira melirik Reihand tak percaya, sorot matanya meminta penjelasan. Dia ingin tahu kenapa bisa kalung itu sampai ke tangan Reihand.
Reihand menarik nafas dalam dalam, dia sadar Meira sedang menunggunya untuk bicara.
"Mei, orang yang pertama kali dateng nyelametin Arga pas kecelakaan itu yang nemuin kalung ini.." Kata Reihand dengan wajah yang berubah serius.
"Dia menyerahkannya ke polisi, dan tadi sebelum gue berangkat, gue sempet nemuin pihak kepolisian yang sedang menyelidiki kasus kecelakaan Arga kemarin.."
"Rei, jadi ini kalung yang Arga beli? yang dia bilang pas di telpon sebelum kecelakaan itu terjadi!" Potong Meira sambil menatap kalung itu dengan senyum merekah.
Matanya berkaca kaca, Meira memeluk kalung itu sambil membayangkan kembali ketika Arga menelponnya dan berencana untuk memberikannya kalung ini sebelum dia mengalami insiden kecelakaan dan akhirnya kehilangan sebagian ingatannya.
Meira terdiam, tiba tiba air matanya jatuh, dia menunduk dalam dalam.
"Arga, kapan kamu bakal inget soal aku? aku kangen Ga, aku kangen banget sama kamu.." Meira berkata kepada dirinya sendri sambil menggenggam erat kalung dengan liontin sayap merpati itu.
Reihand mengelus bahu Meira. Namun itu justru membuat tangis Meira semakin menjadi.
Widya dan Flo mendekat dan langsung memeluk Meira. Tak ada yang bisa mereka lakukan selain hanya mendoakan agar Meira kuat menjalankan cobaan hubungannya kali ini.
***
Jam 17.10 tepat.
__ADS_1
Sore itu tak biasanya langit berwarna jingga pekat. Meira menoleh ke arah jendela, warna orange itu sedikit banyak membuat suasana menjadi seakan lebih hangat.
Meira merapikan buku bukunya dan memasukannya ke dalam tas.
"Yuk balik Mei!" ajak Widya dan Flo.
Merekapun berjalan ke arah gerbang kampus. Widya dan Flo pulang dengan menggunakan taksi, sementara Meira masih mematung di depan gerbang kampus. Dia menunggu Arga keluar dari kelasnya. Kalau dia pulang duluan bisa bisa cowok itu ngamuk ngamuk gak jelas lagi.
Sementara itu dengan punggung yang bersandar disebuah warkop di sebrang jalan. Bima menancapkan pandangannya lurus ke arah Meira. Dia menghisap rokoknya sebari ekor matanya terus memperhatikan gadis itu.
Beberapa meter dari tempat Bima berdiri, ternyata kawan kawannya sedang duduk mengintai bak pemangsa yang sedang menunggu buruannya.
Ya, Bima telah menyiapkan sebuah kelompok untuk menyerang anak anak Mandala sore ini.
Pandangannya menyipit ketika sasaran utamanya sudah terlihat berjalan dari arah gerbang kampus.
Arga muncul dari arah lorong menuju ke pintu utama gerbang.
Bima langsung membuang puntung rokoknya ke tanah lalu menginjaknya.
"Cih, punya sembilan nyawa ternyata lo Ga! tapi kali ini persediaan nyawa lo gue pastiin bakal jadi yang terakhir!"
Bima mengangkat tangannya lalu memberikan kode pada anak anak Jayakarta untuk segera maju menyerang.
"MAJU!" Teriaknya keras.
Sontak segerombolan orang yang sedari tadi bersembunyi dibelakang warkop langsung maju dan menyerang anak anak Mandala yang ada diluar gerbang dengan membabi buta, tak pandang bulu, siapapun kena sasaran hantaman sajam yang mereka bawa.
Seketika suasana menjadi sangat mencekam. Tawuran tak dapat terelakan, banyak anak anak Mandala yang tumbang karna serangan mendadak itu. Jelas saja karna mereka tidak ada persiapan apapun menghadapi anak anak Jayakarta yang menyerang tiba tiba itu.
Arga yang baru saja hendak mengambil motornya diparkiran seketika kaget dan langsung berlari ketika mendengar suara suara jeritan, dia berlari menuju luar gerbang demi bisa melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi.
"WOI MANA PENTOLAN KALIAN! SINI SURUH KELUAR!" Teriak Bima sambil menghantamkan celuritnya kesegala arah.
Meira yang kaget langsung mencari tempat perlindungan dibelakang tiang papan reklame kampus.
Arga tersentak saat melihat kekacauan yang terjadi di depan gerbang. Manji dan Farel langsung bersiaga dibelakang Arga.
"Woy, gue maju duluan, kalian cari bantuan ke dalem cepet! minta anak anak yang belum balik buat ikut kesini! pake apapun yang bisa dipake buat ngehadang serangan mereka!" Perintah Arga sambil memberikan kode pada Manji dan Farel untuk segera masuk kembali ke dalam kampus.
Manji dan Farel langsung mengikuti intruksi dari sang pentolan, mereka kembali masuk ke dalam untuk mengumpulkan bala bantuan.
Seketika pandangan Arga menyapu sekeliling. Kacau, benar benar kacau.
Arga membuka sabuk celananya lalu melilitkan sabuk itu disalah satu tangannya, dia tak punya senjata apapun untuk maju dalam tawuran kali ini, hanya sabuk ini yang bisa dia gunakan untuk melawan anak anak Jayakarta yang sekarang sedang membabi buta menyerang teman temannya.
"Woy! bangsat jangan maen keroyokan!" Teriak Arga keras.
Serentak, semua anak anak Jayakarta yang berdiri tak jauh darinya yang sedang dalam posisi mengeroyoki salah satu anak Mandala pun menoleh kaget.
Arga langsung menggabungkan diri ke kancah pertempuran, berlari dan menghalau hujan batu yang berhamburan. Namun seketika langkahnya terhenti, seseorang secara mendadak muncul tiba tiba di depannya.
Laki laki itu mengacungkan celuritnya ke kepala Arga, untung saja refleks Arga bagus sehingga celurit itu meleset dan hanya mengenai salah satu bahunya.
Darah segar seketika merembes keluar dari robekan kemejanya.
__ADS_1