
"Ah, gemesnya sayangnya aku.." Widya memberikan cubitan kecil di pipi Reihand lalu dia kembali menyandarkan kepalanya di bahu cowok itu.
Widya tertawa puas di dalam hati karna dia tahu sekarang pasti ada seseorang dibelakang tempat duduknya yang sedang di landa kesedihan yang mendalam akibat ulahnya.
Setengah jam berlalu akhirnya Mobil yang di tumpangi Reihand dan juga Manji sampai di parkiran sebuh bangunan Kedai Mie Ramen yang cukup besar.
Reihand turun dari mobil lalu bergegas membukakan pintu untuk Widya dan juga Flo.
Manji juga terlihat turun dari mobilnya bersama Farel. Mereka lalu bergabung menghampiri Reihand dan berjalan mengikuti cowok itu dari belakang.
"Wah, kedai mamah kamu gede juga ya sayang.." Kata Widya ketika mereka tengah berjalan masuk ke dalam bangunan itu.
Farel dan Manji saling pandang mendengar panggilan sayang yang di lontarkan Widya kepada Reihand.
"Yuk, masuk. Kalian langsung naik ke lantai atas aja ya nanti, ada sofa panjang disana. Di lantai pertama soalnya penuh kalau jam segini biasanya." Kata Reihand ketika mereka sudah sampai di teras Kedai.
Mereka pun menuruti perkataan Reihand. Langsung bergegas naik ke lantai atas. Karna benar kata Reihand tadi, lantai satu itu sudah terisi penuh oleh para pengunjung kedai, sepertinya ini jam jam sibuk Kedai. Pengunjungnya sampai menunggu giliran untuk makan di tempat.
Farel sempat melirik ke arah papan menu di dekat meja kasir.
"Wah, kayaknya enak tuh Mie Ramen toping katsu disini!" Kata Farel sambil terus memperhatikan gambar mie kuah dalam mangkuk yang lumayan besar. Sepertinya mie itu ada dalam daftar menu spesial. Dibuat dengan poster yang lumayan besar dan sepertinya juga sedang promo besar besaran. Pantas saja disini ramai sekali.
Manji menggeleng heran.
"Perasaan tadi di mobil lo abis ngemil deh, masih aja matanya jelalatan liat makanan."
"Ya ampun itukan cuma ngemil Ji, mana kenyang lah. Kalau makam Mie Ramen mah baru gue kenyang."
"Halah dasar perut karung, mana ada kenyang nya sih lo!" Cetus Manji.
"Hehehe." Farel cuman nyengir kuda mendengarnya, faktanya memang begitu sih.
Flo tyang berjalan dibelakang mereka ikut terkekeh mendengarnya.
Setelah melewati kasir, mereka pun naik kelantai atas.
Flo jadi teringat kembali makan malam waktu itu disini dengan Reihand. Kenangan yang sangat indah meskipun pada akhirnya mereka tidak bersama.
Widya langsung menjatuhkan dirinya di salah satu sofa panjang di atas lantai itu. Flo duduk disebelahnya. Sementara Farel dan Manji duduk di sofa panjang yang lainnya.
Mereka mengendarkan pandangan ke seluruh ruangan di lantai atas. Sepertinya ini bukan lantai yang di buat khusus untuk pengunjung. Farel melihat beberapa pelayan yang mondar mandir masuk ke dalam ruangan. Di ruangan itu juga terdapat loker untuk menyimpan tas.
"Kayaknya ini ruang khusus untuk pegawai deh.." Gumam Farel pelan.
Flo mengiyakan dalam hati. Memang ini ruangan khusus untuk istirahat para pegawai, sofa panjang yang sekarang mereka duduki ini juga adalah salah satu tempat favoritnya mereka untuk beristirahat.
Flo menoleh ke arah tangga, muncul Reihand dan ibunya yang berjalan mengikutinya di belakang.
"Sorry ya bikin kalian nunggu, tadi lagi rame banget, nyokap gue lagi sibuk ngurusin pelanggan di bawah." Kata Reihand merasa bersalah membuat teman temannya menunggu.
Tak lama seorang pelayan datang membawakan minuman dingin untuk mereka.
Ibu Reihand langsung datang menghampiri sofa. Dia terkejut saat melihat Flo gadis yang tempo hari pernah di bawa Reihand kemari ternyata ada diantara teman temannya ini.
Widya dan yang lainnya langsung berdiri menyambut kedatangan Ibunya Reihand. Dengan antusias dia meringsek maju dan menerobos Farel dan Manji yang berdiri di depan Ibunya Reihand.
__ADS_1
"Kenalin mah, ini temen temen aku. Ini Farel sama Manji."
Farel dan Manji dengan sopan menyalami Ibunya Reihand.
Widya langsung menarik tangan Reihand, cowok itu seketika langsung menoleh ke arahnya.
"Kenalin gue sebagai pacar dong sayang..." Bisik Widya yang otomatis membuat Reihand langsung terbelalak mendengarnya.
Flo yang berdiri di belakang Widya hanya menunduk saat tak sengaja mendengar apa yang di katakan Widya kepada Reihand itu.
Reihand terdiam sejenak.
"Terus ini namanya siapa?" Tanya Ibunya Reihand sambil menatap Widya.
"Rei.." Widya menggoyangkan tangan Reihand agar cowok itu peka.
Reihand menarik nafas panjang. Dia tidak tega jika harus mengatakan ini di depan Flo tapi mau bagaimana lagi.
"Dia cewek aku mah.." Katanya membuat keadaan seketika jadi hening. Flo meremas jemarinya. Keringat dingin tiba tiba membanjiri tangannya, Flo merasa hancur sehancur hancurnya. Dia ingin menangis tapi tidak mungkin air mata itu dia biarkan tumpah disini.
Ibu Reihand tampak syok, dia beralih menatap Flo. Bukankah anaknya pernah cerita padanya kalau dia menyukai Flo. Lantas kenapa malah jadian sama cewek lain?
"Halo tante, kenalin aku Widya, aku pacarnya Reihand." Widya langsung maju dan memeluk Ibunya Reihand sambil tersenyum sangat manis.
Ibunya Reihand menyambut pelukan itu dengan wajah bingung.
"Oh, Iya. Senang bisa ketemu sama kamu ya Wid. Udah lama jadiannya?" Tanya Ibunya Reihand sambil mengangkat satu alisnya, penasaran.
"Baru sih, Tante. Kami baru aja jadian beberapa hari yang lalu." jawab Widya malu malu.
Ibu Reihand melirik anaknya. Dia baru saja mengenalkan pacarnya tapi mukanya malah tidak terlihat bahagia begitu. Lalu Flo, sepertinya gadis yang berdiri di belakang Widya itu juga sama, dia sedari tadi terus menunduk tanpa berani menatap ke arahnya. Jangan jangan dia nangis!
Ibu Reihand sangat pengalaman soal ini, dia pernah muda. Sepertinya ada cinta segitiga disini.
"Flo.." Ibu Reihand akhirnya memanggil namanya karna tidak tega melihatnya terus diam.
Seketika kening Widya tampak mengkerut. Dari mana Ibunya Reihand tau nama Flo?Bukankah Reihand sama sekali belum memperkenalkannya?
Flo mendongak, wajahnya yang manis nampak tidak ceria hari ini. Ibu Reihand maju melewati Widya begitu saja dan memeluk Flo.
Semua kontan tercengang dan saling pandang. Terutama Widya, sepertinya ini bukan pertemuan pertama. Kenapa Ibunya Reihand tampak begitu akrab dengan Flo. Lihatlah, dia bahkan sampai memeluk Flo dengan hangat. Tidak seperti saat menyambutnya. Harus Widya dulu yang menyampari Ibunya Reihand.
"Kamu sehat?" Tanya Ibunya Reihand sambil melepaskan pelukannya. Flo mengangguk sambil tersenyum.
Ibu Reihand mengelus kepalanya lembut, sikapnya menunjukkan kasih sayang kepada Flo layaknya seorang Ibu kepada anak. Hal itu membuat Widya murka. Dia mengepalkan kedua tangannya kuat kuat. Sialan, kenapa mereka akrab banget begini!
"Sehat, Tan. Tante gimana? sehatkan?" Tanya Flo balik.
Ibu Reihand mengangguk pelan.
"Kamu udah makan? Tante buatin Mie Ramen kayak yang waktu itu ya, kamu makannya sampai abis ke kuah kuahnya. Ah, Tante sampai terharu deh karna mangkuknya bener bener bersih hehe." Kata Ibunya Reihand sambil tertawa lepas.
"Ya ampun Tante masih inget aja, maaf ya aku bener bener gak sadar ngabisin sampai ke kuah kuahnya karna emang Mie Ramen yang Tante buat enak banget loh, serius." Flo mengacungkan kedua jempolnya.
"Ah, kamu bisa aja, Flo. Yaudah tunggu disini ya, nanti Tante bikinin buat kalian semua." Kata Ibunya Reihand sambil menyunggingkan senyum ramah pada semuanya.
__ADS_1
Farel otomatis yang paling antusias dibandingkan yang lain. Dia memang sudah sangat tidak sabar untuk mencicipi makanan di kedai Ibunya Reihand ini. Berbeda dengan Widya, Wajah Gadis itu sudah berubah masam sejak tadi. Dia tidak suka melihat keakraban yang ditunjukan Ibunya Reihand kepada Flo.
"Terima kasih ya Tante, kita malah ngerepotin nih, jadi gak enak sama Tante." Kata Manji.
Ibu Reihand menggeleng sambil tersenyum.
"Ah engga kok. Tante malah seneng banget Reihand ngajak temen temennya kesini. Oh iya, Arga kemana? kok dia gak ikut sih Rei?" Tanya Ibunya Reihand ketika tidak melihat sahabat Reihand hadir di antara teman temannya.
Reihanda hanya mengangkat bahu.
"Dia lagi sibuk kayaknya mah, mungkin next time Reihand ajak dia kesini sama Meira."
"Ouh, gitu. Yaudah deh mamah balik ke dapur dulu ya, kalian lanjutin aja ngobrolnya, nanti kalau masakannya udah mateng biar dianterin sama pegawai Tante kesini, ya? kalian have fun disini, oke?"
Semuanya mengangguk berbarengan.
Setelah mengatakan itu, Ibunya Reihand pamit kembali ke lantai bawah. Reihand menyuruh teman temannya untuk kembali duduk.
"Flo, ini bukan pertama kali ya lo kesini? kok kayaknya kamu dan Ibunya Reihand akrab banget.." Widya menatap Flo. Tebakan Flo sepertinya benar karna gadis itu langsung terperangah. Kaget mendengar pertanyaan itu dari Widya.
"Iya Wid. Waktu itu Flo gak sengaja ketemu nyokap gue di pasar." Reihand yang menjawab dengan wajah santai.
Kemudian dia menceritakan sekilas kejadian pertemuan antara Flo dan Ibunya waktu itu.
Sial, kenapa gue jadi kalah start gini sama Flo. Kurang ajar Flo! gumam Widya dalam hati.
"Ouh, gitu. Thanks ya udah nolongin Ibunya Rei waktu itu.." Widya mengelus punggung tangan Flo.
Flo mengerutkan alisnya. Dia pikir Widya akan marah, ternyata tidak sama sekali.
Tak lama mereka pun terlibat obrolan seru sambil menunggu Mie Ramen datang.
Flo menatap langit di balkon lantai itu. Dia berdiri dan berjalan kesana.
"Mau kemana?" Tanya Manji saat melihat gadis itu melangkah ke arah balkon.
"Gue kesana bentar Ji, mau nyari angin seger." Jawab Flo sambil menunjuk ke arah balkon.
Manji ikut berdiri dan mengikuti Flo dari belakang.
Reihand hendak menyusul Flo, dia sudah mengangkat kedua pantatnya dari atas sofa namun tangan Widya menahannya.
"Mau kemana Rei?" Tanya Widya basa basi, padahal dia tahu Reihand mau menyusul Flo ke balkon seperti Manji.
"Gak kemana mana Wid." Akhirnya Reihand kembali duduk dengan menahan kesal.
Flo merentangkan kedua tangannya saat sampai di balkon. Udara begitu sejuk menerpa kulitnya yang mulus. Flo tersenyum melihat betapa indahnya pemandangan dari atas sini.
Manji yang berdiri di sebelahnya ikut tersenyum, tapi bukan karna ikut menikmati pemandangan yang sedang Flo lihat, melainkan dia sedang menikmati keindahan dari Flo sendiri. Gadis itu terlihat begitu bersinar dengan rambut panjang yang dikuncir kuda, lalau sepasang mata hitam legam yang mempesona. Manji tanpa sadar terus memperhatikan ke arahnya dengan pandangan takjub.
Dari sudut sofa, Reihand mati matian menahan geladak cemburu di dalam dadanya melihat cara Manji memandangi Flo. Dia tidak rela Flo di lirik oleh pria lain, tapi sialnya dia malah tidak bisa berbuat apapun.
Kenapa semuanya malah jadi runyam begini, gue bahkan gak bisa nemenin orang yang gue sayang di tempat gue sendiri, sialan! Gerutu Reihand dalam hati.
.
__ADS_1
bersambung