Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Rasa yang tak disadari hadir


__ADS_3

"Wey, lo kenapa Flo?" Meira menepuk pundak Flo saat melihat sahabatnya itu menunduk menyembunyikan kepalanya dengan kedua tangannya yang bersedekap diatas meja.


"Meira!" Flo mengangkat wajahnya dan kaget melihat Meira sudah duduk disebelahnya.


Tak lama Widya pun datang dari arah pintu kelas, Widya jongkok, tangannya bertumpu lada lututnya sendiri, mengatur nafasnya yang terasa berat.


"Lo abis lari lari Wid?" Meira beralih menatap Widya.


"Iya, nih Mei, gara gara dia tuh!" jawab Widya sambil menunjuk Flo dengan wajahnya.


"Ada apa sih? kayaknya ada yang baru terjadi dan gue gak tau!" tebak Meira sambil menyipitkan matanya dan menatap tajam ke arah Flo dan Widya secara bergantian.


"Emang! heboh tuh anak Mei!"


Widya mendekat dan ikut duduk disamping kedua sahabatnya itu.


"Apaan sih, cerita dong!"


Baru saja Widya hendak membuka mulutnya namun tiba tiba bel masuk berbunyi.


Terpaksa Meira harus menahan rasa penasarannya. Dia akan bertanya lagi saat pelajaran telah berakhir nanti.


Sementara itu di depan ruang kelas Manji, Manji menyenderkan tubuhnya ke tembok sambil memperhatikan kotak bekal Rosa yang ada di tangannya.


Dia masih kepikiran dengan sikap Flo tadi, kenapa Flo jadi tiba tiba marah sekali, kenapa gadis itu protes keras cuman gara gara bekal makanan ini.


Manji tidak bisa menebak jalan pikiran Flo.


"Ji, lo ngapain disitu?" Farel yang baru keluar dari fakultas hukum menghampiri Manji.


"Apaan tuh? lo bawa bekel? ca ileh udah kayak anak TK aja lo!" ledek Farel sambil tertawa terbahak.


Yang ditertawakan hanya diam melamun.


"Manji, Farel!" Arga berjalan dari arah lorong dan menghampiri kedua sahabatnya.


"Kenapa si Manji?" Arga ikut heran melihat Manji yang tidak menoleh saat dia panggil.


"Tau nih anak!"


Arga memperhatikan bekal yang dipegang Manji.


"Dari fans lo lagi?" tanya Arga.


"Wey! ditanya bos tuh!" Farel akhirnya memukul punggung Manji demi membuat temannya itu sadar akan keberadaan mereka.


"Eh, kalian sejak kapan disini?" Manji langsung membetulkan posisinya berdiri.

__ADS_1


"Dari tadi! ngapain sih lo pagi pagi udah ngelamun?"


Manji terlihat tak bersemangat.


"Gue abis dimarahin cewek." jawab Manji sambil menghembuskan nafas kasar.


Hah?


Arga dan Farel mengernyit bersamaan.


"Cewek? siapa?" tanya Farel.


"Itu si Flo."


"Flo sohibnya Meira?" Arga memastikan nama Flo yang tak asing di telinganya.


"Iya, men. Flo sahabatnya Meira."


"Dimarahin kenapa?"


Manji pun menceritakan kejadian di kantin kepada Arga dan Farel. Arga dan Farel hanya ber 'oh' 'oh'.


"Menurut lo pada, si Flo kenapa marah banget ya? gue kaget karna gak nyangka aja cewek lemah lembut kaya dia tiba tiba jadi galak banget."


"Halah lo kaya gak tau cewek aja, kan emang mereka tuh jalan pikirannya ribet! gak bisa ditebak, moodnya naik turun! udah gak usah diambil pusing, paling si Flo marah karna ngerasa lo gak menghargai sesama cewek aja!" Ucap Farel sok tau.


Arga hanya diam, tak berniat memberi saran sedikitpun.


Bel pelajaran pertama pun berbunyi, akhirnya Arga, Farel dan Manji masuk ke dalam kelas untuk mengikut pelajaran dari Dosen pertama.


...***...


Sementara itu di rumah yang Lusi dan Andrew tepati, Lusi mengetuk pintu kamar Andrew berkali kali namun tak ada sahutan dari putranya itu.


tok tok tok


"Andrew, kamu lagi ngapain sih di dalem? buka dong mamah mau masuk!" pinta Lusi sambil terus berusaha membuka gagang pintu dengan paksa.


"Andrew!" panggil Lusi lagi, namun anak itu tetap tidak mau menyahut teriakannya.


"Anak itu lagi apa sih dia di dalem!"


tok tok tok


Lama Lusi mengetuk akhirnya pintu terbuka juga,71 Andrew keluar kamar masih dengan muka bantalnya.


"Ada apa sih mah teriak teriak terus? ganggu aku tidur aja!" gerutu Andrew kesal karna merasa tidurnya sudah diganggu oleh ibunya.

__ADS_1


"Kamu tuh ya mau tidur sampe jam berapa ndrew? tuh liat ini udah jam berapa! anterin mamah ke pasar, mamah gak bisa masak karna bahan makanan kita udah pada habis, susah banget sih tinggal disini, tukang sayur aja gak ada, sampai kapan ndrew kita disini?! bisa gila mamah lama lama!" ucap Lusi merasa frustasi dengan keadaan.


Andrew menghela nafas panjang, mengorek kupingnya yang terasa pengang karna ocehan ibunya barusan.


Setiap hari sejak mereka pindah kemari, ibunya selalu mengeluh tentang keadaan disekitar rumah, rumah mereka memang jauh dari pemukiman, bahkan hanya ada satu tetangga yang itu pun jaraknya lumayan jauh dari tempat yang mereka tinggali sekarang.


Tidak ada warung terdekat disekitar rumah, kalau Lusi ingin memasak makanan terpaksa dia harus membeli bahan makanan dulu ke pasar tradisional yang ada di desa terdekat.


"Iya iya tunggu sebentar, aku cuci muka dulu." Andrew masih sibuk menguap sambil mengusap wajahnya yang terasa ngantuk.


Mereka pun pergi ke pasar dengan menggunakan mobil Andrew.


Sepanjang perjalanan Andrew hanya diam, Lusi memperhatikan sepertinya Andrew banyak diam sejak kepulangannya dari Jakarta.


"Andrew." panggil Lusi.


"Hem, ada apa mah?" Andrew hanya menjawab namun tak menoleh pandangannya tetap fokus pada jalan didepannya.


"Gimana hasil penyelidikan kamu selama di jakarta? apa ada yang terjadi disana selama kita pergi? oh iya gimana kabar papahmu? kamu ketemu dia gak?" Lusi melayangkan pertanyaan bertubi tubi.


Andrew jadi teringat kembali peristiwa penembakan Meta yang dilakukan oleh dirinya.


Apakah Meta selamat? atau..


"Ndrew! malah ngelamun!" Lusi menggoyangkan tangan Andrew, membuat anaknya itu tersentak kaget.


"Eh, iya kenapa mah?" tanya Andrew saat dia sadar dia hampir sana berbelok ke arah yang berlawanan dengan pasar yang hendak ditujunya.


"Kamu tuh tuh kenapa sih Ndrew? sejak balik dari sana kamu jadi sering banget ngelamun, ada apa? kamu kan bisa cerita sama mamah kalau ada apa apa, jangan kaya orang linglung gini!" Lusi mengelus pundak Andrew.


Andrew menggigit bibirnya, apa dia ceritakan saja ya tentang kejadian kemarin malam pada ibunya, tapi ibunya pasti akan kaget kalau tau dia sudah menembak Meta, apalagi Andrew sampai sekarang belum tahu kondisi terkini Meta, apakah gadis itu selamat atau tidak.


"Gak ada apa apa kok mah.." jawab Andrew berbohong.


Biarlah untuk saat ini dia tidak menceritakan dulu peristiwa kemarin, Andrew tidak mau ibunya kena serangan jantung.


"Bener gak ada apa apa?" Lusi tak percaya, melihat tampang kusut Andrew saja dia tahu kalau sesuatu pasti telah terjadi saat Andrew melakukan penyelidikan di jakarta kemarin.


"Iya, bener mah."


"Kamu ketemu siapa kemarin disana?" ketemu Arga? atau papah kamu?" kembali ke topik utama.


"Aku cuman ngeliat Arga aja mah sama Meira, itu pun cuman sebentar."


"Jadi kamu gak ketemu sama papahmu ya.." Lusi tampak kecewa dengan jawaban yang didengarnya.


Sejujurnya di dalam hati dia sedikit merindukan kehadiran suaminya, dia ingin tahu kabar suaminya, sekuat apapun Lusi mencoba menepis perasaannya, kebaikan laki laki itu ternyata sudah jauh menembus ke dalam hatinya.

__ADS_1


Tapi Lusi masih bungkam, dia tidak berniat menceritakan apa yang dirasakannya kepada Andrew. Dia tidak ingin Andrew kecewa, karna rencana mereka dari awal datang ke kehidupan keluarga Alexander memang hanya untuk menguras harta mereka.


__ADS_2