Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Meminta ijin kuliah


__ADS_3

Setelah operasi pengangkatan peluru selesai, Meta di pindahkan ke ruang ICU, kondisinya akan terus di pantau dalam dua puluh empat jam kedepan.


Dia kehilangan cukup banyak darah sehingga kondisinya harus terus mendapatkan pengawasan dokter.


Arga pamit dari rumah sakit setelah menyelesaikan urusannya. Dia menitipkan Meta kepada Denis, orang tua Meta sedang dalam perjalanan pulang dari luar kota, mungkin mereka baru akan sampai besok pagi di rumah sakit.


Arga akan tetap memantau perkembangan Meta dari jauh hingga gadis itu siuman.


...****...


Langit sudah sepenuhnya gelap, tak ada bintang satupun, sepertinya langit sedang mendung namun gelapnya tersamarkan karna kondisinya sedang malam hari.


Andrew menepikan mobilnya di pinggir sebuah jalan di dekat pantai.


Dia mengacak ngacak rambutnya frustasi. Setelah kejadian penembakan itu dia kabur kesini, melihat pantai sejauh mata memandang, berharap resah nya hilang meskipun mustahil.


"Argh! bangsat! kenapa semuanya jadi kacau begini sih!" Andrew menggebrak dasbor berkali kali.


Kacau, pikirannya benar benar kacau, entah apa yang akan dia lakukan selanjutnya, karna kecemburuannya yang terlalu besar, dia sampai lepas kendali.


"Maafkan aku Meta! aku benar benar tidak bermaksud menyakitimu, aku hanya kecewa sayang, kenapa? kenapa kamu mengkhianati aku!! aku tidak perlu melakukan ini seandainya kamu tidak berselingkuh di belakangku, jadi salahkan dirimu sendiri sayang, haha salahkan dirimu sendiri karna itu hukuman yang pantas untukmu!" Kata Andrew sembari menyeringai seperti orang gila.


Andrew mengangkat ponsel dan menatap wallpaper foto Meta di ponselnya, membelai wajah Meta yang terpampang disana seolah olah orang yang dimaksud sedang ada dihadapannya.


"Meta, apa kurang ku? aku sangat mencintai kamu, kamu tidak bisa menceraikan aku begitu saja, tidak! dasar wanita ******!" Kini suaranya malah terdengar kesal.


"Lihat saja, aku tidak akan tinggal diam, kau sudah membuat harga diriku terinjak injak, jika kau tidak bisa menjadi milikku, maka jangan harap kau akan menjadi milik laki laki lain!" tangannya menggebrak stir, bunyi klakson melengking memekikkan telinga.


Nafas Andrew memburu, emosi di dadanya bergejolak hebat setiap kali dia ingat tentang perselingkuhan Meta, namun ekspresi wajahnya seketika bisa berubah sedih kalau dia ingat Meta tersungkur karna tembakannya sendiri.


Rasanya dia tengah berperang melawan dua sisi jiwa dalam dirinya.


Akhirnya setelah lama terdiam di dalam mobilnya, Andrew memutuskan untuk pulang kembali ke rumahnya.


Esoknya dikediaman keluarga Alexander, waktu menunjukkan pukul 06.30 wib.


Setelah mandi, Meira membereskan dan memasukkan buku buku ke dalam tas kuliahnya.


Arga yang baru saja keluar dari kamar mandi, mengernyit melihat Meira tengah sibuk di meja belajarnya.


Pria itu berjalan ke arah istrinya sambil menggosok kepalanya dengan handuk untuk mengeringkan rambutnya yang basah sehabis keramas.


"Sayang.." panggil Arga mesra, laki laki itu sudah berdiri dibelakang Meira, mengulurkan tangannya dan memeluk tubuh Meira dari belakang.


"Iya sayang, kau sudah selesai mandinya? bajumu sudah aku siapkan diatas kasur." Kata Meira sambil tetap sibuk memasukan buku bukunya.


"Kau sedang apa?" tiba tiba suara Arga berubah dingin.


Meira yang menyadari langsung menghentikan tangannya yang baru saja hendak memasukan buku kedalam tas.


"Arga, aku.."


"Kamu masih mau nekat ke kampus?" Arga menyela ucapan Meira.


Meira menggigit bibirnya, bagaimana dia harus membujuk Arga supaya bisa tetap kuliah ya?


"Kamu masih tidak mendengar ucapan ku kemarin ya?" suaranya semakin dingin.


"Tidak sayang, bukan begitu.."


Arga melepaskan pelukannya, wajahnya berubah ketus. Dia berjalan ke arah kasur dan melempar handuk di kepalanya dengan kasar, menegaskan jika dia sekarang benar benar sedang dalam kondisi hati yang kesal.


"Sayang.." Meira menghampiri Arga dan gantian memeluk pria itu dari belakang, agak menahan posisinya karna Arga terus bergerak tidak mau diam, dia sedang sibuk memakai bajunya.


"Lepas! kau menghalangiku." Kata Arga saat dirinya hendak mengancingkan kemejanya.


Meira menggeleng dan malah semakin menempelkan wajahnya dipunggung Arga, tangannya terkait satu sama lain, melingkar diperut suaminya, wangi sabun masih menempel ditubuh kekar suaminya.


"Kamu marah?" tanya Meira.


"Apa pedulimu jika aku marah? kau akan tetap ke kampuskan!"


Meira menahan nafas, harus super sabar jika Arga sedang dalam mode kesal seperti sekarang.


Tidak boleh terpancing emosi dan ikut kesal juga, jika dia langsung memberontak bukan hanya tidak di ijinkan kuliah, mungkin dia juga tidak akan diijinkan ke luar rumah nantinya.


"Sayang, kau tau tidak ibu hamil juga perlu bergerak aktif agar bayinya sehat, tiduran terus di kasur justru tidak baik bagi kesehatan ibu hamil." mencoba mencari jawaban yang paling logis dan tentunya alasan itu bisa menyelamatkan nasib kuliahnya ke depan.


"Benarkah?" tanya Arga kaget.


"Iya sayang."

__ADS_1


Arga tampak berpikir.


"Pasti hanya alasanmu!" katanya kemudian.


gerrr kenapa dia ngeselin banget sih!


"Awas, singkirkan tanganmu, aku mau pakai baju."


Arga masih terdengar mendesah kesal.


Meira akhirnya melepaskan pelukannya, dia berpindah ke depan dan membantu mengancingkan kemeja Arga.


"Kau sedang apa, aku bisa sendiri!" mencoba menyingkirkan tangan istrinya, tapi Meira tidak peduli, dia yang malah menyingkirkan tangan Arga yang hendak melarangnya meraih kancing baju.


"Sayang, aku berkata jujur tau, kalau aku terus dirumah dan tidak kuliah, aku akan gampang stres sayang, jika aku stres otomatis anak kita juga akan ikut stres dan.."


"Tutup mulutmu, kenapa kau bicara asal begitu!" Melotot sambil membekap mulut Meira dengan tangannya.


"Ah, sudahlah kau memang selalu menentang ucapan ku!"


"Sayang, sebenarnya apa yang membuat kamu khawatir?" tanya Meira sambil mendongak demi bisa melihat wajah Arga.


Yang ditanya diam tak menjawab, Meira bisa melihat Arga sedang berusaha menahan kesal, rahangnya sedikit mengeras.


"Sayang, kau tahu aku merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia karna aku memiliki suami seorang Arga."


Arga hanya diam dan membiarkan Meira berbicara.


"Kau selalu menjagaku, bahkan disaat aku merasa aku hampir mat.."


"Kau mau ku hukum!" membekap mulut Meira lagi agar gadis itu tak melanjutkan kalimat terakhirnya.


"Lihat, kau begitu takut sesuatu terjadi padaku kan? aku paham sayang, aku tahu kamu khawatir jika sampai aku kelelahan dalam kehamilan ini, kamu tidak ingin sesuatu terjadi padaku, tapi Arga.. apa kamu pernah berpikir jika aku dilarang untuk pergi ke kampus itu artinya kamu tidak percaya aku bisa menjadi ibu yang baik, kamu tidak percaya aku bisa menjaga bayiku, kamu meragukan identitas ku sebagai seorang ibu.."


"Tidak Meira.. aku tidak pernah berpikir begitu." langsung memeluk Meira, membenamkan kepala gadis itu di dada bidangnya dan membelai rambut Meira dengan lembut.


"Lantas kenapa kamu tidak mengijinkan aku untuk tetap kuliah? sebelum bertemu denganmu kau tahukan kehidupan ekonomi keluargaku sangat sulit, aku belajar mati matian waktu itu agar bisa kuliah di kampus kita yang sekarang dengan beasiswa yang ku terima.." Meira mengenang masa masa sulitnya dulu.


"Aku sangat bahagia akhirnya bisa kuliah di Mandala, bertemu dengan kedua sahabatku Flo dan Widya dan yang paling membuatku bahagia adalah pertemuan kita Arga.."


Arga terdiam, Meira mengangkat kepalanya dari dada Arga, mereka saling bertatapan.


Perlahan wajah tampan itu turun dan menyatukan bibirnya dengan bibir mungil Meira, meira membuka mulut menikmati sentuhan lembut Arga.


"Hem, aku sangat bahagia." menatap Arga lurus sambil tersenyum.


Arga menarik nafas panjang, sejujurnya kalau mau mengikuti kata hati dia ingin sekali mengurung Meira di dalam rumah, memastikan Meira tetap aman dalam penjagaannya, apalagi kondisi kehamilan Meira yang bisa dibilang membutuhkan perhatian khusus di semester pertama ini.


"Kau percaya padaku kan? aku akan menjaga diriku sebaik mungkin." Ucap Meira masih berusaha meyakinkan Arga dengan senyum menggodanya.


"Bodoh! kenapa kau selalu keras kepala dan membuatku pusing."


Haha apa tidak terbalik? Batin Meira.


"Meira, selama Andrew belum tertangkap, aku tidak akan bisa tenang akan keselamatan dirimu dan juga ayah, kau tahu kan semalam Meta baru mengalami musibah besar, tindakan Andrew kali ini benar benar nekat, dia menembak Meta bahkan di depan rumah gadis itu sendiri.."


"Jadi ini yang dari kemarin terus membuatmu khawatir?"


Arga menatap Meira lurus.


"Iya, aku sangat cemas, kau adalah hidupku Meira, aku tidak akan bisa bernafas jika sampai sesuatu terjadi pada kalian.." Kata Arga sambil mengelus pipi Meira lalu tak lama tangannya turun mengelus ke arah perut istrinya.


"Aku percaya kau akan melindungi kami berdua.." Meira memegang tangan Arga, menggenggamnya erat.


Arga mengangkat dagu Meira, kembali mendaratkan satu ciuman mesra, kali ini ciuman itu terjadi dengan tempo yang lama.


"Baiklah, aku kalah, kau bisa tetap kuliah, tapi aku akan mengajukan satu syarat untukmu." Ucap Arga akhirnya setelah melepaskan ciumannya.


"Syarat? syarat apa Arga?" tanya Meira.


Arga diam sesaat.


"Setelah selesai jam kuliah kau harus langsung pulang, tidak boleh keluyuran kemana mana lagi, akan ada dua pengawal yang setiap hari akan mengantarkan dan menjemputmu pulang kalau aku sedang ada urusan, ingat Meira kau tidak boleh kemana mana tanpa memberitahukan aku lebih dulu, jika kau tidak mau memenuhi syarat ini, aku tidak akan mengijinkan mu untuk kuliah lagi."


"Kenapa syaratnya berat sekali? apa aku benar benar tidak boleh kemana mana? kalau aku mau menonton film dengan Flo dan Widya bagaimana?"


"Kau kan bisa nonton denganku!"


"Ish. itu berbeda, menonton dengan orang yang kau cintai dan dengan sahabatmu jelas dua hal yang berbeda!" Kata Meira sambil melipat tangannya di depan dada.


Syarat yang Arga ajukan menurutnya terlalu berat.

__ADS_1


"Lalu apa mau mu?" Arga mulai terlihat kesal lagi.


"Aku ingin tetap bisa bebas keluar sayang, tidak apa apa ada pengawal di sampingku aku tidak masalah sama sekali." Protes Meira, dia tak sadar arus sudah mulai berbuah ke tempat semula.


"Kau mau menguji kesabaran ku ya?!" Nada suaranya berubah dingin.


Arga melepaskan genggaman tangannya, raut wajahnya berubah ketus lagi.


"Hei, aku cuman bercanda sayang, haha kenapa kau serius sekali!" Langsung memeluk tubuh Arga yang hendak pergi menjauh.


Tapi Arga menolak dan mencoba melepaskan diri namun Meira bergeming, dia tau jika dia tidak merayu Arga sekarang, maka kesempatan tidak akan datang dua kali.


"Sayang, maafkan aku, sudah jangan ngambek lagi ya, aku mohon." Bujuk Meira dengan suara mengiba.


"Aku tidak ngambek, lakukan sesukamu!"


"Tidak, aku mana berani, baik baiklah aku akan ikut syarat yang kamu ajakan. Aku tidak akan protes, aku akan menuruti semua yang kamu perintahkan, kau puas?" akhirnya mengalah pada keputusan Arga, dari pada tidak diijinkan sama sekali keluar rumah.


Arga masih pura pura acuh namun ujung matanya melirik ke arah Meira, dia melihat gadis itu menggerutu kecil di bibirnya.


Arga menahan tawa di bibirnya, sikap menggemaskan Meira tidak pernah berhasil membuatnya marah apalagi merajuk pada gadis itu.


"Kau benar benar marah padaku sayang?" tanya Meira sambil mendongak, Arga buru bubur memalingkan wajahnya takut ketahuan sedang memperhatikan Meira.


Cup


Satu kecupan mendarat di pipi Arga. Arga tertegun mendapat serangan tiba tiba.


Lalu ciuman kedua mendarat lagi di keningnya, kali ini Meira harus bersusah paya menarik kerah kemeja Arga untuk membuat tubuh jangkung Arga sedikit berjongkok dihadapannya.


"Kau sedang merayuku?" akhirnya Arga bereaksi tapi masih dengan suara yang terdengar kesal.


Meira mengangguk pelan.


"Kalau begitu lakukan dengan benar!" Kata Arga seraya menarik pinggang Meira mendekat.


Arga mendekatkan wajahnya ke wajah Meira, hembusan nafasnya menerpa kulit wajah Meira.


Arga mengusap pelan bibir Meira dengan ibu jarinya, Meira tertegun, jantungnya berdetak lebih cepat ketika bibir Arga ******* bibirnya.


"Buka mulutmu sayang.." Perintah Arga disela sela ciumannya. Refleks Meira membuka mulutnya dan perlahan merasakan lidah Arga menerobos masuk dan memberikan sentuhan sentuhan memabukan.


Setelah ciuman panas itu selesai, Arga mengangkat tubuh Meira dan membaringkannya diatas kasur.


"Arga, kau mau apa?" panik saat melihat Arga sudah melepaskan kembali kemeja yang belum sempat di kancingkannya tadi.


"Kau mau merayuku kan? maka lakukan dengan benar! jika tidak maka aku tidak akan mengijinkan mu keluar bahkan dari kamar ini sekalipun." Seringai dibibir Arga muncul.


"kok?" Meira bingung kenapa kenapa malah jadi begini, niatnyakan hanya merayu Arga lewat ciuman ciuman kecil saja.


aaaaaa Arga malah meminta lebih, dia benar benar pandai memanfaatkan situasi! batin Meira


Glek, Meira sepertinya tahu apa maksud dari perkataan Arga.


Dan benar saja setelah mengatakan itu, keduanya pun terlibat pergulatan panas lagi di atas ranjang, sesekali terdengar rintihan dari mulut kecil Meira.


Setelah sejam berlalu keduanya selesai. Meira menarik selimut menutup tubuhnya hingga sebatas dada.


"Apa yang mau kau sembunyikan?"


"Aku malu tahu!"


Arga tertawa tak percaya "Aku sudah melihat semuanya, percuma saja." Menarik hidung Meira, gemas sendiri melihat tingkah istrinya.


"Lihat jam! kita akan terlambat kelas pertama, kelas dimulai setengah jam lagi, ck!" Meira berdecak sambil menunjuk jam dinding dengan wajahnya.


Arga tak peduli, malah menggeser tubuhnya dan membenamkan kepala Meira ke dada bidangnya, mencium ujung kepala Meira berkali kali dengan mesra.


"Aku tidak peduli, masih bagus kau ku beri ijin keluar hari ini. Masih mau protes? atau mau aku tarik lagi kata kataku?"


Gerrr, dia menyebalkan sekali.


Meira hendak bangun namun tangan Arga menahannya.


"Kau mau kemana?"


"Aku mau siap siap ke kampus."


Arga menarik lengannya hingga gadis itu terjerembab kembali ke atas dada bidangnya.


"Tetaplah seperti ini dulu, sepuluh menit lagi Meira, aku masih ingin memelukmu sepuluh menit lagi."

__ADS_1


Deg, jantung Meira berdebar lebih cepat saat mereka saling bertatapan, bibir lembut Arga perlahan menempel dilehernya, menyesapnya dan meningglkan tanda merah disana.


__ADS_2